Hampir Jam 8 pagi, mereka tiba di rumah baru. Di sana sudah ada Arif dan beberapa orang suruhan nya Andra yang di tugas kan untuk membantu menata seluruh ruangan.
Andra dan Anjani segera turun dari mobil, dan menurunkan koper-koper nya dari dalam bagasi.
“Mas, ini beneran rumah kita?” tanya Anjani dengan ekspresi takjub melihat kemegahan rumah baru nya. Rumah bergaya modern dengan 3 lantai, terlihat ada balkon yang menghadap ke jalan, ada taman di belakang rumah dengan kolam renang di samping nya. Terlihat asri, karena di semua sudut ada tanaman dan bunga-bunga, menambah kesan elok.
“Alhamdulillah, InsyaAllah ini menjadi rumah kita dan anak-anak kita nanti nya.” Andra merangkulkan tangan nya di lengan Anjani, tersenyum bahagia.
“Semoga membawa berkah untuk keluarga kita,” ucap Anjani sembari membalas pelukan suami nya. Do’a Anjani pun di jawab Andra dengan “Aamiin.”
“Kita masuk, yuk,” ajak Andra pada istri nya.
Setelah melangkahkan kaki pertama, tak lupa mereka ucapkan “Assalamu’alaikum”. Netra Anjani tak henti-henti nya takjub melihat mewah nya rumah yang akan mereka tempati.
“Rumah segedhe gini, Cuma kita berdua yang nempati, Mas? Kira-kira bakalan secapek apa nanti kalau waktu nya
bebersih rumah?” Anjani membayangkan bagaimana capek nya dia yang harus menyapu seluruh isi rumah itu seorang diri. Bisa-bisa sehari aja gak akan cukup waktu nya.
“Kamu tenang aja, Sayang. Aku udah dapat ART yang sangat kompeten dalam hal memasak, dan bersih-bersih rumah, sudah ada proses penyeleksian.” Andra menjelaskan nya dengan sedikit menunjukkan kebanggaan pada diri nya sendiri.
“Widiih, pake proses seleksi segala. Semacam Academ Award aja! Haha..,” Anjani tertawa dengan perkataan nya sendiri.
“Tapi kok aku ngga’ pernah lihat Mas menyeleksi karyawan-karyawan semacam itu?”
“Jelas nggak pernah lah, kamu nya aja yang ngga’ pernah peka dengan kesibukan suami kamu,” ucap Andra sambil menyikut lengan istri nya.
“Yee, kenapa jadi aku yang di salahkan?”
Drrrtt… Drrrttt..
Ponsel Andra berdering, menandakan ada panggilan masuk. Saat Andra mengeluarkan ponsel nya dari dalam saku celana nya,Anjani tak sengaja melihat nama yang tertera di layar ponsel suami nya. Rara.
Nama sesosok wanita yang bertahun-tahun pernah singgah di hati Andra.
“Aku keluar dulu ya, Sayang.” Ucap Andra izin keluar rumah, sembari memperlihatkan ponsel nya yang masih berdering.”
Anjani hanya merespon dengan anggukan kepala. Untuk mengalihkan rasa cemburu nya, dia memilih untuk berkeliling seoran diri untuk melihat-lihat kondisi di dalam rumah baru nya.
Sementara Andra tengah sibuk dengan obrolan-obrolan bersama Sang Mantan.
[Hallo, Ra..] sapa Andra pada wanita dalam telfon.
[Hallo, Rev. Gimana kabar kamu?] Rara ternyata masih menggunakan panggilan ‘Rev’ saat memanggil Andra. Panggilan khusus dari Sang Mantan.
[Alhamdulillah, baik. Kamu juga, baik?] Andra bertanya balik. Ada secuil rasa rindu menyeruak di hati nya saat suara Rara terdengar di telinga. Begitupun Rara, yang masih menyimpan harapan untuk bisa bersama dengan Andra. Meski harapan itu tidak lah mungkin bisa terwujud.
[Aku juga baik, Rev. Kamu sibuk? Apa aku mengganggu mu?] tanya Rara dengan sedikit rasa khawatir di hati nya.
[Ngga’ kok, aku tadi baru aja sampai di rumah baru ku. Hari ini aku dan Anjani pindah rumah.]
[Ohh..] [Istri kamu\, gimana kabar nya?] tanya Rara basa-basi.
[Anjani baik.] jawab Andra sembari menganggukan kepala. Obrolan mereka terlihat canggung. Mungkin karena status mereka yang kini sudah berubah. Di tengah-tengah kecanggungan itu, Andra berusaha untuk bersikap santai. Tapi tidak dengan Rara. Hati nya tengah diliputi rasa rindu pada Pria yang kini telah menjadi suami dari wanita lain.
[Rev, aku merindukan mu.] Ucap Rara dengan suara lirih nya, seperti menahan tangis.
Andra yang mendengar penuturan Rara, hati nya jadi gelisah. Dari lubuk hati nya, ingin rasa nya mengatakan kalau dia pun merasakan hal yang sama. Namun dia teringat akan Anjani.
Seketika Andra terdiam, bingung dengan kalimat apa yang harus dia ucapkan. Demi tidak menyakiti perasaan Sang
Mantan terindah.
[Bukan kah kamu sudah bersuami? Tak elok rasa nya mengatakan itu di depan laki-laki lain. Dengan status kamu yang sudah bersuami, dan aku yang juga sudah beristri. Ada hati yang harus kita jaga, Ra.]
[Tapi, sampai detik ini, aku sama sekali belum ada rasa apa-apa pada suami ku. Hati ku masih terpaut pada mu, Rev.] ucap Rara dengan suara nya yang semakin bergetar, bercampur isak tangis.
[Itu hanya perasaan sesaat saja. Belajar lah mencintai suami mu. Aku pun sama, dalam proses belajar untuk mencintai Anjani.]
[Tiga tahun kita bersama, itu tidak sebentar, Rev. butuh waktu yang lama untuk aku bisa melupakan semua kenangan kita.]
[Iya, aku pun sebenarnya tidak bisa memungkiri, kalau aku juga merindukan mu, merindukan kebersamaan kita. Tapi aku sangat tau batasan. Ada hati yang harus aku jaga, dan ada keluarga yang harus aku jaga nama baik nya.] Andra mencoba menegaskan kalimat nya, berharap mantan nya mengerti akan hal itu.
[Apa kamu lupa akan janji-janji mu dulu?]
[Tidak, tapi aku juga ngga’ bisa melupakan janji suci yang sudah aku ucapkan pada Anjani. Janji yang dulu aku berikan pada mu, hanyalah janji-janji biasa, tak ada ikatan yang kuat. Jadi aku mohon, kamu bisa melupakan aku.]
[Kita masih bisa berteman baik kan, Rev?]
[Tentu bisa. Karena memang semua ini murni kesalahanku, aku tidak akan bisa membenci mu. Kita masih bisa berhubungan baik, asal masih dalam batasan yang wajar.]
[Baik lah, Rev. Aku mengerti perasaan kamu. Aku hanya ingin mengutarakan perasaan ku saja. Jika sewaktu-waktu aku membutuhkan bantuan mu, kamu bersedia datang?] ucap Rara dengan perasaan nya yang jauh lebih tenang.
[Iya. Sebisa mungkin aku akan datang jika memang di perlukan]
[Kalau begitu, aku tutup telfon nya, maaf karena sudah membuang-buang waktu mu. Assalamu’alaikum.]
[Wa’alaikumsalam.]
Andra menghela nafas dengan berat. Sungguh di luar dugaan nya. Dalam hati nya, dia hanya berharap, apa yang dia sampaikan tadi tidak menyakiti perasaan siapapun. Termasuk istri nya, Anjani.
Andra tak menyadari bahwa di belakang nya, ada Anjani yang tengah terisak menahan tangis. Dia bersembunyi di balik pintu, mendengar semua percakapan suami nya dengan mantan terindah nya.
Karena takut Andra melihat keberadaan nya, Anjani bergegas melangkah kan kaki menuju kamar mandi. Air mata
nya sudah tak tahan ingin menetes keluar. Dia tak ingin suami nya tahu kalau dia tengah menangis.
Dia tutup rapat pintu kamar mandi, dan menumpahkan segala kesedihan nya di dalam. Tak peduli dengan suara Andra yang sedang memanggil dan mencari nya.
Anjani menyalakan keran yang ada di kamar mandi, berharap suara air menetes mampu meredam suara tangis nya agar tak terdengar oleh siapa pun.
Tok tok tok
“Anjani, kamu di sini?” tanya Andra sembari masih mengetuk pintu. Namun tak ada jawaban dari dalam, hanya suara keran yang terdengar jelas.
“Anjani.. Anjani!” Andra mengetuk pintu dengan keras. Tiba-tiba pintu terbuka, dan Anjani keluar dengan wajah yang datar.
“Kenapa, Mas? Mas nyari aku?” ucap nya hati-hati, agar Andra tak mencurigai nya.
“Kamu kenapa ngga’ jawab? Dari tadi aku nyariin kamu, manggil-manggil kamu,” ucap Andra dengan nada sedikit kesal.
“Maaf, Mas. Aku tadi lagi sakit perut, langsung aja masuk ini,” jawab Anjani berpura-pura, tak lupa dia menyunggingkan senyuman khas nya.
“Lain kali, di jawab, ya kalau lagi dipanggil, biar aku ngga’ khawatir,” ucap Andra sambil mencubit pipi istri nya.
“Iyyaaah.”
“Terus sekarang gimana? Udah ngga’ sakit perut?” Tanya Andra sembari tangan nya memegang perut Anjani.
“Alhamdulillah, udah ngga’. Udah aku tuntas kan semua tadi di kamar mandi. Hehehe” Anjani terkekeh, walau sebenarnya, hati nya sedang tidak baik-baik saja.
Di balik kegundahan hati nya, dia harus berpura-pura tenang di depan suami tercinta nya. Takut menambah luka.
“Sayang, jam 10 nanti aku ada meeting. Kamu ngga’ pa-pa kan dirumah sendiri?”
“Ngga’ pa-pa lah! Aku juga mau beres-beres nanti.”
“Oke.. nanti mbak-mbak ART nya mau datang kesini, kamu tunggu aja mereka. Biar mereka yang beres-beres, kamu istirahat aja dulu.” Di balik sikap Andra yang tertutup, dia selalu memperhatikan hal-hal se kecil apapun. Termasuk soal kenyamanan istri nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments