19 - Apa Maksudnya Mereka?

Maaf ya kemaren gak update, di dobel jadi hari ini ya macan 😘

Happy Reading

****____****

Rian memanggil Andre yang di lantai dua rumah itu. Lantai dua hanya ada dua buah kamar yang kalau dibuka akan membuat mata orang awam tercengang, satu kamar terdiri dari aneka senjata perang mulai dari aneka jenis pistol kecil hingga laras panjang lengkap dengan peluru dan cadangan peluru juga ada granat, tnt, ranjau buatan, panah, beberapa jenis pisau, juga ada rompi anti peluru.

Sementara di kamar kedua disana hanya ada aneka alat gym serta sebuah pintu rahasia yang dikamuflase dengan dinding berwalpaper pemandangan.

ceklek,,,

"Bos, anda sudah datang." terlihat Andre sedang menggunakan barbel.

"Kamu sudah makan?"

"Belum bos, ini saya mau keluar cari makan."

"Gak usah dibawah Maudy sudah masak, aku disuruh memanggil mu untuk makan. Cepat turun."

"Baik bos, terimakasih." lalu Rian pun keluar.

Semua sudah berkumpul mengambil makanan seadanya, "maaf karena sudah malam jadi aku hanya memasak ini saja,"

"Gak pa pa nyonya ini juga sudah lebih dari cukup terimakasih." ucap Andre.

"Iya nak, udah gak pa pa dari pada gak makan malam." timpal mama.

Mereka pun makan malam yang kemalaman sambil diselingi obrolan ringan. Lalu tak lama kemudian mereka pun beranjak untuk istirahat.

Didalam kamar diatas ranjang yang kini di tempati oleh Rian dan istrinya yang sama-sama belum tidur.

"Sayang, kamu belum tidur?"

"Belum kenapa?"

"Maaf ya aku sampai harus membawamu kedalam situasi tidak enak seperti ini, aku pikir setelah aku keluar dari dunia itu hidupku akan tenang dengan bisnis yang ku jalani. Tapi ternyata mereka yang pernah berseteru dengan ku sebelumnya mungkin ingin sesuatu dariku entah balas dendam atau meminta untuk bergabung."

"Jika keadaan tidak memungkinkan apakah mama harus kita pindahkan lagi? Apakah disini pasti aman?"

"Kita lihat nanti sayang, tapi aku minta apakah kamu keberatan jika kamu pun harus bisa menggunakan senjata minimal pistol, untuk menjaga dirimu sendiri, nanti mbak Uli juga akan diajari."

"Oke, gak pa pa."

"Aku harap setelah kamu tau semua kamu ga pergi ninggalin aku," ada nada sedih dari ucapan Rian, karena mungkin Rian sudah merasakan cinta pada istrinya hal itu membuat Maudy menoleh.

"Iya, aku akan tetap bersamamu dalam keadaan apapun," Rian mengecup kening Maudy lama.

"Apa aku boleh minta itu,?"

Maudy mengangguk malu, dan terjadilah pergulatan panas mereka malam itu suara desahan pun keluar dari masing-masing tapi tak perlu khawatir karena kamar Rian kedap suara.

Cumbuan panas terus menerus dibeberapa area sensitif Maudy dilakukan, hingga Maudy pun mengerang untuk pelepasan pertamanya. Dengan senyum mengembang bahagia Maudy gegas berganti posisi dengan diatas Rian meski hal seperti masih terbilang baru untuknya tapi dia sempat mempelajari dari video dewasa yang pernah ia lihat sesudah melakukan hubungan dengan Rian pertama kali. Maudy sengaja menonton sebagai referensi agar dia bisa membuat Rian bahagia karena entah kenapa Maudy pun tak ingin Rian pergi dari nya meski diawal semua hanya kesepakatan.

Rian yang tak bisa menahan gairah dan gejolak segera merebahkan Maudy dengan lembut lalu Rian melakukan penyatuannya hingga ia sampai pelepasan pertama juga. Lelah setelah hampir tiga puluh menit mereka bergumul akhirnya keduanya pun terlelap dengan berpelukan.

****

Keesokan harinya jam enam pagi di rumah Rian yang saat ini di tempati oleh Wildan terdengar suara ketukan pintu dari luar, beberapa anak buah Wildan yang berjaga membuka.

"Mana Rian?"

"Tuan siapa dan ada perlu apa kesini?"

"Saya hanya ingin bertemu dengan orang yang bernama Rian, cepat panggil dia."

"Ada apa Ton, pagi-pagi sudah ribut?" Wildan yang baru bangun mengucek matanya sambil jalan ke depan pintu.

"Kamu yang namanya Rian?!"

"Bukan pak, saya tukang kebun disini. Bapak nyari majikan saya? Dia lagi honeymoon sama istrinya,"

"Jangan bohong kamu!!"

"Kalau gak percaya cari aja sendiri," Wildan sengaja membuka pintu lebar agar mereka percaya.

"Oke, kapan majikan mu pulang?"

"Bapak ini siapa dan dari mana? Nanti kalau pas majikan saya telpon saya bisa kasih tau."

"Bilang saja saya asisten bos Samuel, Rian pasti tahu."

"Sebentar pak saya orangnya suka lupa saya ambil kertas dulu ya," Wildan beranjak ke ruang tamu mengambil kertas dan pulpen.

"Coba pak ulangi pesannya, biar saya catat supaya gak salah sebut nanti," Wildan siap dengan kertasnya sambil memberikan kode mata kepada anak buahnya tanpa ketara. Anak buah Wildan pun menatap detail wajah tiga orang yang datang ke rumah.

"Saya asisten bos Samuel datang mencari majikan mu karena bos Samuel ingin menawarkan kerjasama."

"Kerja sama apa ya pak klo belah tau, terus kemana kalau bos Rian ingin menghubungi bapak?" tanya Wildan dengan pulpennya.

"Catat nomor saya, kosong delapan satu tiga bla bla bla,,, segera hubungi saya secepatnya karena saya tidak akan lama di Indonesia."

"Misalkan majikan saya tidak mau kerjasama dengan bos bapak, gak pa pa kan?"

"Harus mau tidak boleh ada kata tidak!"

"Lah ko maksa sih pak, gak baik pak maksa-maksa orang gitu."

"Saya yakin majikan mu pasti mau karena bayaran nya sangat besar."

"Oh gitu ya, oke nanti kalau majikan saya telpon saya langsung bilangin deh."

"Baik, kalau gitu saya permisi, segera saya tunggu kabarnya." Tiga orang itu pun pergi dengan menaiki mobil.

Wildan pun segera menghubungi Rian dan menyampaikan apa yang tadi di pesankan.

"Oke baik aku tunggu kedatangan mu," jawab Wildan sebelum memutus telepon.

****

Rian yang sudah mendengar apa mau mereka dari Wildan pun segera berpamitan.

"Sayang aku pergi ya ada urusan, kamu bisa latihan sama Andre dulu ya."

"Iya, hati-hati kalau sudah selesai segera pulang."

"Oke sayang," Rian masuk kedalam mobilnya di supiri oleh salah satu anak buahnya.

Mereka tiba di sebuah rumah makan, disana sudah ada Wildan menunggu. Rian pun segera masuk dan menemui Wildan yang sibuk dengan hp nya.

"Serius amat," Rian menarik kursi dan duduk.

"Iya bos Marco nge wa gua, dia bilang lu jangan mau terima kerjasama dengan Samuel."

"Kayanya kita perlu temui mereka deh, undang aja mereka kesini sekarang gua free pengen tau apa sih yang mereka mau? Mereka kan tau gua udah berhenti."

"Oke," Wildan mengetik pesan ke nomor yang tadi pagi diberikan bahwa mereka menunggu di rumah makan bersama Rian. Tak menunggu lama balasan pun diterima yang mengatakan bahwa mereka bersedia datang.

"Mereka akan kesini,"

Rian mengangguk, lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan.

"Kalau ngerasa gak aman bos nyuruh kita kesana,"

"Nanti dulu, kita lihat apa mau mereka."

****____****

Terpopuler

Comments

Ira Sulastri

Ira Sulastri

Rian harusnya Maura di ajari ilmu beladiri jg biar lebih mantab dalam menjaga diri dan mamanya disaat kamu ga ada di sisinya

2024-03-01

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!