Wajah Luna nampak lesu setelah dia turun dari dalam taksi. Sayangnya taksi yang dia naiki tadi tidak berhasil mengejar mobil yang ditumpangi oleh Dokter Adrian.
Dengan langkah gontai Luna berjalan memasuki pintu utama sebuah gedung. Dia memilih kembali ke gedung Rainbow Group karena takut Andra mencarinya. Dia sudah meninggalkan ruangan Andra terlalu lama. Bahkan dia lupa tidak membawa ponselnya hingga tidak bisa menghubungi suaminya itu.
Langkah Luna terhenti saat dia melihat dua pasang sepatu yang sedang berdiri di depan lift. Dia langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat pemilik dua pasangan sepatu itu. Luna nampak sangat terkejut sekali.
Marvel melambaikan tangannya pada Luna, dengan senyuman yang mengembang diwajahnya.
"Hai, Luna. Kita bertemu lagi. Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk berjodoh." ucap Marvel tanpa dosa.
Luna merasa begitu sulit untuk menelan salivanya sendiri. Bisa-bisanya dua pria itu ada disana dalam waktu yang bersamaan. Apalagi saat ini tatapan mata Andra seperti ingin memakannya. Bagaimana jika Andra salah paham dengan ucapan Marvel barusan?
"O,ya. Kenalin, dia ini Rafandra Harrison. Putra pemilik perusahaan Rainbow Group ini. Katakan siapa nama suami kamu itu, temanku ini pasti mengenalnya."
Luna hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Sepertinya Marvel sudah terlalu banyak bicara. Ingin sekali rasanya dia menyumpal mulut pria itu dengan sepatunya.
"Su-suamiku. Itu...."
Andra memotong ucapan Luna. "Marvel, aku masih banyak pekerjaan. Sebaiknya kamu temani temanmu ini untuk ngobrol. Aku naik dulu."
Andra menekan tombol lift. Dia segera masuk begitu pintu lift terbuka. Pandangannya kembali bertemu dengan mata Luna hingga pintu lift itu kembali tertutup.
Luna ingin menekan tombol lift, namun Marvel menghalanginya dengan tubuhnya.
"Kak Marvel, menyingkir lah! Kita sudah tidak ada urusan apapun lagi."
Luna hanya ingin mengejar Andra. Dia tidak ingin suaminya itu salah paham dengan kedekatan dirinya dengan Marvel.
"Tidak, aku...." Marvel tidak melanjutkan kata-katanya karena Luna mendorong tubuhnya kesamping.
Luna segera menekan tombol lift, kemudian dia menatap Marvel kembali.
"Maaf, kak. Tapi tolong jangan dekati aku lagi. Urusan kita sudah selesai. Karena aku harus menjaga hati seseorang."
Pintu lift terbuka, Luna segera masuk kedalamnya. Marvel memandangi wajah Luna sampai pintu lift kembali tertutup.
"Sebenarnya siapa pria yang sudah beruntung itu, Luna?" gumam Marvel sambil mengukir senyum tipis diwajahnya.
Saat sudah sampai di lantai paling atas digedung itu, Luna langsung masuk ke dalam ruangan kerja Andra. Nampak Andra baru saja menelfon seseorang. Pria itu sedang berdiri di depan meja kerjanya.
"Bersiaplah, Hansen akan mengantarmu pulang." ucap Andra tanpa menatap Luna.
Luna meraih lengan Andra hingga tatapan mereka bertemu.
"Kenapa bukan kamu saja yang mengantarku pulang?" tanya Luna. Matanya menjelajahi mata Andra. Nampak seraut kekecewaan yang terpendam dimata itu.
"Aku masih banyak pekerjaan." jawab Andra.
"Aku tidak sengaja bertemu dengan kak Marvel tadi dibawah. Aku juga baru mengenalnya beberapa hari ini. Sungguh, aku tidak ada hubungan apapun dengannya." Luna mencoba menjelaskan pada Andra.
"Aku tidak peduli kamu ada hubungan dengan dia atau tidak. Semua itu bukan urusanku."
Mata Luna nampak berkaca-kaca. "Kenapa kamu bicara seperti itu? Aku sudah bilang bukan jika aku mencintaimu."
"Jika kamu mencintaiku, kamu tidak akan pergi dengan pria lain!" ucap Andra dengan nada tinggi.
Kemudian Andra melanjutkan kata-katanya. "Aku menolak ajakan klien aku untuk makan siang, karena aku memikirkan kamu. Aku ingin mengajak kamu untuk makan siang. Tapi apa? Kamu malah pergi makan siang dengan Marvel."
"Kak, ini tidak seperti yang kamu pikirkan...."
Andra tidak ingin mendengarkan penjelasan Luna lagi. Dia membalikkan tubuhnya, berdiri memunggungi Luna.
"Sudahlah, sebaiknya kamu pulang sekarang. Dan malam ini kamu tidak perlu menunggu aku pulang." nada suara Andra kali ini terdengar pelan.
Air mata lolos begitu saja dari mata Luna. Dadanya bergemuruh merasakan sesak atas sikap Andra padanya. Jika tidak cinta, kenapa Andra harus semarah ini saat mendengar ucapan Marvel tadi.
Luna ingin meraih punggung Andra, namun dia mengurungkan niatnya. Kemudian Luna segera pergi dari ruangan kerja suaminya itu. Bahkan dia tidak menghiraukan saat Felicia bertanya karena melihatnya keluar dari ruangan kerja Andra sambil menangis.
...💔💔💔💔💔...
Sejak sore hujan sudah mengguyur kota, seolah tau bagaimana suasana hati Luna saat ini. Sekarang didalam kamarnya Luna sedang duduk meringkuk sambil memeluk kedua kakinya. Matanya sudah sembab karena air matanya seolah tidak ingin berhenti keluar dari pelupuk matanya.
Luna meraih ponselnya yang dia taruh di atas nakas. Sejak siang tidak ada panggilan ataupun pesan dari Andra. Kecuali Marvel, pria itu masih saja terus mencoba untuk menghubunginya, namun selalu Luna abaikan.
Terpampang jam dilayar ponsel sudah menunjukkan pukul 10 malam. Namun tidak ada tanda-tanda Andra akan pulang. Akhirnya Luna mengalah, dia mencoba menelfon suaminya itu. Namun ponsel Andra tidak aktif.
"Kak, kamu kemana? Kenapa harus seperti ini?" isak Luna.
"Maafkan aku, kak. Apa aku yang tidak menyadari sesuatu? Aku tau kamu menyembunyikan sesuatu jauh didalam lubuk hatimu. Sesuatu yang tidak diketahui oleh siapapun."
Tiba-tiba Luna teringat dengan pertemuannya dengan Dokter Adrian saat dia sedang makan siang bersama Marvel tadi.
"Kak Marvel mengenal pria itu. Jadi dia adalah seorang Dokter, Dokter Adrian. Haruskah aku menemui kak Marvel lagi untuk mencari tau tentang Dokter Adrian? Tapi bagaimana dengan kak Andra? Aku tidak ingin kak Andra salah paham terus dengan aku dan kak Marvel."
Luna nampak bingung untuk mengambil keputusan. Disatu sisi dia membutuhkan Marvel untuk mencari tau tentang Dokter Adrian. Disisi lain dia ingin menjaga hati dan perasaan Andra.
...💔💔💔💔💔...
Disebuah apartemen mewah milik keluarga Harrison. Disebuah salah satu kamar apartemen nampak Andra sedang duduk diatas lantai dengan menyenderkan punggungnya pada sisi ranjang. Penampilan pria itu sudah nampak kusam dan berantakan. Dengan kancing kemeja yang sudah terbuka dua kancing atasnya. Bahkan rambutnya sudah nampak acak-acakan.
Beberapa botol minuman beralkohol sudah dia teguk sampai habis.
"Karena aku sudah jatuh cinta padamu, kak!"
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Aku sudah bilang bukan jika aku mencintaimu."
Tersirat dibenak Andra kata-kata yang pernah diucapkan oleh Luna padanya. Hingga sebuah senyuman terukir di wajahnya dengan mata yang mulai berembun.
"Aleena, apa kamu sudah lihat bagaimana hancurnya aku sekarang?" Andra meneguk kembali minuman didalam botol. Dia sudah benar-benar mabuk sekarang.
Ting Tong
Terdengar suara bel berbunyi. Andra mencoba mengabaikannya. Saat ini dia sedang ingin sendiri. Namun suara bel berkali-kali terdengar menggema di telinga. Akhirnya dengan bersusah payah Andra mencoba untuk bangun. Dia berjalan keluar dari dalam kamarnya menuju ke ruangan depan dengan sempoyongan.
Andra membuka pintu apartemennya. Nampak seorang wanita sudah berdiri di hadapan Andra sekarang.
...💔💔💔💔💔...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
jen
duuuhhhb perempuan siapa Thor?????
2025-02-19
1
Ririn Nursisminingsih
mknya jadj wanita jg boding mnding dicintai daripada mngejar cinta luna
2024-12-01
1
Ernieliza
lanjut certa nya
2024-07-31
2