Chapter 12

“Pak, ini berkas-berkas yang di butuhkan Pak Arman. Silahkan di tanda tangani dulu, Pak.” Ucap Rena sembari menyerahkan tumpukan kertas pada Andra. Pandangan mata nya menelisik ke ruangan nya Andra, mencari tahu keberadaan Anjani.

“Pak Adit, 2 hari kemarin kenapa Bapak tidak masuk kantor?”

“Mertua saya meninggal, jadi selama 2 hari itu saya menemani istri di rumah.”

“Maaf, Pak. Saya tidak tahu. Saya ikut berbelasungkawa.”

“Iya. Ngga’ masalah.”

“Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak. Permisi..” Rena melangkah kan kaki nya keluar ruangan.

Andra masih sibuk dengan kertas-kertas yang ada di depan nya.

Dia melihat jam di dinding.

“Sudah jam 1 siang. Sebaiknya aku segera pulang ke rumah Anjani. Biar ngga’ kesorean.” Andra lalu merapikan meja kerja nya, dan segera berangkat menuju rumah istrinya.

Dalam perjalanan ke rumah Anjani, ada rasa tidak sabar untuk segera melihat istrinya. Sepertinya Andra sudah benar-benar membuka hati. Hari ini, perasaan nya terasa berbeda dari hari-hari sebelum nya. Mungkin karena efek ‘jatuh cinta’ dia bisa seperti ini.

Di tengah-tengah perjalanan, Andra mampir ke Supermarket untuk membeli beberapa makanan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Senyumnya merekah saat mobil yang dia kendarai berhenti di depan rumah Anjani. Segera dia turun dari mobil nya dan mengetuk pintu.

“Assalamu’alaikum..” ketukan kedua barulah pintu itu terbuka.

“Wa’alaikumsalam.. Mas Andra, kok sudah pulang jam segini. Bukannya kantor pulang nya jam 5 sore?” tanya Anjani dengan heran.

“Aku tadi pamit pulang duluan,” jawab Andra dengan senyum penuh arti.

“Kenapa? Mas ada janji di luar kantor?” Anjani masih belum puas dengan rasa penasaran nya.

“Iya, aku memang ada janji. Janji buat nemenin kamu..” Ucap Andra dengan nada menggoda, sambil meletakkan barang-barang yang dia beli di supermarket tadi di meja tamu.

“Mas Andra ini, kayaknya punya bakat menggoda deh. Ngga’ heran banyak yang kepincut.” Anjani tak mau kalah, dia pun membalas rayuan suami nya.

Andra pun hanya tersenyum mendengar perkataan istri nya.

“Kamu sudah makan?” tanya Andra penuh perhatian.

“Belum, lagi males ngapa-ngapain,” jawab Anjani dengan wajah lesu.

“Tadi di jalan, aku mampir beli beberapa makanan. Kita makan dulu, ya. Laper banget..”

“Baik, Bos.”

Anjani membuka makanan yang dibawa suami nya satu persatu. Dan mereka pun menikmati makanan nya sambil di temani suara tv.

“Katanya tadi males ngapa-ngapain.. ehh.. Ternyata mau makan juga akhirnya..” di lirik nya Anjani yang sangat lahap menikmati sepotong roti coklat.

Anjani yang merasa tersindir, tertawa lebar.

“Idiih, sirik aja deh!”

Andra tersenyum melihat tingkah istrinya yang terasa menggemaskan. Senyuman Anjani berhasil mengalihkan dunia nya. Bayang-bayang Dinda seakan hilang tak tersisa. Berganti dengan wajah ayu milik istri nya, Anjani.

Mereka larut dengan kebahagiaan yang belum pernah mereka rasakan sebelum nya.

Selesai menikmati makanan nya, mereka lanjut bersantai menonton acara gosip di tv. Meski begitu, pikiran

mereka melayang entah kemana. Ada rasa canggung dan berdebar menyeruak di hati mereka. Suasana terasa hening. Hanya suara-suara gosip di tv yang terdengar jelas di ruangan itu. Mereka di sibukkan dengan pikiran masing-masing.

Anjani beranjak dari duduknya. Tiba-tiba, tangan nya di tahan oleh Andra.

“Kamu mau kemana?” tanya Andra dengan tangan yang masih memegang pergelangan Anjani.

“Mau nyuci piring-piring kotor. Keburu numpuk. Kenapa, Mas?” posisi Anjani yang masih berdiri di depan Andra yang masih duduk di sofa.

“Hemm, ngga’ pa-pa.” Andra pun melepaskan pegangan nya. Membiarkan istrinya melanjutkan cuci-cuci piring.

Dadanya masih bergemuruh, gejolak hatinya benar-benar tak terbendung. Ada rasa ‘candu’ saat berada di dekat Anjani.

Berbeda dengan Anjani, yang terlihat lebih santai. Berada di dekat Andra, hatinya terasa tenang, ada kebahagiaan

tersendiri.

Mengingat kejadian tadi malam, dia merasakan jantung nya yang berdegup lebih kencang saat Andra memberikan

ciumannya.

Hari sudah menjelang malam, mereka pun bersiap-siap sholat Maghrib. Sembari menunggu waktu Isya, Andra melihat acara di TV, sedangkan Anjani memilih untuk mengecek ponsel nya. Ada beberapa chat dari teman-teman nya, yang sekedar mengucapkan bela sungkawa. Tidak lupa juga chat dari Putri, sahabatnya, yang isi nya menghibur Anjani dan sisa nya chat–chat Putri yang sibuk menggoda Anjani dengan Andra.

Membaca isi chat dari Putri, membuat Anjani senyum-senyum sendiri di depan gawai nya. Andra yang melihat tingkah Anjani, keheranan sekaligus penasaran

“Dia ngapain senyum-senyum sendiri? Jangan-jangan dia punya cowok diluar sana selain aku?” lirikan mata Andra tertuju pada istri nya yang masih saja senyum-senyum di depan ponsel. Membuat Andra merasa cemburu dan kesal.

Terdengar suara Adzan Isya berkumandang. Mereka pun melanjutkan sholat berjama’ah di dalam kamar Anjani.

Selesai sholat, Anjani lalu berdiri dan melipat mukena nya. Tiba-tiba Andra duduk di tepi ranjang menghadap Anjani

dan memegang tangan nya, menyuruhnya untuk duduk.

Anjani pun menuruti arahan Revan untuk duduk di samping nya.

“Anjani.. di hari ini dan di malam ini, aku ingin mengucapkan beribu-ribu maaf. Atas segala kesalahan-kesalahan

yang udah aku perbuat sejak pernikahan ini terjadi. Sebagai ganti nya, aku ingin sekali menebus semua kesalahan-kesalahan itu. Dengan membahagiakan mu. Kamu mau maafin aku?” dengan pandangan yang saling beradu. Anjani melihat ada ketulusan di sorot mata suaminya.

Wajahnya menunduk. Dia belum sepenuhnya percaya. Butuh sedikit waktu untuk membuktikan ketulusan suami nya.

“Anjani.. lihat aku. Kita sudah sah sebagai suami istri. Aku ingin kita terbuka soal perasaan kita masing-masing.

Aku berusaha untuk tidak menutup-nutupi semua nya. Semua yang aku ucapkan, adalah ungkapan hati aku yang sejujur nya. Oke, aku maklumi, kamu masih belum sepenuhnya percaya dengan ku. Tapi, tolong beri aku waktu untuk membuktikan semua nya.”

Tangan nya mengangkat wajah Anjani, terlihat wajah nya yang ayu dan manis. Rambut nya yang panjang tergurai indah. Menambah ke elokan wajah nya.

Jantung mereka sama-sama berdegup tidak karuan.

“Aku akan beri waktu buat Mas Andra untuk membuktikan semua nya.”

Tangan Andra berpindah memegang tengkuk milik istri nya. Wajah mereka saling mendekat, dan berakhir dengan kecupan bibir yang terasa hangat dan lembut.

Andra merebahkan tubuh istrinya di atas kasur, dan melanjutkan percumbuan. Hingga akhir nya mereka tertidur saling berpelukan. Bersyukur mereka sudah sah sebagai suami istri, jadi tak ada yang perlu di takutkan jika mereka melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman dan pelukan.

Menjelang shubuh, Anjani terbangun, kaget saat menyadari kalau semalam mereka tidur berpelukan.

Wajahnya merona karena malu. Dia pun segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Begitu Adzan Shubuh

berkumandang, dia segera membangunkan suami nya, dan mengajak nya sholat shubuh bersama.

Selesai sholat shubuh, Anjani menyiapkan sarapan sembari memasukkan beberapa baju kotor ke dalam mesin cuci.

Sedangkan Andra sibuk dengan laptop nya.

Sekitar jam 6 pagi, mereka menyelesaikan sarapan nya. Mereka lalu mandi bergantian dan bersiap-siap pergi ke kantor. Beruntung Andra sudah membawa baju ganti, jadi dia tak perlu pulang ke rumah nya lagi, dan langsung berangkat ke kantor bareng Anjani.

Tepat jam 8, mereka sampai di kantor. Para karyawan yang mereka lewati, semua menyapa bos nya, Anjani mengikuti nya dari belakang.

Salah satu karyawan bernama Mila, menyapa Anjani.

“Anjani, kamu kemana aja dari kemarin? Cuti kerja gak bilang-bilang sih,” ucap Mila, salah satu karyawati yang

lumayan dekat dengan Anjani.

“Iya, Mil. Kemarin aku izin, karena Kakek ku meninggal dunia.”

“Ups, maaf Jani, aku gak tau. Aku turut berduka cita ya.”

“Iya, ngga’ pa-pa Mil, makasih ya.. oh iya, aku kerja dulu ya, nanti Pak Adit nyariin.”

“Iya udah, cepat buruan pergi sana.”

Semua karyawan belum ada yang tahu mengenai hubungan antara Andra dan Anjani, mereka tau nya kalau Andra dan Anjani hanya sebatas Bos dan Asisten Pribadi.

Dengan langkah kaki yang cepat, Anjani menuju ke ruangan tempat suami nya bekerja.

“Kamu dari mana?” tanya Andra yang sudah duduk di sofa menunggu istri nya datang.

“Tadi abis ngobrol bentar sama Mila, kenapa memangnya, Pak?” Anjani pun ikut duduk di samping bos nya.

“Ngga’ apa-apa, cuma khawatir aja, takut nya kamu tersesat” canda Andra.

“Memang nya saya anak kecil? Pake tersesat segala! Pak Andra kali yang tersesat,” balas Anjani tak mau kalah.

“Kamu benar, Jani. Aku memang sedang tersesat sangat jauh. Aku tersesat di hati mu,” ucap Andra dengan suara sedikit berbisik.

"Ehm ehm, mulai deh rayuan nya.”

“Nama nya juga usaha, sama istri nya sendiri kan gak masalah, udah halal dan sah. Lagian kamu juga sepertinya senang kalo aku rayu.”

“Idiih, pede banget, Pak.”

“Harus ituu..”

“Oh iya, setengah jam lagi aku ada meeting di luar. Kamu ikut, ya?”

“Meeting dimana, Pak?”

“Di Kafe Senja, aku ada pertemuan dengan Pak Arman, mau bahas soal kerja sama dengan perusahaan nya.”

“Baik, Pak.”

“Hei! Harus nya ini tugas kamu sebagai asisten pribadi, kamu yang harus atur jadwal ku selama di kantor.”

“Iya, Pak. Maaf. Saya belum terbiasa.”

“Nggak pa-pa, lama-lama juga akan terbiasa, lagi pula, kamu kan istri ku. Meskipun kamu ngga’  ngelakuin apa-apa, aku ngga’ akan marah, asalkan kamu bersedia ikut kemana pun aku pergi. Gimana?” Andra medekatkan wajahnya tepat di depan Anjani.

“Jangan gitu lah, Pak. Itu nama nya tidak profesional. Kerja ya kerja, urusan suami istri, itu hanya ketika ada di rumah,” sela Anjani yang tidak setuju dengan ucapan suami nya.

Sedari tadi, Andra berusaha menahan tangan nya untuk tidak memeluk istri nya. Melihat segala tingkah laku dan ucapan Anjani, membuat Andra ingin memeluk dan mencium nya.

Naluri nya sebagai seorang laki-laki dewasa, kini sedang di uji.

Andra hanya tersenyum kecil dan menggigit bibir nya, menahan gejolak yang ada di hati.

Entah sejak kapan dia mulai kecanduan dengan segala yang ada pada Anjani. Semua yang terlihat di diri Anjani, membuatnya bahagia. Dia benar-benar sudah sangat jatuh cinta pada sosok wanita ayu yang ada di hadapan nya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!