“Duke Cedric!” panggil seorang ksatria wanita.
“Apa semua sudah siap?” tanya Duke Cedric
“Ya …semua sudah siap.”
“Baiklah .. tunggu aku,” ucap Duke.
“Baiklah.”
Ksatria wanita itu keluar dari tenda Duke dan kembali kerombongan.
“Dimana Duke?” tanya salah seorang ksatria.
“Sedang bersiap,” ucap Ksatria wanita itu.
“Leticia kamu adalah satu – satunya wanita yang bisa mendekati duke.”
“Iya … apa kau mendengarnya, yang mulia raja mengirim wanita lagi ketenda duke.”
“Tentu saja Duke menolak wanita itu dengan kasar.”
“Jika aku jadi wanita itu, itu akan membuatku trauma.”
Leticia mendengar ini dan tersenyum sedikit. Dia adalah satu – satunya ksatria wanita yang ada dikekaisaran. Dia adalah wanita bangsawan dengan gelar ksatria, ini adalah gelar yang cukup tinggi untuk wanita bangsawan. Meskipun dia sering bertarung tetapi dia bisa merawat diri dan bergaul dengan baik bersama wanita bangsawan lainnya.
Leticia di kenal sebagai sosial butterfly dikalangan bangsawan, bahkan yang mulia putri pun dekat dengannya.
“Bagaimana pun juga wanita yang sangat cocok dengan Duke kita hanya lah Nona Leticia.”
“Iya aku rasa begitu.”
Leticia sangat senang mendengar ini. “Jangan begitu … kita tidak tahu apa yang dipikirkan Duke,” ucap Leticia.
“Kalau begitu apakah kau menyukai Duke?” tanya ksatria lain.
“A-apa?! aku-“
“Apa yang kalian bicarakan?” terdengar suara seorang pria.
“Aku lihat kalian masih memiliki banyak waktu untuk bergosip,” lanjutnya.
“Tidak komandan kami.” Ksatria itu pergi segera setelah melihat komandan mereka.
Leticia hanya diam dan melihat pria itu dengan dingin. David … pria ini sejak lama sudah tidak menyukainya.
“Pergilah jika kau sudah selesai,” ucap David.
“Aku akan pergi sebelum kau perintah.” Leticia pergi dengan kesal setelah mendengar omongan David.
David melirik Leticia sambil mengernyitkan alisnya. Leticia adalah kandidat yang sangat cocok untuk Duke dari latar belakang dan kemampuan, hanya saja sifatnya tidak cocok untuk Duke. Leticia ini sedikit angkuh dan sombong.
David pernah melihat Leticia mengancam perempuan yang menyukai Duke secara diam – diam. Dia tidak menyerangnya langsung, dia menggunakan wanita bangsawan lain untuk membully wanita itu dengan begitu dia tidak mengotori namanya sendiri.
“Wanita yang licik tidak bisa masuk kedalam kediaman Duke,” gumam David.
“Apa yang kau lihat?” tanya Duke Cedric.
“Tidak ada,” jawab David.
“Ayo kita jalan,” ucap Duke.
“Bai Duke.” David menundukkan kepalanya dan mengikuti Duke dari belakang. Dia harus mencari wanita yang kuat untuk melindungi tuannya. Wanita kuat yang bisa melawan kekaisaran.
“Au …” teriak Caroline.
“Apa master baik – baik saja?” tanya Demon.
“Ya … aku rasa aku tidak bagus dalam hal ini,” ucap Caroline sambil memegang hasil bordirnya.
Hari ini Caroline menghadiri kelas menjahit bersama Edelyn. Dia tidak menyangka akan ada kelas ini dan juga mengapa bersama Edelyn?
“Aku dengar saat berkeliling, kalau ini semua permintaan Edelyn dan semua orang memujinya karena dia sangat baik pada master,” ucap Demon.
Caroline melirik Edelyn yang dengan santai membordir dan berbicara dengan gembira bersama guru mereka. “Baik apanya? Aku rasa dia sengaja melakukannya untuk memperlihatkan perandingan atara aku dan dirinya sendiri,” ucap Caroline.
“Sangat kekanak – kanakan,” lanjutnya.
“Tuang Putri Edely, seperti biasa bordiran anda sangat bagus dan sangat indah,” puji Guru.
“Terimakasih Baron Lyra,” ucap Edelyn dengan senyum.
Baron Lyra melirik karya Tuan Putri Caroline dan itu sangat tidak indah. “Tuan Putri saya rasa anda masih harus banyak berlatih lagi,” ucapnya dengan dingin. Dia tidak menyukai murid yang sangat lamban.
“Baron tenanglah … kakak Carolin hanya tidak ahli saja dalam hal ini,” ucap Edelyn.
Caroline berhenti dan melihat hasil bordirannya, sebenarnya ini cukup bagus. Kau bisa mengatakan ini adalah bentuk abstrak dan itu merupakan bagian dari seni.
Edelyn melihat wajahnya yang sama sekali tidak berubah, ini membuatnya kesal.
“Baron … apakah kita harus istirahat? Aku sangat haus,” ucap Edelyn.
“Aku rasa begitu.” Baron setuju begitu saja karena dia juga cukup haus.
Edelyn melambaikan tangannya kepada pelayan yang berdiri disebelahnya.
“Ambilkan Teh favoritku,” ucap Edelyn.
“Baik tuan putri.” Pelayan itu segera pergi untuk mengambil teh.
Beberapa saat kemudian pelayan itu kembali dan membawa meja teh untuk diminum.
“Ya … ampun mengapa kau hanya membawa dua gelas teh?” tanya Edelyn.
“Maaf Tuan putri saya rasa saya melupakannya,” jawab pelayan itu.
“Bagaimana ini …” Edelyn melirik Caroline.
“Tidak masalah,” ucap Caroline.
Pelayan itu segera menyeduh teh kedalam cangkir tersebut.
“Teh ini sangat wangi,” ucap Baron dengan takjub. Ini pertama kalinya dia menyicipi the yang sangat wangi.
“Benarkah? Baguslah kalau Baron menyukainya,” ucap Edelyn. Dia sebenarnya tidak ingin membagi teh favoritenya, tetapi kali ini dia akn membiarkan orang lain menyicipinya.
“Sayang sekali kak Caroline tida bisa mencicipinya,” ucap Edelyn lagi sambil mengangkat gelas berisi teh. Hahaha … apa kau iri denganku. Teruslah iri … hahahaha..
Saat Edelyn hendak menyesap tehnya, tiba – tiba gelas yang dia pegang direbut.
“Hmmm … ini tidak buruk tetapi tidak seenak yang dibayangkan,” ucap Caroline. Dia lebih menyukai teh racikannya sendiri.
Semua orang terdiam melihat tindakan Putri Caroline. “K-kau! Berani – beraninya merebut gelasku!!” teriak Edelyn dengan wajah merah karena marah.
“Bukannya tadi kau bilang sangat disayangkan kalau aku tidak bisa mencicipinya … aku tidak ingin kau sedih jadi aku mencicipnya,” jawab Caroline dengan senyum diwajahnya.
“K-kkauu!”
“Tuan Putri tenanglah,” ucap pelayan menenangkan Edelyn. Mereka tidak menyangka Putri Caroline akan melakukan tindakan ini.
Edelyn berusaha untuk tenang dan menarik nafas dalam – dalam. Dia tidak boleh meluapkan emosinya karena hal sepele seperti ini.
“Ehm … aku rasa teh nya sudah cukukp,” ucap Baron Lyra berusaha untuk mencairkan suasana. Dia rasa putri Edelyn dan putri Caroline tidak sedekat yang dikatakan rumor.
“Baiklah … maafkan aku karena ini gelas dan teh favoriteku,” ucap Edelyn sambil menyisir rambutnya kebelakang telinga.
“Oh aku baru ingat … hari ini para ksatria baru saja menangkap seekor monster .. apa Baron ingin melihatnya?” tanya Edelyn.
“Apa boleh?” Baron sebenarnya takut tetapi dia tidak bisa mengecewakan putri Edelyn.
“Tentu saja … ayo ikuti aku.” Edelyn segera berdiri dan mengajak Baron pergi untuk melihat.
“Baiklah.”
“Monster?” tanya Caroline dalam pikirannya.
“Ya tuan … aku baru saja melihatnya kemarin … itu sangat kuat,” ucap Demon.
“Apa lebih kuat darimu?” tanya Caroline.
“Tentu saja tidak,” jawab Demon dengan bangga.
“Baiklah aku akan melihatnya juga.” Caroline berdiri dan mengikuti Edelyn serta Baron Lyra dari belakang.
Mereka pergi kehalaman belakang, disana terdapat kandang monster yang sangat besar dan teriakan monster yang menakutkan.
“Kakak apa yang kau lakukan disini? Ini sangat berbahaya,” ucap Aland menghampiri Edelyn.
“Bukankah sudah dijinakkan?” tanya Edelyn.
“Ya sedikit tetapi belum sepenuhnya,” ucap Aland.
“Berarti itu sudah jinak,” ucap Edelyn lagi.
“Biarkan monster itu keluar! Aku ingin melihatnya,” ucap Edelyn.
“Tidak bisa!” teriak Aland.
“Apa kau membentakku?” Edelyn ingin menangis mengeluarkan air mata.
“Bukan … hanya saja-“
“Biarkan kak Caroline membukanya,” ucap Edelyn sambil menunjuk Caroline yang ada dibelakangnya.
“Apa? tidak bisa!” teriak Aland lagi.
“Bukankah Kak Caroline memiliki kekuatan dari ibu kandungnya?” tanya Edelyn.
“Tapi-“ Aland melirik Caroline.
Bocah ini sangat lemah? Dia bahkan tidak bisa menolak tawaran Edelyn?
Caroline tersenyum. “Baiklah aku akan membukanya.” Caroline melangkah kedepan.
“Benarkah? Terimakasih kakak,” ucap Edelyn dengan bahagia.
Mereka semua mundur dengan penjagaan ketat disekeliling mereka.
Hahaha … lihat saja apakah kau akan tercabik – cabik.
Akhir dari Bab 10
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
huh maunya si adelyn tu yg di cabik2..
2024-11-06
0
Shinta Dewiana
cih..trik murahan...adelyn
2024-08-15
0
Evi Yana
kok blum up lg thor..
???
2024-03-04
1