Caroline terus berjalan menuju ruang ayahnya. Aland yang bingung dengan perkataan kakaknya pergi mengikuti diam – diam tanpa diketahui oleh pengawal dan pelayan yang ada diistana.
Saat Caroline sampai didepan pintu, Caroline diam dan tersenyum saat melihat baju adiknya dibalik pilar.
“Yang mulia ini Caroline,” teriak Caroline. Diluar tidak ada penjaga yang menjaga pintu karena saat Caroline datang yang mulia raja membiarkan penjaga pergi terlebih dahulu.
Setelah itu Caroline masuk keruang kerja Raja, Caroline sengaja tidak menutup rapat pintu itu. Aland mengikuti Caroline dan mengintip dari sela pintu. Kenapa tidak ada penjaga sama sekali di ruangan ini? Biasanya saat Aland datang pasti selalu ada penjaga yang menjaga pintu ini. Aland berhenti memikirkannya dan terus melihat.
“Caroline menghadap yang mulia raja.” Caroline memberi salam kepada yang mulia raja.
“Baiklah kita akan memulainya.” Raja berdiri dan mengambil alat di lemari kerjanya.
Caroline mundur sedikit. “ tapi yang mulia, aku baru saja pulih dan beberapa hari yang lalu juga yang mulia-“
“Apa kau ingin melawanku?” yang mulia raja memotong perkataan Caroline.
“ …. “ Caroline hanya diam. Dia ingin sekali memukul pria tua ini.
Caroline mulai menyerahkan pergelangan tangannya.
Melihat putrinya tidak melawan lagi, yang mulia merasa puas. “Kau tahu … kau harus menjalankan tugasmu dengan baik.”
“Ibumu adalah ksatria dan kau mewarisi mana dari ibumu, jadi kau harus membantu menjaga kerajaan ini dengan memberikan manamu.”
“Terutama adikmu yang akan menjadi raja dimasa depan … kamu harus memberikan kekuatanmu untuk menjaga adikmu,” ucap raja.
Caroline diam dan memikirkan ingatan yang dia dapat, yang mulia raja selalu membahas topik ini saat ingin mengambil mana Caroline. Dia tahu bahwa Caroline sangat menyayangi ibu dan adiknya meskipun adiknya yang tidak tahu diri itu membencinya.
Saat ini yang mulia raja mulai membuka lapisan yang ada dilantai. “Berdirilah disini.” Perintah raja.
Caroline berjalan dan masuk kedalam lingkaran sihir yang ada dilantai. Saat Caroline masuk kedalam lingkarang sihir, lingkaran itu mulai bercahaya seakan diaktifkan oleh tubuh Caroline sendiri.
Pergelangan Caroline yang diberikan sebuah gelang mulai bercahaya, pada saat itulah Caroline bereaksi.
“Aaaaaaaargh!” Caroline berteriak kesakitan.
Yang mulia yang melihat ini sangat senang, baru beberapa hari dia mengambil mana nya, tetapi sekarang anaknya masih memiliki mana yang banyak.
“Tahan sebentar ini semua demi kerajaan dan adikmu … kamu harus memberikan manamu,” ucap Raja dengan sangat senang.
“Aarrrrrrrrgh …. AAARggggh …” Caroline sangat kesakitan, dia mengeluarkan air matanya dan keringat keluar dari tubuhnya. F***ck Br*****k sial ini sangat sakit sekali, dia kira tidak akan sesakit ini. Dia menuruti raja agar adiknya melihat apa yang terjadi pada caroline, sekarang dia menyesal ini sangat menyakitkan.
Aland yang melihat dari balik pintu merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang, bagaimana bisa ayahnya melakukan ini. Dia ingin masuk kedalam untuk menghentikan ini, tetapi dia tidak bisa masuk karena ada pelindung dari lingkaran sihir. Aland memegang pedang yang dibawanya dan memejamkan matanya, tidak sanggup melihat ini.
Beberapa menit kemudian, akhirnya selesai. Caroline terbaring lemah dilantai.
Raja melihat mana yang terkumpul ditabung besar dalam ruangannya, sangat banyak persediaan mana. Dia yakin akan menang dalam peperangan ini.
“Bangunlah jangan pura – pura lemah … pergi keruanganmu untuk memulihkan manamu,” ucap yang mulia raja dengan acuh tak acuh.
Caroline sangat kesal dengan perkataan saja, dia melihat raja dengan tatapan kejam. Lihat saja bagaimana dia akan membalas ini semua.
Caroline berusaha berdiri, dia terengah – engah. Tubuh ini baru saja pulih, tetapi raja sial ini tidak memperdulikan putrinya sama sekali.
Saat raja sedang asik melihat tabung mana, Caroline keluar berjalan dengan lemah.
“Kakak,” Aland melihat Caroline berjalan dengan lemah keluar. Ini pertama kalinya dia melihat Caroline seperti ini. Caroline yang dia tahu adalah Caroline yang dingin dan kuat. Dia merasa bersalah sekarang.
Caroline melihat Aland yang menatapnya dengan sedih. Dia tidak punya tenaga untuk mengobrol, jadi Caroline mengabaikan Aland dan pergi begitu saja.
“Kakak biar aku bantu,” Aland memegang tangan Caroline.
Caroline menolaknya dan terus berjalan. Dia sangat membenci orang – orang yang ada disini.
“Kakak,” Aland tidak menyangka Caroline menolaknya.
Caroline melirik sekilas dan terus berjalan dengan lemah. “Menjauhlah … aku bukan kakakmu,” ucap Caroline dengan lemah.
“Sejak kapan kau menganggap aku sebagai kakakmu?”
Aland bergidik mendengar ucapan Caroline. Benar dia tidak pernah menganggap Caroline sebagai kakaknya. Dimatanya dia hanya memiliki Edelyn sebagai kakaknya.
Aland menggertakkan giginya. “Biarkan aku membantumu kali ini,” ucap Aland.
Caroline melirik adik itu dan mengabaikannya lagi, berjalan meninggalkan Aland sendirian di lorong istana. Aland yang ditolak oleh kakaknya hanya bisa melihat punggung kakaknya.
Aland pergi berjalan dan memikirkan apa yang baru saja dia lihat.
“Aland!” panggil Edelyn.
“Apa yang kamu lakukan?” tanyanya.
Aland melihat Edelyn dengan gaun yang indah dan pelayan yang melayaninya. Setelah di pikir – pikir, Caroline selalu menggunakan baju yang sama setiap tahun bahkan ada yang sedikit ditambal. Caroline juga tidak pernah memiliki pelayan yang mengikutinya.
“Aland?” panggil Edelyn.
“Ah … aku baru saja ingin kembali ke tempat pelatihan,” jawab Aland.
“Apa kau baik – baik saja berlatih setiap hari? Aku harap kamu tidak memaksakan dirimu,” ucap Edelyn dengan wajah khawatir.
“Aku harus berlatih untuk mejadi lebih kuat.” Aland memegang erat pedang yang ada di pinggangnya.
“Apakah itu perlu? Bukankah memiliki ksatria sudah cukup untuk melindungimu?” tanya Edelyn.
“Jika kau terluka maka hukum saja ksatria itu,” lanjut Edelyn.
Aland terkejut dengan perkataan Edelyn. Bagaimana bisa kakak yang baik hati mengatakan sesuatu seperti hukuman denga mudah?
Saat ini Aland mengingat perkataan Caroline.
“Kau harus terus berlatih untuk menjadi kuat, jangan bergantung pada ksatria.” Caroline saat itu melewati Aland yang sedang bersantai kabur dari kelas pedang.
“Apa maksudmu aku lemah?” teriak Aland marah.
“Tidak maksudku-“
“Aku bukan monster sepertimu.” Aland duduk mengabaikan Caroline.
Caroline ingin berbicara, tetapi dia tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Dia mengigit bibirnya dan pergi meninggalkan Aland sendiri.
“Apa – apan itu,” ucap Aland mengerutkan kening.
Saat itu Aland sangat kesal, tapi sekarang dia tahu bahwa kakaknya Caroline hanya mengkhawatirkannya saja dan mana yang diberikan kakaknya demi dirinya sendiri.
Aland menggertakkan gigi, dia sangat kesal dengan dirinya sendiri.
“Aland? Ada apa denganmu hari ini?” tanya Edelyn.
Aland tersadar kembali. “Ah tidak sepertinya aku sedang tidak enak badan.”
“Aku pergi dulu.” Aland pergi meninggalkan Edelyn bersama pelayannya.
“Ha? apa dia meninggalkanku begitu saja?” Edelyn sangat kesal. Aland biasanya akan bermain dengannya dan bolos dari kelas pedang.
“Tuan Putri tenanglah … mungkin putra mahkota sedang banyak pikiran,” ucap Pelayan menenangkan Edelyn.
“Sudahlah ayo pergi.” Edelyn pergi bersama pelayannya.
Saat ini Caroline berbaring dikamar dengan keringat disekujur tubuhnya.
“Master … “ panggil demon dengan sedih.
“Aku tidak apa – apa … sebentar lagi akan pulih,” ucap Caroline berbaring memejamkan mata.
“Apa kau ingin aku membunuh Raja itu?” tanya Demon dengan serius.
Caroline membuka matanya melihat demon. “Jangan … Aland belum siap untuk mengambil tahta,” ucap Caroline. Meskipun dia tidak terlalu menyukai Aland, tetapi dia masih menghargai Caroline asli yang sangat menyayang adiknya.
Caroline berbaring dengan lelah dan berharap hari berakhir dengan cepat.
Akhir dari Bab 4.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
end
mafiax bodoh gue kira da jago n pibtar in mah aslix bodoh kecewa q baca langsung berhenti baca g jla
2025-03-27
0
Mifta Afandi
goblok mau aja d perdata GK suka lah aq
2024-11-13
1
Osie
caroline bangkit donk..jgn mau di zolimi terus terusan
2024-11-25
0