Happy Reading 😘
"Yuliiiii,, kemana sih dia?!" Sebastian memanggil karyawan nya sekali lagi.
Dengan buru-buru Yuli datang membawa sepasang hils ditangan nya. "Iya pak, maaf saya sedang mengambil barang ini."
"Kamu tahu gak siapa customer didepan sana?!"
"Mereka kemarin menyewa kebaya dan selop pernikahan pak dan sudah dikembalikan. Saya juga sudah meminta ganti rugi karena ada sedikit goresan di selop itu pak."
"Lalu hils ini kenapa kamu bawa?"
"Customer didepan itu meminta melihat hils ini, sebenarnya saya ragu pak kalau mereka mampu membelinya, secara waktu saya bilang harus ganti rugi selop lima juta aja yang perempuan bilang gak ada uang."
"Astaga Yuli, Yuli, kamu berdoa aja lah semoga customer didapan itu tidak kecewa dengan pelayanan mu dan menyuruhku untuk memecat mu."
"Hah. Kenapa saya harus dipecat pak, saya sudah melakukan tugas saya sesuai prosedur."
"Tidak, kamu belum melakukan sesuai prosedur. Apakah kamu menyuruh customer untuk duduk di sofa menunggu? Dan apakah kamu memberikan servis minum dan Snack untuk mereka saat menunggu?" sang pemilik butik hanya geleng-geleng dan masuk ke ruang kerja nya.
Yuli termenung lalu menepuk jidat nya, segera keluar.
"Maaf menunggu lama, ini hils nya," sambil menyodorkan sepasang hils. Yuli berlalu dan kembali dengan membawa nampan yang isinya dua minuman botol dan setoples snack kering.
"Terimakasih,"
"Silahkan duduk disebelah sana mbak untuk mencoba."
"Kenapa kamu hanya berdiri Yuli,,!! Bantu istri pak Rian mencoba hils nya." Pemilik butik datang dengan paperbag ditangannya.
"Iya maaf, sini mbak biar saya bantu memakaikan." mengambil hils dari tangan Maudy dan mengarahkan Maudy untuk duduk didepan cermin panjang lalu memakaikannya. Pastinya dengan senyum terpaksa.
Akhirnya setelah sempat bersitegang diawal, semua selesai pulang dari butik aku menenteng beberapa paperbag hadiah dari Rian dan kado pernikahan dari pemilik butik.
"Mau kemana lagi kita?"
"Pulang aja."
Sampai dirumah Maudy keluar lebih dulu setelah pamit dan masuk kedalam rumah meninggalkan Rian.
"Ya Andre gimana?"
"Bos, setelah aku cek hasil tes Nyonya Maudy itu bagus. Dia tidak lolos tes wawancara karena HRD kita adalah selingkuhan mantan kekasihnya. Perempuan bernama Yanti dan lelakinya bernama Joko mereka berdua bekerja di perusahaan bos. Dan ketika aku mengikuti nyonya ke rumah orang tua nya didalam terjadi debat dengan istri papa nya dan aku mendengar bunyi seperti tamparan. Entah siapa yang ditampar dan menampar."
"Oke besok suruh wakil HRD menelepon Maudy katakan bahwa dia dipanggil untuk wawancara ulang. Kalau Maudy menolak bilang akan wawancara langsung dengan kamu. Dan untuk keluarga papa nya beri sedikit kenangan buat perusahaan kecil mereka rugi perlahan hingga mereka menjual saham nya."
"Baik bos saya mengerti."
"Oke Terimakasih Andre." Rian keluar dari mobil dan masuk ke rumah.
Ketika hari mulai sore, Maudy yang sudah mandi duduk di teras menikmati teh.
"Maudy aku mau keluar sebentar ya kalau kamu sudah ngantuk tidurlah gak usah menungguku ya. Aku bawa kunci cadangan."
"Kamu mau kemana? Jam berapa pulang nya?"
"Pergi dengan Andre."
"Hati-hatilah."
Rian memasuki mobilnya dan melambaikan tangannya lalu menghilang setelah berbelok.
"Aduh, aku harus gimana ya bayar tagihan rumah sakit?"
"Apa aku jual aja hils pemberian Rian, lumayan bisa mengurangi tagihan. Tapi itukan hadiah dari Rian, tapi aku gak ada pilihan lain." setelah membulatkan tekad Maudy kedalam bersiap untuk menjual hils nya di butik lain. Keluar rumah menuju tukang ojek dengan lesu karena dia tak ingin menjual kado ini tapi keadaan yang memaksanya.
"Bang ke butik Gunawan ya, ruko yang di jalan Siliwangi." kataku kepada abang ojek.
Sampai di ruko aku masih ragu, setelah membayar ongkos aku berjalan.
"Bos itu bukannya nyonya Maudy mau apa dia disini? Dan itu seperti kotak sepatu yang dibawanya." Andre menunjuk kearah luar jendela diseberang ruko seorang wanita yang berjalan dengan kotak ditangan nya. Untungnya jendela tak terlihat dari luar.
"Kamu kembali ke kantor dan jangan lupa bagian HRD untuk menghubungi Maudy lagi. Aku akan menyusul istriku." Rian berjalan keluar berjalan mengikuti kemana langkah Maudy.
Rian melihat istrinya masih dari cafe, Maudy berhenti didepan butik kecil bernama Gunawan dan masuk kedalam sana, tak lama Maudy keluar.
"Enak aja masa hils bagus kaya gini cuma di hargai lima juta doang, secara belinya aja baru kemarin belum dipakai juga." gumam nya sambil berjalan menjauhi butik.
Dari dalam butik tanpa diketahui manajer butik itu menelepon seseorang dia menyuruh preman sekitaran daerah itu untuk mengikuti Maudy dan merebut kotak ditangannya. Maudy yang merasa diikuti berjalan lebih cepat.
"Apa mereka mengikuti aku ya? aku harus sembunyi." lalu berjalan semakin cepat dan berjongkok diantara tempat sampah besar di tikungan sepi.
"Wah ada gadis cantik disini. Bang dia sembunyi disini!" lelaki bertato itu memanggil temannya.
"Mau apa kalian, saya bisa teriak. Mending kalian pergi deh,!"
"Hahaha mbak disini adalah wilayah kami, silahkan kalau mbak mau teriak. Lebih membuat kami tertantang."
"Apa mau kalian?!"
"Aku tidak akan berbuat apapun padamu, tapi serahkan kardus yang ada di tanganmu!"
"Hahaha kalian mau kardus ini? serius? Kalian tau gak isi dari kardus ini? Hahaha kalian mau jadi bencong,!"seru Maudy.
"Waduh bang, ini perempuan berani banget ngetawain kita. Udah lah bang kita bawa aja dia ke gudang. Lumayan buat nemenin kita malam ini."
"Enak aja, sorry yeeee. Gak sudi nemenin orang jelek kaya kalian. Tolongggg,,,,!!!! Tolonggggg,,,, disini ada setaaaaaaannnnnn,,!!" teriak Maudy.
Dia preman itu pun maju berusaha menarik tangan Maudy dan ingin membawanya ke gudang dengan paksa.
"Tolonggggg...!!"
Tiba-tiba dari jalan lain Rian datang dengan menendang punggung preman yang memenang tangan Maudy hingga jatuh tersungkur bersamaan dengan itu Maudy pun ikutan jatuh kening menabrak tempat sampah. Maudy agak sedikit pusing tapi dia masih bisa sembunyi dan melihat Rian memukul dua preman hingga babak belur.
"Siapa yang menyuruh kalian?!" Rian memelintir tangan preman itu dan menekannya dengan kakinya.
"Gak ada,!"
"Jawabb,,,!!!" Rian semakin menekan kakinya kencang.
"Gunawan,,, Gunawan pemilik butik di ruko depan sana." sambil meringis kesakitan.
"Sekali lagi aku lihat kalian menyentuh istriku ku patahkan betul ini tangan kotor mu,!"
"Jangannn,, tidakkk ampun,,!!"
"Rian sudah lepasin mereka." aku berdiri disamping Rian dan segera Rian beralih memegang pinggangku, kedua preman itu kabur.
"Kamu gak papa,? Ada yang terluka?"
"Cuma kepentok tempat sampah itu aja ko, sudah ayo kita pulang."
"Ya sudah kita pulang sekarang. Lain kali jangan pergi sendirian ya."
"Maaf Rian, aku betul-betul minta maaf."
"Sudah cerita dirumah aja ya." Rian tak melepaskan rangkulannya berjalan ke mobil yang di parkir nya.
****____****
Mampir ya. Terimakasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
Lince Pangaribuan
asiik cwritanya lanjut dong
2024-02-17
2