4 - Beberes Kontrakan

Terimakasih yang sudah mampir ya,,, tinggalkan jejak di kolom komentar dan like bab nya, Happy Reading 😘

****____****

Acara pernikahan dadakan pun berlangsung khidmat dengan hanya di hadiri keluarga dari mempelai wanita beberapa rekan kerja papa. Tak satupun ku lihat keluarga dari mempelai pria hadir di acara akad nikah tanpa resepsi ini. Setelah beberapa tamu menikmati jamuan makanan yang sangat ala kadarnya dan berpamitan pulang aku segera ke papa ku.

"Aku sudah mengikuti apa yang kalian mau, jadi sekarang aku mau kalian segera ke rumah sakit membayar tagihan mama."

"Kamu tenang aja, aku akan memenuhi janjiku, lebih baik sekarang kamu bersenang-senang lah dulu dengan suami miskin mu itu hahaha. Ayo sayang kita pulang,!!" selingkuhan papaku pergi bersama anak dan papaku.

Aku seketika bingung, "Ada apa?" lelaki bernama Rian yang sekarang sudah menjadi suamiku menghampiri.

"Hmmm setelah acara ini aku harus apa ya?"

"Ya ikut dengan ku, karena kita sudah menikah jadi ya kamu tinggal bersama ku. Ayo."

"Bentar-bentar kamu lupa ya kalau pernikahan kita ini sama sekali bukan kemauan kita. Gimana caranya kita bisa hidup bersama dalam satu atap?"

"Kenapa tidak toh kita sudah halal, sudah muhrim, bebas dong." dengan senyum aneh.

"Bukan gitu maksudnya, tapi maaf kamu tidak tahu siapa aku dan aku juga tidak begitu tahu tentang mu. Apa tidak sebaiknya kita bersikap seperti teman dulu."

"Apa kamu tidak berkenan menikah dengan ku yah hanya lelaki miskin, seorang anak haram, bahkan mantan napi yang dibuang oleh keluarga besarnya. Bahkan saat pernikahan ini tak satupun keluarga ku yang hadir. Apa kamu keberatan soal ini?"

"Apa bedanya dengan ku, papa berselingkuh mengusirku dan mama dari rumah aku hanya wanita yang tinggal di rumah petak. Kamu gak keberatan?"

"Aku malah senang istriku ternyata kamu bukan Silvi. Coba kamu lihat hanya kita berdua disini lebih baik kita ke rumah ku, apa kamu ingin aku tinggal di rumah petak mu? Aku sih gak masalah." dan benar hanya kami yang tersisa lainnya hanya bagian catring dekor dan rias.

"Apa rumah mu rumah kontrakan atau sewa juga?"

"Bukan rumah ku rumah biasa tidak sewa tidak juga ngontrak, rumah kecil milikku."

"Ya sudah lebih baik tinggal di rumah kecil asalkan tidak bayar sewa. Tapi sebentar aku ke belakang dulu."

"Oke aku tunggu didepan."

Aku masuk kedalam mencari orang bagian rias "Permisi mbak, saya mau tanya untuk baju kebaya ini apakah dibeli atau sewa ya?"

"Oh, kata Bu Susi baju kebaya itu disewa mbak, besok mbak bisa kembalikan ke butik kami ini alamatnya." ucap mbak yang tadi meriasku serta menyerahkan selembar kartu nama.

"Permisi mas nya yang mengurus catering ya?"

"Oiya mbak untung belum pulang dari tadi saya cari keluarga wanita ternyata sudah pulang, ini mbak ada sisa makanan dan kue yang bisa di bawa pulang."

"Alhamdulillah terimakasih mas," aku menerima beberapa bungkusan dengan hati senang.

"Apakah kita bisa pergi sekarang?" tanyaku ketika diluar mendapati suamiku sedang bicara dengan pria lain yang ku lihat agak aneh.

"Kamu sudah selesai, bawa apa itu banyak sekali? Oiya kenalkan ini Andre dia asisten sekaligus orang yang ku percaya."

Aku agak lola mencerna maksud ucapannya, asisten dan orang kepercayaan itu setau ku dua hal yang hanya di miliki oleh para pengusaha atau mungkin artis, apakah suamiku,,, ah kayanya gak mungkin jelas-jelas dia dibuang oleh keluarga nya. Tapi mobil mewah ini?

"Haloooo ko malah bengong," Rian berdadah didepan wajahku.

"Eh,, iya maaf salam kenal pak Andre saya Maudy." agak sedikit tergagap. Andre hanya mengangguk.

"Sudah ayo masuk, kita ke kontrakan petak mu untuk beres-beres lalu ke rumahku."

"Iya."

Dalam perjalanan kami diam, aku hanya memandang ke luar jendela sampai tak terasa sudah tiba di jalan depan gang masuk ke kontrakan ku.

"Apakah kita akan masuk kedalam atau hanya diam di mobil?"

"Lho udah sampe ya, kamu tau dimana kontrakan ku?" aku masih celingukan melihat ke jendela takut salah tempat.

"Tapi bener kan itu gang masuk nya?"

"Iya, kamu tunggu disini aja aku gak lama ko. Barang ku dikit jadi cepet beresin nya." Aku segera turun dan berlari masuk kedalam gang.

Didalam mobil Rian hanya tersenyum lucu menatap Maudy yang berlari.

"Bos menyukainya?"

"Sepertinya begitu, aku rasa dia gadis baik dan pantas aku lindungi. Cari tau semua tentang Maudy."

"Baik bos."

"Kamu tunggu disini aku mau kedalam,"

"Oke bos, kalau ada apa-apa segera kabari."

Rian keluar berjalan masuk ke gang mencari Maudy. Rian memperhatikan Maudy yang sedang beberes meletakkan apapun di kardus dan melakbannya. Tanpa menunggu Rian masuk kedalam rumah petak itu.

"Apa ada yang bisa aku bantu?" sambil menunjukkan bra yang saat ini tergantung di jarinya.

"Eeeeee itu punya ku jangan pegang." teriakku reflek aku berlari kearahnya begitu melihat Rian mengacungkan bra dan berusaha menariknya. Tapi sayang nya aku malah terpeleset jepit rambut dan tanpa di minta aku jatuh menimpa Rian.

"Wowww,,, belum sehari nikah sudah begini aja posisinya." Rian memeluk pinggangku menahanku yang ingin berdiri dari dada nya.

"Rian cepat lepaskan tanganmu atau aku teriak,!"

"Teriak aja, mungkin kamu senang kalau ada yang datang melihat keromantisan kita."

"Astaga Rian jangan mesum, please kalau seperti ini kapan akan selesai." akhirnya Rian melepaskan pelukannya

"Maaf tadi aku reflex, lagian kamu sih ngapain kesini." ucapku masih malu.

"Ya aku ingin membantu, eh malah dapat pelukan. Tidak sia-sia aku kesini."

"Sudah sana balik ke mobil aja, udah mau selesai ko. Kalau dilihatin aku malah lama."

"Grogi ya dilihat pria tampan?"

"Terserah lah, duduk diam disitu dan jangan bersuara."

"Oke." Rian pun patuh dan duduk di bangku kecil yang biasa ku gunakan saat menyuci piring dan baju. Biasa orang menyebutnya jengkok. Sesekali aku tersenyum dengan tingginya agak susah Rian untuk bisa duduk nyaman. Setelah satu jam selesai juga hanya tiga kardus.

"Aku sudah selesai, apa kita bisa pergi sekarang?"

"Oke apa tidak ada lagi yang tertinggal?"

Aku menggeleng. Rian membantuku membawa dia kardus. Aku mengunci pintu menuju rumah pemilik kontrakan untuk mengembalikan kunci dan berpamitan.

"Kenapa kardusnya ringan sekali?"

"Soalnya isinya gak penuh, sayang kalau kardus kosong nya aku tinggal nanti dijual sama ibu kos. Lebih baik aku bawa dan nanti bisa ku jual sendiri."

"Jual kardus untuk apa?"

"Untuk apa gimana? Ya barang yang dijual itu dapat uang, dan uangnya bisa untuk kita beli makanan nanti."

"Oh." Rian sampai terharu dengan wanita disebelah nya yang sangat menghargai apapun yang bisa dijadikan uang.

****____****

Lanjut besok ya.

Terpopuler

Comments

muthia

muthia

mampir

2024-02-28

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!