Happy Reading 😘
****___****
Mobil membawa mereka menuju sebuah restoran, beberapa pasang mata waiters wanita tak lepas menatap kedatangan mereka hingga mereka duduk di meja yang mereka pilih. Dengan santai seorang waiters wanita datang membawa buku menu setelah sebelumnya sempat terjadi perdebatan diantara tiga waiters yang saling berebut ingin melayani tamu pria tampan itu, hingga sang manajer restoran akhirnya menyuruh Cindy yang mengantarkan buku menu.
Cindy yang baru seminggu bekerja di resto itu pun tak membantah segera dia berjalan dengan buku menu ditangan meskipun ditatap tajam oleh waiters senior yang dari tadi ribut.
Hahaha
"Selamat malam pak, silahkan dipilih dulu ingin makan apa siang hari ini?!" Cindy meletakkan buku menu diatas meja dengan senyum ramah.
"Makasih mbak, saya lihat dulu ya." Wildan menjawab.
Setelah kedua pria itu memesan makan malam mereka, dan Cindy pun pergi untuk menemui koki, setelah dua puluh lima menit berlalu Cindy kembali dengan nampan ke meja Rian.
"Silahkan dinikmati, saya permisi dulu kalau ada perlu lain bapak bisa panggil saya."
"Iya mbak makasih."
Tak lama suara hp Rian berbunyi dilayar terbaca nama Andre.
"Halo Ndre, ada apa?"
"Bos,, maaf telat kasih info. Orang suruhan Samuel datang ke Indonesia mencari bos."
"Iya udah tau,"
"Hah,,!! bos udah tau mereka sudah ada di Bali bos."
"Apa di Bali, jadi mereka udah sampai Indonesia?! Waduh gawat Ndre, kamu harus segera ungsikan Maudy dan mama nya, sekarang!!"
"Baik bos, saya akan kerumah sekarang." telepon terputus.
"Kan apa gua bilang, mereka itu gerak nya cepet. Mau lu umpetin dimana itu Maudy sama mama nya?"
"Adalah tempat rahasia gua. Berarti malam ini gua akan pulang kesana."
"Gua ikut ya,"
"Gak!! Lu suruh anak buah lu datang dan tinggal di rumah gue sambut kedatangan mereka."
"Hadeuh,,, ok oke." Wildan pun mengirimkan pesan kepada anak buahnya yang masih ia tinggal di hotel untuk datang ke rumah Rian.
Wildan datang ke Indonesia tak banyak membawa anak buah hanya tujuh saja tapi yang dibawa adalah pasukan hebat. Memang benar Wildan dan Rian dulu saingan bisnis keluarga. Rian dan Wildan sama-sama bergabung dengan Bos Marco hanya saja mereka tidak akan pernah bertemu, karena Wildan bergabung setelah Rian pensiun.
"Hmm sebenarnya bro gua datang disuruh bos Marco,"
"Lu gabung di bos Marco?"
"Ya,, setahun setelah lu keluar gua masuk, dan selama gua disaat bos Marco selalu membanggakan nama lu, mulai dari situ gue selalu berusaha buat ngembangin usaha gua biar bisa bersaing sama lu, dan setelah lima tahun gua berhasil menjadikan kita benar-benar saingan bisnis. Saking penasarannya gua sama lu, akhirnya gua terima tugas dari bos Marco untuk datang kesini karena gua juga udah kangen sama pujaan hati gua si Maudy, tapi ternyata oh ternyata,,,, sudahlah."
"Hahaha ya ampun jadi lu anggota bos Marco kenapa gak ngomong dari awal sih, tolong sampaikan terimakasih gua sama bos karena masih inget gua bela-belain nyuruh anak buah nya datang buat bantu gua. Thanks bro."
"Iya nanti kalau pas dia telepon gua bilangin, gua males nelpon dia duluan kalau gak ada perlunya males diceramahin." Mereka tertawa.
Rian dan Wildan terpaut usia tujuh tahun, tapi meski begitu wajah Rian tetap terlihat muda dan seperti seumur dengan Wildan. Wildan memang mengembangkan bisnis keluarga nya setelah lulus SMA di Australia tapi dia juga bergabung dengan genk mafia Italia yang dikepalai oleh Marco, sementara Marco sejak dulu mempunyai saingan keras bernama Samuel, mereka berdua adalah kakak beradik. Dalam dunia hitam tak ada istilah keluarga dalam keluarga, ada istilah keluarga jika mau berkorban.
Wildan yang baru bergabung merasa jengah karena satu nama yang selalu di sebutkan, dia bertekad membuat bisnis keluarganya sukses dan mencari tau tentang Rian, hingga menjadi saingan bisnisnya. Dalam bisnis mereka memang bersaing tapi dalam kelompok mafia mereka satu naungan yah walaupun Rian sudah pensiun tapi dengan Marco masih berhubungan baik.
****
"Lho pak Andre? Ada apa ya pak, ada yang bisa saya bantu?" Maudy kaget melihat bos nya yang juga teman suaminya datang kerumah.
"Begini Bu Maudy, saya harap ibu percaya sama saya karena saya datang ke sini atas permintaan dari pak Rian, beliau meminta saya untuk segera menjemput ibu Maudy dan mama untuk pergi dari sini secepatnya."
"Pergi dari sini, maksudnya gimana ya? Suami saya dimana sekarang?"
"Saya hanya beri waktu ibu untuk berkemas selama 20 menit, saya harap ibu segera melakukannha saya tunggu disini."
Maudy mengambil hp nya menghubungi Rian.
"Halo Rian, ini ada pak Andre dirumah katanya kamu suruh aku ikut sama pak Andre? Emang kenapa?"
"Iya sayang, kamu ikut saja arahan dari Andre, nanti aku akan menyusul kalian disana. Aku akan menjelaskan nya padamu setelah kamu pergi dari rumah itu."
"Tapi ada apa kenapa mendadak sekali?"
"Segera sayang ini darurat."
"Oke, tapi janji ya kamu harus jelaskan semua padaku."
"Pasti sayang, love you."
"Too hati-hati."
Maudy pun segera ke kamar mama nya, kebetulan disana masih ada mbak Uli.
"Mbak tolong beresin baju mama ya, sama baju mbak Uli juga sekalian kita akan pergi sekarang."
"Hah apa non, pergi kemana?"
"Saya juga belum tau tapi yang jelas kita harus segera pergi malam ini secepatnya, kamu segera rapihkan ya."
"Iya iya non."
Maudy pun ke kamarnya menarik koper dan merapihkan bajunya dan baju Rian kedalamnya, tak banyak yang ia bawa hanya 1 koper besar saja.
"Non,,, kita sudah siap."
"Bagus ayo kedepan."
"Apakah sudah siap semuanya?" tanya Andre.
"Iya pak, kami siap."
"Ayo kita ke mobil," Andre membantu mengangkat koper Maudy. Setelah mengunci pintu rumah mobil pun segera pergi.
"Sayang sebenarnya ada apa sih, bukannya tadi Rian dan Wildan pergi santai aja." tanya mama.
"Aku juga gak tau ma, kita ikutin saja dulu."
Setelah menempuh perjalanan dua jam lebih mobil berhenti di sebuah gerbang tinggi menjulang dengan kawat berduri di bagian atas pagar. Andre pun turun sebentar seperti mengatakan sesuatu dan tak lama gerbang tinggi itu terbuka hanya sebatas mobil saja. Andre pun segera memasukkan mobil kedalamnya.
Suasana malam yang gelap semakin terlihat pekat tak ada penerangan karena mobil terus berjalan melintasi pohon jati yang berjajar rapat dikanan kiri. Mobil terus melaju lumayan jauh dari gerbang tadi hingga berhenti di sebuah bangunan rumah besar dengan dua lantai yang atapnya berbentuk kubah dengan banyak orang berpakaian hitam dengan senjata di tangan yang sedang berjaga di depan pintu.
"Kita sudah sampai, mari kita turun." ucap Andre.
Andre membantu mama untuk keluar dari dalam mobil, setelah mengeluarkan kursi roda lebih dulu. Maudy bingung ini dimana, rumah siapa, kenapa banyak sekali orang membawa senjata?
****____****
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments