18 - Jujur #1

Pergi Sulit Bertahan Sakit. Istilah zaman sekarang istri memilih bertahan karena anak. Bener gak sih????

****____****

Mereka pun turun dari mobil dan berjalan menuju ke sebuah rumah yang ada dihadapan mereka. Beberapa lelaki berseragam menganggukkan kepala kepada Andre dan membukakan pintu depan.

"Gimana keadaan aman?"

"Aman pak," Lalu Andre pun membuka pintu lalu mereka segera masuk dan kembali menutup pintu.

"Sambil menunggu pak Rian, nyonya Maudy dan mama bisa istirahat dulu. Maaf saya harus ke atas sebentar ya." pamit Andre lalu berjalan kearah belakang setelah mendapatkan anggukan dari Maudy.

"Nak, ini ada apa sebenarnya?" tanya mama bingung.

"Maudy juga gak tau ma, kita hanya bisa mendengar penjelasan dari Rian setelah dia tiba disini." jawab Maudy dengan menghendikkan bahu.

***

Rian membuka pesan yang datang ke hp nya membuka dan membaca ternyata pesan dari Andre, dalam pesan itu mengatakan bahwa semua sudah dibawa ke tempat rahasia. Andre juga mengatakan bahwa orang suruhan Samuel besok akan tiba di Jakarta.

"Bagus, ayo sekarang kamu tinggal di rumah ku ajak anak buah mu untuk tinggal disana," ucap Rian lalu berdiri.

"Udah di ungsikan si Maudy,? Soalnya ini kata anak buah gua mereka udah perjalanan ke Jakarta!"

"Iya udah, makanya sekarang lu tempatin rumah gua, kalau nanyain gua bilang aja gua honeymoon ke luar negeri."

"Hadeuh,, honey moon gak tuh."

Rian mengantarkan Wildan ke hotel menjemput beberapa anak buah Wildan dan membawanya ke rumah dan tinggal disana.

"Jaga yang bener rumah gua, kalau ada apa-apa segera kabarin gua."

"Oke siap."

Rian pun pergi menuju kediaman rahasianya untuk berbicara jujur kepada Maudy. Mobil terus melaju hingga akhirnya tiba di gerbang. Setelah menghubungi Andre dan menunggu sebentar gerbang pun terbuka. Mobil kembali berjalan masuk.

"Hai, sayang kamu belum tidur?" sapa Rian setelah dia masuk melihat Maudy masih duduk di depan tv sendirian.

"Rian akhirnya kamu datang,"

"Cieee kenapa? Kamu nungguin aku ya hmm," Rian pun duduk disebelah Maudy setelah sebelumnya mencium kening Maudy.

"Ge er, siapa yang nungguin kamu. Aku cuma khawatir tau kalau kamu kenapa-kenapa masa aku harus jadi janda secepat itu sih,"

"Hahaha astaga Maudy sayang, kamu mau jadi janda?"

"Ya jangan lah, kamu dari mana sih Wildan mana? Kenapa aku harus pindah kesini? Ini rumah siapa, kenapa banyak sekali penjaga bersenjata? Bikin takut tau."

"Aku jawab yang mana dulu nih, banyak banget sih pertanyaan nya. Gak mau ambilin aku minum gitu? Aku harus nih,"

"Kamu haus? Aku bingung dapurnya dimana, begitu sampe sini pak Andre langsung pergi setelah ngasih tau soal kamar, padahal aku juga mau makan minum,"

"Ya ampun istri ku belum makan, maaf sayang, ya sudah yuk kita ngobrol nya didapur aja sambil kamu mungkin mau masak sesuatu untuk makan kamu dan mama."

"Iya yuk, dimana dapur nya?" Maudy berdiri dan digandeng Rian agar mengikutinya.

"Emang tadi kamu gak keliling disini?"

"Gak, aku kepikiran kamu." dengan wajah malu dan menunduk.

"Makasih sayang kamu sudah khawatir sama aku, aku janji akan melindungi kamu dan mama semampu ku."

Maudy yang merasa merona malu segera membuka kulkas untuk mengalihkan hal yang membuat ia malu.

"Kamu sudah makan ya,?"

"Sudah tadi Wildan ngajakin makan karena laper dia, maaf ya sayang aku makan duluan. Emang kamu mau masak apa?"

"Yang gampang aja, apa aku harus bikin untuk semua orang termasuk penjaga disini?"

"Gak usah kamu masak untuk kamu, mama, mbak Uli dan Andre aja," jawab Rian.

"Baiklah, hayu sekarang kamu ceritain apa yang sebenarnya sedang terjadi." Maudy hanya mengambil empat butir telur dan menceplok nya menjadi telur mata sapi karena Maudy ingin menumis nya dengan ditambah kecap dan air sedikit.

"Aku minta maaf sebelumnya bukan maksudku membohongi kamu, tapi karena aku sangat mengkhawatirkan keselamatan mu dan mama." Masih terdengar suara khas telur di goreng.

"Lalu,,,?" tanya Maudy sambil meniriskan minyak dari telur yang selesai dia goreng.

"Kenapa aku memindahkan kalian kesini, karena ada sekelompok orang mereka suruhan mafia Italia bernama Samuel yang sepertinya sedang mencari ku, entah untuk tujuan apa."

"Oh mafia,,, APAAAAA!!! MAFIAAAAA,,,!! Maksudnya gimana?" Maudy yang sedang mengiris bawang bombai kaget.

"Apa kamu bisa menggunakan pistol?"

"Aku belum pernah memegang pistol, sudah pasti aku tidak bisa memakainya."

"Besok aku akan mengajarimu menggunakan benda itu, apa kamu keberatan?"

"Tunggu deh, jangan ke pistol dulu. Coba jelasin kamu ini siapa? Dan kenapa sampai di cari mafia? Kamu ada salah apa sama mereka?" Maudy mulai menumis perbawangan.

"Tapi janji ya kamu jangan kaget,"

"Yang tadi aja aku udah kaget kamu di kejar mafia, emang ada lagi yang lebih bikin aku kaget?"

"Sebenarnya aku mantan anggota mafia juga," ucap Rian lirih tapi masih sedikit terdengar.

"Terus,"

"Setelah ibu ku di usir oleh keluarga kakek, dia memilih pergi ke Italy dengan membawaku. Disana ibu di tolong oleh seorang pria bernama Marco yang ternyata adalah salah satu bos mafia italy. Ibu pernah berkata aku harus mengabdi pada Marco tapi Marco tak pernah memaksaku untuk mengikuti dia. Aku yang sangat menyayangi ibuku pun memilih menjadi anak buah Marco sampai bertahun-tahun lamanya. Meskipun aku menjadi salah satu orang kepercayaan Marco aku tetap mencoba bisnis ku sendiri, hingga aku pun sukses seperti sekarang. Tepat dua tahun lalu aku memilih lepas dari Marco karena kakek memberikan perintah agar aku menikah dengan salah satu anak Johan, entah siapa."

"Marco pun tak menahanku beliau tetap menganggap ku sebagai anaknya, sampai aku tau ternyata Marco adalah cinta pertama ibuku sebelum dia bertemu ayah dan menikah siri sampai hamil diriku. Selama aku menjadi anak buah Marco aku memang diberikan tugas yang lumayan menegangkan dan setelah dunia hitam tau aku sudah tak lagi bergabung mereka mencariku entah karena ingin mengajak kerjasama atau ingin balas dendam. Tapi yang jelas aku pasti akan melindungi mu dan mama dari bahaya apapun."

"Terus ini rumah siapa?"

"Ini rumah rahasia ku, yang kemarin juga rumah ku, rumah yang sebelumnya juga rumahku, dan Andre adalah kaki tanganku, perusahaan tempatmu bekerja adalah perusahaan ku." jawab Rian.

Maudy sukses membulatkan mulutnya kaget syok bercampur aduk.

"Maaf kan aku jika baru cerita padamu,"

"Misalkan seandainya tidak ada orang yang mencarimu. Apakah kamu akan jujur padaku?" tanya Maudy.

"Tentu aku memang sudah ingin menceritakan semua padamu hanya aku menunggu waktu yang tepat, tapi ternyata ya begini, Maaf sayang."

"Hmmm ya sudahlah mau gimana lagi, mungkin memang harus seperti ini caramu cerita padaku. Tapi aku semakin khawatir dengan mu,"

"Aku akan baik-baik saja."

"Semoga kita selalu dilindungi oleh yang maha kuasa. Sudah sana panggil Andre suruh dia makan. Aku akan panggil mama dan mbak Uli."

"Kamu tetap menerimaku,,"

"Kita lanjutkan nanti dikamar, sekarang aku mau makan."

****____****

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!