Tuinggggg...
"Rudal sialan. Rudal sialan. Rudal sialan! Bikin malu saja. Baru lihat gituan sudah berdiri tegak!" umpat Ken pada rudalnya sendiri.
Keesokan harinya, Ken mengajak Hanum ke perusahaan. Hanum belum terbiasa sendiri di rumah. Apalagi belum akrab dengan mama Ambar dan kedua kakaknya, mungkin tidak akan bisa akrab. Tampang mereka sama sekali tidak ada ramah-tamahnya.
Mereka tidak ramah, bagi Ken sih sudah biasa. Ken tidak kaget. Memang seperti itulah mereka. Pada Kenzo saja seperti itu, apalagi pada orang lain. Hanya saja Ken masih menghormati mama Ambar sebagai orang tua.
Meskipun bukan lah darah dagingnya, Ken tak dapat menyangkal betapa besar rasa hormat yang ia miliki untuk mama Ambar sebagai orang tua dan satu-satunya keluarga yang ada dalam hidupnya.
Di masa lalu, ayah Kenzo menjalin pernikahan tersembunyi dengan seorang wanita cantik berlatar belakang sederhana, semata-mata untuk mendapatkan anak laki-laki yang ia dambakan. Karena pernikahan pertamanya tidak membuahkan hasil yang diharapkan, yaitu seorang anak laki-laki, maka ia memilih untuk mengulang kembali ke pelaminan demi mewujudkan impiannya.
Kini, dengan terbukanya rahasia lama, Ken merasa bersalah dan bingung, ia tidak ingin melukai perasaan mama Ambar yang selama ini telah berkorban begitu banyak demi menjaganya dan membesarkannya dengan kasih sayang yang tulus.
Maka Ken pun bersumpah untuk membalas kebaikan mama Ambar, meskipun perjuangan untuk menerima kenyataan hidup yang pahit ini sangatlah berat dan menyakitkan. Namun, seperti itulah ironi kehidupan; di ujung kegelapan, masih ada terang yang bisa ditemukan.
Dari pernikahan kedua papa Ken dengan ibunya, lahirlah si buah hati, Kenzo. Namun, takdir mempertemukan mereka dengan suatu ujian besar. Setelah melahirkan Kenzo, sang ibu mengalami pendarahan hebat yang mengancam jiwanya. Meski telah berjuang sekuat tenaga, sayangnya takdir berkata lain. Akhirnya, dengan air mata bercucuran, ibu Kenzo menghembuskan nafas terakhirnya, meninggalkan bayi laki-laki tampan yang baru saja memasuki dunia ini.
Kembali ke cerita Ken dan Hanum. Tak tega meninggalkan Hanum dengan mereka, Ken pun mengajak Hanum ke kantornya. Rencananya Ken ingin mengajak Hanum melihat-lihat kampus. Lalu menyuruh Hanum untuk memilih kampus sesuai dengan keinginan gadis itu.
Saat Ken dan Hanum melangkah memasuki kantor, para karyawan termasuk para wanita tak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikan mereka berdua. Ken yang tampan dan mempesona memang mampu membius mata para wanita, namun pandangan mereka juga tertuju pada Hanum yang berjalan di belakangnya.
Hanum merasa pipinya memanas, malu akan tatapan yang menyergap dirinya. Lantas, ia berjalan lebih cepat, menggenggam erat tangan suaminya untuk mencari perlindungan.
"Om, kenapa mereka menatapku seperti itu?"
"Mereka pasti sedang penasaran, wanita cantik siapa yang aku bawa hari ini!" balas Ken masih terus berjalan.
"Memangnya sebelum aku, Om sering membawa wanita cantik kesini?" tanya Hanum penasaran.
"Ada sih, tapi tidak sering!" jawab Ken mempersilahkan Hanum memasuki ruangannya.
"Aku risih ditatap seperti itu!"
"Abaikan saja mereka. Anggap kau tidak melihatnya!"
"Ya mana bisa begitu, jelas-jelas aku melihatnya!" bibir Hanum mencebik, sementara Ken hanya to terkekeh kecil.
Siapa yang datang bersama Pak Ken?
Apakah dia keponakannya? Kalau sepupu nggak mungkin, gadis itu masih sangat muda.
Mungkin keponakannya. Pak Ken tampan dan gagah. Pantaslah keponakannya cantik dan manis.
Terdengar sayup-sayup obrolan para karyawan wanita, membicarakan Ken dan Hanum saat melewati mereka semua.
"Tunggu di ruanganku. Aku ada meeting selama 1 sampai 2 jaman!"
"Baiklah, Om!"
Hanum menurut, dia langsung masuk ke ruangan Ken. Sementara itu, Ken langsung masuk keruangan sebelahnya untuk meeting.
Tak lama setelah itu masuklah seorang wanita cantik ke ruangan Ken. Wanita yang kira-kira usianya sama dengan Ken terlihat kaget melihat gadis diruangan Ken.
"Kau siapa?" tanya wanita itu.
Hanum yang semula sedang memainkan ponsel judulnya, langsung menoleh ke sumber suara. Dilihatnya seorang wanita masuk ke ruangan sang suami.
"Saya ....!"
"Kamu pasti keponakan Pak Ken! Salam kenal, saya Claudia. Sekretaris sekaligus calon istri Om kamu!" ucap wanita itu dengan percaya diri.
Mulut Hanum ternganga lebar mendengar penuturan wanita itu. Dia sampai kedip-kedip mirip lampu kekurangan daya.
"Saya, Hanum!" balas Hanum sambil tersenyum.
"Oh, namanya Hanum. Cantik sekali. Pantas Pak Ken, sangat tampan!"
"Saya disuruh Om Ken menunggu di sini."
"Oh, silakan. Emmmm, apakah kamu butuh sesuatu? Mau minum apa? Teh, kopi, jus? Eh, susu juga ada! Mau?"
Hanum mengernyit heran. Apakah semua sekertaris seramah itu?
"Saya pesankan jus ya? Cemilan juga!" wanita itu langsung keluar, pergi entah kemana, padahal Hanum tidak mengatakan dan meminta apa-apa.
Hanum pun tersenyum tipis, lalu kembali memainkan ponselnya untuk menghilangkan rasa jenuhnya.
Beberapa menit kemudian, wanita itu kembali datang dengan membawa jus alpukat dan beberapa cemilan ditangannya. Lalu memberikannya pada Hanum. Hanum yang merasa diberi, rasanya tidak sopan kalau di tolak, ia pun menerimanya dengan senang hati.
Tak berapa lama kemudian Ken kembali ke ruangannya, ia melihat istri kecilnya sedang menikmati jus dan banyak cemilan, langsung mengernyit heran.
"Kamu beli ini semua?" tanya Ken.
"Tidak. Tadi Hanum dikasih sama wanita seksi!"
"Siapa?"
"Emmmm, namanya siapa tadi ya?" Hanum nampak berfikir, "Claudia. Ya, namanya Claudia!"
"Oh, Claudia tadi ke sini?"
"Iya. Orangnya sangat baik dan ramah. Apa dia pacar, Om?" tanya Hanum penasaran sedari tadi.
"Bukan. Dia bukan pacarku."
"Tapi dia bilang, dia calon istri, Om!"
"Hah, Apa?"
Sedetik kemudian.
"Hahahaha, ngaco dia!" gelak Ken, "Dia sekertaris aku."
Hanum mencebik kesal. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman dengan perasaannya.
"Kamu sudah selesai?"
"Sudah."
"Kalau begitu, ayo ikut aku!" ajak Ken.
"Mau kemana?"
"Cari kampus. Katanya pengen kuliah?"
"Hah, Om serius? Om nggak sedang nge-prank kan?"
"Ih, nih, Anak. Memang aku ada tampang ngeprank kamu?"
"Hehehe, Nggak!"
Karena perasaan senang yang tak terbendung, refleks Hanum segera memeluk tubuh Ken dari samping. Tangannya dengan erat mengapit pinggang Ken dan dengan tidak disengaja, dua asetnya turut menempel pada lengan kekar milik Ken. Detik itu juga, Ken terkesiap merasakan sesuatu yang kenyal, empuk, dan hangat bercampur dengan rasa manja yang menyatu di lengannya.
Ya Ampun, Hanum! Berhenti menggodaku, aku ini pria normal. Kenapa malah itumu sengaja ditempelkan ke lenganku.
Wajahnya memang sangat mirip Miranti, tapi asetnya lebih besar dan lebih jumbo dari Miranti! Huhu, sampai kapan aku menahan godaan ini! gumam Ken dalam hati.
Wkwkwkwkwk .....
Bersambung ...
Ayo dukung Om Ken dengan memberikan Like, komentar, vote dan bintang 5.
Yuhuuuuu all Readers!!!!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Muawanah
🤣🤣🤣
2025-01-04
0
Rosliza Maznah
wow
2024-09-09
0
Fifid Dwi Ariyani
teussabar
2024-07-29
0