Tiba saat nya untuk pulang. Andra terlihat keluar dari lift. Para karyawan menyapa nya. Dia langsung menuju ke
parkiran. Menyalakan mobil nya dan keluar dari area perusahaan. Dia menuju ke halte terdekat. Berhenti. Dan sedang menanti seseorang.
Anjani pun akhirnya keluar juga dari pintu tempat dia bekerja. Berjalan sendirian menuju ke halte bis terdekat. Dia
tidak tahu ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya dari jauh. Andra melihat Anjani dengan tatapan yang penuh arti. Kalau saja dia lebih dulu bertemu dengan Anjani daripada Rara, mungkin dia akan langsung jatuh hati padanya.
‘Ah, aku sudah gila sepertinya. Kenapa juga aku harus jatuh cinta dengan nya. Hati ku sudah ada Rara seorang. Tapi,gadis itu, seperti nya menyenangkan. Hmmm, Aku akan menghampirinya,’ gumam Andra dalam hati nya.
Mobil pun melaju perlahan mendekati sosok wanita yang telah menjadi Istri nya.
Tiin… tiin…
Suara klakson mobil nya mengagetkan Anjani yang sedang duduk menanti kedatangan bus.
Dari jendela, keluar wajah yang sebenarnya dia benci, tapi juga membuatnya terpesona.
“Mau aku antar?” tanya Andra dengan suara lembut nya.
Anjani yang celingak-celinguk melihat keadaan sekitar. Takut ada yang melihat kalau dia sedang bicara dengan bos nya.
“Mas Andra, ngapain kesini? Aku gak perlu diantar, aku naik bis saja. Nanti kalau kita ketahuan karyawan lain, gagal rencana kita.” Jawab Anjani dengan suara yang sedikit berbisik.
‘Kenapa dia menggemaskan sekali? Ah, Rara pun tak kalah menggemaskan,’ batin Andra mencoba menolak perasaan nya.
“Tidak akan ketahuan, ayo.. naiklah cepat! Aku akan mengantarkan mu, sekalian menjenguk Kakek.” Andra mencoba merayu nya. Meski niat dia murni hanya ingin mengantar saja. Bukan karena ada perasaan lain.
Anjani berlari-lari kecil menuju pintu mobil, dan segera masuk. Dia benar-benar takut ketahuan karyawan lain.
Padahal seharusnya, ini menjadi hal yang manis jika seandainya mereka punya perasaan cinta. Miris.
Mobil silver melaju cepat menuju rumah Anjani.
Setengah perjalanan, mereka hanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Suasana canggung menyelimuti mereka.
Tiba-tiba Andra menghentikan mobilnya di depan toko buah-buahan.
Dia turun sendiri, meninggalkan Anjani yang masih diam kebingungan. Mencari-cari cara agar bisa mencairkan suasana yang terkesan kaku.
Andra kembali ke mobilnya dengan membawa banyak buah-buahan. Anjani hanya melihatnya, tanpa sepatah katapun.
Andra meletakkan buah-buahan tersebut di kursi belakang, ketika tangannya ke kursi belakang, tubuhnya terasa
sangat dekat dengan posisi duduk Anjani, yang membuat Anjani sedikit bergeser.
Tiba-tiba Andra menoleh dan wajahnya langsung menghadap ke Anjani. Suasana semakin canggung. Mereka sama-sama kaget dengan situasi ini. Andra segera memposisikan duduknya seperti semula. Anjani sedikit santai dan tidak begitu mempermasalahkannya.
‘Suh, Tuhan.., ada apa dengan hatiku? Kenapa aku gugup?’ keluh Andra dalam hatinya.
Dia mencoba mengalihkan perasaanya yang gugup dengan menyalakan musik. Takut Anjani curiga kalau hatinya sedang tidak karuan.
Mobil pun kembali melaju. Tiba-tiba ponsel Andra berdering, panggilan masuk dari seseorang yang wajahnya muncul di layar ponsel nya.
‘Seorang wanita. cantik.’ Kata Anjani dalam hatinya sambil matanya sedikit melirik ke layar ponsel Andra.
‘Mungkin dia mantan Mas Andra,’ batin Anjani penasaran.
Jauh di lubuk hatinya, Anjani merasa kecewa, dan sedih, khayalannya tentang membina rumah tangga yang harmonis seakan sirna begitu saja. Dia terkadang merasa tidak adil dengan takdir yang ia terima. Mengapa dia terasa asing dengan orang yang seharusnya melindunginya, mencintainya, yang tidak lain adalah suami nya sendiri.
Ponsel masih terus berdering, Andra masih enggan menjawabnya.
“Kenapa tidak dijawab, Mas? Angkat saja, siapa tahu ada hal penting.” Lain di mulut lain di hati. Sejujurnya, Anjani
merasa sedikit cemburu, tapi dia berusaha tegar, berpura-pura santai walau hatinya berkecamuk.
Andra akhirnya menjawab telepon nya.
“Halo, iya Rara. Ada apa? Oh.. ini sedang perjalanan pulang dari kantor, kamu jangan lupa makan. Nanti aku telepon balik kalau sudah sampai dirumah”. Percakapan antara Andra dan mantannya berhenti, dia menoleh melihat Anjani yang sedikit cemberut.
“Anjani, kamu tidak apa-apa kan? Tidak sedang cemburu?” tanya Andra.
“Hei, siapa yang cemburu? Jangan asal deh, Mas..,” jawab Anjani dengan nada kesal.
“Itu mukanya kok di tekuk? Kayak lagi cemburu gitu,” goda Andra sambil tersenyum kecil.
“Kenapa aku harus cemburu? Memang tadi yang telpon Mas Andra siapa? Mantannya?” jawab Anjani dengan nada ketus dan sedikit manja.
‘Anjani, meski kamu sedang marah, kenapa masih terlihat menggemaskan? Aku benci hal ini. Aku tahu kamu cemburu. Maafkan aku, Anjani,’ ucap Andra dalam hatinya.
“Namanya Rara, sudah 3 tahun aku menjalin hubungan dengan nya. Dan sekarang kami berdua hanya sebatas teman saja. Demi menjaga hubungan baik.” Jelas Andra berusaha menenangkan Anjani.
Jauh di lubuk hatinya, dia merasa bersalah dengan Anjani, mengenai hati nya yang masih belum terbuka. Sosok Anjani masih belum bisa menggantikan Rara.
“Aku harap kamu tidak membenciku, Anjani. Aku hanya belum siap membuka hati ku untuk orang lain,” jelas Andra dengan penuh ketulusan.
“Aku tahu, Mas.. Aku pun juga belum berani membuka hati ku. Biarlah semua ini mengalir begitu saja, kita jalani apa yang ada, tidak perlu terburu-buru, aku juga tidak akan mengusik masa lalu mu, yang terpenting, kita bisa bekerja sama saat kita berada di depan keluarga kita, bisa kan, Mas?” pinta Anjani dengan wajah memelas.
Sepertinya, gadis berambut panjang ini hatinya sedikit mulai terbuka. ada sedikit ‘rasa’ pada Andra, hanya saja Anjani berusaha menepisnya sejauh mungkin. Dia tidak ingin cinta nya bertepuk sebelah tangan.
Andra mengacungkan jempol tanda dia setuju dengan permintaan Anjani.
Sesampainya di rumah Kakek, mereka berdua segera turun dari mobil. Anjani berjalan lebih dulu di depan, Andra
mengikutinya dengan membawa buah-buahan yang tadi dia beli.
“Assalamu’alaikum, Kek.. Kakek apa kabar?” ucap Andra sembari mencium punggung tangan Kakek.
“Alhamdulillah, Nak Andra, Kakek baik.. Kedatangan kalian berdua membuat Kakek kembali segar, ayo, masuk dulu, Nak.” Ucap Sang Kakek sambil berjalan menuju ke tempat duduk nya.
Anjani langsung menuju kamar nya untuk berganti pakaian.
“Kakek, ini saya bawakan sedikit oleh-oleh, kebetulan tadi perjalanan pulang ada toko buah, untuk Kakek dan Anjani.” Ucapan Andra dengan nada sopan.
“Kenapa repot-repot, Nak? Kalian datang saja, Kakek sudah sangat bersyukur.” Jawab Kakek.
“Tidak repot kok, Kek. Kelihatannya Anjani juga suka buah-buahan, jadi ya saya coba belikan saja,” ucap Andra.
Anjani yang masih berada di dalam kamarnya tersenyum mendengar ucapan Andra, dia senang sekali saat di perhatikan oleh Suaminya.
“Mas Andra, kenapa perhatian sekali sih. Aku kan jadi bingung, mau nya benci tapi kok malah jadi gini,” gerutu Anjani.
“Saya izin pamit dulu ya, Kek. Takut kemalaman. Anjani, aku pulang dulu, ya.” Andra berpamitan dan memanggil Anjani yang masih ada di dalam kamarnya.
Anjani pun keluar mendengar panggilan Andra.
“Mau pulang sekarang, Mas?” tanya Anjani kecewa.
Dalam hatinya ‘buru-buru sekali sih, pasti karena mau telponan sama mantannya itu’.
“Iya, takut kemalaman.” Jawab Andra sambil bersalaman dengan Kakek.
“Hati-hati ya, Nak Andra, titip salam pada pak Nugroho dan bu Salsa."
“InsyaAllah, akan saya sampaikan salam Kakek. Assalamu’alaikum...,” ucap Andra sambil masuk kedalam mobilnya.
“Wa’alaikumsalam...,” jawab Anjani dan Kakeknya.
Sepeninggal Andra, Anjani memasang wajah kesal. Kakek yang melihatnya pun seakan mengerti perasaan Anjani.
“Gak usah cemberut gitu. Yang ikhlas.. yang sabar..” ucap Kakek dengan sedikit menggoda Anjani supaya tidak
terlalu bersedih.
“Ah, Kakek. Sok tahu deh. Masuk yuk, kita makan buah-buahan dari Mas Andra tadi. Aku kupaskan dulu ya, Kek.” Jelas Anjani sedikit terhibur.
Anjani langsung menuju ke dapur mengambil pisau. Dan merekapun menikmati buha-buahan pemberian Andra.
Malam semakin larut. Mereka pun bersiap-siap untuk tidur.
Anjani masuk ke kamarnya, merebahkan tubuhnya di kasur. Tubuhnya terlentang menatap langit-langit kamarnya.
“Tuhan.. kenapa nasib ku menyedihkan sekali? Aku takut, takut jatuh cinta. Takut cinta ku bertepuk sebelah tangan.
Aku takut dicampakkan. Aku takut, Tuhan.”
Tak terasa air matanya turun. Menandakan dia sedang dilanda kesedihan. Gundah. Resah. Kecewa. Meski dia terlihat ceria, namun hatinya rapuh.
“Kau tahu, Mas Andra. Sikap mu yang selalu berubah-ubah, membuatku bingung. Terkadang terasa asing, terkadang juga kamu perhatian, seolah membuka celah agar aku terperangkap jeratmu. Aku takut dengan perasaan ini.” Anjani berbicara sendiri.
Tak lama kemudian, dia pun tertidur.
Ponsel nya menyala. Ada pesan masuk. Siapa malam-malam begini mengirim pesan? Sang pemilik ponsel sudah tertidur pulas. Tak tahu kalau ada pesan dari seseorang yang berada di seberang sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments