“Anjani, Mama mau tanya sesuatu. Apa kamu sudah menemukan pekerjaan yang cocok?”
“Alhamdulillah sudah, Ma.”
“Ooh, Mama boleh kasih saran gak? Sekaligus harapan Mama dan Papa.”
“Mama dan Papa rencananya ingin kamu menjadi Asisten Pribadi nya Andra. Menurut kamu, gimana?” tanya Bu Salsa yang masih belum menyerah dengan rencana nya.
“Asisten Pribadinya Mas Andra?” tanya Anjani.
“Iya, Jani” jawab Bu salsa dengan lembut.
“Tapi Anjani kan sudah ada pekerjaan baru, Ma. Lagipula, apakah Mas Andra juga bersedia dengan rencana Mama?” tanya Anjani sambil melirik ke arah Andra yang lebih banyak diam nya.
Andra yang merasa namanya di sebut, langsung menoleh ke arah Anjani, memasang wajah bingung.
“Urusan Andra setuju atau tidaknya, tergantung dari kamu, Anjani. Kalau kamu bersedia, Andra akan usahakan untuk menerima permintaan Mama.” Ucap Bu Salsa yang seakan membuat Andra tak bisa menolak.
“Iya, Jani. Untuk pekerjaan baru mu itu, Papa saranin kamu mengundurkan diri saja. Ini demi kebaikan kalian
berdua.” Imbuh Pak Nugroho yang sedari tadi hanya mengiya-iyakan saja atas ucapan Bu Salsa.
“Anjani pikir-pikir dulu ya, Ma.”
“Jangan lama-lama mikirnya, Jani. Nanti keburu di ambil orang lain suami mu itu” goda Bu Salsa.
“Emm, menurut Kakek gimana?” tanya Anjani pada kakeknya, karena semua keputusan beliau sangatlah penting bagi Anjani. Dia hanya ingin membahagiakan Kakek nya.
“Kakek tidak mau memaksakan kamu, semua keputusan ada pada hatimu. Apapun keputusan mu, Kakek akan mendukungnya.” Ucap Pak Karim dengan bijak.
“Iya, Jani. Apapun keputusan mu, kami akan sangat menghargainya. Mungkin kamu masih butuh waktu” Jelas Pak Nugroho.
Anjani mengarahkan pandangannya pada Andra. Berharap menemukan jawaban yang tepat dari suaminya. Kedua mata mereka bertemu, saling pandang, Andra dengan tatapan pasrah apapun keputusan Anjani. Sedangkan Anjani masih dilema. Mencoba meyakinkan dirinya, bahwa ini semua sudah takdirnya. Dia hanya berharap yang terbaik untuk dirinya dan suaminya.
“InsyaAllah Anjani bersedia,” jawab Anjani dengan tegas. Akhirnya ia bisa bernafas lega. Semoga semua keputusannya kali ini tidak salah.
Mereka yang harap-harap cemas menantikan keputusan akhir Anjani, kini bisa sedikit lebih tenang dan bersyukur.
“Alhamdulillah, semoga ini yang terbaik buat kalian berdua” jelas Pak Nugroho.
Selesai berbincang dengan serius, mereka mulai menyantap camilan yang disuguhkan, sebelum akhirnya mereka berpamitan pulang.
Beruntungnya Anjani yang mendapatkan kasih sayang dari Kakek, dan Mertua nya, tapi tidak oleh Suaminya sendiri, Andra. Dia masih merasa asing dengan keberadaan Andra. Seperti sulit untuk diraih. Time Will Answer.
“Pak Karim, kami mohon izin pamit pulang dulu. InsyaAllah jika ada waktu luang lagi, kami akan berkunjung kembali. Terima kasih atas suguhannya dan maaf merepotkan. Anjani, mulai besok kamu sudah bisa kerja menjadi Asisten Pribadi Andra. Dan Andra, kamu berkewajiban menjemput istrimu tiap hari. Ingat ya!” ucap Bu Salsa yang masih saja menggoda putranya.
Pak Karim dan Anjani mengangguk menanggapi perkataan Bu Salsa. Sedangkan Andra malah memasang wajah heran, dan pasrah.
“Assalamu’alaikum..” Ucap mereka bersamaan sambil masuk ke dalam mobil.
“Wa’alaikumsalam..” jawab Anjani dan Kakeknya. Mereka yang masih menunggu mobil silver itu menjauh menghilang dari pandangan.
Lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah kembali.
Anjani menghela nafas dengan berat.
“Kamu kenapa, Jani?” tanya Kakek.
“Gak apa-apa, Kek” jawab Anjani dengan tersenyum demi menyembunyikan keresahannya.
Anjani pun merapikan gelas-gelas dan membersihkan meja di ruang tamu. Lalu membawanya ke dapur untuk kemudian di cuci.
Selesai bersih-bersih, Anjani menuju ke kamar nya, merebahkan tubuhnya. Merenung. Memikirkan hari esok
“Semoga esok menjadi permulaan yang baik antara aku dan Mas Andra”. Dia pun lalu memejamkan matanya.
Sudah 2 jam lamanya Anjani tertidur. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Kakek membangunkan Anjani untuk segera melaksanakan sholat Dzuhur. Anjani yang masih dalam keadaan tertidur, langsung terperanjat bangun saat suara kakek masuk ke telinganya.
“Anjani, sholat Dzuhur dulu!” Perintah Pak Karim, lalu meninggalkan Anjani yang masih belum tersadar sepenuhnya.
“Hoaaammm.” Anjani menguap dan bersiap bangun untuk segera melaksanakan sholat Dzuhur.
Saat Anjani sedang melaksanakan sholat, ponsel berdering, ada panggilan masuk dua kali. Tapi belum juga di
jawab sang empu nya, dikarenakan masih melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslimah.
Selesai salam, Anjani berdo’a sebentar, kemudian meraih ponsel nya dan mengecek notifikasi.
“Mas Andra? Ngapain dia nelfon? Kangen mungkin.. haha ngayal aja gue!” Anjani bicara sendiri.
‘Ada apa Mas Andra nelfon aku?’ isi chat whatsapp Anjani yang dia kirim untuk suaminya.
Tiba-tiba ponselnya berdering lagi.
“Malah nelfon lagi, kenapa gak balas chat wa aja sih?” gerutu Anjani kesal.
Anjani dengan terpaksa mengangkat panggilan telepon dari suaminya.
“Iya Mas, ada apa?” ucap Anjani yang langsung ke intinya, tanpa ucap salam dulu.
“Assalamu’alaikum..” Ucap Andra sengaja menyindir Anjani yang main terobos saja.
“Eh iya lupa, Wa’alaikumsalam.. ada perlu apa Mas Andra nelpon Jani?”
“Gak ada apa-apa, Cuma mau memastikan aja, apa kamu yakin besok dan seterusnya kita berangkat kerja bareng?”
“Memangnya kenapa, Mas? Mas Andra keberatan? Kalau Mas Andra merasa keberatan, ya gak usah bareng, berangkat sendiri-sendiri aja. Masalah Mama dan Papa, kita pura-pura aja, toh gak mungkin ketahuan juga kan?”
Mendengar Anjani bicara tanpa jeda, terlihat Anjani seperti menahan kesal.
“Aku justru takut kamu yang keberatan dengan keputusan itu”
“Aku? Gak kok, Mas. Aku merasa biasa-biasa saja. Mau bareng, oke. Mau berangkat sendiri juga oke oke aja!”
“Yaudah, kalau begitu sampai ketemu besok. Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumsalam.”
Pembicaraan pun selesai.
“Sudah ku duga sih, Mas Andra pasti gak mungkin mau dengan rencana Mama. Ah, bodo amat lah. Males juga mikirin perasaan orang lain, dia nya aja gak pernah mikirin perasaan aku. Ini mah ceritanya Suami Ku Bukanlah Suamiku” Anjani mengoceh sendiri meluapkan perasaan kesalnya.
Anjani lalu menghubungi sahabatnya, Putri. Dia lagi butuh teman bicara. Putri, adalah sahabatnya dari sejak sekolah TK sampai sekarang.
“Hallo, Jani. Mau curhat apa hari ini?” tanya Putri yang sudah bisa menebak tujuan utamanya Anjani menelfon dia.
“Ah kamu! Tau aja isi hatiku! Aku lagi kesel nih” ucap Anjani memulai sesi curhat nya.
“Masalah apa, Sayang ku? Masalah suami misterius kamu?” tebakan Putri benar.
“Siapa lagi kalau bukan Mas Andra,” ucap Anjani dengan nada lemas.
“Kenapa dengan suamimu?”
“Tau tuh, nyebelin! Niat mertua ku kan baik, pengen hubungan ku dan Mas Andra lebih dekat, tapi kayaknya Mas Andra enggan membuka hati nya, padahal aku sudah mulai mencoba membuka hati buat dia. Itu artinya, cinta ku bertepuk sebelah tangan. Menurut kamu, aku harus gimana, Put?”
“Hemmm.. kamu jangan nyerah dulu, Jani! Belum juga berjuang udah nyerah duluan. Wajar lah suami mu begitu, dia kan masih terbayang-bayang mantannya. Jadi, menurut aku, kamu harus berusaha menunjukkan kalau kamu udah membuka hati buat dia. Tapi pelan-pelan saja. Jangan terlalu memaksa. Biar cinta itu hadir dengan indah di hati Andra. Tanpa paksaan dan bukan karena rasa kasihan padamu. Perlakukan dia seperti layaknya suami sesungguhnya. Tunjukkan sisi baikmu. Suatu saat nanti, aku yakin, dia pasti akan luluh. Apalagi kalian kan bakalan sering ketemu di kantor.”
“Hhh, aku masih bimbang, Put. Aku takut dicampakkan. Oh ya, aku lupa ngasih tau. Mulai besok aku beralih profesi
menjadi Asisten Pribadi nya Mas Andra” ucap Anjani.
“Hah? Beneran? Wah, pas sekali. Itu kesempatan terbaik kamu, Sayang. Kesempatan buat mengambil hati suami mu. Lakukan dengan apa adanya, senatural mungkin. Oke?”
“Baiklah. Akan aku coba.”
“Hei, Anjani ku. Kamu ini gadis periang. Kenapa jadi murung begitu sih? Gak cocok dengan wajah kamu yang selalu tebar senyuman. Udaah, jangan dipikirin. Jalanin aja apa adanya. Biarkan mengalir. Udah dulu ya, Say. Aku lagi nganterin Mama ku kontrol ke rumah sakit. Bye Bye, Jani.”
“Makasih, Put.”
Sesi curhat pun berakhir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments