Didalam kamarnya Luna tengah duduk di atas lantai sambil memeluk kedua kakinya. Dia menyenderkan punggungnya pada ranjang sambil memegang sebuah foto, itu adalah foto dirinya bersama dengan ibunya.
"Mama, Luna kangen sama mama. Mama pergi, sekarang kak Aleena juga pergi. Tidak ada yang menyayangi Luna lagi..." Luna mengatakannya dengan menangis, lalu dia menatap foto Aleena yang terbingkai dengan indah diatas nakas.
"Kak, kenapa kakak pergi secepat ini? Kakak bilang kakak akan terus menjaga dan menyayangi Luna. Kenapa kakak tidak menepati janji kakak?"
Dulu Luna juga sudah biasa dihina dan dimaki saat dia hanya menjadi seorang gadis biasa yang rela bangun pagi-pagi buta untuk membantu ibunya jualan sayuran ke pasar. Bahkan mereka juga sempat hampir diusir dari kontrakan hanya karena sudah tiga bulan tidak bisa membayar uang sewa.
Kemudian Luna menatap pada foto pernikahan Aleena dan Andra yang terpajang di dinding. Tatapan Luna fokus pada wajah Andra yang sedang tersenyum itu.
"Itu hanya sebuah ce-lana da-lam, jadi kamu tidak perlu semarah itu. Kamu kan bisa bicara baik-baik padaku. Lagipula aku juga tidak berniat untuk menyembunyikan." Luna berkata seolah dia sedang berbicara dengan Andra. Padahal kalau didepan Andra, Luna belum tentu berani bicara seperti itu.
Luna kembali menyenderkan kepalanya di lututnya. Air matanya kembali menetes, dia sangat merindukan mamanya. Jika boleh memilih, Luna ingin kembali ke kehidupannya yang seperti dulu saat dia masih bersama dengan mamanya. Walaupun tidak banyak harta tapi dia masih bisa tertawa bahagia.
...🌲🌲🌲🌲🌲...
Siang ini di perusahaan Rainbow Group milik keluarga Harrison, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur. Andra tengah duduk di kursi kebesarannya. Sejak pagi dia tidak fokus bekerja. Bahkan Andra tidak mengikuti meeting yang dipimpin oleh papanya tadi pagi. Dia terus teringat tentang ce-lana da-lam yang dijatuhkan oleh Luna. Bisa-bisanya wanita itu menyimpan barang pribadi miliknya dibalik bajunya.
"Aleena, bagaimana mungkin kamu memiliki adik yang aneh seperti itu? Aku bisa gila jika harus menghadapinya setiap hari." gumam Andra sambil memijit-mijit pelipisnya.
Ceklek...
Pintu ruangan itu terbuka, rupanya Antonio yang datang mengunjungi ruangan kerja putranya.
"Andra, papa ingin bicara dengan kamu." Antonio segera duduk di sofa. Disusul dengan Andra yang juga ikut duduk di sofa yang berbeda.
"Ada apa pa? Apa yang ingin papa bicarakan? Apa ini tentang pekerjaan?" tanya Andra.
Antonio menggelengkan kepalanya, "Bukan, tapi ini tentang kamu dan Luna."
"Memangnya kenapa dengan aku dan Luna, Pa?" Andra tau jika papanya pasti akan membahas tentang kejadian tadi pagi.
Selama menikah dengan Aleena, Andra memang belum pernah membentak Aleena seperti dia membentak Luna tadi pagi. Jadi wajar saja jika papanya pasti akan mempertanyakan tentang sikapnya pada Luna tadi.
"Papa tau pernikahan kamu dengan Luna memang tidak pernah kamu inginkan. Kamu menikahi Luna hanya karena wasiat dari Aleena. Tapi biar bagaimanapun, Luna sudah menjadi istri kamu. Luna adalah tanggung jawab kamu, Ndra. Kamu harus memperlakukan Luna dengan baik, jangan menyakiti hati dan perasaannya." Antonio memang tidak pernah mempermasalahkan siapapun yang menjadi istri putranya, selama wanita itu adalah wanita baik-baik baginya tidak ada masalah.
Andra nampak terdiam sejenak, "Tapi Luna sangat berbeda dengan Aleena, Pa. Luna benar-benar....."
Andra tidak melanjutkan kata-katanya, baginya Luna benar-benar wanita yang aneh. Seumur hidupnya baru kali ini dia menemukan wanita aneh seperti Luna.
"Dari awal papa tidak memaksa, tapi kamu sendiri yang meminta untuk mempersiapkan pernikahan kamu dengan Luna. Sebagai seorang pria kamu harus bertanggung jawab atas ucapan dan tindakan kamu."
Kemudian Antonio segera bangun dari duduknya. Dia berjalan ke arah Andra dan menepuk pundak putranya.
"Minta maaflah pada Luna. Semua ini pasti masih asing baginya, bersabarlah menghadapi sikapnya."
Antonio segera pergi meninggalkan ruangan kerja Andra. Sebenarnya putranya itu adalah seorang pria yang baik dan bertanggung jawab, hanya saja mungkin Andra belum terbiasa dengan sikap Luna yang memang sedikit aneh.
Setelah mempertimbangkan ucapan papanya, Andra segera bangun dari duduknya. Dia akan pulang ke rumah untuk menjemput Luna. Dia ingin mengajak Luna makan siang diluar. Walaupun Andra tidak yakin jika Luna juga tidak akan membuat masalah diluar rumah. Namun apa yang dikatakan oleh papanya adalah benar. Luna adalah tanggung jawabnya, dia tidak boleh menyakiti hati dan perasaan wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya itu.
Andra baru saja ingin keluar dari ruangannya, dia berpapasan dengan Felicia didepan pintu.
"Kak, ayo kita makan siang bareng?" ajak Felicia.
Felicia memang bekerja di perusahaan Rainbow Group sebagai sekertaris Andra. Karena tidak bisa mendapatkan Andra, Felicia meminta papanya untuk memasukkannya ke perusahaan milik keluarga Harrison itu supaya dia bisa melihat pria pujaan hatinya itu setiap hari.
"Tapi aku ada urusan lain. Aku harus pulang sekarang untuk menjemput Luna dan mengajaknya makan siang bareng." ujar Andra membuat raut wajah Felicia berubah menjadi kesal.
"Mungkinkah semalam mereka sudah melakukan malam pertama? Ah, tidak... tidak... Kak Andra kan menikahi Luna hanya karena wasiat dari kak Aleena. Jadi mana mungkin dia mau menyentuh wanita seperti Luna."_ gumam Felicia dalam hati.
Felicia sangat tau betul jika Luna bukanlah tipe wanita idaman seorang Rafandra Harrison, kecuali Aleena. Aleena adalah wanita yang feminim dan bisa menjaga penampilan. Selain itu Aleena juga berhati lembut dan selalu ramah pada siapapun. Jadi wajar saja jika Andra dulu lebih memilih Aleena untuk menjadi istrinya.
"Kalau begitu aku ikut untuk menjemput Luna ya? Aku juga kangen dengan adikku itu." Felicia berbicara seolah-olah dia sangat menyayangi Luna. Padahal dia sangat tidak menyukai adik tirinya itu.
Andra menganggukkan kepalanya, "Baiklah, sekalian ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu."
Felicia mengangguk senang, sebenarnya dia hanya ingin mengganggu makan siang Andra dan Luna saja. Dia tidak benar-benar merindukan Luna. Sebisa mungkin dia akan membuat Andra untuk segera menceraikan Luna.
Kemudian mereka berdua meninggalkan perusahaan menuju kediaman keluarga Harrison. Felicia duduk bersama dengan Andra dimobil yang sama. Setelah makan siang mereka memang harus kembali ke kantor untuk bekerja kembali, sehingga Andra meminta Felicia untuk ikut naik kedalam mobilnya saja.
Andra dan Felicia segera turun begitu mobil yang mereka naiki sampai di halaman kediaman Harrison. Seorang pelayan wanita datang menyambut kepulangan Andra.
"Dimana Luna?" tanya Andra pada pelayan wanita itu.
"Nona Luna ada dikamarnya, tuan muda." jawab pelayan itu.
Andra ingin segera naik ke lantai atas untuk menemui Luna. Namun Felicia lebih dulu menahan pergelangan tangan Andra.
"Biar aku saja yang panggil Luna ya kak. Sekalian aku akan bantu Luna untuk berdandan dan bersiap. Biar Luna tidak malu-maluin saat diajak keluar rumah." ucap Felicia.
Andra menganggukkan kepalanya, "Baiklah, aku akan menunggu diruang tengah."
Felicia langsung naik ke lantai atas untuk mencari kamar Andra. Sementara Andra pergi keruang tengah, dia mempercayakan Luna pada Felicia. Andra yakin jika Felicia juga pasti sangat menyayangi Luna seperti Felicia menyayangi Aleena. Karena selama ini Andra selalu melihat kebaikan Felicia pada mendiang istrinya itu.
Andra melihat jam ditangannya, sudah lima belas menit dia menunggu Luna dan Felicia. Namun dua wanita itu tidak kunjung turun.
"Kenapa Felicia lama sekali mendandani Luna?" gumam Andra.
Andra merasa sangat gelisah, akhirnya dia memutuskan untuk naik ke lantai atas untuk melihat Luna dan Felicia. Namun dia dibuat kaget saat mendengar kegaduhan dan suara benda pecah dari dalam kamarnya.
Prangggg.....
...🌳🌳🌳🌳🌳...
Bonus visual Andra dan Luna versi author nih biar makin seeerrrrrr bacanya 🤭
...❣️❣️ Salam Dunia Perhaluan ❣️❣️...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
𓆉︎ᵐᵈˡ𝘚𝘜𝘍𝘐♥𝘡𝘜𝘓🍁❣️
dih andra segitu percaya yaa sama felicia, nahh apa lagi itu pasti mau bikin nama luna jelek di depan andra huh.
2024-07-11
5
Ririn Satkwantono
andra memasukkan srigala... uupss
mngkinkah, luna difitnah
2024-07-04
1
Katherina Ajawaila
ada aja pelakor, bikin snewen
2024-06-22
1