“Mas.. bangun.. sudah jam 5 pagi.” Anjani menggoyang-goyangkan tubuh Andra agar terbangun dari tidur nya. Andra hanya menggeliat merenggangkan tubuh nya.
“Mas, ayo cepetan bangun! Udah jam 5 nih, kamu ngga’ shubuhan?” suara Anjani sedikit meninggi, berharap suami nya segera membuka mata nya dan beranjak dari tempat tidur nya.
“Iya, 2 menit lagi aku bangun,” dengan suara parau nya, Andra memicingkan mata nya, melihat istri nya yang sudah berdandan cantik dan wangi.
“Jangan lama-lama! Aku tunggu di bawah ya, mau bantu Mama nyiapin sarapan dulu” Anjani melangkah kan kaki nya keluar dari kamar dan menuju ke dapur, menghampiri Bu Salsa yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.
“Eh, Jani. Pagi-pagi sudah cantik dan harum gini, mau kemana?” tanya Bu Salsa sembari tangan nya sibuk menggoreng telur dadar.
“Kan mau pindahan, Ma.”
“Kok pagi-pagi banget, kenapa ngga’ nanti siang aja?”
“Iya, Ma, soalnya Mas Andra mau ke kantor kalau acara pindahan nya udah rampung. Takut ngga’ keburu waktu nya, kata Mas Andra ada meeting jam 10.”
“Ooh.. perlu Mama bantuin ngga’?”
“Ngga’ perlu Ma, Mama kesana nya nanti-nanti aja, kalau sudah bersih, rapi, Mama bisa sepuasnya datang kesana,
lagian Mas Andra udah nyuruh beberapa orang untuk bantuin bersih-bersih dan nata barang-barang di rumah sana, biar lebih cepat selesai” Ucap Anjani sambil menyiapkan piring-piring di meja makan.
“Mana suami kamu? Belum bangun?” tanya Bu Salsa mencari putra semata wayang nya, yang belum nampak batang hidung nya.
“Masih mandi, Ma. Oh ya, Papa mana?” pandangan nya mengedar mencari sosok Papa mertua nya.
“Lagi di ruang tamu kayaknya, tadi lagi telpon-telponan di sana.”
“Ooh.. Anjani panggil ya, Ma”
“Iya sayang”
Anjani berjalan menuju ke ruang tamu, mencari Papa mertua nya. Dan mendapati nya sedang duduk di kursi tamu sedang menatap layar ponsel.
“Pa.. sarapan nya udah siap. Mari makan, Pa,” ajak Anjani pada sosok pria yang hangat dan lembut, penyayang dan sangat sabar. Beruntung sekali Anjani di kelilingi orang-orang yang sangat menyayangi nya.
“Eh Anjani, iya. Ini Papa abis telponan sama karyawan Papa. Nanti Papa nyusul kesana.” Pak Nugroho adalah pengusaha yang kaya raya, karyawan nya banyak, dan sangat dermawan. Banyak karyawan-karyawan yang betah bekerja dengan beliau.
“Anjani kesana dulu ya, Pa,” dijawab Pak Nugroho dengan senyuman anggukan kepala.
Anjani kembali ke ruang makan, disana sudah ada Andra yang duduk manis di kursi sambil senyum-senyum menggoda.
“Tumben cepet banget mandi nya? Biasanya sampai berjam-jam” Ucap Anjani dengan nada menyindir. Dia lalu ikut
duduk di kursi samping Andra.
“Kalau kelama’an mandi, takut lumutan,” jawab Andra asal.
“Hiii, lumutan.. jijay!” Anjani pura-pura bergidik jijik mendengar pernyataan suami nya.
“Jadi manusia ijo lumut donk. Hahaha.” Anjani menertawakan Andra sambil membayangkan suaminya jadi manusia ijo kayak hulk.
Andra lalu mencubit mesra lengan Anjani, berpura-pura kesal.
“Auuw. Sakit tau!” tangan Anjani satunya menggosok lengan nya yang terkena cubitan Andra.
“Udah, Ngga’ usah berisik di depan makanan, Ngga’ sopan” Bu Salsa menjadi penengah saat putra dan menantu nya sedang berdebat hal-hal sepele.
Pak Nugroho pun akhirnya muncul dan langsung ikut duduk di kursi makan, di susul Bu Salsa yang duduk di samping Pak Nugroho.
Di akhir sarapan, Anjani mengutarakan keinginan nya untuk melanjutkan kuliah S2.
“Ma, Pa, Anjani noleh minta sesuatu ngga’?”
“Minta apa Mir?” tanya Pak Nugroho dengan menatap ke arah Anjani.
“Anjani pengen kuliah lagi, melanjutkan S2. Boleh ngga’?” ucap Anjani meminta izin dan restu pada kedua mertua nya yang sudah menjadi pengganti orang tua nya.
“Ya ngga’ pa-pa, sayang. Itu kan masa depan kamu, cita-cita kamu, menimba ilmu itu wajib. Selama kamu mampu
menjalani, kita semua pasti dukung. Kalau menurut kamu, Ndra? Kamu kan sebagai suami nya, kamu ridho ngga’?” Nasihat Bu Salsa inilah yang di inginkan oleh Anjani, dia butuh dukungan dari orang-orang terdekat nya.
“Aku juga setuju kok, Ma. Mumpung ada waktu dan kesempatan, apa salah nya mencoba. Dan untuk masalah pekerjaan Anjani di kantor, dia sementara berhenti dulu jadi asisten pribadi Andra.”
“Papa juga dukung kamu, Jani. Asalkan itu hal baik, Papa ngga’ masalah”
“Alhamdulillah, Makasih Mama, Papa..” ucap Anjani dengan senyum lebar nya.
“Kok sama aku ngga’ ada terima kasih? Curang!” sungut Andra dengan raut wajah kesal. Membuat Anjani, Bu Salsa
dan Pak Nugroho tertawa kecil melihat Putra nya yang seperti anak kecil.
“Makasih ya, Mas Andra.. hehehe,” Anjani menolehkan wajah nya ke arah suaminya yang sedang cemberut.
“Ya.. Ya.. Ya.. boleh laah…” Andra lalu berdiri dari tempat duduk nya dan berjalan menuju ke sofa di depan tv. Dia
menghempaskan tubuh nya dengan wajah yang masih cemberut. Seperti nya Andra benar-benar kesal dengan sikap Anjani.
Anjani hanya tersenyum melihat kelakuan suami nya yang seperti anak kecil ingin di manja. Dia tau, Andra ngga’ akan marah dalam waktu yang lama. Apalagi masalah sepele seperti ini.
Drrtt.. Drrrt…
Ponsel Andra berbunyi. Ada panggilan masuk dari sepupu nya, Vina. Alih-alih menjawab panggilan, malah dia menekan tombol tolak, dan beralih menekan tombol On di remote TV.
Tak lama kemudian, ada pesan masuk, dari Vina lagi.
[Pagi, Mas Andra..]
[Pagi]
[Mas Andra sudah bangun?]
[Udah lah]
[Kenapa ngga’ di jawab telpon nya?]
[Lagi males]
[Males kenapa, Mas?]
‘Duh, ini anak gangguin aja! Tambah bikin badmood’batin Andra kesal. Dia merasa jengah dengan obrola basa-basi nya Vina. Dia memilih mengabaikan pesan nya.
[Mas, kok diem?]
‘Haduuuh, masih belum nyerah aja nih cewek!’wajah Andra semakin bersungut kesal.
[Lagi Ngga’ Mood]
Dari arah dapur, Anjani melihat suami nya sibuk menatap ponsel dengan wajah kesal dan mengomel sendiri, membuat nya penasaran.
[Mas, nanti malam temenin Vina dinner yuk. Vina ngga’ ada temen makan nih]
[Ngga’ bisa, Kasihan Anjani sendirian di rumah]
[Ohh. Ya udah, lain kali aja, bisa kan, Mas?]
[Ngga’ janji]
Di apartemen baru nya, Vina menatap ponsel nya sembari tersenyum sinis. Rencana dia untuk masuk ke kehidupan Andra perlahan-lahan, sedikit berhasil. Dia ngga’ akan menyerah begitu saja. Karena keinginan nya untuk merebut Andra sudah mengakar kuat. Meski tantangan utama nya harus berhadapan dengan Anjani.
Dia memikirkan berbagai cara agar bisa mendekati Andra sedikit demi sedikit, dengan senatural mungkin, tanpa
membuat mereka curiga dengan rencana jahat nya.
Sudah jam 7 pagi lewat, Andra dan Anjani mulai memasukkan koper-koper milik nya ke dalam bagasi mobil.
Setelah semua barang berhasil di masukkan ke bagasi, mereka pun berpamitan dengan Bu Salsa dan Pak Nugroho yang tengah berdiri di depan pintu rumah, mengantar kepergian Putra dan menantu nya.
“Mama, Papa.. kami pamit dulu ya, nanti kalau rumah sudah beres semua, Anjani dan Mas Andra mau ngajak Mama dan Papa kesana.”
“Iya, kalian hati-hati ya, kalau butuh apa-apa, jangan sungkan ngomong ke Mama dan Papa. Kita sebagai orang tua
akan membantu sebisa mungkin” Ucapan Pak Nugroho benar-benar membuat Anjani merasakan haru biru, teringat akan sosok Pak karim, Kakek nya yang telah tiada.
“Kami pamit dulu, Ma.. Assalamu’alaikum,” ucap Andra dan Anjani dari dalam mobil.
“Yah.. rumah kita sepi, Pa..” ucap Bu Salsa sedih.
“Ngga’ pa-pa, Ma.. mereka kan sudah punya keluarga sendiri, biarkan mereka hidup mandiri. Kita sebagai orang tua, cukup mendukung dan mendo’akan yang terbaik buat mereka.” Nasihat Pak Nugroho membuat siapapun yang mendengarnya ikut merasakan kehangatan yang luar biasa. Sosok orang tua yang open minded, dan selalu positive thinking.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments