Chapter 13

Selesai meeting dengan Pak Arman, mereka pun kembali ke kantor. Dalam perjalanan, Anjani tiba-tiba bertanya,

“Mas Andra, kalau boleh tau, rumah yang bakalan kita tempati itu, ada berapa kamar, yah?”

“Kamu mau nya berapa?” Andra malah balik tanya. Sengaja menggoda istri nya itu.

“Mas Andra ini di tanyai bukannya menjawab malah balik tanya. Gimana coba’..?” Anjani sedikit kesal dengan Andra.

“He..he..he.. becanda, Sayang..  ehmm… sepertinya ada 4 kamar nantinya.” Anjani yang mendengar Andra memanggilnya ‘sayang’ jadi salah tingkah sendiri, wajah nya semu merah.

“Loh, Mas Andra kok sudah berani manggil sayang-sayangan. Mas Andra gak takut?”

“Takut kenapa?”

“Takut ketahuan orang lain he..he..”

“Ha..ha.. udah gak takut lagi kok.” Andra menoleh ke arah Anjani.

“Ah, yang bener..???” goda Anjani dengan wajah jahil nya yang mendekat ke wajah Andra.

“Kamu udah berani godain aku, Jani?” tiba-tiba Andra menepikan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan.

Dia balik menyerang Anjani yang sedari tadi membuat hati nya berdegup tak karuan, Andra balik mendekatkan wajah nya tepat di depan Anjani, sontak saja Anjani dibuat terkejut dengan serangan balik Andra. Ganti suami nya yang menggoda.

Andra semakin mendekatkan wajah nya, membuat Anjani merasa terpojok hingga hampir kepala nya membentur kaca mobil.

“Mas Andra! Jangan ngawur, deh. Ini di jalanan tau! Kalau di lihat orang lain gimana? Nanti di kira nya kita pasangan mes*m,” kedua tangannya memegang pundak Andra, mendorong nya sekuat tenaga, tapi tidak berhasil.

“Aku gak peduli!” wajahnya semakin dekat, hingga hampir tak berjarak. Anjani reflek memejamkan mata nya.

Andra hanya tersenyum senang, merasa berhasil mengerjai istrinya. Satu kecupan lembut mendarat di kening Anjani. Membuat Anjani langsung membuka mata nya. Kedua mata mereka saling beradu pandang.

“Aku mencintaimu, Anjani,” ucap Andra dengan suara yang sangat lirih, setengah berbisik.

Anjani yang salah tingkah, langsung mendorong tubuh suami nya agar menjauh. Wajah nya memerah, jantung nya berdetak semakin kencang, namun ada perasaan tenang dan bahagia saat Andra mengucapkan kalimat itu.

Andra kembali ke posisi duduk nya lagi. Dan melanjutkan perjalanan.

Ternyata, tidak hanya Anjani yang hati nya kegirangan. Andra pun tak kalah senang nya. Dia sampai menggigit bibir nya, menahan gejolak yang ada di hati nya.

‘Anjani.. kamu membuat ku candu,’ batin Andra gemas.

Sesampai nya di kantor, Anjani seperti menjaga jarak, entah karena malu atau karena ingin menghindari gosip.

Andra yang melihat Anjani menjauhinya, hanya bisa tersenyum sambil tetap melanjutkan lagkah nya menuju ke ruangan lantai atas.

Sepuluh menit berlalu, tapi Anjani tak kunjung muncul juga. Andra yang sedari tadi menunggu kehadiran istrinya, mencoba untuk menghubungi. Baru saja dia ingin menekan tombol panggil, Anjani datang dengan wajah polos nya.

“Kamu darimana?”

“Aku? Emmm tadi aku ke toilet sebentar. Kenapa memang nya, Mas?”

“Dari tadi aku nungguin kamu.”

“Kenapa nungguin aku?”

“Aku pengen makan kamu!” canda Andra yang hasrat nya sudah di ubun-ubun. Dia mendekati Anjani yang sedang merapikan pakaian nya.

Dia mendorong tubuh Anjani ke belakang, hingga menyentuh dinding. Mengunci tubuh istrinya, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Anjani.

“Kita sudah sah menjadi suami istri, bolehkan aku meminta sesuatu yang lebih dari ini?” ucapnya dengan berbisik.

“Maksud, Mas Andra apa?”

“Melakukan hubungan selayak nya suami istri”

“Maaf, Mas. Aku belum siap.”

“Kenapa? Apa kamu masih saja meragukan hatiku?”

“Bukan karena itu, Mas. Aku percaya kok sama Mas Andra, tapi aku masih belum terbiasa saja, masih butuh waktu. He..he.. Mas Andra jangan marah, yah?” ucap Anjani dengan nada manja nya. Semakin membuat Andra gemas.

Anjani yang merasa malu, mencoba mendorong tubuh Andra menjauh, tapi Andra malah semakin mendekat.

“Mas Andra ini suka gak lihat-lihat tempat\, ih. Ini di kantor\, nanti kalau ada karyawan lain masuk kesini bi--” *cup* belum sempat Anjani menyelesaikan kalimat nya\, Andra sudah mendaratkan satu kecupan kilat di bibir tipis Anjani. Kilat namun terasa manis.

“Mas Andra.. jangan usil deh!” *cup cup* Andra kembali mengecup bibir istri nya.

*tok tok tok* tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu.

Andra tersenyum manis pada Anjani. Dan segera melepaskan kungkungan nya. Anjani langsung merapikan pakaian nya yang sedikit berantakan. Dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Sedangkan Andra kembali ke kursi nya.

“Masuk..” ucap Andra pada seseorang di luar pintu.

“Hai, Ndra.”

“Kamu, Rif. Ada apa kemari?”

“Ini tadi aku bertemu Pak Yusuf. Dia bilang kalau perusahaan nya tetap ingin membatalkan kerja sama dengan kita”

“Hmmm, yah kalau memang itu sudah keputusan yang tidak di ganggu gugat. Kita bisa apa? Kita cari investor lain saja. Menurut kamu gimana, Rif?”

“Ya.. terserah kamu, Ndra.”

“Ya sudah, cari orang lain aja yang bisa di ajak kerja sama.”

“Oke. Kalau gitu, aku permisi dulu. Mbak Anjani, saya pamit dulu..” Arif pamit keluar dari ruangan.

“Eh Iya,” jawab Anjani yang masih pura-pura sibuk dengan ponsel nya.

Arif adalah sahabat Andra dari kecil. Karena keterbatasan ekonomi, Andra yang memang sangat baik dan dermawan, berniat membantu sahabat nya itu untuk bekerja. Dia pun mempekerjakan Arif sebagai kaki tangan nya, alias orang kepercayaan nya. Hampir semua rahasia Andra, Arif mengetahui. Karena sifat Arif sangat jujur dan apa ada nya, Andra pun betah bekerja sama dengan nya.

“Namanya Arif, dia orang kepercayaan ku.” jelas Andra pada Anjani

“Ooh..,” jawab Anjani singkat.

Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Mereka berdua pun bersiap-siap untuk pulang.

Tiba-tiba ponsel Andra berbunyi.

“Ndra..,” ternyata dari Bu Salsa.

“Assalamu’alaikum, ada apa, Ma?”

“Wa’alaikumsalam, Ndra, kamu masih di kantor apa sudah pulang?”

“Masih di kantor dan bersiap-siap untuk pulang, kenapa, Ma?”

“Kamu pulang kesini ya, ajak Anjani juga. Kita makan malam bersama”

“Siap! Kami berangkat dulu, Ma. Assalamu’alaikum..”

Andra memasukkan ponsel nya ke dalam saku celana. Dan menghampiri Anjani yang sudah menunggu di dekat pintu.

“Hari ini kita pulang ke rumah Mama dulu, Mama ngajakin kita makan malam bersama.”

“Ooh.. oke, Mas.”

Andra meraih tangan Anjani dan menggandengnya sambil berjalan keluar kantor menuju parkiran. Beruntung suasana kantor sudah lumayan sepi, karena banyak karyawan yang sudah pulang lebih dulu.

Tangan Anjani yang mungil, tak bisa menahan nya. Dia hanya bisa pasrah dengan tingkah laku suami nya itu.

Karena jarak antara kantor dan rumah orang tua nya tidak terlalu jauh, mereka hanya butuh 15 menitan untuk sampai di rumah Orang Tua Andra.

Tadi saat di perjalanan, Andra berhenti dan mampir sebentar untuk membeli Martabak Manis langganan nya.

Setelah sampai di rumah orang tua nya, Andra kembali menggandeng tangan Anjani dan mengajak nya masuk ke rumah bersama.

Di dapati nya Bu Salsa yang sedang sibuk menyiapkan meja makan untuk acara makan malam.

“Assalamu’alaikum, Ma..” “Papa mana, Ma?”

“Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah.. kalian sudah nyampe dengan selamat. Papa.. kayak nya masih di kamar.”

“Andra ke kamar dulu, Ma. Mau ganti baju.”

“Sayang, aku ke kamar dulu, ya,” pamit Andra pada Anjani.

“Iya,” jawab Anjani singkat. Dia pun lalu menghampiri Bu Salsa.

“Mama..” ucap Anjani yang langsung mencium punggung tangan Ibu Mertua nya.

“Anjani, lama tidak bertemu. Kamu gimana kabar nya, Sayang?”

“Alhamdulillah, Jani baik, Ma..”

“Alhamdulillah kalo gitu.” Bu Salsa merangkulkan tangan nya ke pundak Anjani. Terlihat sekali kalau Bu Salsa sangat menyayangi Anjani.

“Kamu duduk disini dulu, Mama mau lanjutin ke dapur dulu,” ucap Bu Salsa menyuruh Anjani duduk di sofa ruang keluarga.

“Jani bantuin ya, Ma.”

“Boleh.. kamu bantuin angkat piring-piring ini ke meja makan, ya. Mama mau beresin dapur dulu sebentar.”

“Siap, Ma!” ucap Anjani semangat dengan senyum lebarnya.

“Ngomong-ngomong, kamu hari ini kelihatan bahagia sekali, Jani.” tanya Bu Salsa mulai menggoda menantu nya.

“Ah, ngga’ kok, Ma.. sama seperti biasa nya,” jawab Anjani mencoba mengelak.

Bu Salsa hanya tersenyum lebar mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh menantunya.

“Andra… Papa… cepetan turun! Makanan udah siap, nih.” ucap Bu Salsa sedikit teriak.

Tak berselang lama, Andra dan Pak Nugroho turun bersamaan.

“Assalamu’alaikum, Pa” ucap Anjani pada Papa mertua nya dan mencium punggung tangan nya, sebagai tanda rasa hormat pada orang yang lebih tua.

“Wa’alaikumsalam, gimana kabar kamu, Jani?”

“Alhamdulillah, baik dan sehat, Pa.”

“Dari tadi, Anjani mulu yang di tanyain kabar. Andra gak di tanyain juga, nih..” Andra tiba-tiba nimbrung, merasa di cuekin.

“Hahaha.. Kalau kamu, gak perlu di tanya, Ndra. Sudah pasti selalu baik, asalkan ada dompet dan ponsel.” Ucap Papa nya jahil.

Mereka semua tertawa mendengar ucapan Pak Nugroho. Beliau memang sangat humoris.

“Sudah, ayo kita mulai makan malam nya. Anjani pasti sudah lapar,” sela Bu Salsa.

Mereka pun mulai menikmati hidangan makan malam dengan bahagia.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!