Chapter 5

Sesampainya di rumah, Andra bertemu dengan kedua orang tua nya yang sedang menonton televisi bersama di ruang keluarga.

“Assalamu’alaikum, Ma, Pa,” sapa Andra sambil mencium tangan kedua orang tua nya.

“Wa’alaikumsalam. Kenapa malam sekali pulangnya? Tumben..” kata Bu Salsa.

“Iya, Ma, tadi Andra pulang bareng Anjani sekalian nganterin dia pulang dan menjenguk Pak Karim. Oh ya, tadi Pak Karim nitip salam buat Mama dan Papa.”

“Anjani dan Pak Karim gimana kabar mereka?”

“Alhamdulillah Pak Karim sehat, Ma,” jawab Andra

“Sykurlah. Sejak Anjani datang ke Jakarta, kita belum ketemu mereka, Pa. bagaimana kalau besok kita kerumah

mereka? Sebagai besan, kita harus sering-sering bertemu” ucap Bu Salsa yang memang sangat merindukan sosok menantu perempuannya.

“Iya, Ma, Papa juga ingin bertemu Pak Karim. Besok kita bertiga kesana, ya. Gimana, Ndra? Kamu ada waktu besok?”

“InsyaAllah, Pa. Mumpung besok hari Minggu.” Jawab Andra.

Pak Nugroho dan Bu Salsa mengangguk tanda setuju.

“Oh ya, Ma, Pa. Kalau rumah Andra sudah selesai di renovasi, Andra rencananya akan tinggal disana dengan Anjani dan Pak Karim. Mama Papa kan tahu sendiri, Pak Karim sudah sepuh, kasihan juga kalau harus tinggal jauh dengan Anjani, apalagi gak ada yang merawat dan jagain beliau. Kalau Pak Karim ikut pindah, InsyaAllah Andra juga mau nyari ART buat jagain Pak Karim kalau pas ditinggal pergi kerja. Mama Papa gak keberatan, kan?” imbuh Andra mencoba menjelaskan niat baik nya.

“Mama dan Papa sangat setuju, Ndra. Alhamdulillah kalau kamu punya niatan baik itu.”

“Yaudah, Andra mau mandi dulu ya, Ma, Pa.” Pamit Andra sambil berlalu meninggalkan kedua orang tuanya yang masih melanjutkan nonton tv bersama.

Andra menuju kamar nya dan langsung mandi. Badannya cukup gerah. Sekalian mendinginkan pikiran.

Andra memulai karirnya sebagai CEO di perusahaan Papa nya, sejak 2 tahun yang lalu. Kini usianya sudah hampir 30 tahun. 5 tahun lebih tua dari Anjani.

Perawakan tubuhnya yang seperti model, dengan tinggi badan yang proporsional, wajah yang tampan, dan

karakternya yang terlihat dingin, banyak wanita yang mencoba mendekatinya. Namun, tak ada satupun yang berhasil mengambil hatinya. Hingga ia bertemu dengan Rara, seorang guru muda di sebuah sekolah TK. Usia nya hanya selisih 2 tahun dibawah Andra.

Rara yang saat itu sedang berjalan menuju ke sekolah TK tempat ia mengajar, tiba-tiba dari arah belakang ada

seorang anak kecil yang sedang bermain pistol air dan tidak sengaja menyemprotkan pistol mainannya ke arah Rara. Pakaian seragam Rara pun basah terkena pistol air tersebut, lalu dari kejauhan, ibu dari anak kecil tersebut

marah-marah dan meminta maaf pada Rara atas perbuatan anak nya. Si anak kecil yang di marahi ibunya itu menahan tangis dan seperti ketakutan. Berkali-kali si Ibu meminta maaf pada Rara. Namun Rara tidak mempermasalahkan kejadian itu.

“Maaf kan anak saya, Bu Guru. Gara-gara anak saya, baju Bu Guru basah,” ucap si Ibu dengan perasaan bersalah.

“Ibu, gak perlu minta maaf, Bu. Anak ibu gak salah, namanya juga anak kecil, dunianya masih main-main, lagian si adik juga tidak sengaja, ya kan, Dik?” bujuk Rara sambil berjongkok mencoba menjajarkan posisinya dengan anak tersebut. Sehingga Rara bisa melihat kedua mata anak tersebut yang masih menahan tangis.

"Sudah, jangan nangis lagi, ya...,” ucap Rara yang masih tidak tega melihat anak itu menunduk menahan tangis.

“Bu, saya pamit dulu, ya. Mau masuk kelas, anak ibu gak salah, gak usah di permasalahin soal baju saya. Nanti juga kering sendiri, Bu. Saya pamit dulu. Assalamu’alaikum” Rara segera pamit sambil mengelus kepala si Anak.

Andra yang menyaksikan kejadian tersebut dari jarak yang tidak terlalu jauh, tersenyum dan seperti ada yang

mengetuk pintu hatinya. Sosok Rara seperti enggan pergi dari pikirannya, meski hanya beberapa menit saja dia melihat wanita tersebut, namun kemunculannya seakan berhasil mengisi separuh hati Andra yang masih kosong.

Sungguh pertemuan yang sangat singkat namun begitu berkesan. Dalam hati Andra, sosok wanita seperti Rara lah

yang ia cari-cari. Penyayang, penyabar, suka dengan dunia anak-anak, dan lembut tutur katanya.

Dua tahun dia menjalin hubungan dengan Rara, namun sayang, kedua orang tuanya belum memberikan restu. Mereka pun backstreet. Meski begitu, kehidupan cinta nya mengalir dengan indah. Hingga akhirnya, Andra di jodohkan oleh kedua orang tuanya dengan gadis yang belum pernah ia temui. Pernikahan mereka pun dilaksanakan dengan terburu-buru. Dan karena rasa kecewanya yang sudah tak terbendung, Andra memilih untuk tidak hadir ketika ijab qabul itu dilangsungkan. Dia malah menyuruh orang suruhannya untuk mewakilkan.

Harapan yang ia mimpikan bersama dengan Rara, sirna begitu saja. Rara yang merasa di khianati pun belum

sepenuhnya menerima tapi dia mencoba mengikhlaskan seiring berjalannya waktu. Rara mencoba meyakinkan Andra kalau semua yang terjadi ini adalah takdir yang harus di jalani. Rara mencoba membujuk Andra, agar tidak terlalu berlarut-larut dalam kesedihan, apalagi menyimpan dendam dengan kedua orang tua nya. Jika memang

mereka berjodoh, mereka pasti akan bersatu. Tapi jika tidak pun, mereka masih bisa menjadi sahabat dan saudara. Begitulah keinginan Rara. Dia pun mencoba ikhlas, dan akan melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang Andra.

Bahkan setelah Andra menikah pun, mereka masih berkomunikasi dengan baik, walau masing-masing masih menyimpan sedikit rasa, tapi mereka tahu batasan. Tidak mudah menghapus segala kenangan yang sudah terukir dengan indah. Hanya waktu yang mampu menhapusnya.

Andra pun sudah mulai sedikit move on dari Rara, sejak dia bertemu dengan sosok Anjani. Yang menurutnya sangat mirip dengan kepribadian Rara. Hanya saja, Rara terlihat kalem karena dia seorang guru sedangkan Anjani dia sosok yang ceria, periang, dan sedikit tomboy. Keduanya sama-sama berwajah cantik dan manis.

Selesai mandi, Andra segera melaksanakan sholat Isya. Setelah itu dia kembali merebahkan tubuhnya di kasur

dan mengambil ponselnya. Terlihat foto Rara menghiasi layar ponselnya. Dia memencet tombol telepon, nama yang tertera ‘Rara’ namun entah kenapa dia mengurungkan niatnya. Dan beralih ke nomor baru yang sudah ia simpan tadi siang saat di kantor. Nomor yang bernama ‘Anjani’ ia dapatkan saat melihat resume milik Anjani. Ada data dirinya, dan langsung menyimpan nomor nya.

“Ini aku, Andra,” tulis Andra di pesan whatsapp yang dia kirim ke Anjani. Namun, pesan nya belum juga centang

biru, menandakan si pemilik nomor belum membaca pesannya. Andra pun tertidur dengan ponsel yang masih berada dalam genggamannya.

Sama halnya dengan Anjani, yang sedang tertidur. Dia tak tahu jika Andra sedang mengirim pesan kepadanya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!