"Luna, ayo kita turun."
"Emm, kak. Bolehkah aku tidak ikut turun? Tiba-tiba aku merasa tidak enak badan." jawab Luna.
"Kenapa? Apa kamu sakit?" raut wajah Andra berubah menjadi cemas.
Bukannya menjawab, Luna malah terdiam dan menatap Andra. Hatinya begitu senang melihat Andra khawatir seperti ini.
"Kak Aleena, sekarang aku tau kenapa kakak mencintai kak Andra. Ternyata dibalik sikap dinginnya, kak Andra adalah seorang pria yang penuh dengan perhatian. Tapi kenapa kakak malah...." batin Luna.
Luna menggelengkan kepalanya, "Tidak, kak. Aku hanya ingin istirahat saja disini. Karena seharian ini aku...." Luna tidak melanjutkan kata-katanya. Tidak mungkin dia bicara jujur pada Andra tentang apa yang sudah dia lakukan seharian ini.
Bahkan Luna tidak memiliki waktu untuk beristirahat sebentar saja hari ini. Karena setelah bertemu dengan Marvel, Luna memilih kembali ke taman dan duduk di sana sampai sore, berharap bisa bertemu dengan pria kemarin lagi. Namun nyatanya pria itu tidak datang ke taman hingga Luna akhirnya memutuskan untuk pulang sebelum Andra sampai duluan dirumah papanya.
"Baiklah, tunggu disini. Aku hanya sebentar." Andra membuka pintu mobil dan ingin segera turun, namun Luna menahan pergelangan tangannya.
"Jangan lama-lama ya kak, aku takut sendirian di sini." ucap Luna yang dijawab anggukan kepala oleh Andra.
Dan Andra pun meninggalkan Luna sendirian di dalam mobil. Dia bergegas menuju ke ruangan apartemen yang dihuni oleh Marvel. Wajah Marvel sudah nampak memucat karena sejak siang dia menjadi penghuni kamar mandi. Bahkan Marvel sampai rela tidak memakai ce-lana da-lam dan hanya memakai handuk kimono saja karena repot jika harus bolak-balik buka.
"Ini gara-gara wanita itu, dia mengajakku makan di warung pinggir jalan. Pasti makanan disana tidak higienis sampai perutku sakit seperti ini." ucap Marvel saat Andra sudah berada di dalam ruangan apartemen miliknya.
Andra tersenyum mendengar penuturan Marvel. "Nikmati saja, anggap saja berkorban sedikit demi cinta."
"Jangan meledekku, Ndra." ucap Marvel sambil memegangi perutnya yang mulai terasa mules lagi.
"Ya, sudah. Aku langsung balik ya. Jangan lupa minum obatnya." ucap Andra memberikan obat yang dia beli tadi pada Marvel.
"Ngapain buru-buru, Ndra. Baru jam 8 ini. Mending kamu duduk dulu, minum-minum dulu kita." ajak Marvel menunjuk ke arah sofa.
Andra menggelengkan kepalanya, "Ada yang menungguku dibawah, jadi aku tidak bisa lama-lama."
"Menunggu? Jangan bilang kamu sudah menemukan pengganti Aleena? Siapa wanita itu, Ndra? Kenapa tidak kamu ajak naik dan kenalkan padaku saja tadi." ucap Marvel merasa penasaran.
Kemudian Marvel kembali berkata-kata, "O,ya Ndra. Minggu depan ikut aku yuk datang ke acaranya Laura. Sekalian ajak pacar kamu itu dan kenalin ke kita-kita."
"Aku tidak janji." jawab Andra.
"Ayolah, Ndra. Sekali-sekali kita...." Marvel tidak melanjutkan kata-katanya saat perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.
'Duuuuuuttttttt....'
Suara itu lolos begitu saja dari arah belakang Marvel. Andra yang mendengarnya hanya bisa menahan tawanya, menutup bibirnya dengan punggung tangannya. Dia jadi penasaran dengan wanita yang sudah membuat Marvel jadi seperti ini.
"Aku sudah tidak tahan lagi, Ndra!" Marvel buru-buru pergi ke kamar mandi. Dia sudah tidak tahan untuk membuang hajatnya.
Andra menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Marvel.
"Marvel, aku tinggal ya? Jangan lupa obatnya diminum." teriak Andra sebelum pergi meninggalkan ruangan apartemen Marvel.
Sementara itu, Luna sedang tertawa-tawa sendiri didalam mobil. Dia sedang membayangkan bagaimana Marvel saat ini. Pria itu pasti sedang menjadi penghuni kamar mandi.
"Salah sendiri berani mengancamku. Sekarang rasakan akibatnya." ucap Luna sambil tertawa.
Luna segera menghentikan tawanya saat mendengar suara pintu mobil dibuka, rupanya itu adalah Andra. Pria itu segera duduk di sampingnya.
"Sepertinya suasana hatimu sedang senang?" tanya Andra tanpa menoleh ke arah Luna.
Luna tidak menjawab, dia menggigit bibir bawahnya, takut suaminya itu berfikir yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Emm... Itu...."
"Apa pria yang menelfonmu semalam yang membuatmu senang?" tebak Andra memotong ucapan Luna.
Wajah Luna nampak begitu tegang saat Andra menatapnya dengan tatapan tajam. Namun sesaat kemudian Andra kembali mengarahkan pandangannya lurus kedepan. Dia segera melajukan mobilnya tanpa menunggu jawaban dari Luna.
Luna beberapa kali menoleh ke arah Andra saat berada di dalam mobil. Baru saja sesaat lalu dia memuji pria itu yang nampak begitu lembut dan perhatian, sekarang Andra berubah menjadi sosok yang dingin lagi.
"Padahal aku yang sedang datang bulan, tapi kenapa malah dia yang moodnya tidak bagus!" gerutu Luna dalam hati.
Sesampainya di rumah, Luna membantu Andra menurunkan barang-barang belanjaan yang mereka beli tadi dari bagasi mobil. Luna ingin menegur Andra tapi pria itu masih saja mendiamkan dirinya. Seolah dia memiliki dosa besar pada suaminya itu.
"Apa ini? Apa tadi kita membelinya." Luna mengambil sebuah paper bag kecil dari bagasi mobil, namun Andra langsung merebutnya dari tangan Luna.
"Jangan menyentuhnya! Ini barang pribadiku." Andra membawa paper bag kecil itu bersamaan dengan barang belanjaan yang lainnya kedalam rumah.
Luna mengangkat kedua bahunya sebelum akhirnya dia mengikuti Andra masuk ke rumah.
"Sebaiknya kakak mandi saja dulu, biar aku masak untuk makan malam kita." ucap Luna saat melihat Andra sudah meletakkan barang-barang belanjaan diatas meja.
Andra hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dia pergi ke pantai dua dan masuk ke dalam kamarnya. Sebelum mandi Andra mengecek lemari lebih dulu, sekarang isi lemari itu dipenuhi dengan barang-barang milik Luna. Bahkan Andra juga meminta Hansen tadi untuk memborong pakaian dibutik termahal di kota itu untuk Luna.
Andra merasa puas dengan kerjaan Hansen, kemudian dia menaruh paper bag ditangannya di atas meja dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri supaya lebih segar.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
Luna sudah selesai masak dan sudah mengisi meja makan dengan makanan masakannya. Dia melihat ke arah tangga dan tidak ada tanda-tanda Andra akan turun. Padahal suaminya itu sudah naik ke atas dari satu jam yang lalu.
"Lama sekali dia mandinya? Sebaiknya aku susul saja ke kamar." pikir Luna.
Dan Luna pun pergi menyusul Andra ke kamar mereka. Namun dia tidak melihat keberadaan Andra didalam kamar. Sepertinya suaminya itu masih belum selesai mandi.
Mata Luna menatap ke arah samping lemari, dia tidak melihat kopernya disana, karena biasanya Luna menaruh kopernya disamping lemari.
"Dimana koperku? Apa mungkin ada maling masuk ke dalam rumah ini tadi?" Luna merasa sangat panik.
Luna berfikir akan memanggil Andra didalam kamar mandi, namun dia mengurungkan niatnya.
"Tapi jika ada maling kenapa juga koperku yang harus dibawa?" pikir Luna lagi. "Atau jangan-jangan???"
Luna segera membuka lemari, dia takut jika maling itu juga membawa barang-barang lainnya dari dalam kamar itu. Namun Luna dibuat terkejut saat melihat lemari itu sekarang sudah dipenuhi dengan barang-barang miliknya.
"Kak Andra, mungkinkah dia yang melakukan semua ini?" lirih Luna dengan mata berkaca-kaca.
Luna tidak bisa berkata-kata lagi, dia merasa sangat terharu dan senang. Mungkinkah sekarang Andra sudah bisa menerima dirinya sebagai seorang istri.
Namun senyum itu tiba-tiba memudar saat Luna teringat ucapan Andra malam itu. Dimalam pengantin mereka.
"Sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Aleena dihati aku, sekalipun kamu adalah adik kandungnya."
Luna menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak... Tidak.... Aku tidak boleh berfikir yang macam-macam. Mungkin saja kak Andra melakukan ini karena aku adalah adiknya kak Aleena. Selamanya aku tidak akan pernah ada dihati kak Andra."
Kemudian Luna segera menutup lemari itu kembali. Luna ingin segera keluar dari kamar dan ingin menunggu Andra dimeja makan saja. Namun pandangan Luna terhenti di atas meja. Dia melihat paper bag yang tadi dia lihat di bagasi mobil ada disana. Luna jadi penasaran sebenarnya apa isi paper bag itu hingga tadi Andra merebutnya dari tangannya. Seolah-olah Andra sangat takut jika dia sampai melihat isinya.
Luna mendekati paper bag itu, membukanya dan mengambil isinya. Betapa kagetnya Luna saat melihat sesuatu yang ada ditangannya. Hingga mata Luna membulat sempurna.
...💫💫💫💫💫💫...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Niwayan Padmini
apa yaaa jadi penasaran nich
2024-08-26
2
Basaroh Basaroh
visualnya Andra kurang dewasa
2024-08-15
3
Erna M Jen
visualnya cantik dan ganteng..😍
2024-07-17
5