Terimakasih untuk yang sudah baca, like dan komen nya. Happy Reading 😘
****____****
"Rian brengsek lepaskan akuuu!!!" teriak Pramu.
Rian berbalik, "aah iya aku lupa. Ndre antarkan tamu kita pulang ya."
"Baik bos."
***
"Johaaann,, coba lihat ini. Kenapa wajahmu sangat tidak enak dilihat?"
"Pusing aku, investor tak ada yang mau menanam modal pada kita. Belum lagi para pengusaha tiba-tiba membatalkan kerja sama. Kalau begini bagaimana caranya perusahaan bisa bertahan. Bulan lalu aja aku sudah memecat 20 orang karyawan. Aaakkkhhhh stresss aku kalau begini,"
"Sudah coba lihat ini, apakah kamu ada ide?" istrinya menyodorkan kertas gambar Rian dan membacanya.
"Maksudnya apa?"
"Ah, bodohnya kamu ini. Kalau kamu bisa yakinkan keluarga Rian bahwa Rian menikah dengan wanita yang salah berati kan mereka akan menyuruh Rian cerai dan menikah dengan putri kita. Nah udah pasti kita juga akan kecipratan harta Rian. Lagian Silvi emang bodoh, dia sudah menolak duluan sebelum melihat wajah Rian, sekarang dia malah nyesel."
"Mana bisa gitu sayang, Rian itu mau menuruti permintaan keluarganya juga karena dia ingin mendapatkan warisan dari kakeknya. Kakek dari ayahnya itu mau memberi Rian warisan dengan syarat Rian harus menikah dengan salah satu anak kita karena kakek nya dan ayahku berteman. Tapi seingat ku lagi mereka harus memiliki anak dulu agar warisan itu jatuh ke tangan Rian.
Kalau mereka tahu kalau ternyata kita sengaja mengganti mempelai wanita, yang ada kita juga yang akan kena imbasnya sayang, karena mereka tau aku hanya memiliki satu orang putri."
"Bagaimana kalau kita jebak Rian dan Silvi?"
"Jangan aneh-aneh,"
"Tapi sayang ini jalan agar perusahaan kita bisa bangkit."
"Tidak, sudah benar Rian menikah dengan Maudy. Karena Maudy lah cucu asli dari keturunanku. Bagusnya Maudy mau menikah dengan Rian tanpa banyak protes. Aku bahkan khawatir jika Silvi yang jadi istri Rian kemarin. Bisa habis kita dibunuh keluarga besar Rian." ucap Johan lagi.
"Ribet ngomong sama kamu," Susi pergi meninggalkan suaminya.
****
"Assalamualaikum sayang,"
"Waalaikumsalam salam Nak, kamu sudah pulang."
"Iya mah, Maudy mana? Belum pulang kerja ya, padahal ini sudah jam lima lebih." Rian duduk disebelah mama.
"Coba kamu telpon, masa baru hari pertama kerja sudah disuruh lembur sih?"
Rian mengangguk mengeluarkan hp nya menelepon,
"Halo Maudy kamu dimana?"
"Iya Rian, aku masih di kantor kerjaan ku belum selesai."
"Sudah tinggalkan aja, kamu pulang sekarang ya aku jemput."
"Gak bisa Rian, aku harus menyelesaikan pekerjaan ku baru bisa pulang, dikit lagi ko. Kamu kalau mau jemput kesini aja,"
"Oke aku kesana ya," mematikan hp nya memasukkan kedalam jas.
"Mah, aku jemput Maudy dulu ya."
"Hati-hatilah."
Rian keluar dan kembali menjalankan mobilnya menuju kantor Maudy.
Dikantor Maudy masih saja berkutat dengan beberapa kertas. Bukan hanya dia sendiri masih ada beberapa karyawan yang juga masih bekerja hanya saja mereka karyawan lama dan masuk hitungan lembur sementara Maudy tidak.
"Nih,, kerjakan hari ini juga!" Wanita yang bernama Linda dia atasan Maudy di divisinya datang dengan setumpuk file ditangan yang diletakkan begitu saja dimeja Maudy.
"Tapi Bu, ini aja saya belum selesai? Kalau ditambah lagi kapan saya pulangnya?"
"Ya kalau sudah selesai kamu bisa pulang!"
"Apakah ini masuk hitungan lembur karyawan?"
"Ya gak lah, ini masuknya loyalitas karyawan baru. Paham! Udah kerjain cepet kalau mau cepet pulang."
"Kayanya ibu agak konslet ya dan hampir mendekati gila deh."
"Apa kamu bilang?! Berani nya kamu bilang seperti itu sama saya, saya ini atasan kamu di divisi ini. Mau saya laporkan ke bagian HRD biar nilai kinerja karyawan kamu buruk dan dipecat!!"
Maudy diam, dia mencabut flashdisk setelah mengcopy kerjaan nya di file komputer nya. "Nih Bu, kerjaan saya yang pertama sudah selesai dan untuk kerjaan yang ini saya akan kerjakan besok." ucap Maudy sambil meletakkan flashdisk diatas meja dan berdiri mengambil tas nya dan berjalan santai.
"Hei tunggu!! Kamu gak bisa pulang seenaknya sebelum tugas ini selesai!"
"Kalau ibu mau hari ini selesai ya ibu kerjain aja sendiri. Permisi bu."
Enak aja udah gak dihitung lembur, malah ditambah lagi kerjaan nya. Dia pikir dia bos apa dia aja masih digaji di sini. Sorry yeee biar kata karyawan baru ogah amat kalau harus di kerjain gitu. Biarin deh dipecat, gak perduli.
Begitu sampai di parkiran ternyata Rian sudah menunggu.
"Kenapa bisa lembur?"
"Lembur apanya? Loyalitas tau!"
"Kenapa?"
"Udahlah gak usah dibahas, bikin aku makin laper aja. Makan yuk,"
"Hahaha pengen makan apa?"
"Hmmm kayanya bakso enak deh."
"Siap,"
***
"Sialan, anak baru itu berani ngelawan gue Yan, kurang ajar banget emang dia." Linda mengadu ke Yanti.
"Kenapa? Dia masih ngerjain kerjaan yang kedua kan?"
"Boro-boro dia udah pulang,"
"Ya udah biar besok urusan nya sama gue. Kita pulang aja yuk."
***
"Kamu mau bakso apa?"
"Bakso telur aja, aku kedepan bentar ya Andre telpon."
"Oke."
"Halo Ndre,, gimana?"
"Bos, yang nyuruh nyonya Maudy lembur tanpa di gaji itu Linda dan Yanti, kayanya Yanti ada dendam sendiri sama nyonya."
"Oke urus mereka, pastikan besok adalah hari terakhir mereka kerja."
"Oiya bos, masalah warisan keluarga bos."
"Kenapa lagi?"
"Mereka menghasut kakek agar merubah surat wasiat harta, jika bos ingin harta warisan itu bos harus memiliki keturunan."
"Hadeh,, ada-ada aja sih. Sebenarnya aku gak butuh warisan itu, tapi ini amanah almarhum ibu aku harus mendapatkan hak ku."
"Kalau soal anak mah gampang bos, ya kan."
"Gampang kalau perempuan nya mau, kalau gak mau ya susah lah."
"Masa sang casanova kalah sama perempuan sih."
"Itukan dulu sebelum menikah, sekarang aku sudah menetapkan pilihan akan setia dengan istriku."
"Cieee yang udah jatuh bangun.."
"Jatuh cinta."
"Oiya hampir lupa satu lagi bos, saingan bos yang namanya Wildan ada di Indonesia."
"Wildan di Indonesia, mau ngapain dia? Cari tau mau apa dia disini."
"Siap bos." setelah mematikan telepon nya Rian kembali kedalam.
"Lama amat sih, kamu sering banget teleponan Andre?"
"Ya kan dia asisten ku, jadi wajar aku sering kontak sama dia."
"Asisten? Bukannya Andre bos di kantor ku ya?"
"Iya maksudnya dia bos disana yang mencari tambahan uang jadi asisten gitu hahaha,,, udah lupain aja makan bakso nya." Rian melengos menepuk jidat karena keceplosan bicara.
"Aku beliin buat mama juga ya,"
"Iya dong harus."
Selesai makan kami langsung memutuskan pulang, setelah sebelumnya sempat mampir untuk shalat Maghrib di masjid raya di jalan.
****____****
Mau tanya dong guysss:
Apakah setiap masalah selalu ada jalan keluarnya?
Apakah istri hanya beban suaminya?
Apakah boleh suami mengungkit apa yang sudah dia berikan ke istrinya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
💞 NYAK ZEE 💞
apa yg mau diungkit orang itu tanggung jawabnya, kewajibannya .
kalau ada suami yg seperti itu suruh banyak2 ikut kajian agama banyak2 dengerin tausiyah....
kalau masih ngak sadar juga undang ustadz buat merukiyah itu suami modelan yg seperti itu
2024-02-28
2
💞 NYAK ZEE 💞
💯% bukan....
untuk suami yg baik istri adalah tanggung jawabnya , bukan beban....
apalagi sekarang udah kayak dunia terbalik aja banyak istri mandiri. banyak suami yg menggantungkan dirinya pada istrinya dengan banyaknya alasan..
2024-02-28
2
💞 NYAK ZEE 💞
insyaallah pasti ada....
2024-02-28
2