Luna merasa sangat panik, bahkan dia sampai tidak memperhatikan penampilan Andra yang keluar hanya dengan memakai handuk saja untuk menutupi bagian bawahnya.
Andra melihat pakaian yang sudah disiapkan oleh Luna diatas ranjang, kemudian dia menatap Luna yang sedang berdiri didepan lemari.
"Kenapa kamu masih disini? Kamu bisa keluar dan menunggu dibawah." Andra mengambil kemeja putih dari atas ranjang dan memakainya.
Luna tidak menjawab, dia menggigit bibir bawahnya. Pikirannya saat ini masih fokus pada benda yang dia sembunyikan dibelakang tubuhnya.
"Apa kamu tidak mendengar ucapanku barusan? Aku meminta kamu untuk menunggu diluar." ucap Andra sambil mengancing kancing kemejanya satu persatu.
Luna meremas pakaian dalam milik Andra yang sedang dia sembunyikan dibelakang tubuhnya, kemudian dia menganggukkan kepalanya. "Aku mengerti, aku akan keluar dulu."
Luna segera pergi meninggalkan kamar, kali ini Luna keluar kamar dengan membawa ce-lana da-lam milik Andra. Tadinya dia berniat memberikannya, namun sikap dingin Andra membuatnya mengurungkan niatnya.
Luna menutup kembali pintu kamar, lalu dia menarik nafas panjang. Luna memandangi benda yang ada ditangannya yang sejak tadi dia sembunyikan.
"Sekarang gara-gara kamu aku kena masalah lagi. Nanti apa lagi coba?" kali ini Luna berbicara dengan benda berbentuk segitiga itu. Seolah-olah benda itu juga bisa mendengar ucapannya. Beruntung tadi pagi dia sudah menyimpan lingerie seksi pemberian ibu mertuanya kedalam kopernya sebelum Andra masuk ke kamar mandi dan melihatnya.
Luna melihat ke sekelilingnya yang nampak sepi, mungkin semua orang sedang berada di lantai bawah. Karena kamar Andra memang terletak di lantai dua rumah itu.
"Aku simpan dimana ya?" Luna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak mungkin dia masuk kembali ke dalam kamar hanya untuk memberikan benda itu pada Andra. Bisa-bisa Andra akan marah padanya.
Luna melihat dirinya sendiri, kebetulan dia memakai dress pendek selutut. Kemudian Luna memiliki sebuah ide, dia menaikkan sedikit roknya dan memasukkan pakaian dalam itu ke dalam perutnya.
"Simpan disini saja dulu, nanti kalau kak Andra sudah berangkat ke kantor tinggal aku kembalikan lagi kedalam lemari." ujar Luna.
Kemudian Luna segera turun ke lantai bawah. Seorang asisten rumah tangga bernama Lili yang melihat kehadiran Luna langsung tersenyum dan menyapa istri tuan mudanya itu dengan ramah.
"Selamat pagi nona Luna. Mari saya antar ke meja makan, Tuan dan Nyonya besar sudah menunggu diruang makan." Lili mengantarkan Luna sampai ke ruang makan.
Luna memang belum mengetahui seluk beluk rumah itu hingga tadi Nyonya Devina sengaja menyuruh salah satu asisten rumah tangganya untuk menunggu dibawah tangga, untuk berjaga-jaga jika Luna turun sendirian dan merasa kebingungan.
"Selamat pagi, Luna. Ayo duduk sayang." sapa Devina dengan senyuman hangat. Luna pun tersenyum dan membalas ucapan selamat pagi dari ibu mertuanya.
Lili membantu menarikkan kursi untuk Luna. Kemudian Luna segera duduk. Tangannya masih memegangi perutnya karena takut celana yang dia sembunyikan akan terjatuh. Pasti akan sangat memalukan sekali.
"Kenapa sayang, apa perut kamu sakit?" tanya Devina karena sejak tadi Luna terus memegangi perutnya. Devina tersenyum malu, mungkinkah semalam putranya dan Luna sudah cetak gol?
Meskipun Andra sangat mencintai Aleena, namun yang namanya kucing jika dikasih daging pasti akan dimakan juga. Meskipun pernikahan mereka masih terlalu dini, namun Devina berharap jika Luna dan Andra akan segera memiliki seorang anak.
Dulu Devina selalu rajin menemani Aleena pergi ke dokter kandungan untuk berkonsultasi supaya Aleena cepat hamil. Namun Aleena sudah pergi lebih dulu sebelum keinginan itu sempat terwujud.
"Gak apa-apa ma, Luna baik-baik saja kok." Luna terpaksa berbohong, sejak tadi dia memang terus memegangi perutnya karena takut barang yang dia sembunyikan terjatuh. Dia berniat mengembalikan barang itu selesai sarapan.
Tak lama kemudian Andra datang dengan style kerjanya. Penampilan pria berusia 28 tahun itu sukses mencuri perhatian Luna. Luna merasa Andra terlihat sangat tampan dengan berpakaian seperti sekarang.
Kemudian Andra segera duduk disamping Luna. Sebenarnya Andra masih sangat kehilangan, itulah sebabnya dia memilih untuk pergi ke kantor. Dengan bekerja mungkin akan membuat suasana hatinya sedikit lebih baik. Kemudian mereka pun menikmati sarapan pagi mereka.
"Andra sudah selesai makan, Andra berangkat ke kantor dulu." Andra segera bangun dari duduknya, dia menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"Sayang, kamu tidak perlu buru-buru masuk kantor. Ada papa kamu ini yang bisa menghandle semua pekerjaan. Sebaiknya kamu dirumah dulu dan menemani Luna dirumah." ujar Devina, membuat Luna yang sedang makan segera menghentikan makannya dan menatap ke arah Andra yang sedang berdiri di sampingnya.
Andra menatap Luna sebentar. "Pekerjaanku jauh lebih penting dari apapun. Kecuali jika masih ada Aleena disini."
Luna segera menurunkan pandangannya dari suaminya itu, lalu dia berpura-pura tertawa. Dia sadar kehadirannya dirumah itu memang belum dianggap ada oleh Andra.
"Tidak apa-apa ma, biarkan saja kak Andra pergi ke kantor. Luna tidak apa-apa kok sendirian dirumah." ucap Luna.
Devina tersenyum dan memegang tangan Luna yang berada diatas meja. "Kamu memang wanita yang sangat pengertian. Kamu sangat mirip sekali dengan kakak kamu, Aleena."
"Kalau begitu Luna anterin kak Andra sampai kedepan dulu ya, ma." Kemudian Luna segera bangun dari duduknya. Ce-lana da-lam milik Andra yang dia simpan dibalik bajunya pun terjatuh ke lantai, membuat Luna membulatkan matanya, bisa-bisanya dia sampai lupa dengan barang itu.
Andra menatap kaget pada benda yang sangat familiar itu. Antonio dan Devina memiringkan sedikit kepalanya untuk melihat apa yang dijatuhkan oleh Luna. Mereka langsung menahan tawa saat menyadari benda apa itu yang tergeletak diatas lantai.
Andra menarik nafas berat, dia memejamkan matanya sebentar, menahan marah dalam dirinya. Seumur hidupnya baru kali ini dia mengalami hal memalukan seperti ini.
Kemudian Andra membungkukkan badannya dan mengambil ce-lana da-lam itu dengan cepat, lalu dia menatap Luna dengan tatapan marah.
"Jangan pernah menyentuh barang-barang milikku lagi!! Tugasmu disini hanya untuk hidup enak dan menikmati harta keluarga Harrison. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf Aleena karena selama 20 tahun ini kamu sudah hidup menderita diluar sana!!" Andra mengatakannya dengan nada membentak. Dia merasa sangat marah sekali pada Luna.
"Andra!!!!" bentak Devina, wanita itu segera bangun dari duduknya dan menatap kesal pada putranya. Suasana dimeja makan pun berubah menjadi tegang.
Kemudian Andra segera pergi meninggalkan ruang makan. Dia tidak mempedulikan Luna yang masih terdiam tanpa berani menatap kearah kepergiannya.
"Luna...."
Luna buru-buru memotong ucapan Devina, "Ma, Pa, Luna pamit ke kamar dulu ya?"
Luna segera pergi meninggalkan ruangan makan tanpa mendengar jawaban dari kedua mertuanya itu. Dia menutup pintu kamarnya dan menyenderkan tubuhnya dibelakang pintu.
"Kak Aleena... Kenapa kakak memberikan tanggung jawab sebesar ini padaku?" Luna tidak bisa menahan tangisannya lagi. Dia menutup mulutnya dengan tangannya supaya tangisnya tidak sampai terdengar keluar. Kata-kata Andra tadi begitu menusuk hatinya.
...❣️❣️❣️❣️❣️...
💐 Semoga bisa menghibur kalian ya, bagi yang tidak suka dengan ceritanya bisa langsung skip. Dan bagi yang suka mari kita lanjutkan💐
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
anita
klobitu yg kmu lakukan justru kmu sngat mnyakiti mendiang aleena
2024-08-26
3
Niwayan Padmini
luna luna oon banget sich.. tinggal taruh dimesin cuci aj kan gampang..
2024-08-26
1
Nayla Nazafarin
luna ini jg lucu sih..knp di bikin ribet soal cd..tinggal di taruh lg kn gmpang🙄🙄
2024-08-18
1