Chapter 11

Setelah mereka selesai melakukan sholat berjama’ah, mereka bersiap-siap untuk menyantap makan malam, yang sudah disediakan Andra di meja makan.

“Mas, kita makan di depan tv aja yuk, lebih santai.”

“Baiklah.” Andra lalu mengikuti istrinya dari belakang menuju ke ruang tengah sambil membawa makanan di kedua

tangannya.

Mereka pun duduk bersandingan di sofa depan tv. Saat suapan pertama, air mata Anjani menetes tiba-tiba. Terdengar suara isak tangis yang lirih, namun sangat terdengar jelas di telinga Andra.

“Kakek..” suara nya yang bergetar menahan tangis, membuat Andra langsung membalikkan badannya menghadap Anjani. Dengan lembut tangannya meraih wajah Anjani dan menatapnya dengan penuh kasih sayang.

“Aku tahu kamu masih sedih, menangislah, tak perlu kamu sembunyikan.”

“Mas, Aku belum sempat membahagiakan Kakek, tapi kenapa Kakek pergi?” suaranya bergetar bercampur tangisan.

Tanpa sepatah katapun, Andra langsung memeluk Anjani yang masih menangis. Dia membiarkan istrinya menangis

sepuasnya.

“Menangislah sepuasnya, tapi jangan berlarut-larut. Kasihan Kakek, beliau pasti tidak tenang kalau kamu terus-terusan sedih. Yang beliau butuhkan hanyalah do’a kamu, do’a kita.”

Andra melepaskan dekapannya, tangannya memegang wajah Anjani, dan mendaratkan ciuman lembut di bibir nya.

Sontak Anjani kaget tak percaya dengan yang dilakukan Andra tadi. Tangannya reflek menutupi bibirnya.

“Mas Andra..” Kedua mata mereka saling beradu pandang, mencoba menyelami hati masing-masing.

“Aku menyayangimu, Anjani Zahra,” ucap Andra dengan suara yang lirih dan lembut. Tapi cukup membuat hati istrinya berdegup kencang. Andra pun sama, setelah mengecup bibir istrinya, hatinya berdesir.

“Sudah cukup melihatmu menangis, ada aku disini yang akan menyayangimu. Kita akan memulai hidup baru sebagai suami istri yang sebenarnya. Maukah kamu menerima hatiku?” ungkapan hati Andra akhirnya terucap juga dari mulutnya.

Anjani terdiam sejenak, mencoba mencerna perkataan Andra. Ada sedikit keraguan di hatinya.

Andra meraih tangan istrinya dan menggenggam nya dengan erat, mencoba meyakinkan Anjani.

“Apa kamu masih meragukan perasaan ku? Aku janji akan mengembalikan senyum mu, Anjani.” Diciumnya punggung tangan Anjani dengan sangat lembut dan singkat.

“Kamu janji tidak akan menyakitiku, Mas?”

“Aku akan berusaha semampuku untuk selalu memberikanmu kebahagiaan” terlihat ada ketulusan di matanya.

“Aku percaya padamu, Mas.”

Tangan Andra meraih wajah Anjani,dan kembali mendaratkan ciuman nya di bibir wanita yang kini berada

 dihadapannya. Ditengah percumbuan mereka, tiba-tiba ponsel Andra berbunyi, ada panggilan masuk dari Arif.

“Arif!”

“Ada apa, Rif?”

“Ndra, Pak Yusuf ingin membatalkan kerjasama dengan kita.”

“Kenapa tiba-tiba?”

“Aku juga kurang tahu. Coba tunggu besok, dia pasti akan datang menemuimu di kantor membicarakan soal ini”

“Oke, Makasih infonya.”

“Apa aku mengganggu tidurmu?”

“Sangat mengganggu!”

“Ups, kalau gitu aku minta maaf, kamu pasti lagi mesra-mesraan kan dengan Anjani? Aku tahu itu” goda Arif di

seberang sana

“Aku tutup telponnya!” Andra geram karena di goda Arif.

Anjani dan Andra saling pandang, mereka pun salah tingkah.

“Mas, aku tidur dulu ya,” ucap Anjani mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Sudah larut malam, kamu sebaikya segera tidur.”

“Selamat Malam, Mas.” Anjani beranjak dari kursi, dan segera masuk ke kamar nya, menyembunyikan wajahnya yang sudah merona karena malu.

Andra hanya mengangguk. Dan kembali menatap layar ponsel. Namun nyatanya, dia gak fokus sama sekali. Dia pun akhirnya memilih rebahan di atas sofa. Matanya masih saja enggan terpejam. Mengingat kejadian yang mendebarkan tadi. Pertama kali dalam hidupnya dia mendaratkan ciuman pada seorang wanita. Lebih tepatnya wanita itu adalah istrinya sendiri.

Sementara di dalam kamar, Anjani sudah tertidur. Mungkin karena terlalu kecapekan, sejak peristiwa menyedihkan

itu, dia belum istirahat sama sekali.

Tengah malam, Anjani terbangun, tenggorokannya terasa kering, dia melangkahkan kakinya ke dapur untuk mencari air minum. Langkah nya tiba-tiba terhenti saat melihat Andra yang sedang tidur di sofa depan tv.

Dia kembali masuk ke kamarnya mengambil selimut, lalu memakaikannya pada Andra. Dengan hati-hati dia

menyelimuti Andra, agar tidak membangunkannya. Setelah itu, dia mengambil air minum dan kembali masuk ke kamar nya untuk melanjutkan tidur.

Tapi yang terjadi malah sebaliknya, matanya enggan terpejam. Kini Anjani menatap langit-langit atas kamarnya, memikirkan pernyataan Andra tadi.

“Apa Mas Andra serius mengatakan hal itu?” ucapnya pada diri sendiri.

“Dari sorot matanya, memang ada ketulusan. Tapi kenapa hatiku masih ragu? Aku takut semua itu bukan karena rasa cinta, tapi hanya karena kasihan. Iya, pasti Mas Andra mengatakan itu hanya karena ingin menghiburku saja. Tidak mungkin Mas Andra menyukaiku. Ah, Anjani. Jangan mimpi kamu! Jangan terlalu berharap, karena nanti kamu akan kecewa.” Dia bicara pada dirinya sendiri. Bibirnya tersenyum kecut.

Wajar jika dia meragukan perasaan Andra, pasalnya, selama ini, di kantor Mas Andra masih merahasiakan hubungan mereka.

“Anjani, Anjani. Jangan terlalu ke ge-eran. Baru juga dicium Andra, udah melambung tinggi. Beruntung Mas Andra gak minta yang lebih. hihihi.” Anjani meringis, tertawa kecil, menetawakan dirinya sendiri.

Dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak terlalu berharap. Dia ingin melihat keseriusan suaminya.

Jika selama sebulan ini sikap Andra masih tidak berubah, dia akan menganggapnya hanya perasaan kasihan, bukan cinta.

Tiba-tiba dia teringat akan kakeknya.

“Kakek, Anjani rindu dengan kakek. Semoga Kakek sudah tenang disana. Anjani akan baik-baik saja disini” matanya mulai terpejam dan akhirnya tertidur juga.

Sudah jam 4 shubuh, Andra akhirnya terbangun kala mendengar suara adzan shubuh berkumandang. Dia pun segera ke kamar mandi, dan mengambil air wudhu. Lalu kembali ke depan tv untuk sholat shubuh.

Selesai beribadah sholat, dia beranjak dari tempat duduknya, dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar Anjani

yang masih tertutup.

“Anjani..” panggil Andra sambil mengetuk pintu kamar Anjani.

Merasa ada yang memanggil namanya, Anjani langsung terbangun. Dia baru menyadari kalau semalam Andra tidur dirumahnya. Dia pun segera merapikan rambut dan pakaiannya yang masih berantakan. Langkah nya sedikit gontai karena masih menahan kantuk.

Dia membuka pintu, dan mendapati Andra yang sudah berdiri dihadapannya.

“Ada apa Mas?” tanya Anjani dengan suara yang parau karena masih mengantuk.

“Gak ada apa-apa, Cuma mau banguninkamu untuk sholat shubuh. Keburu waktunya habis” Andra terlihat salah tingkah dan menahan diri untuk tidak berpikiran yang aneh-aneh, hanya karena melihat Anjani yang baru bangun tidur.

‘Kenapa kamu masih terlihat cantik, bahkan ketika bangun tidur,’ gumamnya dalam hati.

Naluri nya sebagai pria dewasa sedang diuji. Dia mencoba menata perasaan dan pikirannya. Walau dalam hatinya,

ada keinginan untuk sekedar memeluk istrinya. Meski mereka adalah pasangan yang sudah sah dan halal, tapi Andra masih belum berani untuk melakukan sesuatu yang lebih, layaknya hubungan suami istri. Dia masih menunggu waktu yang tepat. Apalagi sekarang masih dalam suasana berkabung. Tak elok rasanya jika dia harus menuruti hawa nafsunya.

Tanpa ba-bi-bu lagi, Anjani langsung melangkah ke kamar mandi dan segera melaksanakan sholat shubuh.

Sedangkan Andra kembali disibukkan dengan gawainya sambil rebahan di sofa.

Tak terasa sudah jam 6 pagi, Andra izin pada istrinya untuk pulang kerumahnya.

“Anjani..”

“Iya, Mas” dengan mukena yang masih dia kenakan, Anjani pun segera keluar dari kamarnya saat mendengar panggilan dari Andra.

“Jani, aku mau pulang kerumah Mama Papa dulu, ganti baju. Aku tinggal kerja dulu, kamu gak apa-apa kan sendirian dirumah?”

“Iya Mas, aku gak apa. Lagian aku sudah sedewasa ini, gak usah khawatirin aku. Besok aku mulai masuk kerja lagi”

“Kenapa buru-buru? Kamu istirahat aja dulu, selama seminggu ini gak usah mikirin kerjaan. Masalah finansial, aku

akan transfer ke rekening kamu untuk kebutuhan sehari-hari kita”

‘Kita?’ tanya Anjani dalam hatinya.

“Minggu ini kita akan pindah kerumah baru,” ucap Andra sambil berjalan keluar dari rumah, di susul Anjani.

“Iya, Mas.”

“Aku berangkat dulu, kamu hati-hati dirumah. Kalau ada apa-apa, jangan lupa hubungi aku. Assalamu’alaikum..” Andra menyalakan mobilnya dan berlalu meninggalkan Anjani yang masih berdiri melihatnya sampai mobil silver itu hilang dari pandangan.

Sesampainya di rumah, Andra bertemu dengan Mamanya.

“Ndra, kamu kok disini?” tanya Bu Salsa yang kaget melihat putranya yang keluar dari kamarnya dengan setelan jas.

“Iya, Mah. Andra pulang sebentar, karena kemarin Andra gak bawa baju ganti, jadi ya terpaksa pulang dulu. Aku

berangkat ke kantor dulu ya, Mah.”

“Loh, terus Anjani gimana? Dia sendirian dirumah? Kenapa gak kamu ajak pulang kesini? Kasihan dia sendirian

disana,” ucap Bu Salsa dengan perasaan khawatir.

“Dia baik-baik aja kok, Ma. Nanti sepulangnya dari kantor, Andra akan menemuinya lagi. Assalamu’alaikum.” Ucap Andra yang sedang terburu-buru.

“Wa’alaikumsalam,” jawab Bu Salsa sembari masuk ke dalam rumah.

Tiba di kantor, Andra langsung menemui Reza.

“Kemarin Arif bilang, pak Yusuf ingin membatalkan kerja sama kita. Benar begitu, Za?”

“Iya, Pak.”

“Alasannya apa?”

“Saya kurang tahu, Pak.”

“Hemm, yasudah, kamu silahkan kembali bekerja.”

“Baik, Pak.”

Andra melangkahkan kakinya menuju ke lantai atas, tempat dia bekerja.

Sementara dari lantai bawah, Rena dan karyawan lainnya mulai bergosip, membicarakan hubungan Anjani dan bos nya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!