Chapter 10

Jam 3 dini hari, Anjani sengaja bangun dari tidurnya. Yang biasanya dia selalu bangun jam 5 pagi, untuk melaksanakan sholat Shubuh, itupun menunggu dibangunkan Kakeknya dulu. Tapi kali ini, dia sengaja meniatkan untuk bangun jam 3 pagi, saat dimana orang-orang dirumah sakit masih pada terlelap, hanya sebagian orang yang berlalu-lalang. Tepat di hari Selasa ini, dia berniat ingin melaksanakan sholat Tahajud. Dia ingin mencurahkan segala keluh kesah pada Rabb-nya. Meminta petunjuk dari-Nya.

Disamping ranjang tempat Kakeknya terbaring, Anjani melaksanakan sholat, beruntung tadi ada seorang perawat yang bersedia meminjamkan mukenanya.

Dalam sujudnya, terselip do’a untuk kesembuhan Kakeknya. Memohon agar diberikan ketabahan dan kesabaran yang tak terhingga. Dia mencoba memasrahkan diri pada-Nya. Pasrah akan segala takdir yang diberikan. Da tak lupa, dia juga memohon agar Mas Andra dibukakan pintu hatinya untuk mau menerima kehadirannya sebagai seorang istri.

Selesai sholat, sambil menunggu waktu Shubuh, dia pun lalu meraih ponselnya, dan menulis pesan chat untuk Andra.

“Assalamu’alaikum, Mas Andra. Maaf malam-malam mengganggu, aku mau ngasih tahu, kalau hari ini aku izin tidak bisa masuk kerja.” Dia kirim pesan itu pada suaminya.

Sampai detik ini, Kakeknya belum juga sadarkan diri. Membuat Anjani semakin diliputi kecemasan.

Pagi pun tiba, dan Anjani masih enggan meninggalkan kakeknya sedetikpun. Sorot matanya yang sayu, menyiratkan kesedihan yang mendalam, ditambah lagi karena dia semalaman tidak bisa memejamkan matanya. Pandangannya tidak pernah beralih dari Kakeknya yang masih saja terdiam tak ada reaksi apapun.

Sementara itu, Andra yang saat ini berada di depan rumah Anjani, bingung, karena melihat keadaan rumah Anjani yang sangat sepi, tak ada penghuninya. Dia pun mencoba bertanya pada tetangga sebelah rumah Anjani.

“Permisi, Bu. Maaf menganggu, saya mau tanya, Pak Karim dan Anjani kemana ya? Kok saya lihat rumahnya sepi. Apa mereka sedang keluar?” Tanya Andra pada ibu-ibu yang sedang menyapu halaman rumahnya.

“Mbak Anjani sedang dirumah sakit, Mas.”

“Kalau boleh tahu, siapa yang sakit, Bu?”

“Pak Karim, Mas”

“Ibu tahu mereka pergi ke rumah sakit mana?”

“Sepertinya ke Rumah Sakit Umum daerah sini, Mas.”

“Kalau begitu, saya pamit dulu, Bu. Makasih informasinya. Assalamu’alaikum” Dia pun segera melajukan mobilnya

dengan cepat menuju rumah sakit.

“Halo, Rena. Hari ini aku izin tidak ke kantor dulu. Ada urusan mendadak. Tolong kamu urus dulu masalah di kantor” Andra pun terpaksa pamit tidak masuk kerja.

“Semoga Pak Karim baik-baik saja,” ucap Andra pada dirinya sendiri.

Dalam hatinya, dia sedang memikirkan keadaan istrinya. Dan yang membuat dia kesal, kenapa Anjani tidak memberitahu nya. Pesan chat yang Anjani kirim pun tidak tertulis alasan kenapa dia pamit. Dan lebih kesal nya lagi, pesan chat itu baru dia buka pagi ini.

Sesampainya di rumah sakit, Andra menuju ke bagian resepsionist untuk menanyakan perihal kamar pasien bernama Karim Abdullah.

Setelah mendapat kan informasi, dia berlari menuju kesana.

Dari jarak yang tidak terlalu jauh, terlihat Anjani sedang duduk seorang diri di kursi depan ruangan IGD. Melihat istrinya yang biasanya selalu tebar senyuman, kini terlihat sekali jika istrinya saat ini sedang dilanda kecemasan. Sorot matanya memperlihatkan aura kesedihan.

Andra merasa tak tega. Ingin rasanya dia memeluk wanita yang sudah sah menjadi istrinya.

Dia pun menghampiri Anjani yang masih belum menyadari kehadiran Andra di sampingnya. Anjani terlihat diam

dengan pandangan yang kosong, sama seperti hatinya, terasa hampa.

“Anjani..”

“Mas Andra. Sejak kapan Mas ada disini? Dan tahu darimana kalau aku disini?”

“Itu gak penting, Jani. Sekarang gimana kondisi Kakek?”

“Kakek masih belum sadar, Mas, Sejak semalam.”

“Anjani, kalau kamu butuh bahu untuk sekedar bersandar, aku bersedia meminjamkannya untukmu” Andra merentangkan kedua tangannya agar Anjani bisa memeluknya. Karena dia tahu, di saat-saat seperti ini, Anjani pasti butuh pelukan untuk menguatkan hatinya.

“Hehe, aku gak apa-apa kok, Mas. Mas Andra gak usah khawatir, aku gak apa-apa kok. Aku kan sudah dewasa, gak akan menangis. Tenang aja.” Anjani mencoba berpura-pura kuat didepan suaminya. Tapi Andra tahu, kalau Anjani berusaha menutupi kesedihannya.

Tanpa berpikir panjang, Andra langsung mendekapnya dengan lembut. Tidak memperdulikan Anjani yang terkejut

dengan sikap Andra yang tiba-tiba memeluknya.

“Jika menangis itu hanya Hak untuk anak kecil, jadilah anak kecil. Menangislah sepuasmu, Jani. Luapkan perasaanmu, agar hatimu sedikit lega.”

“Kakek pasti sembuh kan, Mas? Kalau kakek pergi, gimana dengan hidupku? Didunia ini, aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi, hanya Kakek yang aku punya.” Tangis Anjani pun pecah, airmata nya membasahi kemeja Andra.

Dia menangis sejadi-jadinya. Andra semakin mempererat pelukannya. Membiarkan Istrinya menumpahkan segala kesedihannya. Sejenak dia melupakan jarak yang ada diantara mereka berdua.

“Kamu yang sabar, Anjani. Pasrahkan semua pada Allah. Kakek pasti sembuh, do’akan yang terbaik. Dan ingat, kamu gak akan sendirian. Masih ada aku, Mama dan Papa. Jadi, lupakan semua kekhawatiranmu itu.” Andra mulai menyadari perasaanya, dia sudah tak bisa membohongi dirinya sendiri, hatinya kini telah terbuka.

Mendengar penjelasan Andra barusan, perasaan Anjani sedikit tenang. Andra pun melepaskan pelukannya. Lalu menyeka airmata istrinya.

Anjani yang mendapat perlakuan manis dari Andra, tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Senyumnya merekah, dalam hatinya dia berharap, momen-momen indah seperti ini akan terus menghiasi rumah tangga nya.

“Makasih, Mas atas perhatiannya.”

“Kenapa makasih? Bukankah sudah menjadi kewajibanku untuk melindungimu?”

“Bukankah selama ini kita hanya pura-pura bersama demi orang tua kita?”

“Anjani.. asal kamu tahu, sejak pertemuan kedua orang tua ku kemarin, hatiku sudah mulai luluh. Dan mulai saat ini, aku akan berusaha menajdi suami yang baik buat kamu. Tak boleh ada jarak diantara kita.”

“Kenapa Mas Andra tiba-tiba begini? Lalu bagaimana dengan Pacar Mas Andra itu? Bukankah mas Andra masih mencintainya?”

“Pacar? Maksud kamu Rara?”

“Hemm.”

“Aku dan Rara sudah gak ada hubungan lagi. Dia sudah aku anggap teman sendiri. Pertemuan terakhirku kemarin, dia memberitahuku soal rencana nya yang akan menikah dalam waktu dekat ini. Jadi yaa.. urusan kita berdua sudah clear.”

“Benar begitu, Mas?”

“Iya”

“Baiklah, aku akan mempercayaimu, Mas.”

Tiba-tiba terdengar suara alarm dari dalam ruangan tempat Kakeknya terbaring.

Anjani yang panik langsung memanggil perawat yang sedang berjaga didepan.

Setelah sepuluh menit berlalu, dokter yang memeriksanya, keluar dan menemui Anjani.

“Mohon maaf , Mbak. Sebelumnya saya ingin mengucapkan ikut berbela sungkawa. Bapaknya saat ini sudah tiada. Semoga Mbak diberikan kesabaran. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin”

“Maksud Dokter, Kakek saya sudah meninggal?”

“Betul, Mbak”

“Innalillahi wainna ilaihi roojiuun” jawab Anjani dan Andra bersamaan.

Tanpa memperdulikan sekitar, Anjani langsung berlari menuju ke tempat kakeknya yang sudah terbujur kaku. Andra

mengikutinya dari belakang.

“Kakek.. jangan tinggalin Jani, Kek.” Tangis Anjani pecah kembali. Dia memeluk tubuh kaku sang Kakek.

“Jani belum sempat membahagiakan kakek, kenapa Kakek pergi? Jani belum mengucapkan terima kasih, terima kasih karena kakek sudah mau menerima dan merawatku dengan ikhlas. Maafkan Jani, Kek.. Maaf..”

Andra yang tidak tega melihat istrinya seperti itu, langsung memeluk Anjani dengan erat. Dia berharap Anjani bersedia membagi kesedihannya.

Dari kejauhan, Pak Nugroho dan Bu Salsa datang. Anjani yang memang sedang membutuhkan sosok seorang ibu, langsung memeluk ibu mertuanya dengan sangat erat. Bu Salsa dengan sifat keibuannya, membalas pelukan menantunya.

“Kamu yang Sabar, Anjani. Do’akan saja Kakek mu. Karena hanya itu yang ia butuhkan saat ini. Menangislah

sepuasmu, Nak.. agar hatimu jauh lebih lega. Dibalik semua ujian ini, pasti akan ada hikmahnya. Kamu yang tabah. Meski Kakek sudah tiada, masih ada kami yang akan selalu menyayangimu, seperti halnya Kakek yang selalu mencurahkan kasih sayang nya padamu.”

Anjani hanya mengangguk, karena lidah nya seakan kelu dan tak ada sepatah katapun yang bisa dia ungkapkan. Rasa sedih yang terlalu dalam, membuat airmatanya tak berhenti menetes.

Andra yang sangat perhatian, pergi keluar dari rumah sakit, menuju ke supermarket terdekat. Dia membeli beberapa roti dan susu yang akan ia berikan untuk sarapan istrinya. Karena dia tahu, Anjani pasti belum sempat sarapan.

Meski wajahnya yang terlihat cuek dan dingin, namun didepan Anjani, dia bisa bersikap lembut dan sangat perhatian dengan hal-hal sekecil apapun.

Selesai membeli camilan, Andra segera kembali ke rumah sakit. Dia yang akan mengurus kepulangan jenazah Pak

Karim, termasuk segala administrasinya.

Jam 10 pagi, jenazah Pak Karim sudah bisa dibawa pulang untuk segera dimakamkan.

Setelah semua proses selesai. Para tamu yang akan melayat mulai berdatangan, satu persatu mereka memberi ucapan belasungkawa pada Anjani. Termasuk Putri, sahabat nya yang juga ikut hadir disitu.

“Jani sayang, kamu yang sabar yah. Tuhan sedang mengangkat derajatmu. Kamu harus kuat. Masih ada Mas Andra yang akan menjagamu.”

“Makasih ya, Put. Makasih kamu sudah bersedia hadir disini” Putri memeluknya. Memberikan kekuatan pada sahabat tercintanya itu.

Hingga tiba waktu malam, Andra dan kedua orangtuanya yang masih setia menemani Anjani, menyuruh Andra mengajak istrinya untuk istirahat ke kamar.

“Ndra, ajak Anjani istirahat dikamar, kasihan istrimu, dia pasti sangat lelah.”

“Baik, Ma. Oh ya, Mama dan Papa sebaiknya pulang dulu, biar Andra yang menemani Anjani disini.”

“Iya, Ndra. Kebetulan Mama juga lagi sakit kepala. Kamu jagain Anjani ya, kalau ada perlu apa-apa segera hubungi

Mama”

“Iya Ma, Mama tenang aja. Mama dan Papa juga segera pulang istirahat, kalau keadaan Anjani sudah stabil, Andra

akan mengajaknya pulang kerumah baru Andra”.

“Iya, Mama percaya sama kamu. Kalau begitu, Mama dan Papa pamit dulu. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam..” Andra segera menutup pintu rumah dan mengajak Anjani untuk istirahat di kamar.

“Anjani, kamu istirahat aja dulu, sejak semalam kamu gak tidur sama sekali. Tidurlah, biar aku yang akan membersihkan semua ini.” Andra menggenggam tangan Anjani dan mengajaknya menuju kamar untuk beristirahat.

“Aku belum ngantuk, Mas. Mama dan Papa kemana?”

“Tadi waktu kamu ke dapur, Mama dan Papa pamit pulang dulu.”

“Mas Andra kenapa gak ikut pulang juga? Jani gak apa-apa kok. Aku kan bukan anak kecil lagi, masa’ harus

ditemenin? Hehe” meski raut wajahnya terlihat bersedih, tapi dia masih sempat-sempatnya bergurau dan tersenyum.

“Aku mau menemani kamu disini. Boleh kan?”

“Hemm, ya udah, kalau gitu,  aku mau mandi dulu ya, Mas, sekalian mau sholat Isya.”

“Sholat Isya nya berjama’ah saja. Aku juga belum sholat.”

“Iya, Mas.” Anjani lalu berjalan menuju kamar mandi.

Sementara Andra dengan sigap langsung membersihkan barang-barang yang masih tergeletak.

Andra lalu mengambil ponselnya dan mulai memesan makanan lewat online. Sambil menunggu istrinya yang masih mandi.

Tidak sampai sepuluh menit, makanan yang dipesan pun datang. Andra pun langsung meletakkan nya di meja makan.

Anjani yang sudah selesai mandi, berjalan menuju kamar nya. Andra yang berada di meja makan jadi salah tingkah

sendiri saat menatap Anjani yang terlihat lebih segar dari sebelumnya.

Dia pun segera mengambil air wudlu lalu sholat berjama’ah dengan Anjani.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!