Andra hanya terdiam mendengar pertanyaan dari Anjani. Dia belum tahu isi hatinya sendiri. Dilema yang belum
ada ujungnya.
“Baiklah kalau Mas Andra tidak mau menjawab, aku tahu perasaan Mas Andra. Memang sangat sulit menerima situasi aneh ini. Apalagi tanpa adanya rasa. Ngomong-ngomong kita mau kemana? Ke rumah Kakek ku atau ke tempat lain?”, dalam hati Anjani, dia sangat mengerti dan paham, adalah hal yang wajar, pernikahan yang
tiba-tiba, terlebih karena paksaan oleh keluarga dan tanpa adanya rasa cinta.
Hubungan ini, entah akan dibawa kemana akhirnya. Hanya Tuhan Yang tahu. Dia pribadi juga masih belum sepenuhnya menerima situasi ini.
“Maaf Anjani, untuk sementara ini, kamu tinggal lah di rumah Kakek mu dulu. Tidak apa-apa kan? Karena aku merasa masih belum siap tinggal satu atap dengan wanita lain” ujarnya, dengan perasaan bersalah, takut Anjani kecewa.
“Hei.. Aku ngga’ apa-apa, Mas! Kamu tenang saja, lagipula ini kan masih awal pertemuan kita berdua, kita juga butuh waktu untuk berusaha menerima satu sama lain.” Jawaban Anjani kali ini cukup membuat Andra tenang.
“Mas, Boleh aku tanya satu hal lagi?” tanya Anjani yang seakan tidak pernah ada habisnya mengeluarkan kata-kata.
“Ya, silahkan,” ucap Andra singkat.
“Dulu, sewaktu hari pernikahan kita, Mas Andra kenapa ngga’ hadir? Boleh aku tau alasan nya?” akhirnya, terucap juga pertanyaan yang selama setahun ini ia simpan baik-baik.
Andra menghela napas, hatinya masih menyimpan rasa kecewa saat harus mengingat momen yang seharusnya menjadi sebuah kebahagiaan bagi sebagian orang, namun tidak bagi dirinya.
“Mengenai hal itu, atas nama pribadi, aku ingin meminta maaf. Banyak hal yang menjadi alasan kenapa aku dulu enggan hadir. Mungkin salah satu nya karena seseorang.” Jawaban Andra mengisyaratkan kekecewaan dan keputusasaan.
‘Seseorang?maksudnya mantan? Eh, pacar nya?’ gumam Anjani dalam hati.
“Pacar nya Mas Andra, ya? Ah, sudah bisa ku tebak, pasti jawabannya iya, kan? It’s oke..,“ ucap Anjani sembari merapikan blazer ungu nya yang sedikit terbuka di bagian dada.
“Aku juga mau minta maaf, semua peristiwa ini benar-benar di luar kendali aku. Aku benar-benar ngga’ bisa menolak keinginan Kakek ku.”
“Nggak pa-pa, bukan salah kita. Karena semua yang udah terjadi ini takdir dari-Nya.”
Perjalanan antara Bandara dan Rumah Kakek terasa begitu panjang. Seiring dengan obrolan dua sejoli yang seperti tak ada habisnya.
Hari ini, penampilan Anjani terlihat sangat cantik. Blazer Ungu dengan kaos putih sebagai daleman nya, menambah kesan manis. Apalagi saat rambut panjang nya tergurai indah, bergerak kesana kemari mengikuti arah angin.
Selama perjalanan, mereka lebih banyak diam. Dua sejoli ini sedang berusaha untuk ikhlas. Ikhlas akan takdir mereka. Yang entah bagaimana endingnya.
Tiba di rumah Sang Kakek. Anjani pun segera turun dari mobil.
Sementara Andra dengan naluri ke laki-lakian nya, segera mendahului Anjani untuk menurunkan koper milik istrinya. Membantu mengangkat dan membawakan ke dalam rumah.
Setibanya di depan pintu rumah, mereka disambut dengan kehangatan oleh keluarga Anjani yang tidak lain hanyalah Sang Kakek, beliau sudah sepuh. Sering sakit-sakitan. Dan itu membuat Anjani tak sampai hati jika harus berada jauh dari beliau. Mungkin ini saat yang tepat bagi Anjani mengabdikan hidupnya untuk Sang Kakek yang sudah membesarkannya seorang diri, menyanyanginya seperti anak sendiri.
“Assalamu’alaikum, Kakek.. Anjani rindu…” Tangis Anjani pecah melihat wajah keriput orang yang sangat dia cintai. Pelukan nya menambah rasa haru di antara mereka.
Andra melihat pemandangan haru itu dengan mata berkaca-kaca, tapi dia berusaha untuk terlihat biasa saja. Dia menghampiri Kakek dan mencium dengan takzim tangan orang tua yang telah merawat Anjani. “Assalamu’alaikum, Kek,” Ucapnya.
“Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah.. kalian tiba dengan selamat. Kalian pasti capek. Masuklah dulu..,” ucap Kakek dengan suara yang serak namun penuh dengan kebahagiaan dan ketulusan.
“Masuk, Mas...” Anjani mempersilahkan Andra untuk segera masuk dan duduk. Lalu dia pergi ke kamar meninggalkan Andra bersama kakek nya.
Di rumah yang sederhana ini, beliau hanya tinggal seorang diri. Meski terlihat rapuh, tapi beliau sangat kuat. Sejak Anjani ke luar negeri, beliau masih bisa beraktifitas seperti biasa. Hanya saja bukan aktifitas yang berat.
Beruntung Anjani anak yang cerdas, dia sangat pandai mencari uang, sejak masih SMP, dia selalu melihat Kakek nya berjualan. Hingga SMA, Anjani yang memang anaknya sangat aktif dan enggan berdiam diri, selalu ingin mencoba hal-hal baru, seperti mencari kerja sambilan.
Meski masih SMA, dia sudah mampu menjadi guru les. Mengajar anak-anak sekitar rumah, dengan upah seikhlas nya. Hitung-hitung mengisi waktu luangnya dan memanfaatkan ilmu yang dia punya.
Hasil kerja sambilannya, ia gunakan untuk membantu Kakek berjualan. Dia hanya ingin meringankan tanggung jawabnya Kakek.
Dan itulah alasan dia bersedia menerima permintaan Sang Kakek untuk menikahi Andra. Kedua orang tua Andra merasa berhutang budi pada Sang Kakek. Saat Anjani masih SMA, kedua orang tua Andra yang memang dari kalangan atas, sedang mengalami musibah. Dan satu-satunya orang yang bisa memberikan pertolongan saat itu hanya Pak Karim, Kakeknya.
Berawal dari situlah, kedua orang tua Andra ingin membalas budi Pak Karim yang sudah berbaik hati memberikan bantuan dengan tulus. Kedua orang tua Andra, meski mereka orang kaya, tapi mereka sangat ta’at, rendah hati dan sangat dermawan.
Dihadapan sang Kakek, kedua orang tua Andra, Pak Nugroho dan Bu Salsa, mengajukan permohonan sekaligus perjanjian, mereka ingin putra semata wayang nya, Andra, menikahi Anjani.
Pak Karim yang mendengar perkataan Pak Nugroho, kaget sekaligus bahagia. Karena beliau tahu, Andra adalah sosok Pria yang sangat baik dan yang terpenting Andra bukan tipe laki-laki yang suka main perempuan. Bagi Kakek, Andra sangatlah penyayang. Dengan itulah, Kakek bersedia menerima tawaran Pak Nugroho dan Bu Salsa. Mereka semua adalah orang-orang baik.
Saat Andra duduk di kursi tamu berdua dengan Pak Karim, bola mata nya berputar mengelilingi setiap sudut rumah itu.
“Beginilah, Nak keadaan rumah kami. Sangat sederhana. Sangat jauh berbeda dengan rumah Nak Andra,” ucap Kakek dengan senyum tulusnya.
Anjani yang sedari tadi kerinduan, akhirnya buka suara.
“Kek, Anjani hari ini tinggal disini yah? Boleh kan? Anjani masih rindu dengan Kakek. Lagipula Anjani tak tega meninggalkan Kakek sendirian disini,” Ucap Anjani dengan nada manja.
Pemandangan ini membuat hati Andra terusik. ‘Gadis ini sangat unik, sedikit menyebalkan dan cantik,’ batin Andra.
“Maaf sebelumnya, Kek. Kalau boleh saya minta izin untuk sementara waktu ini Anjani tinggal disini dulu menemani Kakek. Karena rumah yang akan kami berdua tinggali masih belum selesai, sedangkan saya sendiri selama ini masih tinggal dengan kedua orang tua” Ucap Pria yang hari ini terlihat sangat tampan dengan pakaian serba hitam.
“Apa Kakek tidak keberatan? InsyaAllah kalau rumah kami sudah selesai di renovasi, kita berdua akan pindah,” ucap Andra dengan penuh hormat.
“Karena disini Kakek tidak ada teman, maka saya sarankan Kakek pun ikut tinggal bersama kami. Bagaimana, Kek? Apa Kakek bersedia?” imbuh Andra.
“Apa tidak akan merepotkan kalian kalau Kakek ikut?” tanya Kakek dengan nada tidak percaya.
“Tidak, Kek. Anjani malah akan sangat senang dengan rencana Mas Andra. Karena dengan begitu, Anjani tidak perlu khawatir kalau harus jauh dari Kakek,” jawab gadis berambut panjang itu dengan penuh kebahagiaan.
“Benar, Kek.” Andra menegaskan.
Andra orang yang penyayang, meski terkadang keras kepala dan cenderung pendiam. Sangat bisa memahami orang lain. Walau sebenarnya, ia masih menentang pernikahan nya dengan Anjani.
Dia berharap, selama tinggal bersama dengan Anjani, jika cinta di hatinya belum juga tumbuh, maka ia akan menceraikannya dengan baik-baik.
Impiannya yang dulu ingin menikahi Rara, wanita yang lebih dulu mengisi hatinya. Kini telah pupus. Meski saat ini dia sudah berstatus suami Anjani, tapi hati nya masih sepenuhnya milik Rara.
Akhirnya kakek pun setuju dengan rencana nya.
“Kalau begitu, Saya pamit dulu. Besok kalau tidak ada halangan, saya akan kesini,” ucap Andra sembari bersalaman dengan Kakek. Andra pun tak lupa melirik Anjani dengan sedikit canggung.
“Assalamu’alaikum...,” ucap Andra sembari melajukan mobil silver nya keluar gerbang perumahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments