Luna dibuat terkejut karena saat ini dia memegang ce-lana da-lam milik Andra yang dia jatuhkan empat bulan lalu. Andra memang belum sempat mengembalikannya ke dalam lemari lagi karena hari itu dia sampai membawanya ke kantor karena sangat kesal pada Luna. Dan baru hari ini Andra ingat dan membawanya pulang.
"Ya Tuhan, benda keramat ini lagi." Luna bergidik ngeri membayangkan si pemilik barang itu. Dia pasti akan kena marah lagi jika sampai Andra melihat dirinya sedang memegang benda berbentuk segitiga itu.
Cekleeek....
Pintu kamar mandi terbuka, Luna buru-buru menyembunyikan ce-lana da-lam itu dibelakang tubuhnya. Nampak Andra keluar dengan menggunakan handuk kimono berwarna navy. Dengan kedua tangannya sedang mengeringkan rambutnya sendiri dengan handuk kecil. Pemandangan itu nampak begitu menawan dimata Luna.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Andra saat menyadari kehadiran Luna didalam kamar itu.
"A-aku mau memanggilmu untuk makan. Aku pikir kamu sudah selesai mandi." Luna berkata dengan terbata-bata, dia nampak tegang dan sangat gugup.
Andra segera berhenti mengeringkan rambutnya, dia menatap tempat dimana Luna berdiri sekarang. Andra menatap pada paper bag dibelakang Luna, dia tau jika gadis itu pasti sudah membukanya.
Andra menarik nafas panjang, dilangkahkan kakinya ke arah Luna. Diraihnya dagu gadis itu hingga pandangan mata mereka saling bertemu.
"Apa yang kamu sembunyikan?" Andra bertanya dengan suara pelan. Bahkan tatapan mata Andra begitu teduh, hingga membuat Luna terenyuh.
"Ti-tidak ada, aku...." Luna tidak melanjutkan kata-katanya saat Andra mendekatkan wajahnya, hingga wajah mereka kini sangat dekat sekali.
Cukup lama mereka saling terdiam dan saling menatap. Membuat irama jantung Luna berdetak tak beriringan. Luna tidak bisa menahan dirinya lagi, dia benar-benar sangat gugup, berbeda dengan Andra yang masih nampak tenang.
"Mungkinkah dia akan...." ucap Luna dalam hati. Dia mulai berfikir jika Andra sepertinya ingin menciumnya dan mengajaknya untuk melakukan ritual makan pertama.
"Kak, aku sedang datang bulan!" ucap Luna akhirnya. Walaupun dia harus memejamkan matanya saat mengatakannya karena tidak kuat ditatap seperti itu terus oleh Andra.
Andra tersenyum dan mendekatkan bibirnya ke telinga Luna.
"Aku mau ganti baju, bisakah kamu keluar dulu. Atau masih ingin tetap disini." ucap Andra sambil mengambil ce-lana da-lam miliknya yang berada di tangan Luna.
Luna segera membuka matanya dengan cepat, dia merasa sangat malu karena sudah berfikir yang tidak-tidak. Bahkan Luna sampai tidak sadar jika ce-lana da-lam ditangannya kini sudah berpindah tangan.
"A-aku pikir...."
Andra segera memotong ucapan Luna. "Kamu pikir apa? Jangan berfikir yang macam-macam. Apa yang aku katakan sebelumnya masih sama, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Aleena dihatiku, termasuk kamu."
Kemudian Andra segera membalikkan badannya dan berjalan ke arah ranjang. Dia berdiri memunggungi Luna. Pandangannya kini beralih pada foto Aleena yang terbingkai diatas nakas. Saat ini dia tidak bisa menebak perasaannya sendiri.
Luna menatap punggung Andra, kekecewaan begitu nampak diraut wajahnya
"Apakah hanya aku yang berharap? Berharap akan ada cinta dipernikahan kita." lirih Luna dalam hati.
Luna berjalan tiga langkah ke arah Andra. "Bagaimana jika kamu memberiku waktu satu bulan lagi?"
Andra membalikkan badannya dan menatap Luna. "Untuk apa?"
"Jika dalam satu bulan kamu tidak bisa jatuh cinta padaku, maka kita akan bercerai!" Luna akhirnya mengucapkan kata keramat itu.
Sungguh, dalam hidupnya, Luna hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Dia tidak pernah mengharapkan apa yang terjadi pada orang tuanya juga terjadi pada dirinya. Namun kenyataannya takdir membawanya untuk menikah dengan seorang Rafandra Harrison, atas permintaan terakhir Aleena.
"Pernikahan harusnya dilandasi atas dasar cinta. Untuk apa kita masih bersama jika tidak ada cinta diantara kita. Hubungan ini hanya akan menyakiti kita berdua. Jadi tolong berikan aku waktu satu bulan lagi untuk meraih hatimu. Karena aku...." Luna tidak melanjutkan kata-katanya, dia menarik nafas dalam-dalam, mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Karena aku sudah jatuh cinta padamu, kak!"
Keberanian itu akhirnya keluar dari dalam diri Luna. Keberanian untuk mengungkapkan perasaannya pada Andra, suaminya. Andra yang mendengarnya nampak kaget namun dia berusaha bersikap tetap tenang dihadapan Luna.
Setelah berkata seperti itu, Luna memilih pergi keluar dari dalam kamar. Dia menutup pintunya dengan kasar dan menyenderkan tubuhnya pada pintu. Menahan segala rasa didalam hatinya.
"Apa yang sudah aku katakan tadi? Bisa-bisanya aku mengatakan kata cerai padanya! Luna kamu memang bodoh...." Luna menjitak kepalanya sendiri, mengingat apa yang tadi sudah dia katakan pada Andra didalam kamar.
Sementara itu didalam kamarnya Andra masih berdiri terpaku ditempatnya. Dia menatap pada pintu kamarnya setelah kepergian Luna.
"Luna, kamu masih terlalu polos untuk memahami semuanya. Aku hanya tidak ingin menyakitimu." batin Andra.
...❣️❣️❣️❣️❣️...
Peluh keringat tengah membanjiri tubuh dua insan yang tengah dimabuk gairah. Pakaian yang berserakan di atas lantai menandakan bahwa sekarang mereka tidak memakai sehelai kain pun. Decitan suara ranjang begitu terdengar ditelinga.
"Ahhh sayang....."
Racauan dan de-sa-han tidak ada hentinya terdengar memenuhi ruangan yang redup itu. Sekarang ini mereka sedang melakukan gaya doggy style. Kedua paha mereka saling bersahutan, sementara tangan si pria tidak tinggal diam, memainkan buah melon milk si wanita yang bergelantungan dari arah belakang.
"Aku hampir sampai!" Pria itu semakin menambah kecepatan temponya. Merasakan seperti ada yang ingin menyeruak keluar.
"Ahhhhh... Ahhhhh...."
Akhirnya pelepasan itu terjadi. Pria itu segera melepaskan miliknya dari milik Soraya. Setelah itu membaringkan tubuhnya terlentang diatas ranjang, dengan dijejeri oleh Soraya disebelahnya. Mata mereka memandangi langit-langit kamar hotel, sambil mengatur nafas mereka yang masih nampak tak beraturan.
"Jadi suamimu itu sudah tidak berguna? Kenapa tidak kamu ceraikan saja dia?" ucap sang pria.
"Aku masih membutuhkan pria tua itu untuk putriku, Felicia." jawab Soraya.
Soraya segera bangun dan duduk di tepi ranjang, saat ini dia masih dalam keadaan tela-njang. Dia mengambil bungkus rokok dari atas nakas, mengeluarkan satu batang dan menempelkannya di bibirnya. Kemudian menyalakan ujungnya dengan pemantik.
Soraya menghisap batang rokok, lalu meniupkan asapnya ke udara. "Pria tua itu sangat berpengaruh untuk keluarga Harrison. Karena saat ini putrinya, Luna, menjadi istri dari Rafandra Harrison."
Pria itu segera bangun dan memeluk Soraya dari arah belakang. Tangannya mere-mas buah melon yang tidak ditutupi oleh kain sedikitpun.
"Jadi apa tugas apa yang ingin kamu berikan padaku kali ini, sayang?" tanya pria itu sambil memilin dua bulatan kecil berwarna kecoklatan, membuat si pemiliknya merem melek keenakan.
"Setelah Dania, kali ini aku ingin kamu membantuku untuk melenyapkan putrinya, yaitu Luna." Soraya menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya kembali.
"Semua ini gara-gara Aleena! Kenapa dia harus memberikan wasiat segala. Jika tidak, mungkin aku bisa menjodohkan Felicia dengan Andra... eenngghhh....." Soraya tidak bisa menahan untuk tidak mende-sah saat miliknya dibawah sana sedang dimanjakan oleh tangan pria selingkuhannya.
Kecelakaan yang menimpa Dania beberapa bulan lalu memang bukanlah sebuah kebetulan. Semua sudah direncanakan oleh Soraya karena saat itu Soraya mendengar Damar ingin mencari keberadaan mantan istri dan putri bungsunya itu. Hingga Soraya dengan dibantu pria selingkuhannya, Roni, segera mencari keberadaan Dania. Dan akhirnya mereka lebih dulu menemukan keberadaan wanita itu sebelum Damar. Hingga Soraya bisa menjalankan misinya untuk melenyapkan Dania dari hidup Damar selamanya.
Soraya menyimpan rokok ditangannya kedalam asbak yang ada di atas nakas. Dia membuka lebar kedua pahanya supaya tangan pria itu lebih leluasa menjamah miliknya.
"Itu adalah tugas yang sangat mudah. Asalkan kamu bisa terus memuaskan aku diatas ranjang. Apapun itu pasti akan aku lakukan untukmu, sayang." pria itu memutar kepala Soraya kesamping dan menyambar bibir wanita itu dengan brutal.
Dua insan itu kembali berbaring diatas ranjang dan kembali mengulang adegan panas mereka.
Ya, seperti itulah Soraya. Dia mengatakan ingin pergi bersama teman-teman sosialitanya hanya sebagai alasan saja pada Damar. Padahal dia ingin menemui pria selingkuhannya. Dia juga rela memberikan uang pada pria itu selama pria itu bisa diandalkan olehnya. Bahkan dia juga tidak peduli jika pria selingkuhannya itu usianya jauh lebih muda dari dirinya. Yang penting mereka bisa sama-sama enak dan saling menguntungkan.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
𓆉︎ᵐᵈˡ𝘚𝘜𝘍𝘐♥𝘡𝘜𝘓🍁❣️
wahh andra tak mau menyakiti tp dalam tak sadar udah menyakiti adeh, rupanya soraya yg merencana kemalangan dania wahh semoga terbongkar sebelum kau buat benda yg sama dgn luna.
2024-07-11
3
Katherina Ajawaila
dasar soraya anak aja ngk nikah2 mm cari kesenanga, penjahat kelamin
2024-06-22
1
Wiwinsutarsih Winsu5282
aku paling g ska klw cwe nembak duluan Kya g punya harga dri,yh..s Damar ngebuang berlian mmhnya Luna dn aleena hanya demi jalang sampah ,mkn tuh Damar pelakor yg km pilih😏
2024-06-21
2