Chapter 8

Pagi ini, Anjani mulai bersiap-siap untuk berangkat kerja. Hari pertama dia menjadi asisten pribadi suaminya sendiri. Memakai atasan biru laut dan celana panjang hitam, dengan rambut yang di kuncir panjang, terlihat sangat cantik dan menambah kesan kuat. Meski dia dibesarkan dengan agama yang kuat, namun dia masih belum siap untuk memakai hijab. Baginya, asalkan pakaiannya masih sopan dan tidak terlalu terbuka.

Jam 6 pagi, Anjani sudah siap berangkat. Dia sengaja berangkat lebih pagi, menghindari macet. Di kota besar seperti Jakarta ini, hari-hari kerja adalah hari-hari yang terasa sangat lama. Dia berpamitan pada kakeknya. Lalu berangkat menuju ke halte bis.

Sebenarnya, dia bisa saja memesan ojek online, tapi nyatanya, dia lebih merasa nyaman dengan naik bis. Karena ketika di bis, dia bisa bertemu dengan banyak orang yang bernasib sama, sama-sama sedang mencari rizki.

Saat Anjani baru sampai didepan gerbang kompleks rumahnya, ada satu mobil berwarna silver yang berhenti di tepi jalan. Siapa lagi kalau bukan Andra. Dari dalam mobilnya, dia melihat Anjani berjalan dari kejauhan, menunggu Anjani mendekat.

Anjani yang berjalan sambil melihat ponselnya, tidak menyadari jika ada sepasang mata yang sedang memperhatikan nya dari kejauhan. Saat Anjani sudah dekat, Andra membunyikan klakson mobilnya, membuat Anjani kaget dan reflek menoleh. Sepersekian detik, Anjani baru menyadari siapa yang ada di dalam mobil silver itu.

Dia lalu mendekati mobil itu, dengan badan yang sedikit membungkuk, dia menyapa Andra yang masih belum menoleh.

“Mas Andra ngapain disini? Katanya kemarin gak mau berangkat bareng. Kenapa jadi berubah pikiran?” goda Anjani.

“Semi menuruti permintaan Mama,” jawab Andra asal-asalan.

“Oohh, iya deh,” ucap Anjani singkat.

“Buruan naik, keburu kena macet.”

"Iyaaah.”

Anjani pun segera masuk mobil dan duduk. Matanya yang masih curi-curi pandang ke arah Andra, seketika dibuat kaget dengan apa yang dilakukan Andra. Dia mendekati istrinya. Anjani yang bingung, hanya mematung saat wajah mereka saling berdekatan. Sangat dekat sekali, membuat nafas nya tertahan.

“Pakai seatbelt nya dulu,” ucap Andra sambil memakaikan sabuk pengaman Anjani.

“Oh iya.” Jawab Anjani dengan perasaan yang masih belum stabil.

Mobil pun melaju dengan cepat. Menerjang dinginnya pagi. Membawa dua sejoli yang masih sibuk dengan pikirannya masing-masing. Dan terkadang saling curi-curi pandang satu sama lain.

‘Kenapa dengan hatiku? Ada kalanya aku sangat senang dengan kedekatan ini, tapi terkadang rasa itu langsung berubah benci dan kesal.’ Keluh Andra dalam hatinya.

Sepertinya dia sedang mencoba mendalami perasaannya sendiri. Selama ini dia hanya membiarkan perasaan benci hadir saat berada dekat Anjani. Namun jauh di lubuk hatinya, dia sebenarnya ingin membuka diri untuk menerima kehadiran Anjani sebagai istrinya.

Anjani dibuat bingung dengan segala sikap suaminya. Kadang cuek, kadang terasa asing, kadang merasa kalau Andra sangat perhatian, kadang juga bikin jantung Anjani deg-degan.

“Ngomong-ngomong, nanti jadwal Mas Andra apa saja?” ucap Anjani mencoba memecah keheningan.

“Untuk saat ini, belum ada jadwal rapat atau apapun. Hanya menandatangani berkas-berkas saja.” Jawab Andra dengan tenang.

Anjani menanggapinya dengan anggukan kepala.

“Mas Andra sudah sarapan?” tanya Anjani sambil mengeluarkan sebungkus roti sandwich selai coklat dari dalam tas nya.

“Sudah, kamu?” tanya Andra balik.

“Belum sempat, makanya aku bawa bekal roti ini. Mas Andra mau?” tanya Anjani sambil menawarkan roti sandwichnya.

“Gak. Aku udah kenyang.”

Anjani pun melahap roti sandwich yang dia pegang dengan lahap. Membuat mulutnya penuh dengan roti. Pipinya gembung, dan terlihat sangat menggemaskan.

Andra menoleh, melihat istrinya yang sudah seperti ikan buntal. Dia merasa gemas sendiri, ingin mencubit pipinya. Namun dia gak ada keberanian untuk melakukan itu. Yang bisa dia lakukan hanya menahan senyum.

Melihat istrinya yang seperti butuh air untuk minum. Dengan cepat dia memberikan botol minumnya.

“Minum dulu,” ucap Andra.

“Makasih,” jawab Anjani dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Perhatian-perhatian kecil dari Andra, sungguh sangat berarti bagi dia.

Dia pun meminumnya. Dan setelah selesai minum, dia mengembalikan botolnyapada Andra.

“Mbok ya kalau makan itu pelan-pelan,” ucap Andra yang sok menasehati.

“Hehe, maaf, Mas.. keburu kelaperan,” jawab Anjani sambil tertawa kecil.

Mereka pun tiba di parkiran kantor.

“Loh, Mas! Kenapa gak bilang dari tadi kalau sudah mau nyampe kantor. Kan aku bisa turun dulu. Kalau aku turun disini, nanti ketahuan karyawan lain gimana?”

“Udah, gak usah dipikirin. Cepat turun!”

Anjani pun turun dari mobil dan berjalan menjauh dari Andra. Menjaga jarak supaya tidak ada yang melihat mereka berdua berangkat bareng.

Andra hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku istrinya. Dia terlihat lebih santai. Karena cepat atau lambat, semua karyawan akan tahu mengenai hubungan mereka. Hanya tinggal menunggu waktu saja. Lagipula, Anjani saat ini sudah menjadi asisten pribadinya, yang memang kemana-mana harus berdua.

Kedatangan Andra disambut para karyawannya.

“Selamat Pagi, Pak Alandra!” ucap salah satu karyawannya.

Andra berjalan menuju ruang pemasaran untuk menemui Virza.

“Virza, kemari sebentar!”

“Iya, Pak. Pak Alandra butuh bantuan apa?”

“Tidak ada. Saya ingin memberitahu, bahwa Anjani mulai hari ini akan menjadi asisten pribadi saya”

“Baik, Pak.”

Andra pun melanjutkan langkah nya menuju ke ruangannya di lantai atas. Sedangkan Anjani mengikutinya di belakang dengan jarak yang lumayan jauh. Dia pun segera menyusul bos nya yang sudah masuk ke ruangannya.

Setelah sampai di depan pintu ruangan bos nya, dia mengetuk pintu terlebih dahulu lalu membuka pintu perlahan.

“Permisi, Pak. Maaf, kalau boleh tahu, tempat kerja saya dimana ya, Pak?”

“Oh iya, untuk sementara kamu disini saja, nanti biar Virza yang menyiapkan ruangan nya. Karena selama ini saya belum membutuhkan asisten pribadi, jadi belum ada ruangan khusus untuk itu.”

“Baik, Pak!” Anjani pun duduk di sofa yang ada berada tak jauh dari kursi tempat Andra bekerja.

Andra pun kembali sibuk dengan berkas-berkas yang ada di meja kerjanya. Sedangkan Anjani, masih bingung sendiri. Akhirnya, dia pun memilih untuk bermain dengan ponsel nya, hitung-hitung membuang kebosanannya.

‘Kayaknya Mas Andra memang belum butuh asisten pribadi. Buktinya, aku disini gak ada tugas apapun,’ ucap Anjani dalam hatinya.

Dua jam berlalu, mereka masih betah dengan diamnya masing-masing. Andra sudah selesai dengan berkas-berkasnya, lalu memanggil Anjani yang masih berkutat dengan ponselnya.

“Anjani!”

“Iya, Pak!”

“Tolong, kamu antarkan berkas-berkas ini ke ruangannya Rena.”

“Baik, Pak” ucap Anjani dengan membawa tumpukan kertas-kertas itu dan melangkah keluar ruangan.

Setelah Anjani keluar, Andra meraih ponselnya. Melihat ada pesan masuk. Dari Rara.

“Ndra, pulang dari kantor, kamu ada acara gak?”

“Sepertinya gak ada. Ada apa?”

Tiba-tiba ponsel nya berdering, ada panggilan masuk dari Rara.

Mereka pun berbincang-bincang lumayan lama di telepon. Sampai Andra tak menyadari akan kedatangan Istrinya.

Anjani yang melihat suaminya sedang asik ngobrol di telepon, merasa penasaran dengan siapa lawan bicara suaminya.

Untuk menutupi rasa penasarannya, dia pun mencoba bermain dengan ponselnya, membuka sosmed.

Andra yang asik ngobrol di telepon, dengan posisi berdiri membelakangi Anjani. Tidak menyadari, kalau Anjani sedang memperhatikannya dari belakang.

Melihat punggung belakang Andra yang bidang, membuat Anjani berkhayal.

‘Andaikan Mas Andra mau membuka hatinya untuk ku, aku pasti akan sangat bahagia sekali. Rasa-rasanya, aku gak rela kalau punggung bidang itu di sentuh oleh wanita lain. Tapi sayang sekali. Khayalan memiliki suami yang bisa ia peluk setiap saat, hanyalah mimpi.’ Gumam Anjani dalam hati nya.

Andra mengakhiri telepon nya, dia pun menoleh dan sedikit kaget dengan keberadaan Anjani yang sudah kembali duduk di sofa.

“Anjani, sudah datang rupanya.”

“Iya, Pak. Sudah sepuluh menit yang lalu. Tapi Pak Andra yang gak sadar, saking asiknya ngobrol. hehe,” sindir Anjani.

“Bentar lagi waktunya istirahat makan siang, kamu mau makan dimana? Dikantor apa diluar?” tanya Andra mencoba mengalihkan pembicaraan, demi menghindari pertanyaan dari Anjani soal telepon tadi. Meski Andra terlihat membenci Anjani, tapi dia tetap memperlakukan nya dengan baik.

“Aku makan di warung samping perusahaan saja, Pak. Selain murah meriah, tempatnya juga dekat dengan kantor, biar gak jauh-jauh jalannya. hehe.”

“Emm, begitu. Ya sudah, aku akan ikut dengan mu.”

“Apa, Pak? Pak Andra mau ikut makan di warung? Beneran, Pak? Nanti kalau dilihat karyawan lain, bagaimana?”

“Ya… biarkan saja.”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!