6 - Sedih

Keesokan paginya

"Lho Rian kamu sudah rapi bangun jam berapa?" aku yang sudah rapi keluar kamar hendak membuat sarapan tapi kaget karena sudah ada Rian duduk di meja makan.

"Tadi Subuh, selepas sholat aku bikin sarapan yah semoga kamu suka ya."

"Wah terimakasih, kamu bisa masak juga? Enak gak nih."

"Duduk dan cobalah. Makanan itu jangan di cium-cium kamu kaya kucing aja sih. Mending cium aku sini."

"Modus amat sih, masih pagi kali."

"Berati kalau malam boleh gitu ya,?"

"Ya gak juga, hmm ini enak banget. Jago masak ya, belajar dimana?"

"Mama yang ngajarin. Oiya gimana persiapan berkas lamaran kerja kamu udah siap?"

"Udah, doa in ya semoga aku diterima." sedang menikmati sarapan suara hp Maudy berdering setelah sebelumnya suara notifikasi.

"Hmmm aku angkat telpon dulu ya." Rian mengangguk dan Maudy berjalan ke teras.

"Ya Halo dok, kenapa mama saya dok?"

"Mama mau baik, hanya ini masalah tagihan rumah sakit bagaimana?"

"Jadi tagihan nya belum dibayarkan juga dok?

"Iya dok, segera akan saya lunasi. Saya akan ke rumah papa. Terimakasih dok informasi nya."

Sambungan telepon pun berakhir.

"Astaghfirullah mereka belum melunasi tagihan rumah sakit mama, mereka membohongi ku. Aku harus ke rumah papa.!" ucapnya kesal dan segera pergi.

Dibalik pintu Rian mendengarkan semua ucapan Maudy,

"Halo Andre coba cek berapa tagihan rumah sakit atas nama ibu Meli dan bayarkan segera. Tapi bayarkan pakai nama ayah nya Maudy. Oke terimakasih." Rian menyudahi pembicaraan teleponnya dengan Andre.

"Aku masukan kedalam kotak bekal aja deh, sayang baru dimakan sedikit." Rian bergumam dan segera mengambil jas nya lalu keluar.

Diatas ojek motor Maudy bingung kemana dulu dia harus menuju antara perusahaan atau rumah papa nya. Akhirnya diputuskan untuk ke perusahaan terlebih dahulu. Tiba di gedung tinggi dan membayar ongkos Maudy masuk dan bertanya ke resepsionis. Ternyata hari itu memang ada beberapa karyawan yang juga akan melakukan tes dan wawancara.

"Saudari Maudy silahkan masuk," namanya dipanggil setelah menunggu beberapa saat. Dari lima belas calon karyawan yang tadi mengikuti tes tertulis hanya tujuh yang lanjut ke tahap wawancara termasuk Maudy.

"Lho Yanti kamu disini?" ucap Maudy yang kaget begitu masuk melihat teman SMA nya dulu duduk sebagai staf yang akan mewawancarai dirinya. Yanti diam dengan tatapan datar.

"Iya kamu lihat kan aku disini."

"Wah seneng deh ada temen yang sudah aku kenal."

"Kamu seneng aku gak,!" jawabnya pelan.

"Kenapa,,?"

"Gak,,,!! Udah jangan banyak basa basi kamu sebagai calon karyawan disini yang entah bakal diterima atau tidak sebaiknya jangan kecentilan dan jangan tebar pesona."

"Maksudnya gimana ya?"

"Apa motivasi mu masuk ke perusahaan ini?" tanya Yanti ketus.

"Ya karena aku ingin kerja dapat uang untuk ku dan mama."

"Jawab jujur, bukan karena pengen balikan sama Joko kan?"

"Kenapa jadi bawa-bawa Joko? Emang dia kerja disini juga? Kamu kesel cemburu kalau aku bakal balik lagi sama Joko.?!"

"Menurut mu?!"

"Ya ampun Yanti ya gak lah, aku kan dulu pernah bilang kalau lelaki tukang selingkuh itu gak cocok sama aku. Lelaki macam itu hanya pantas dan cocok sama perempuan yang sukanya ngerebut milik orang lain. Dan perinsipku apapun yang sudah aku buang tidak akan aku pungut kembali. Jadi kamu jangan takut,!"

"Berani ya kamu bicara seperti itu sama aku, aku ini Hrd disini keputusan calon karyawan diterima atau tidak ada ditangan ku!" Yanti menggebrak meja dia merasa tersinggung karena dialah perempuan yang di maksud Maudy.

"Kenapa harus marah kalau itu benar, aku bicara perinsipku yang namanya sampah itu pantang di simpan harusnya ya memang dibuang."

"Kamu tidak lolos untuk wawancara ini, silahkan pergi dan jangan harap akan mendapatkan pekerjaan ditempat lain."

"Oke gak masalah, kalau tau bakal ada pasangan sampah disini aku juga ogah kerja disini." Aku berdiri dan keluar dengan tenang meski setelah di luar ruangan aku berjalan lesu menuju lift.

"Maudy, ini sarapan mu tertinggal!" suara teriakan Rian dari dalam mobil, aku sampai harus mencari arah suara itu.

"Sarapan apa? sudah buat mu saja. Kamu mau kemana?"

"Aku ada urusan sedikit. Kamu kenapa lesu?" Ayo masuk aku antar pulang."

"Ini mobil siapa?"

"Mobil Andre aku pinjam, ayo masuk."

Maudy masuk kedalam mobil, dan segera pergi dari gedung itu. Aku yang masih kesal hanya diam, tapi tiba-tiba cacing dalam perutku demo karena kelaparan.

"Hmmm bekal nya buat aku kan? Cacing ku lapar."

"Hahaha kasian cacing mu, cepat kasih makan nanti dia sakit didalam perut sana."

Aku ikut tertawa dan mengambil kotak bekal diatas dashboard membuka dan memakannya.

"Aku mau ke rumah papa, bisa tolong antar aku kesana?"

"Dengan senang hati,"

"Terimakasih." Aku senyum dengan manis dan dibalas dengan kedipan mata yang seketika membuat mataku berkedip-kedip sekarang gantian jantungku disko.

Selama perjalanan aku diam hanya melihat ke luar jendela. Sampai mobil sampai di rumah papa.

"Apa kamu mau ikut kedalam?"

"Kayanya gak deh, aku buru-buru, kalau sudah akan pulang kabari aku nanti aku jemput."

"Gak usah jemput aku naik ojek aja, selesaikan saja urusan mu."

"Ya sudah hati-hati istriku."

"Hah,,,!" mobil pun jalan dengan aku yang masih menatap jalanan.

"Paaa,,,papaaa,,,!!" ku ketuk pintu berulang kali sampai dibuka oleh papa sendiri.

"Kenapa papa bohong, mana janjinya" aku masuk kedalam dan langsung meluapkan kekesalan ku, kesal karena tagihan, ditambah kesal karena tidak lolos wawancara kerja.

"Gak perlu teriak Maudy, sopan sama kami!."

"Aku dapat telepon dari rumah sakit yang menagih biaya mama, kalian jangan mencoba membohongi ku. Aku sudah menerima pernikahan yang seharusnya bukan untukku. Tapi apa balasan kalian dasar pembohong!!"

Plakkk..

Sebuah tamparan mendarat di pipiku yang dilakukan oleh istri papaku.

"Harusnya sebagai anak kamu bantu papa mu pinjamkan uang untuk memperbaiki perusahaan nya, minta sama suamimu bukan malah meminta kami membayar biaya pengobatan mama mu."

"Mama, suami Maudy itu kan miskin mana mampu dia memberi papa modal." ucap Silvi yang sedang berselfi dengan tas barunya.

"Kalian betul-betul keterlaluan, untungnya suamiku miskin jadi aku tidak perlu meminta nya untuk membatu kalian, kalau pun suami kaya aku juga tidak Sudi membantu kalian."

"Dasar anak gak tau diri, sekarang pergi dari rumah ku!! Cepat pergi dari sini!!"

Aku keluar dari rumah itu dan air mata pun menetes didalam aku berusaha menahannya dengan tegar dan melawan. Aku tidak suka di tindas.

"Aku harus gimana?" berjalan gontai menuju pertigaan ojek.

****___****

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!