9 - Mulai Terbuka

Assalamu'alaikum readers semuanya,,, maaf baru on lagi. Terimakasih banyak untuk kalian yang berkenan mampir ya. Semoga kalian selalu dalam keadaan sehat.

****____****

"Maaf Rian, aku betul-betul minta maaf,,." dengan perasaan bersalah aku nangis dengan di bimbing Rian menuju mobil.

"Sudah jangan nangis. Nanti ceritakan dirumah." jawab Rian tenang.

Sampai dirumah aku duduk di sofa dan Rian berjalan ke dapur mengambil segelas air lalu diberikan padaku.

"Minum dulu biar kamu tenang." aku menerima gelas dan meneguknya.

"Jadi kenapa kamu bisa ada disana?"

"Maaf Rian aku tidak bermaksud tidak menghargai pemberian mu."

"Maksudnya?"

"Maaf tadi nya aku ingin menggapai hils pemberian mu ini disana, karena aku sedang butuh uang."

"Kenapa harus di gadai Maudy? Kamu kan ada aku, aku suamimu kalau kamu butuh dan perlu apapun mintalah padaku, kamu bukan saja tidak menghargai pemberian ku tapi kamu juga tidak menganggap aku!!." Rian agak terpancing sedikit emosi.

"Bagaimana bisa aku dengan bebas meminta ini itu padamu sedangkan kita aja hanya nikah bohongan! Bagaimana caranya aku bicara padamu sementara diawal kita sudah sepakat akan bercerai?!" Maudy nangis sesenggukan.

"Aku juga gak mau menjual menggadai atau apalah barang pemberian orang padaku tapi aku butuh uang Rian. Setiap hari aku memikirkan akan bertambah terus tagihan rumah sakit mama ku, dan aku sudah berusaha meminta janji papa ku untuk membayarkan nya tapi apa mereka menipu ku. Asal kamu tahu Rian aku mau menikah dengan mu itu karena keluarga ku janji akan membayar semua biaya rumah sakit mama. Dan sekarang apa?? Aku bisa apa?? Mereka menipuku, aku tidak punya uang, apa kamu pikir aku bisa dengan mudah minta padamu sedangkan kita aja..." Maudy tak melanjutkan perkataannya dia sangat sedih kesal juga bingung.

Dengan lembut Rian meraih kepala lalu membawanya masuk kedalam pelukannya.

"Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kamu bersedia menjadi penganti pengganti itu kerena ingin membayar biaya rumah sakit mama mu."

Maudy masih diam dalam tangisnya.

"Tapi perlu kamu tahu Maudy sejak awal aku tahu jika istriku diganti bukan Silvi aku bersyukur. Meskipun kita juga belum saling kenal tapi aku bersyukur kalah istri ku itu kamu. Kita memang baru beberapa hari menjalani kehidupan pernikahan tapi aku bisa melihat kalau kamu wanita yang baik. Dan aku tidak ingin membuat mu terluka."

"Maafkan aku jika membuat kamu jadi serba salah. Tapi aku janji akan memyayangi mu dan membuat mu bahagia. Jadi jangan pernah berfikir lagi kalau kita akan bercerai suatu saat."

"Hah,,, maksudnya? Bukannya kamu setuju kalau kita hanya bertahan beberapa bulan saja setelah itu kita berpisah." Maudy menegakkan badannya menatap wajah Rian.

"Aku berubah pikiran. Aku ingin bersama mu selamanya." Perlahan wajah Rian mendekat seperti akan mencium sementara raut wajah Maudy masih bingung sampai tiba-tiba terpotong oleh suara dering dari hp Maudy.

"Maaf Rian, aku angkat telpon dulu dari rumah sakit " dengan menggeser layar tanpa pergi dia menerima panggilan telepon itu.

"Iya sus, maaf saya pasti akan mengusahakan untuk mencicil tagihan mama saya. Tapi sekarang saya belum kerja sus, saya minta waktunya lagi." ucap Maudy

"Hah apaa!! Tagihan mama sudah lunas?! Kapan sus, siapa yang membayar sus?"

"Oh, oke jadi beneran sudah lunas ya. Oke sus saya akan ke rumah sakit besok. sekali lagi terimakasih." Maudy meletakkan kembali hp nya di meja.

"Kenapa? Tagihan mama mu sudah lunas? Baru aku mau bayarin besok, ya sudah kalau sudah lunas. Siapa yang melunasi?!"

"Emang kamu ada uang mau lunasin tagihan mama ku, tapi makasih niat baik kamu. Kata suster tadi yg bayar atas nama papa ku, berati papa menepati janjinya. Apa besok kamu sibuk?"

"Gak, mau ke rumah sakit?"

"Iya, dan apakah boleh mama ku tinggal disini? Soalnya waktu itu dokter pernah bilang kalau mama sudah bisa dibawa pulang tapi tetap harus cek up."

"Tentu boleh beliau mama ku juga, besok kita akan menjemputnya."

"Terimakasih Rian. Aku masak makan malam untuk kita dulu ya, kamu mandilah duluan."

"Oke."

Untuk makan malam karena hanya tersisa beberapa bahan makanan saja di kulkas aku hanya bisa memasak seadanya, telor ceplok balado dengan tumis pokcoy bawang putih dan menggoreng tempe yang sisa separuh.

"Wah,,, keliatannya enak aku jadi lapar. Cepat mandi sana lalu makan aku sudah lapar sekali."

"Sabar Rian nasi nya juga belum matang,"

Kami menikmati makan malam sederhana dengan nikmat setelah apa yang ada dihati kami tadi di lepaskan semua terasa lebih ringan. Selesai makan kami saling membantu, Rian merapihkan meja sementara aku mencuci piring.

"Kita duduk sebentar di ruang tv yuk." ucap Rian.

"Kamu duluan aja aku mau bikin kopi ya,"

"Boleh aku juga mau ya,"

"Siap."

Setelah dua gelas kopi diletakkan di meja bersama kue Maudy ikut duduk disebelah Rian.

"Maudy aku tau diantara kita belum ada rasa apapun, tapi mama ku pernah bilang bertahanlah dengan satu wanita yaitu istrimu. Sekarang aku sudah memiliki istri meskipun dengan dasar perjodohan tapi apakah kamu mau bertahan dengan ku?"

"Rian, aku anak tunggal hanya hidup berdua dengan mama setelah papa menikah lagi. Jika sekarang ada pria yang mencintai ku dengan tulus dan menerima ku dan mamaku apa adanya kenapa aku harus menolak? Meskipun jujus pasti belum ada cinta diantara kita, aku pun tidak akan mengkhianati pernikahan kita."

"Kita akan sama-sama membuat hati kita saling cinta. Maafkan aku Maudy belum sempurna dalam membahagiakan mu tapi aku janji akan setia bersamamu." Rian memegang kedua tangan ku dan menciumnya.

Aku pun hanya mengangguk dengan jantung berdebar pastinya. Ini pertama kalinya aku merasakan bahagia disayangi oleh orang selain mama.

"Oiya tadi Andre bilang kalau kamu besok bisa datang lagi ke kantornya untuk wawancara ulang? Soalnya tadi pihak HRD menelepon mu gak diangkat, Kamu mau?"

"Hmmm kayanya aku cari kerja ditempat lain aja deh."

"Lho kenapa? Ini bos nya sendiri yang manggil kamu buat wawancara lagi loh."

"Sebenarnya waktu wawancara kemarin itu aku baru tahu kalau ada sepasang kekasih merek teman SmA ku dulu, Dulu yg pria menyukai ku tapi aku tidak karena aku gak suka caranya memandang wanita seperti merendahkan. Nah yg perempuan itu kayanya kasih kesel padahal mereka udah tunangan loh, dan aku juga gak pernah ada hubungan apapun sama cowoknya itu. Makanya aku males kalau harus ketemu sama mereka berdua lagi."

"Kamu mau dengar saran ku?" Maudy pun mengangguk.

"Terima pekerjaan di kantor itu, dan singkirkan mereka!"

"Ngaco aja, mana bisa lah mereka karyawan lama disana. Lagian aku gak mau cari masalah dengan siapapun."

"Oke oke, gak usah singkirkan mereka tapi terimalah wawancara ulang itu hargai Andre yang sudah mengusahakan untuk mu."

"Tapi aku gak mau kalau yang wawancara perempuan itu lagi. Bisa diganti dengan yang lain gak?"

"Bisa, besok pagi kamu datang ke kantor dan wawancara setelah itu kita ke rumah sakit jemput mama."

"Oke, semoga aku berhasil ya. Jadi aku bisa bantu-bantu keuangan kita. Tadi waktu bikin kopi aku janji akan jadi istri yang setia."

****____****

Bersambung ke bab selanjutnya ya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!