Halow temennya akuh,,, sehat selalu ya kalian semua. Gak ada yang lebih buat aku bahagia selain komen dan like kalian di karya ku. Terimakasih banyak untuk waktu dan jempol nya.
****____****
Happy Reading 😘
"Pak Andre, semalam Rian bilang aku dan mbak Uli di suruh belajar menggunakan pistol apa pak Andre bisa mengajari kami?" kata Maudy begitu Rian berpamitan.
"Maaf nyonya tolong jangan panggil saya pak lagi ya hehehe karena saya hanya asisten pak Rian. Dan kebetulan juga saya sudah dipesan pak Rian memang untuk mengajarkan nyonya dan mbak Uli menggunakan pistol. Apa mau belajar sekarang?"
"Kalau begitu jangan panggil saya nyonya! Panggil Maudy atau ibu saya karena kamu manggil Rian dengan sebutan pak."
"Baik Bu,"
"Mbak Uliiiiii,,,,!" panggil Maudy kencang.
"Iya Bu, ada apa?" mbak Uli yang keluar dari kamar mama berlari.
"Ayo mbak sekarang kita akan belajar menggunakan pistol,"
"Hah,,apa Bu pistol?! Gak Bu saya gak berani,"
"Yeeeee,,, kita harus bisa make senjata itu mbak buat ngelindungin diri sendiri."
"Saya pake pisau dapur aja Bu, atau pisau daging aja gimana?"
"Kalah cepet sama pistol mbak, keburu di dor sama penjahat mati kita."
"Ya ampun Bu,"
"Udah gak usah pake nolak, ayo. Dimana Ndre kita akan berlatihnya?"
"Mari ikut saya?" Andre pun berjalan didepan kedua perempuan yang mengikutinya, mereka melangkah kehalaman belakang dan kembali masuk ke sebuah ruangan khusus latihan menembak. Disana ada earphone, papan latihan dan yang pasti pistol itu sendiri bersama dengan peluru nya.
"Disinilah biasanya kami melatih keahlian menembak kami, ibu dan mbak Uli nanti memakai earphone agar suara letusan tidak merusak gendang telinga,l kemudian isi pistol dengan peluru seperti ini, lalu pegang pistol seperti ini dan arahkan pistol ke papan target lalu tarik pelatuknya dan,," Andre menjelaskan sekaligus mempraktekkan langkahnya hingga terdengar bunyi dorrr yang seketika membuat kedua wanita itu kaget.
Andre pun menyuruh kedua wanita mengikuti langkah yang tadi ia perlihatkan. Tembakan pertama keduanya meleset jauh dari target karena alasan mereka pistol nya berat dan saat menarik pelatuknya agak keras. Latihan yang kedua mulai agak mending karena mengenai pinggir papan target meski belum pas ditengah.
"Kita istirahat dulu sebentar, lalu nanti kita lanjut lari 2 putaran di ruangan ini sebelum mulai menembak ketiga kalinya." ucap Andre lalu menyerahkan dua botol air mineral.
****
Sementara di rumah makan Rian dan Wildan masih menunggu kedatangan asisten Samuel, sebelumnya Rian sudah melihat bagaimana wajah tiga pria yang datang ke rumahnya dari sketsa anak buah Wildan. Kira-kira setengah jam kemudian muncul tiga orang pria dengan jas rapi masuk kedalam dan segera mendatangi meja Rian.
"Apa anda yang bernama Rian?"
"Oh, silahkan duduk." Wildan mempersilahkan tamu mereka duduk.
"Ya saya Rian, ada keperluan apa anda mencari saya?" jawab Rian.
"Jadi begini langsung saja saya membawa pesan dari bos Samuel meminta anda agar mau bekerjasama dengan kami."
"Kerjasama apa? Tapi maaf sebelumnya saya sudah tidak lagi berhubungan dengan dunia hitam, apa anda tau itu?!"
"Ya saya tau maka dari itu bos kami mengajak anda untuk bekerjasama, tenang saja bos kami tidak mengajak anda bergabung hanya berbisnis bersama."
"Bisnis apa dulu nih? Karena jujur saja tanpa saya menerima kerjasama anda saya masih tetap sukses dan disegani." ucap Rian.
"Hahaha anda ternyata sombong juga ya."
"Loh, apa salahnya saya hanya bicara soal kenyataan." jawab Rian santai.
"Oke langsung saja, ini proposal nya silahkan anda pelajari dulu lalu kabari saya kembali.Saya harap anda membuat keputusan cepat karena saya tidak lama di Indonesia."
"Baik saya akan baca dan pelajari dulu, saya akan segera mengabari jika saya tertarik ataupun tidak tertarik."
"Anda tau bos Samuel tak ingin kata penolakan."
"Dan anda pun tau, saya tidak bergantung pada siapapun. Jadi jangan harap anda dan bos anda bisa menekan saya."
"Kalau begitu saya permisi, selamat siang."
Setelah kepergian asisten Samuel, Wildan menarik proposal yang ada diatas meja membuka membaca isi nya dengan serius. Disaat itu Maudy pun menelepon Rian.
"Coba lu pelajari, gua angkat telpon dulu." pamitnya pada Wildan, dan Wildan mengangguk.
"Iya sayang, gimana latihan menembak nya? Sudah bisa kan?"
"Hahaha pistol kecil aja berat ya apalagi yang laras panjang, belum lagi aku disuruh latihan lari dua kali putaran alasannya supaya bisa lari cepat saat musuh datang."
"Memang benar, kamu harus mengikuti apa yang Andre katakan."
"Tapi aku capek sayang,"
"Kamu bilang aku apa,,,, sayang? Kamu bilang sayang tadi?" suara Rian terdengar senang sementara di ujung sana Maudy hanya menutup mulutnya yang keceplosan.
"Salah dengar kamu,"
"Hahaha kamu masih aja malu, gak pa pa ko kalau kamu bilang sayang, aku seneng denger nya. Makin semangat gitu jalanin hari,"
"Udah jangan lebay, kamu kapan pulang,?"
"Aku masih ada urusan sedikit lagi dengan Wildan. Paling sore aku pulang, Kamu udah rindu ya?"
"Ya sudah, aku mau mandi gerah banget badanku berkeringat."
"Jadi kamu gak rindu aku?"
"aku rindu,,," sengaja Maudy bersuara lirih tapi masih terdengar oleh Rian dan karena malu langsung mematikan telepon.
Rian hanya geleng-geleng kepala membayangkan wajah malu istrinya, kemudian dia kembali masuk kedalam rumah makan.
"Gimana? Apa isinya?"
"Sekilas hanya penawaran kerjasama bisnis biasa sih, tapi bisnisnya itu ada soal pencucian uang."
"Hahaha masih aja dia, gak ada bisnis lain nya?"
"Aku rasa pencucian uang ini hanya kamuflase deh, karena yang sebenarnya kamu diminta membunuh bos Marco kakak sekaligus saingan besar si Samuel ini."
"Pekerjaan kotor lagi, ternyata mereka masih belum paham kalau aku sudah tak lagi membunuh orang."
"Apakah perlu ketemu dengan bos Marco?"
"Sudahlah jangan libatkan beliau, aku justru ingin kedua kakak adik itu berdamai saja. Padahal aku sangat tahu mereka hanya salah faham aja,"
"Itu sangat sulit bro, mungkin untuk bos Marco sih bersedia tapi dengan adiknya? Dia itu lebih keras kepala dan sombong." ucap Wildan.
"Sudahlah daripada aku berseteru dengan mereka kakak adik itu mending kamu kabarin mereka kalau aku menolak bisnis yang mereka tawarkan."
"Yakin bakal aman terkendali semua?"
"Mereka gak akan berani macam-macam dengan ku, tapi jika mereka berani ambil tindakan aneh-aneh aku siap pasang badan untuk keluarga ku, dan siap membantai mereka yang menyakiti keluarga ku."
"Oke lah, kita lihat apa yang akan mereka lakukan," Wildan pun segera mengirim pesan bahwa Rian menolak bisnis kerjasama itu, dan tak mendapati tanggapan apapun padahal sudah dibaca.
"Gak dibales bro, semoga mereka gak nekat."
"Lu, mau tinggal dimana?"
"Numpang di rumah lu lagi ya,"
"Silahkan, ya udah balik yuk."
****____****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments