Chapter 14

“Ndra, kalian nginap di sini, kan?” tanya Bu Salsa yang sudah lebh dulu menyelesaikan makan malam nya.

“Kok nginap, Ma?” Andra balik tanya dengan ekspresi kaget nya.

“Iya, memang nya kenapa kalau nginap di sini?” Bu Salsa menanyakan lagi alasan nya sambil berdiri membawa

piring-piring kotor itu ke dapur. Di ikuti Anjani yang juga ikut membantu membawakan piring-piring kotor itu ke tempat cuci piring.

“Jani ngga’ bawa baju ganti, Ma,” jawab Jani dengan alasan masuk akal nya.

“Iya, Ma, Jani kan ngga’ bawa baju ganti. Lagian kita kan ngga’ ada rencana sampe nginap segala!” Imbuh Andra menambahi penjelasan istri nya.

“Ah, kalau itu ngga’ masalah, Ndra. Sementara pakai baju Mama kan ngga’ apa apa kan?”

“Tapi, Ma..” Andra masih keukeuh menolak permintaan Mama nya.

“Udah! Ngga’ usah tapi-tapian.. pokok nya kalian menginap disini. Titik!” Bu Salsa tak mau kalah dengan putra semata wayang nya. Dan akhir nya mereka berdua pun terpaksa menuruti keinginan Bu Salsa.

“Jani, sudah. Stop! Ngga’ usah repot-repot cuci piring, biar nanti Mbok Ina yang nyucikan. Kamu istirahat aja, Nak,” ucap Bu Salsa dengan penih kelembutan.

“Iya, Ma” Anjani pun langsung menghentikan  aktifitas nya. Tangan nya di gandeng Ibu Mertua nya menuju ke ruang keluarga, dimana Andra dan Papa nya sedang bersantai duduk menonton televisi.

“Ndra, sudah malam. Ajak istri mu istirahat, gih!” pinta Bu Salsa yang sedikit memaksa dan menggoda nya.

Andra yang memang anak penurut, mau tidak mau harus menuruti segala perintah orang tua nya.

“Iya, Ma.” Andra beranjak dari tempat duduk nya dan mengajak istri nya untuk naik ke lantai atas menuju kamar Andra.

Anjani yang saat itu hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi. Mereka jalan beriringan menaiki anak tangga menuju ke kamar Andra.

“Mas Andra ternyata penurut baget ya sama Mama Papa?” ucap Salsa dengan kalimat retoris nya.

“Yaa.. karena itu sebagai bukti tanda bakti kita sama mereka.” jawab Andra apa adanya.

Sampai di kamar Andra, mereka pun masuk bersama.

“Jani, kamu bisa tidur di kasur ku. Nanti aku biar tidur di sofa ini,” sambil menunjukkan tempat tidur masing-masing.

“Iya. Tapi Mas Andra ngga’ pa-pa tidur di sofa? Apa tukeran aja? Aku yang di sofa, Mas Andra yang di kasur.”

“Gini aja, daripada bingung. Mending kita tidur di kasur aja berdua.” Andra tersenyum penuh arti.

Anjani yang sadar dengan senyuman Andra langsung menyanggah nya.

“Jangan, Mas! Kita tidur terpisah aja ya?”

“Emang nya kenapa? Kita kan sudah suami istri, ngga’ dosa kan?” Andra mencoba membela diri dan berusaha mencari alasan yang tepat agar Anjani bersedia tidur satu kasur dengan nya.

“Ya ngga’ pa-pa sih.. Aku Cuma belum siap ajah.”

“Lagian kita kan Cuma tidur aja, ngga’ ngapa-ngapain. Apa jangan-jangan kamu mau kita melakukan sesuatu?” goda Andra pada Anjani. Membuat Anjani salah tingkah.

“Mas Andra! Apa-apaan sih!”

“Ha..ha..ha..” Andra tertawa senang karena berhasil menggoda istrinya. Dia pun keluar dari kamar nya meninggalkan Anjani seorang diri.

Anjani berjalan melihat setiap sudut kamar Andra, di dinding kamar terdapat beberapa foto Andra bersama teman-teman nya. Tapi dari semua foto itu, ada satu foto yang membuat hati Anjani bergemuruh karena rasa cemburu.

Foto Andra bersama dengan seorang wanita cantik sedang duduk berdua di bangku sebuah taman. Dalam foto tersebut, Andra terlihat merangkul wanita itu dengan wajah yang sama-sama bahagia.

Mata nya berkaca-kaca.

“Mereka masih saling mencintai. Bodoh nya aku yang menyukai nya. Andra ngga’ akan mungkin melupakan wanita itu begitu saja. Aku pasti hanya jadi pelarian” ucap nya pada diri sendiri.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Andra masuk dengan membawakan pakaian ganti untuk Anjani.

Anjani menoleh dan langsung menyeka air mata nya yang hampir menetes. Lalu menghampiri suami nya.

“Ini pakaian ganti nya. Kamu mandi duluan. Aku mau tiduran dulu sebentar. Nanti bangunin aku ya kalo kamu udah selesai mandi,” pinta Andra

“Makasih, Mas.” Dia pun langsung melangkahkan kaki nya menuju ke kamar mandi. Sementara Andra rebahan di sofa sambil bermain dengan ponsel nya.

Jari nya berhenti menggeser layar ponsel nya ketika ada pesan chat masuk dari nomor yang tak di kenal.

[Malam, Mas Andra..]

[Maaf, ini siapa?]

[Saya Vina, Mas.]

Ternyata dari Vina, sepupu nya yang ada di luar negeri.

[Ohh, iya. Ada apa?]

[Ngga’ ada apa-apa, Mas. Cuma mau kasih tahu aja nomor aku. Di save ya, Mas]

[oke] jawab Andra singkat. Dia pun lanjut membuka sosial media nya, tapi ada pesan masuk lagi. Dari Vina.

[Mas, lagi sibuk apa?]

[tiduran] jawab Andra asal-asalan

[Oh, denger-denger Mas Andra sudah menikah ya? Istri nya orang mana, Mas?]

Merasa jengah dengan pesan chat dari sepupu nya itu, dia pun hanya menjawab chat itu dengan singkat.

[Jakarta]

[ngomong-ngomong, minggu depan aku mau pulang ke indo. Mas mau ngga’ jemput aku ke bandara. Aku ngga’ tau harus minta tolong ke siapa. Mama Papa ngga’ ikut pulang]

[Ngga’ bisa]

[Kenapa ngga’ bisa?]

[Aku izin dulu sama istri ku]

[Oh, Istri Mas pasti mau ngizinin, Cuma jemput aja kok]

[Aku mau tidur]

[Iya Mas, selamat tidur, Mas Andra. Salam buat Om dan Tante, salam ke Istri Mas Andra juga]

Andra tak membalas chat terakhirnya. Benar-benar mengganggu mood nya.

Terdengar Anjani yang sudah selesai mandi. Andra langsung berpura-pura tidur dan memejamkan mata nya.

“Mas Andra masih tidur rupa nya” Anjani berbicara sendiri, sembari meletakkan pakaian kotor nya di kursi samping ranjang.

Dia pun menghampiri Andra yang masih tertidur.

“Mas.. Mas Andra.. bangun Mas. Katanya mau mandi. Cepetan bangun!” Anjani menggoyang-goyangkan tubuh suami nya agar segera bangun dari tidur nya

“Mas.. bangun, Mas!” tiba-tiba Andra menarik tangan nya, hingga membuat Anjani meng-aduh. Jatuh tepat di atas Andra. Dengan posisi Anjani yang menindihi suami nya.

“Mas Andra!” Anjani berusaha berdiri tapi tangan Andra memeluk pinggangnya erat. Membuat Anjani tak kuasa untuk melawan.

“Biarkan seperti ini. Aku hanya butuh 5 menit untuk memeluk mu” ucap Andra pada istri nya yang masih berusaha

melawan. Mereka pun berpelukan selama 5 menit lebih.

“Hmm.. wangi. Membuat ku ingin berlama-lama memeluk mu.” Andra berusaha menahan nafsu nya. Darah nya berdesir, jantung nya berdegup saat mengucapkan kalimat itu.

“Mas Andra , gombal banget, deh! Udah, Mas.. aku ngga’ bisa nafas nih.”

“Kalau ngga’ bisa nafas, biar aku kasih nafas buatan.” Andra mendaratkan ciuman nya ke bibir istri nya. Sangat singkat namun terasa manis.

“Mas Andra! Katanya Cuma 5 menit, ini sudah lebih dari 5 menit.”

Andra pun melepaskan pelukannya dan beganti mencium Anjani lagi. Kali ini ciuman nya lebih lama dan intens. Anjani yang awal nya menolak, akhirnya sama-sama menikmati saat bibir mereka saling melumat.

Anjani yang tersadar, langsung bangun dan berdiri.

“Mas Andra cepetan mandi! Aku mau tidur, ngantuk.” Anjani segera menuju ke kasur tanpa menoleh ke Andra sedikit pun, dengan wajah yang merah karena malu.

Andra tersenyum bahagia. Dia pun segera menuju ke kamar mandi.

“Jani, kamu kenapa membalas ciuman nya? Jangan tertipu sama rayuan suami mu! Sadar lah, Jani… kamu Cuma

pelampiasan saja” Ucap Anjani pada diri nya sendiri

Dia pun menutup seluruh tubuh nya dengan selimut. Berharap agar bisa menghindari obrolan dengan Andra. Namun akhirnya, dia tertidur saat Andra sudah selesai mandi.

Melihat istrinya yang sudah terlelap. Dia menghampiri nya dan duduk di tepi kasur. Di tatap nya wajah Anjani yang terlihat cantik meski tanpa make-up. Entah apa yang ada di pikirannya. Dia pun mendaratkan ciuman nya di kening Anjani dengan sangat lembut agar tak sampai membuat nya bangun.

Andra pun akhir nya menyusul istrinya tidur. Mereka tidur di ranjang yang sama.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!