Happy Reading guyssss,,,,
****____****
Aku masih berdiri didepan pintu kamar mama sebelumnya aku mendapatkan telepon dari pihak rumah sakit jika mama akan dipindahkan ke kamar perawatan, karena kondisinya sudah membaik meskipun bicara nya masih agak sulit aku pahami karena struk nya, tapi mama sudah sadar dari koma.
"Nak Maudy, mama mu harus dipindahkan ke kamar perawatan tapi kami dari rumah sakit mengharapkan biaya IGD mama dilunasi karena sudah terlalu banyak tagihannya."
"Apakah tidak ada keringanan dok, saya sendiri sedang berusaha."
"Saya paham dengan keadaanmu, maka dari itu saya sudah mengusahakan keringanan untuk mama mu potongan biaya lima puluh persen dari jumlah tagihan seluruhnya."
"Terimakasih dokter, kalau boleh tau berapa sisa nya dok setelah di kurangi?"
"Sisa yang harus kamu bayar seratus dua puluh tujuh juta rupiah. Itu sudah dipotong lima puluh persen dan dikurangi dengan kamu mencicil."
"Astaghfirullah masih besar ya dok."
"Kenapa kamu tidak coba minta kepada papamu kalau hanya seratus juta saya yakin pasti papa mu mau bantu. Setelah pelunasan jika kamu ingin membawa mama pulang sudah bisa."
"Kalau aku bawa mama pulang di kontrakan tidak ada yang menjaga dok, untuk biaya saya akan mengusahakan nya."
"Jangan lama-lama nanti tagihan bertambah."
"Iya dok, terimakasih."
"Saya permisi dulu."
Aku masuk kedalam melihat mama yang sedang tidur setelah minum obat.
Aku harus minta uang ke papa, karena semua ini ulah papa. Papa harus bertanggung jawab.
Aku berjalan keluar menuju rumah yang saat ini ditempati papa dan istri baru nya. Aku mengetuk pintu begitu tiba.
"Wowww mama coba liat siapa yang datang?!" suara Silvi kakak tiriku membuka pintu.
"Mau apa kamu kesini?!" selingkuhan papa yang aku tahu bernama Susi itu bertanya ketus.
"Aku harus bertemu papa. Papa harus membayar biaya rumah sakit mama!"
"Hahahaha kamu pikir papa mu berani mengeluarkan uang kalau tidak seijinku Hah!. Rumah, perusahaan, mobil semuanya atas namaku jadi aku yang memutuskan keuangan.'
"Sebenarnya aku kasian pada kalian orang miskin tapi berbuat jahat demi bisa jadi kaya. Tapi ya sudahlah aku dan mama mencoba ikhlas karena aku yakin keikhlasan kami akan mendapatkan balasan baik dari Allah."
"Ada apa ini?" papa ku keluar dari dalam.
"Aku mau papa membayar tagihan rumah sakit mama ini bill nya," aku meletakkan diatas meja dan diambil papa. Mereka bertiga melihat jumlah tagihan. Ku lihat ibu dan anak itu berbisik.
"Gimana sayang, tidak banyak ko hanya seratus jutaan aja kita bantu ya," ucap papaku keliatan sekali tunduk nya pada wanita ular itu.
"Hmmm aku akan membayar biaya ini seluruhnya dengan satu syarat.!"
"Syarat,, maksudnya syarat apa? Apa salah nya kamu membantu dengan tulus toh semua harta mama sudah kamu kuasai, setidaknya mama hanya minta dibayarkan rumah sakitnya. Keterlaluan sekali kalian .!"
"Ya sudah kalau gak mau ya gak pa pa, bagus malah."
"Oke apa syarat nya,?"
"Gak susah ko, kamu cuma gantiin Silvi menikah dengan salah satu keluarga Dumai."
"Keluarga Dumai? Siapa?" aku seperti pernah mendengar nama itu.
"Rian, Rian Dumai. Bagaimana?"
"Aku tak mau menikah dengan nya karena bisa membawa citra buruk untuk ku belum lagi tampangnya yang jelek dan juga pria bernama Rian ini meski dia dari keluarga Dumai tapi dia seorang anak haram, anak yang tidak diterima oleh keluarga besar Dumai. Belum lagi saat ini dia ada di dalam penjara." ucap Silvi.
Aku masih diam, bingung harus menjawab apa. Menikah dengan napi, menikah dengan anak haram, aku yang hanya memiliki mama ditambah Rian yang juga di kucilkan oleh keluarganya, bagaimana nasib ku nanti. Tapi apakah aku bisa menolak sementara saat ini mama membutuhkan biaya. Ku pejamkan mata berdoa dalam hati memohon agar Allah membimbing lidahku untuk menjawab.
"Bismillah baiklah, aku bersedia menikah dengan nya. Tapi kalian harus janji setelah pernikahan aku mau semua tagihan rumah sakit mama harus sudah lunas."
"Itu soal gampang jika kamu bersedia tiga hari lagi pernikahan akan di lakukan. Kamu harus datang ke alamat yang akan aku kirimkan ke hp mu,"
"Iya."
"Sudah sana pulang, ingat tiga hari lagi kamu harus datang atau perjanjian kita batal."
"Aku pasti datang." Aku keluar dengan lesu. Masa depan ku akan terancam hilang dengan pernikahan yang sama sekali tidak aku mau. Calon suamiku sangat buruk, sudahlah dipenjara jika keluar akan menjadi napi, anak haram, dibuang keluarganya, bagaimana jika aku memiliki anak pasti anakku yang akan jadi korban bullying.
"Aku harus ikhlas demi mama."
Sementara di Penjara.
"Rian,,, bangun!! Apa kamu tidak mau keluar Hah!!" seorang sipir penjara datang ke sebuah sel tahanan, didalam seorang sedang tidur santai.
"Ada apa sih pak,, apa bapak tidak lihat aku sedang santai?!"
"Heran sekali aku, ditangkap ko malah senang? Silahkan kamu keluar dari sini." ucap sipir penjara sambil membuka pagar besi membiarkan tahanan itu keluar lalu memberikan satu setel pakaian mewah pada lelaki itu dan memakainya.
"Aku harap ini terakhir kalinya kamu berurusan dengan polisi, Rian. Cobalah membawa mobil dengan hati-hati jangan ugal-ugalan."
"Oke bapak tenang aja setelah ini saya tidak akan masuk penjara lagi tapi akan ada banyak orang yang dipenjara setelah ini." sipir itu hanya mencebik.
Lelaki itu melangkah keluar dengan gagahnya pakaian tahanan berganti dengan jas hitam dengan dalaman kemeja putih celana hitam dan sepatu pantofel semakin menambah ketampanan nya. Berjalan cool menuju mobil mewah yang sudah parkir di luar penjara.
"Andre apakah semua berjalan dengan lancar?"
"Iya bos, ayah bos tidak mencurigai soal bos ditahan."
"Bagus, lalu apakah ayahku dan istri sialan nya itu masih tetap dengan perjodohan itu?!"
"Iya bos, pernikahan bos dengan keluarga Johan tetap akan dilaksanakan."
"Hmmm aku pikir keluarga Johan akan membatalkan nya, baiklah." Rian terlihat memberi kode untuk Andre dan berbisik lalu masuk kedalam mobil.
""Bos tapi pengantin wanita nya diganti? Bukan Silvi tapi Maudy. Dari desas desus yang ku dengar Silvi tidak mau menikah dengan bos ya karena bos yang mantan napi dan anak haram." kata Andre sambil menyetir mobil.
"Hahaha bagus lah, untung di ganti aku juga tak Sudi menikah dengan perempuan matre, manja, gak guna macam dia."
Tiga hari kemudian...
Aku datang ke alamat yang sudah di kirim ke hp ku, di sebuah aula aku masuk.
"Assalamualaikum permisi, apa betul disini tempat diadakan pernikahan atas nama Rian?"
"Iya benar, mbak Maudy ya. Kami sudah menunggu dari tadi ayo ganti baju dan make up."
Aku hanya mengangguk dan mengikuti wanita itu ke arah samping aula yang ternyata itu kamar ganti yang bersebelahan dengan toilet. Aku diberikan kebaya dan kain dibantu oleh mbak perias memakaikan baju. Setelah selesai berkebaya aku duduk untuk di rias. Waktu terus berjalan hingga telah lewat setengah jam dari yang di tentukan. Meski ku dengar beberapa tamu mulai bisik-bisik aku tetap diam menunduk.
Empat puluh lima menit kemudian berhenti sebuah mobil mewah didepan pintu aula, turun pria tampan berjas berjalan gagah menuju meja akad, disana Maudy duduk diam membelakangi datangnya lelaki calon suaminya itu. Begitu duduk bersebelahan barulah Maudy menoleh dan berkedip.
"Maaf aku sedikit terlambat, apa bisa kita mulai pernikahannya?" katanya lembut.
Semua tamu dan para saksi diam dan melongo begitu pun Silvi yang syok karena ternyata lelaki bernama Rian itu sangat tampan dan gagah.
"Mamaaa,,, kenapa dia tampan sekali? Harusnya aku yang menikah bukan si Maudy." Silvi merengek.
"Sudah diam,,!! Percuma tampan kalau tidak dapat harta apa-apa dari keluarga Dumai. Kamu lupa kalau dia anak haram sudah pasti tidak akan mendapatkan bagian harta secuil pun."
Pernikahan pun berlangsung khidmat dan lancar, kami pun sah menjadi suami istri.
****____****
Makasih yg sudah mampir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments