7 - Ganti Rugi

Yang lagi senggang bisa ya mampir ke cerita ini, dan tinggalkan komen disana juga like bab nya. Terimakasih untuk yang sudah mampir.😘

****____****

Rian bersama Andre menemui klien nya di sebuah cafe terkenal memesan ruangan private. Kedua klien Rian adalah pembisnis besar, mereka serius membicarakan pembagian keuntungan dan Andre sebagai kepercayaan Rian bicara dengan luwesnya hingga mereka pun akhirnya deal untuk bekerjasama.

"Oke pak Rian semoga hubungan bisnis kita berjalan dengan baik, lancar dan awet." ucapnya sambil bersalaman.

"Terimakasih juga pak karena perusahaan bapak bersedia bekerjasama dengan kami. Kami akan berusaha melakukan yang terbaik."

Klien besar itu pun pergi, Rian memang selalu menemui dan menangani sendiri untuk klien besar.

"Oiya Ndre, tadi waktu aku sampai didepan kantor aku lihat Maudy keluar dengan lesu, kenapa ya? Apa dia gak lolos tes atau wawancara? Coba kamu selidiki.

"Baik pak, akan saya tanyakan ke bagian HRD. Dan untuk biaya rumah sakit yang tadi pagi bapak minta sudah dilunasi ya pak, sesuai keinginan bapak."

"Oke bagus kamu memang orang ku yang bisa diandalkan."

Mereka berdua berpisah dengan mobil masing-masing. Rian memilih pulang ke rumah menunggu istrinya.

Sementara Maudy yang masih lesu akhirnya memilih untuk pulang, karena dia ingat kalau kebaya pernikahan nya kemarin harus dikembalikan ke butik. Keluarga papa nya tidak membelikan untuknya dengan alasan aku tidak cocok memakai barang mahal.

"Itu mobil yang tadi pagi Rian gunakan, apa dia sudah pulang?" Maudy berjalan ke teras duduk di kursi dan membuka flatshoes nya.

"Assalamualaikum..."

"Waalaikumsalam, masih lesu aja ayo masuk aku sudah masak makan siang lho." Rian menarik tangan ku menuju meja makan, disana ada beberapa lauk terhidang.

"Bukannya di kulkas masih ada rendang dan lainnya, kenapa gak kamu panasin itu aja."

"Aku lagi pengen makan ini, rendang bisa buat makan malam deh. Ayo duduk aku sudah lapar."

"Sini aku ambilin," Rian menjulurkan piring yang dia pegang untuk ku ambil nasi dan lauknya.

"Tunggu,, coba ku lihat." Rian berdiri menyibakkan rambut ku ke telinga dan terlihat ruam merah di pipi ku. Sebenarnya samar tapi jika di perhatikan tetap akan terlihat.

"Pipi mu kenapa? Siapa yang menamparmu, beri tahu aku,!"

"Rian, Rian, gak pa pa ini hanya kesalahpahaman kecil aja ko."

"Salah paham gimana, salah paham itu ucapan bukan tamparan. Papa mu yang menampar mu atau selingkuhan papa mu. Aku tak terima istriku diperlakukan kasar oleh orang lain."

"Terimakasih Rian, tapi ini gak pa pa aku kompres juga akan hilang. Sudah kita makan lagi."

"Kenapa tadi lesu waktu keluar dari gedung itu? Apa kamu gak lolos?"

"Iya aku gak lolos wawancara dengan HRD."

"Kenapa bisa calon karyawan yang sudah lolos tes tertulis akan lolos juga tes wawancara. Karena setau ku di kantor Andre yang diperhitungkan isi otak nya bukan isi mulut nya. Aku tanyakan ke Andre ya, kenapa sampai kamu gak lolos?"

"Jangan,, gak usah. Sudah biarkan aja aku juga gak berminat kerja di tempat itu."

"Lho kenapa? Itu perusahaan besar semua orang berlomba-lomba untuk kerja disana, karyawan nya sejahtera."

"Iya aku tahu, ku pun sama seperti orang-orang itu berharap bekerja disana tapi kalau memang gak lolos ya aku bisa apa? Oiya Rian aku mau ke butik ya, mau balikin kebaya nikahan kemarin."

"Mau aku antar?"

"Kalau kamu gak sibuk sih mau aja diantar."

"Oke yuk, aku tunggu di mobil."

"Iya aku ambil dulu kebaya nya. Nanti aku menyusul."

Sampai di Butik.

"Ehm Rian kamu tunggu di mobil aja ya, aku gak lama ko," Aku turun setelah Rian mengangguk. Dengan kedua tangan aku membawa kebaya dan kardus sepatu.

"Assalamualaikum permisi, saya ingin mengembalikan kebaya dan sepatu selop yang disewa."

Wanita berseragam hitam dengan tampang jutek menerima kebaya yang aku sodorkan, dia mengecek dengan teliti, mungkin takut ada Payet yang lepas atau malah hilang. Setelah dirasa tak ada cacat kebaya itu di gantung di rak khusus kebaya. Karena pakaian apapun yang disewa dari butik mau kebaya atau gaun pesta dilarang untuk kita cuci atau laundry, karena ditakutkan akan ada kerusakan. Jadi pihak butik sendiri yang nanti akan melaundry semua kebaya dan gaun yang dikembalikan customer.

"Ini juga sendal selop nya," aku menyerahkan kardus.

"Ini kenapa ada lecet ya di bagian sini,?" wanita itu juga mengecek.

"Aku juga tidak tahu, tapi seingat ku aku tidak terjatuh begitu acara selesai aku langsung ganti dengan sandal biasa."

"Tetap aja mbak ini namanya cacat, dan cacat ini saya terima setelah di sewa oleh mbak jadi mbak harus mengganti kerugiannya."

"Ganti rugi nya berapa mbak?"

"Lima juta rupiah, karena sendal selop ini rancangan designer bagus sama dengan kebaya yang mba sewa juga. Kalau cacat gini gak akan ada lagi yang mau sewa sebelum di perbaiki."

"Lima juta, saya gak ada uang segitu mbak kalau dua ratus ribu saya ada."

"Mbak kalau gak punya uang jangan sewa apapun di butik sini dong! Barang disini rancangan designer terkenal semua. Lagian gak punya uang gak usah nikah!"

"Sayang kenapa lama sekali," Rian masuk kedalam dan merangkul pundakku.

"Hmm ini katanya sendal selop ada cacat sedikit dan aku harus ganti rugi lima juta. Padahal cuma sedikit doang Rian cacat nya, aku juga gak jatoh saat menggunakan sendal itu. Bisa jadi kan itu sudah cacat sebelum aku menyewa nya."

"Kami selalu memeriksa setiap customer mengembalikan apapun yang disewa dari butik kami."

"Lima juta ya,,,oke. Sayang kamu suka gak dengan hils yang ada di ujung sana?" Rian menunjuk ke sebuah etalase kaca didalam sana sepasang hils cantik, mewah dan elegan terpajang.

"Hils itu sangat mahal."

"Oiya berapa harga nya?"

"Tiga puluh lima juta rupiah,"

"Oke saya mau hils itu, bawa kesini biarkan di coba istriku."

"Rian itu mahal, gak usah buang uang sebanyak itu cuma buat benda yang akan menginjak tanah."

"Anggap aja ini kado pernikahan dari ku."

"Tapi,,,"

"Ssstttt. Kenapa masih berdiri disini. Cepat ambilkan hils itu bawa kemari."

"Lalu untuk selop yang cacat itu bagaimana, saya gak mau sudah capek-capek tapi hanya omong doang,!"

"Begini cara butik ini melayani customer? Mau aku laporkan ke manajer mu,!"

Wanita itu beranjak menuju etalase yang dimaksud.

"Rian lebih baik uangnya untuk kita sehari-hari aja, aku beneran gak butuh banget hils itu."

"Sssttttt..."

"Wah ada pak Rian,,, selamat datang di butik ku. Ada yang bisa aku bantu?!" tiba-tiba seorang pria masuk dengan dandanan perlente menegur dan bersalaman dengan Rian.

"Hai Sebastian apa kabar? Aku kesini mengantar istriku mengembalikan kebaya yang kami pakai nikah kemarin. Dan sekalian ingin membeli kado untuk istri ku ini."

"Wah iya maaf aku tidak sempat hadir aku di luar negeri kemarin, sebagai permintaan maaf dan kado dari ku sebentar ya, Yuliiiiii...!" Karyawan wanita itu datang dengan hils cantik di tangannya, wajahnya seketika berubah ramah.

****____****

Lanjut bab berikutnya yaaaa,,,, kalo di sini semua kepanjangan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!