Setelah mendapatkan persetujuan dari Andra, Felicia naik kelantai dua. Felicia pernah masuk ke kamar Andra dulu sekali saat menjenguk Aleena yang sedang sakit kala itu.
Ceklek....
Pintu terbuka, terlihat Luna yang baru keluar dari kamar mandi menatap kaget pada Felicia.
"Kak Felicia? Bagaimana kakak bisa ada disini?" tanya Luna.
Felicia tidak menjawab, dia menutup kembali pintu dengan rapat dan berjalan ke arah lemari. Felicia membuka lemari milik Andra dan melihat ada baju-baju milik Aleena yang memang belum dipindahkan dari kamar itu. Andra memang belum bisa merelakan kepergian Aleena begitu saja, sehingga semua barang-barang milik Aleena tidak boleh dipindahkan.
"Kak Felicia mau apa kak?" tanya Luna lagi sambil berjalan kearah Felicia.
Felicia mengambil baju milik Aleena. Itu adalah sebuah dress pendek berwarna merah. Kemudian Felicia membuka lemari yang berisikan sepatu, dia mengambil sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah. Merah memang adalah warna favorit Aleena. Dan dress yang Felicia ambil adalah dress pemberian dari Andra saat Andra mengajak Aleena untuk makan malam romantis beberapa bulan lalu. Felicia bisa mengetahuinya karena kebetulan waktu itu dia yang menemani Andra ke butik untuk membeli dress itu sebagai hadiah untuk Aleena.
"Luna, cepat kamu pakai ini." Felicia menyodorkan dress dan sepatu ditangannya pada Luna.
Luna menggelengkan kepalanya, "Tidak kak, itu punya kak Aleena. Aku tidak berani untuk memakainya."
Felicia nampak menarik nafas berat, "Luna, kamu dengar ya? Kak Andra yang sangat berharga saja diserahkan sama kamu, jadi baju-baju ini tidak penting. Kamu bisa memakainya sesuka hati kamu. Barang Aleena berarti barang kamu juga, kamu kan adik kandungnya. Tidak akan ada yang marah jika kamu memakainya."
Felicia berusaha mempengaruhi Luna, namun Luna masih terdiam. Luna tidak mengerti mengapa Felicia sangat ingin dirinya memakai baju milik Aleena itu.
"Memangnya kenapa aku harus memakai baju itu? Dan kakak sendiri ngapain dikamar aku? Bukankah seharusnya kakak sedang pergi bekerja?" Luna malah bertanya pada Felicia, membuat Felicia bertambah kesal.
"Sudah cepat pakai sana! Kak Andra sudah menunggu dibawah. Dia mau mengajak kamu makan siang di luar." ucap Felicia.
Mata Luna langsung berbinar begitu mendengar nama Andra disebutkan. Mungkinkah suaminya itu ingin mengajak makan siang sebagai permintaan maaf karena sudah membentaknya tadi pagi.
"Jadi kak Andra sudah pulang? Kalau begitu aku akan menemuinya dulu." Luna ingin segera pergi, namun Felicia menarik tangannya kebelakang.
"Kamu boleh turun dan menemui kak Andra jika kamu sudah memakai baju dan sepatu ini."
Luna menggelengkan kepalanya, "Tidak kak, aku tidak mau memakainya. Aku tidak mau membuat kak Andra marah lagi."
Luna masih mengingat dengan jelas ucapan Andra tadi pagi yang memintanya untuk tidak menyentuh barang-barang milik Andra. Itulah sebabnya Luna juga tidak ingin menyentuh barang-barang milik Aleena yang masih tertata rapi dikamar itu.
Kemudian Luna menatap kopernya yang berada disamping lemari.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memakai barang-barang milik kak Aleena. Sekalipun itu kak Andra yang memintanya."
Kemudian Luna mengambil baju dan sepatu ditangan Felicia. Luna menaruh kembali dress milik Aleena didalam lemari, kemudian dia ingin menaruh sepatu milik Aleena namun Felicia malah merebut sepatu itu dari tangannya.
"Kembalikan sepatu itu kak!" Luna ingin merebutnya, namun Felicia menyembunyikan sepatu hak tinggi itu dibelakang tubuhnya.
"Jangan munafik, Luna. Ini kan yang kamu inginkan? Bisa hidup enak dan menikmati harta keluarga Harrison?" cibir Felicia.
Kemudian Felicia melanjutkan kata-katanya, "Atau jangan-jangan kamu yang sudah mencelakai kak Aleena? Karena kamu iri dengan kak Aleena yang bisa mendapatkan suami tampan dan kay...."
Plakkkk....
Sebuah tamparan mendarat diwajah Felicia sebelum wanita itu melanjutkan ucapannya. Luna melihat tangannya yang dia pakai untuk menampar Felicia, kemudian dia menatap Felicia dan merasa bersalah pada kakak tirinya itu.
"Kak, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk....."
Prangggg....
Belum sempat Luna melanjutkan ucapannya, Felicia melemparkan sepatu milik Aleena kearah foto pernikahan Aleena dan Andra yang terpajang di dinding kamar itu. Foto itu pun jatuh ke lantai dan bingkai kacanya pecah berserakan di atas lantai.
Tiba-tiba pintu kamar dibuka oleh Andra, dia melihat Luna dan Felicia secara bergantian. Lalu dia melihat foto pernikahannya dengan Aleena yang jatuh diatas lantai.
Felicia memegangi pipinya yang ditampar oleh Luna, dia berjalan ke arah Andra.
"Kak, ini semua salah Luna. Dia memaksa ingin memakai barang-barang milik kak Aleena. Aku sudah melarangnya tapi Luna malah marah dan melemparkan sepatu milik kak Aleena ke foto pernikahan kalian. Lihat kak, dia juga berani menampar aku." Felicia menunjukkan pipinya yang merah akibat tamparan dari Luna tadi. Dia juga berpura-pura menangis supaya Andra semakin percaya padanya.
"Kak, aku...."
Luna tidak melanjutkan kata-katanya saat Andra mengangkat kelima jarinya. Andra mencoba menahan marah dalam dirinya menghadapi sikap Luna. Kemudian Andra menatap Felicia yang berdiri di sampingnya.
"Felicia, sebaiknya kita kembali kekantor sekarang." ucap Andra yang dijawab anggukan oleh Felicia.
Kemudian Andra menatap kembali kearah Luna. "Dan kamu. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau, termasuk memakai barang-barang milik Aleena."
Andra ingin segera pergi meninggalkan kamarnya, namun langkahnya terhenti didepan pintu ketika suara Luna memanggilnya.
"Tunggu, kak!"
Luna berjalan ke arah Andra dan berdiri tepat dihadapan suaminya. Dia berusaha untuk tidak menangis dihadapan Andra.
"Aku tau, kamu tidak percaya padaku kan?" Luna tau Andra sedang menahan marah padanya, nampak jelas dari tatapan matanya. "Tapi asal kamu tau kak, walaupun kamu meminta aku untuk memakai barang-barang kak Aleena, aku tidak akan mau. Karena aku Luna, bukan Aleena."
Andra nampak terdiam, dia mengalihkan pandangannya dari tatapan mata Luna. Bukan maksudnya menganggap Luna sebagai Aleena, hanya saja dia tidak ingin melarang Luna untuk memakai barang-barang milik mendiang kakak kandungnya sendiri.
"Kamu memang bukan Aleena. Dan sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Aleena. Aku menikahi kamu hanya karena wasiat dari Aleena. Jadi, jika suatu saat kamu menemukan pria yang kamu cintai. Maka aku akan segera melepaskan kamu." Andra segera pergi setelah berkata demikian, disusul oleh Felicia dibelakangnya.
Luna hanya bisa memandangi kepergian Andra dan Felicia dengan sedih. Air matanya menetes membasahi wajahnya. Entah apa salahnya, tapi tatapan dingin Andra padanya begitu membuat hatinya terasa sangat sakit. Dia juga tidak pernah mengharapkan pernikahan mereka terjadi. Jika boleh meminta keajaiban, Luna ingin Aleena bisa hidup lagi dan bisa berada di tengah-tengah mereka kembali.
...💐💐💐💐💐...
Sesampainya didepan gedung Rainbow Group, Andra segera menghentikan mobilnya.
"Turunlah, aku masih ada urusan lain." ucap Andra pada Felicia.
"Kenapa kamu tidak ikut turun? Apa kamu mau pergi lagi? Kamu mau pulang dan menemui Luna lagi? Kak, Luna itu...."
"Aku bilang turun!!" bentak Andra.
Felicia nampak kesal, dia segera turun dari mobil Andra. Lalu Andra segera melajukan mobilnya pergi meninggalkan area gedung itu kembali. Saat ini Andra sedang ingin sendiri, dia ingin menenangkan hati dan pikirannya.
...💖💖💖💖💖...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Dewa Rana
mestinya orang lain dilarang masuk kamar karena kamar itu wilayah pribadi
2024-08-21
3
𓆉︎ᵐᵈˡ𝘚𝘜𝘍𝘐♥𝘡𝘜𝘓🍁❣️
nah kan benar udah buka keduk si felicia, dia mah andra membenci luna huh, luna jgn percaya lagi sama felicia yaa, harus hati2.
2024-07-11
4
Ririn Satkwantono
smg ada cowok nnt yg prhatian k luna
2024-07-04
1