10 - Heran

Malam terus merangkak naik, jarum jam pun terus berjalan melewati angka demi angka. Kedua suami istri ini masih asik dengan obrolannya.

"Aku akan berusaha menjadi istri yang baik buat mu."

"Kamu tahu apa itu stri yang baik?"

"Istri yang setia, istri yang selalu memasak untuk suaminya, istri yang melayani kebutuhan suaminya, eh ups.."

"Hahaha itu dia istri yang baik istri yang melayani kebutuhan suaminya. Kayanya aku sedang kelebihan energi deh, dan butuh penyaluran." Rian menaikkan alisnya.

"Kelebihan energi gimana?"

"Ya aku kelebihan energi, kalau kamu mau jadi istri yang baik gimana kalau aku bobo sekamar dengan mu,"

"Jangan mesum Rian," Maudy menempelkan bantal sofa didepan wajah Rian karena kepala Rian semakin maju perlahan.

"Hahahaha... Maudy oh Maudy kamu ketakutan banget sih,!" Maudy menurunkan bantalnya setelah Rian tertawa.

"Kamu nakutin tau gak kalau gitu, ngeri aku. Aku belum siap untuk itu." jawabku sambil cemberut.

"Ku hanya bercanda, tapi kamu tahu apa maksudku?" tanya Rian. Maudy mengangguk.

"Emang apa?" tanya Rian lagi.

"Ya itu,"

"Itu apa?"

"Udh ah aku mau tidur udah malam nih," Maudy bangun dari duduknya tapi dengan cepat tangannya ditarik Rian hingga jatuh dan terduduk dipangkuan Rian. Mereka saling tatap dengan jantung berdebar meski tak terdengar sebuah kecupan pelan dan ringan menghampiri bibir Maudy. Maudy kaget tapi tak menolak.

"Selamat malam, mimpilah yang indah." Rian melepaskan ciumannya.

"Hmmm iya, kamu juga tidur jangan bergadang." Maudy buru-buru lari ke kamar dengan menahan malu.

Paginya,

"Wah udah wangi sarapan nih kayanya."

"Pagi Rian, ayo sini udah mateng nih nasi goreng nya."

"Jadi kan pagi ini ke kantor Andre?"

"Hmmm kalau kamu yakin aku akan bekerja disana ya okelah aku coba sekali lagi wawancara itu."

"Bagus, masalah HRD kemarin itu lupakan aja."

"Iya. Kamu udah makannya? Kita berangkat sekarang aja yuk."

"Oke, yuk."

Rian mengambil piring dan seperti biasa mencuci bekas makan mereka sementara Maudy merapihkan meja makan.

Sampai di kantor.

"Kamu tunggu di mobil aja ya, eh iya kenapa ini mobil gak di kembalikan ke Andre? Nanti dia pakai mobil apa?"

"Gampang Andre itu kan kaya pasti mobilnya banyak, dia ikhlas ko kasih pinjem mobilnya untuk ku pakai."

"Ya sudah aku masuk dulu ya."

Maudy keluar dari mobil menuju resepsionis menanyakan bahwa dia ada janji untuk wawancara dengan pak Andre.

"Baik tunggu sebentar ya mbak."

"Makasih." Maudy menunggu di kursi yang ada di loby.

"Mbak Maudy, silahkan naik ke lantai 5 langsung ke ruang meeting aja ya, sudah di tunggu pak Andre disana."

"Oke mbak makasih." segeralah Maudy berjalan ke lift setelah menunggu sesaat pintu lift terbuka dan segera menekan angka 5 setelah berdiri didalam.

"Aduh, kenapa deg deg an banget ya. Tenang Maudy tenang, aku pasti bisa." keluar dari lift mencari ruang meeting.

"Maudy,,, ngapain kamu kesini?!" suara pria menyapa.

"Eh Joko. Aku mau wawancara, permisi." aku tak ingin bermasalah lagi dengan Yanti dan Joko segera ku tinggalkan lelaki itu.

"Eeeehhhh tunggu, biar aku yang mewawancarainya mu." katanya dengan langkah yang persis di sebelahku.

"Gak usah Jok, aku langsung di wawancara dengan atasan mu."

"Jangan panggil aku dengan sebutan Jok dong, kurang enak di dengar. Tapi baiklah semoga kamu diterima ya jadi kan kita bakal sering ketemu." katanya lagi tak lupa jari nya menjawil dagu Maudy.

"Jangan kurang ajar Jok, aku sudah menikah.!" setelah melap dagu nya dengan tisu aku melangkah cepat.

"Dasar masih aja sok jual mahal," gumam Joko sambil terus memperhatikan langkah Maudy yang sudah masuk ke ruang meeting.

Wawancara pun berlangsung lancar, dengan mudah Maudy dapat menjawab semua yang ditanyakan.

"Oke Maudy mulai besok kamu sudah bisa bekerja disini ya dan selamat bergabung semoga kamu betah."

"Baik pak terimakasih, oiya pak saya minta maaf karena suami saya terlalu lama meminjam mobil bapak."

"Hahaha soal itu gak masalah saya dan pak Rian sudah kenal lama jadi gak masalah."

"Sekali lagi terimakasih pak, saya permisi." Maudy keluar dengan senyum.

"Bos, mau sampai kapan harus menyembunyikan jati diri bos ke istri bos?!" Andre menelepon Rian.

"Nanti setelah semua tujuan ku tercapai aku akan mengatakan yang sebenarnya." Rian mematikan telepon dari Andre tapi tak lama kembali berdering.

"Iya sayang kamu sudah selesai?"

"Oke tunggu di depan ya aku kesana."

Rian membawa mobilnya menuju kantor karena tadi dia sempat ke mini market belanja kebutuhan untuk dibawa ke rumah sakit menengok mertuanya.

"Gimana?"

"Besok aku sudah mulai bekerja,"

"Bagus selamat ya,,, apakah perlu sedikit perayaan?"

"Gak usah, aku mau ke rumah papa. Aku harus mengucapkan terimakasih karena sudah melunasi tagihan mama."

"Oke gak masalah kita kesana sekarang,"

Sampai di rumah papa.

"Wow ada pengantin baru rupanya. Mau apa kalian kesini?!"

"Apa begini cara kalian menyambut tamu yang datang ke rumah kalian?!"

"Rian sudahlah. Aku kesini hanya ingin bertemu papa. Mana papa?"

"Aku tunggu di mobil saja,,!" jawab Rian

"Ada urusan apa?!" istri papaku sama sekali tidak ramah.

"Johann!!! Johann!! Cepat kesini!" teriaknya.

"Pah, aku kesini hanya ingin bilang makasih karena papa menepati janji. Terimakasih sudah melunasi semua tagihan rumah sakit mama."

"Tagihan rumah sakit apa? Aku tidak membayar apapun. Jangan mengada-ada."

"Tadi pagi aku mendapatkan telepon dari rumah sakit mereka bilang kalau tagihan mama sudah lunas dan papa lah yang membayarnya."

"Johaaannnn!!! Apa-apaan kamu. Beraninya membayar tagihan mantan istri mu! Sudah bosan kamu hidup dengan ku?! Kamu mau jadi gelandangan rupanya!!"

"Sayang jangan marah-marah, Aku bersumpah tidak membayar tagihan rumah sakit. Pasti ada kesalahan nama disini." papa berusaha meredam amarah istrinya.

"Maudy dengar ya, daripada kami membayar biaya rumah sakit mama mu, lebih baik aku gunakan untuk menambah modal perusahaan. Kamu gak tau kan kalau perusahaan papa mu mulai krisis, harusnya kamu bisa minta dana dari suamimu itu.!"

"Kalau bukan papa lalu siapa?"

"Maudy harusnya kamu sebagai anak berbaktilah pada papamu minta suamimu untuk mengucurkan dana ke perusahaan papa."

"Ya udah deh kalau bukan papa yang membayar tagihan mama. Aku pamit pulang," aku pun berbalik menuju pintu keluar.

"Dasar anak gak berguna,!!" teriak istri papa karena merasa aku abaikan membuat langkah ku berhenti.

"Oiya dan satu lagi, sampai kapan pun aku tidak akan membantu apapun untuk kalian. Karena kalian terlalu bodoh, udah salah tapi malah pengen di kasihani. Kalau kalian pintar harusnya iyakan aja kalau papa yang bayar tagihan itu jadi kan aku bisa membantu kalian. Tapi sudahlah gak mungkin juga kalian yang melunasi tagihan rumah sakit mama, kalian kan sekelompok manusia pelit.!"

Maudy masuk kedalam mobil dengan kening berkerut.

"Kenapa?"

"Masih aneh aja siapa ya yang bayar biaya rumah sakit mama?"

"Udah gak usah dipikirin, mending sekalian ketemu mama mu. Yuk." ajakan Rian membuat senyum Maudy kembali muncul.

"Nah gitu senyum makin cantik tau."

****____****

To be continued...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!