Anjani memasukkan beberapa pakaian milik suami nya ke dalam koper. Sementara Andra kebagian mengepak barang-barang seperti buku, foto, peralatan dan perlengkapan kerja nya ke dalam koper satu nya.
Sore ini, waktu mereka di habiskan dengan mengemas barang-barang yang akan dibawa pindah ke rumah baru.
Di lantai bawah, Vina berpamitan ke Bu Salsa. Dia juga akan pindah ke apartemen baru nya yang ia dapatkan dari teman nya sejam lalu.
“Tante, makasih ya udah mau ngasih tempat buat Vina numpang tidur semalem.”
“Ngga’ perlu terima kasih, Vin. Kamu kan keponakan tante, bukan orang lain. Ngomong-ngomong, apartemen kamu di daerah mana?” tanya Bu Salsa dengan tangan yang merangkul Vina.
“Di Jalan Kenanga, Te. Nanti aku kirim deh alamat nya ke tante lewat chat. Siapa tau Tante sama Mas Andra mau
ngunjungi aku. Hehehe…”
Vina memang keponakan Bu Salsa satu-satu nya, dia sudah di anggap seperti anak sendiri. Ibu nya yang bernama
Sari merupakan Kakak kandung Bu Salsa. Dia dan keluarga kecil nya menetap di Amerika. Kebetulan Vina sedang liburan, jadi dia menyempatkan waktu nya untuk berkunjung ke Indo, sekalian ingin berjumpa dengan sosok Pria yang ia idam-idam kan sejak SMA dulu. Siapa lagi kalau bukan Andra, istri Anjani.
Saat Andra duduk di bangku kuliah, Vina masih jadi anak SMA. Mereka memang akarab sejak kecil. Vina yang notabene anak tunggal, semua keinginan nya hampir selalu di turuti kedua orang tua nya. Menjadikan nya tumbuh jadi gadis yang manja dan sedikit angkuh. Termasuk dalam hal percintaan.
Sejak SMA, Vina sudah menaruh rasa pada Andra. Berbanding terbalik dengan Andra, yang tidak merasakan perasaan apapun pada Vina. Dia hanya menganggap sebatas Saudara sepupu, tak lebih.
Sampai detik ini pun, Vina masih berharap pada Andra. Dengan berbekal kenangan masa lalu mereka, dia berharap Andra mau menerima kehadiran nya, dan bersedia meninggalkan istri nya, Anjani.
Meski rasa-rasa nya tidak mungkin Andra akan rela meninggalkan Anjani demi diri nya, namun keinginan nya sudah kuat. Sosok Andra yang semasa dulu selalu menemani nya bermain dan bertukar cerita, membuat dia tak rela harus menyerahkan Andra pada wanita yang saat ini berstatus istri dari lelaki pujaan nya.
Apapun akan dia lakukan untuk merebut kembali pria yang dia impikan sejak dulu.
“Aku ke atas dulu ya, Te. Mau pamitan sama Mas Andra,” rasa cemburu nya begitu kuat pada Anjani, hingga menyebut nama Anjani saja dia tak sudi.
“Iya, sekalian ya, Vin. Suruh Andra dan Anjani untuk turun,” ucap Bu Salsa dengan wajah keibuannya.
“Oke, Tante.” Vina pun melangkahkan kaki nya naik ke lantai atas tempat kamar Andra berada.
***
*tok tok tok*
“Bentar..” ucap Andra dari dalam kamar. Dia meletakkan buku yang akan di masukkan ke dalam tas koper, lalu
berjalan menuju pintu.
*ceklek*
“Ada apa, Vin?” Tanya Andra sembari berdiri di samping pintu kamar. Anjani yang masih berada di dalam kamar,
menoleh ke arah pintu dan sedikit menguping pembicaraan suami nya.
“Aku mau pamit, Mas.” Jawab Vina terus terang.
“Ooh.. udah dapet apartemen?” dijawab Vina dengan anggukan kepala.
“Oke.. hati-hati ya, Maaf aku ngga’ .bisa nganterin kamu. Aku masih belum selesai beres-beres nya”
“Ngga’ pa-pa Mas. Aku pamit dulu ya..”
“Oke..,” jawab Andra singkat, lalu kembali masuk ke kamar. Tapi saat pintu akan di tutup, Vina memanggil nya.
“Oh ya Mas Andra, tadi Tante nyuruh Mas Andra dan Mbak Anjani turun.” Andra kembali membuka pintu nya sebentar.
“Siap!” kata Andra dengan singkat.
Vina pun turun ke lantai bawah, dan berpamitan kembali pada Bu Salsa. Setelah berpamitan, dia pun melangkahkan kaki nya keluar dari rumah tersebut dengan membawa koper milik nya menuju mobil taxi yang sudah dia pesan sebelum nya.
Setelah Vina pergi, tak lama kemudian Andra dan Anjani akhir nya turun dari lantai atas kamar nya. Mereka menuruni anak tangga dengan berdampingan dan saling berpegangan tangan. Mereka pun mencari Bu Salsa di dapur, tapi tak mereka dapati.
“Mama kemana, ya?” Andra melontarkan pertanyaan dengan netra mengedar ke sekeliling ruangan mencari wanita kesayangan nya.
“Mungkin lagi di taman belakang.” Anjani menimpali sembari tangan nya menarik tangan suami nya menuju ke taman belakang.
Dan ternyata benar, Bu Salsa kini sedang duduk santai di taman belakang seorang diri. Hanya di temani teh hangat
di atas meja.
“Mama tumben di sini? Tadi Vina bilang, Mama nyariin aku? Ada apa, Ma?” tanya Andra sembari duduk di kursi di
sebelah Mama nya.
“Ngga’ ada, Mama Cuma mau memastikan aja, kamu beneran pindah rumah besok?” Bu Salsa mengucapkan kalimat itu dengan wajah sendu.
“Iya, Ma. Kemungkinan besok pagi kami boyong ke rumah baru. Kenapa emang nya, Ma?” timpal Anjani yang seperti merasakan kesedihan di raut wajah Mertua nya.
“Itu arti nya mulai besok Mama akan sendirian di rumah sebesar ini?” raut wajah Bu Salsa semakin sendu ketika
melontarkan kalimat itu.
“Kan masih ada Papa dan Mbok Ina disini, Ma,” tangan Andra menggenggam tangan Bu Salsa, mencoba menghibur nya.
“Tetap aja kesepian, Andra! Ngga’ ada Anjani yang nemenin Mama masak dan ngobrol.”
“Kita bakalan sering-sering kesini kok, Ma.. Mama jangan sedih,” ucap Anjani meyakinkan mertua nya.
“Mama ngga’ akan sedih lagi kalau kalian segera kasih Mama cucu,” ucap Bu Salsa dengan lirikan mata yang sedikit menggoda ke arah Putra dan Menantu nya.
Anjani dan Andra saling pandang dan menahan malu. Bibirnya mengulas senyuman kecil saat mendengar Bu Salsa bicara seperti itu.
“Andra masih usaha, Ma.. usaha buat deketin Anjani yang ternyata susaaaaah banget. Sampe Andra hampir mau menyerah. hehehe,” ucap Andra sambil menyikut tangan Anjani.
Anjani yang merasa tersindir, jadi salah tingkah sendiri. Dia balik menyikut lengan suami nya.
“Berarti usaha kamu masih kurang sempurna, Andra.. wanita itu butuh di manja, di ngertiin, di puji, di sanjung-sanjung. Jangan di anggurin!” Bu Salsa mulai menceramahi Andra yang hanya senyum-senyum mendengar Mama nya bicara.
“Hahh.. cepet banget rasa nya.. kamu sekarang sudah hampir dua tahun menikah dengan Anjani. Semoga segera di kasih momongan, ya? Mama udah ngga’ sabar pengen gendong bayi.”
“Do’akan usaha Andra berhasil, Ma. Hehe.”
Sudah 20 menitan mereka bertiga mengobrol santai di taman belakang. Andra dan Anjani akhirnya kembali masuk ke kamar mereka, dan melanjutkan beberes barang.
Saat Anjani berdiri di depan almari pakaian, Andra melingkarkan tangan nya di perut Anjani, memeluk nya dari
belakang. Sontak saja Anjani kaget dan sedikit menghindar, namun berhasil di tahan Andra dengan tangan nya.
“Kita bikin bayi, yuk!” ucap Andra di telinga istri nya.
“Enak banget Mas kamu ngomong nya? Di kira bikin bayi kayak bikin makanan kali.”
“Ya enak lah, kan emang enak..”
“Kalau aku ngga’mau? Maksud nya aku belum siap. Gimana?” tanya Anjani ragu.
“Ya harus mau lah, kewajiban istri kan ngasih jatah buat suami. Mau sampe kapan kamu ngga’ siap, Jani? Aku udah
siap banget ini..,” goda Andra sembari tangan nya masih memeluk.
“Mas, aku boleh minta izin ngga’?”
“He’em.”
“Pas kita pindah ke rumah baru, aku mau izin untuk melanjutkan kuliah S2. Boleh?”
“Trus kerjaan kamu?”
“Yaaa.. mengundurkan diri.”
“Emmmm, terserah kamu sih. Kalau memang kamu udah siap, ya aku sebagai suami hanya bisa mendukung. Asalkan jatah ku ngga’ kamu lupain. hahaha,” ucap Andra sambil mengecup pipi istri nya dari arah belakang.
“Jatah mulu yang di pikirin!” Anjani mencubit punggung tangan Andra yang masih memeluk perut nya.
“Auw! Berani kamu nyubit aku?!” Andra lalu mengangkat tubuh Anjani menuju ke atas ranjang. Dan memulai aksi balas dendam nya.
Sore ini, mereka habis kan waktu dengan becanda mesra di atas kasur. Suara tawa dan teriakan-teriakan kecil terdengar dari dalam kamar mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments