Hari Minggu pun tiba. Hari dimana Anjani akan menghabiskan waktu bersama dengan kakeknya. Karena cuma hari ini saja Anjani ada waktu kosong.
Anjani membuka matanya, melihat jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul 05.00 pagi. Terdengar suara kakeknya yang sedang memanggil Anjani.
“Anjani, sudah jam lima, ayo buruan sholat shubuh!” ucap Kakek yang sudah selesai melaksanakan sholat shubuh.
Dengan masih mengenakan peci dan sarung, beliau menuju ke kamar Anjani.
Anjani yang masih merasa mengantuk, hanya bisa menjawab, “iya, Kek.” Dia mencoba mengumpulkan sisa-sisa nyawanya yang masih belum lengkap. Dan akhirnya, dia beranjak bangun juga.
Dengan langkah gontai, dia menuju kamar mandi, dan segera mengambil air wudhu.
Begitulah Anjani, yang masih sering bolong dalam hal sholat. Terkadang lupa waktu. Padahal kakek selalu mengingatkan akan kewajibannya sebagai seorang muslim. Namun, tetap saja Anjani masih sering menyepelekan nasihat Kakeknya.
Selesai sholat, Anjani melipat mukena nya dan langsung menuju ke tempat tidurnya lagi. Meraih ponsel yang sejak semalam tergeletak tak tersentuh sama sekali.
Ketika dia menyalakan ponselnya, dia melihat ada notifikasi pesan whatsapp masuk. Dari nomor baru, “Nomor siapa nih?” tanya Anjani dalam hatinya.
“Ini aku, Andra,” tulis pesan tersebut.
“Oh, nomor Mas Andra. Oke aku save dulu,” ucap Anjani.
Dia pun membalas pesan nya, “Iya Mas, sudah aku save.” Tulis Anjani.
Pesan nya sudah centang biru, menandakan sudah dibaca oleh Andra.
“Ternyata dia lagi online. Langsung dibaca,” batin Anjani senang.
“Hari ini kamu ada acara gak?”Andra kembali membalas pesannya.
“Gak ada, Mas. Kenapa? Mau ngajak aku jalan-jalan ya..?” tulis Anjani langsung to the point. Dia senang sekali menggoda Andra. Dia penasaran dengan reaksi Andra saat membaca pesannya barusan.
Jauh di seberang sana, seorang pria bernama Andra, yang kini sedang memegang ponselnya, asik senyum-senyum sendiri.
‘Gak ada jaim-jaim nya nih anak,’ batin Andra dengan senyum yang masih merekah.
“Aku mau kerumahmu, jangan kemana-mana!” Pinta Andra dalam pesannya.
“Oke, aku tunggu!” jawab Anjani sambil tersenyum senang.
Setelah mengirim pesan balasan nya, Anjani bergegas memberitahu Kakeknya soal rencana Andra yang mau kerumahnya.
Jam menunjukkan masih pukul 06.00 pagi, kebiasaan Anjani kalau jam segini adalah pergi ke pasar terdekat, berbelanja kebutuhan sehari-hari.
Ketika di Pasar, dia mencari-cari makanan yang cocok untuk di suguhkan ke Andra. Belanja sayur, buah, dan
camilan.
Sekembalinya dari pasar, Anjani langsung menuju dapur dan bersiap untuk memasak.
Rutinitas yang sudah ia jalani selama bersama kakek nya. Dari kecil dia sudah terbiasa ikut kakeknya berbelanja urusan dapur, dan ikut membantu kakek memasak masakan sederhana. Karena itulah, dia tumbuh menjadi gadis yang mandiri.
Sejak kakeknya sering sakit-sakitan, dia pun telah siap menggantikan pekerjaan kakek.
Sewaktu Anjani pergi ke Luar Negeri, Anjani dengan terpaksa menitipkan kakeknya pada tetangganya. Demi mengejar cita-citanya, dia rela meninggalkan kakek sendiri dirumah.
Mendapati kabar bahwa kakeknya sakit parah, diapun langsung terbang untuk menemui kakeknya. Rasa bersalah dan menyesal karena telah tega meninggalkan kakeknya. Dia berjanji tidak akan meninggalkan kakeknya lagi.
Selesai memasak, Anjani pun mengajak kakeknya untuk sarapan bersama. Mereka mengobrol, membicarakan pekerjaan baru nya Anjani.
“Anjani, gimana dengan kerjaan barumu?” tanya Kakek memulai obrolan.
“Alhamdulillah, Anjani cocok dengan pekerjaan barunya, Kek. Sesuai dengan keahlian Anjani, hehe” jawab Anjani
sambil terkekeh.
Anjani belum berani memberitahu kakeknya soal bos di perusahaannya yang ternyata suami nya sendiri, Andra alias Pak Alandra. Nunggu waktu yang tepat, pikir Anjani.
“Lalu, bagaimana hubungan mu dengan Andra,
apa ada perkembangan? Selama ini kakek merasa kalian berdua masih belum mau
menerima satu sama lain. Kakek minta maaf, karena permintaan Kakek ini membuat
mu terbebani. Kakek hanya ingin kamu bahagia. Karena kakek tahu, keluarga Pak
Nugroho sangat lah baik. Mereka orang nya rendah hati, sangat dermawan. Kakek
yakin, kamu akan menjadi menantu kesayangan mereka.” Jelas Kakek dengan penuh
ketulusan.
Anjani yang mendengar penuturan
kakeknya, hanya bisa tersenyum. Demi kakek nya, Anjani rela mengorbankan
perasaanya. Semua ini semata-mata karena ingin melihat kakek bahagia. Karena
hanya beliau keluarga yang dia punya.
“Kakek tidak perlu khawatir soal itu, Anjani dan Mas Andra sudah sama-sama dewasa, mungkin memang saat ini Mas Andra masih belum seperti layaknya suami-suami lain. Tapi Anjani yakin, suatu saat nanti, Mas Andra akan mejadi suami yang baik buat Anjani, dan menjadi menantu kesayangan Kakek”. Jawab Anjani mencoba meyakinkan kakeknya dan juga dirinya sendiri.
Jam menunjukkan pukul 08.10 pagi, Anjani sedang membersihkan rumah dan menata camilan untuk suguhan nantinya.
Tiba-tiba ada suara mesin mobil mendekat. Mobil yang sudah tidak asing lagi bagi Anjani.
Mobil pun berhenti tepat didepan halaman rumah Anjani.
Andra pun turun dari mobil, di susul dengan kedua orang tuanya. Anjani yang melihat nya pun tidak menyangka kalau mertuanya akan ikut datang juga. Dia mengira hanya Andra saja.
‘Kok Mas Andra gak bilang kalau orang tuanya ikut juga? Dasar, bos aneh!’ gerutu Anjani dalam hati.
Anjani pun tersadar dari lamunannya, dia pun bergegas menyalami kedua mertua nya bergantian.
“Assalamu’alaikum….” Ucap Bu Salsa dengan suara keibuannya dan memeluk Anjani.
Anjani menyambut pelukan ibu mertuanya dengan perasaan haru.
“Wa’alaikumsalam, Ma, Pa..,” ucap Anjani.
“Mama Papa ikut datang juga ternyata, Mas Andra gak bilang-bilang kalau mau datang rombongan” imbuh Anjani
mencoba pasang mode manja.
Andra yang mendengar ucapan Anjani barusan, langsung diam tak berkutik. Sikap ceplas ceplos nya Anjani, membuatnya tak bisa berbuat apa-apa.
Pak Karim yang sedang duduk di kursi tamu, berdiri menyambut kedatangan besan nya.
“Assalamu’alaikum, Pak Karim,” ucap Pak Nugroho sambil mengulurkan tangan nya.
“Wa’alaikumsalam, Pak.. Bu..” jawab Pak Karim dengan suara nya yang serak karena faktor usia.
“Mari, Silahkan duduk…” imbuh Pak Karim sambil mempersilahkan mereka untuk duduk.
Mereka semua pun duduk di kursi masing-masing, sedangkan Anjani masih harus menyiapkan minuman untuk Suami dan Mertuanya.
Andra yang celingak celinguk, mencari keberadaan Anjani, dibuat kaget dengan panggilan Pak Nugroho, “Andra!
Itu Mama mu manggil-manggil dari tadi, kamu gak dengerin.” Ucap Pak Nugroho dengan nada kesal karena sikap Andra yang terlihat sibuk sendiri.
“Iya, Pa.. Ma.. ada apa? Maaf, Andra lagi gak fokus,” ucap Andra mencoba membela diri.
“Ndra, Mama tadi tanya, gimana soal kerjaan kamu? Kira-kira, kamu lagi butuh sekretaris atau asisten pribadi gak? Soalnya Mama sama Papa berharap, Anjani bisa mengisi posisi itu, supaya kamu dan Anjani bisa lebih dekat.” Tanya Bu Salsa yang penuh harap.
Mendengar permintaan mama nya, Andra sedikit syok, dia lupa kalau keluarganya belum tau soal pekerjaan Anjani.
“Untuk saat ini, Andra belum membutuhkan itu, Ma!” jawab Andra.
“Kenapa, Ndra? Bukankah lebih baik Anjani yang menjadi Asisten Pribadi kamu? Yah, daripada harus di isi oleh orang lain, mending juga sama Istri sendiri. Lebih aman juga kan?” Bu Salsa mencoba membujuk Andra yang sedikit keras kepala.
Niat Bu Salsa memang sengaja ingin mendekatkan mereka berdua, apalagi mereka kan menikah karena keterpaksaan, Bu Salsa ingin membangun chemistry diantara mereka, agar tidak ada celah sedikitpun untuk orang lain yang mencoba merusak rumah tangga mereka.
“Nanti Andra pikir-pikir dulu, Ma!” jawab Andra yang masih gak habis pikir dengan permintaan kedua orang tuanya.
Dia merasa masih belum bisa membuka hatinya untuk Anjani.
Anjani pun datang dari arah dapur dengan membawa nampan berisi minuman untuk para tamunya. Setelah itu, Anjani pun duduk disamping Bu Salsa.
Terlihat Bu Salsa dan Pak Nugroho sangat menyayangi Anjani, wajah mereka seakan bangga memiliki menantu seperti Anjani. Karena memang kepribadian Anjani sangat istimewa, mandiri, cerdas, penyayang, ceria, dan apa adanya. Sangat cocok dengan Bu Salsa dan Pak Nugroho yang sangat rendah hati, meski mereka orang kaya, tapi mereka sangat sederhana.
Bu Salsa duduk sambil merangkul Anjani dari samping, terlihat seperti seorang Ibu yang sedang merindukan anak
perempuannya. Andra yang menyaksikan pemandangan tersebut, sedikit ada rasa senang, bahagia bercampur sedih.
Andaikan yang berada di posisi Anjani adalah Rara, pasti hidupnya akan terasa lengkap. Andra hanya bisa membatin, dengan mata yang masih melirik melihat kemesraan antara Mama nya dan Anjani.
‘Maafkan aku, Rara’.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments