Caroline sangat puas dengan apa yang dia lakukan barusan. Suasana hatiku sangat bagus sekarang.
Setelah beberapa saat Caroline tiba di aula kerajaan. Dia berada disini lagi, didepan orang – orang yang memandangnya lemah.
“Caroline!” teriak Raja.
Caroline melihat keatas dan melihat Edelyn menangis dipangkuan ibunya.
“Caroline menghadap yang mulia.” Caroline memberi salam kepada raja.
“Apa kau tahu kesalahanmu?” tanya yang mulia Raja.
“Tidak,” jawab Caroline.
“Kakak … aku tahu kakak menginginkan perhiasanku … tapi aku mohon kembalikan kalung itu, itu adalah kalung yang sangat aku sukai.” Edelyn menangis menyalahkan Caroline.
“Darimana kau tahu kalau itu aku?” tanya Caroline.
“Pelayanku melihatmu diam – diam memasuki kamarku,” ucap Edelyn.
Caroline melihat Edelyn dengan tatapan aneh. Apakah ini benar – benar pahlawan wanita? Menggunakan trik rendahan, itu sama sekali tidak estetik.
“Kalau memang aku yang mencuri silahkan periksa saja kamarku,” ucap Caroline.
Saat ini pengawal masuk keaula. “Yang mulia kami tidak menemukan apa – apa!” teriak pengawal.
“Tidak mungkin!” teriak Edelyn.
“Maksudku pasti ada disuatu tempat.” Edelyn segera mengubah suaranya.
“Kami sudah mencarinya tetapi tidak ada.”
Mendengar ini Edelyn menatap pelayan yang dia suruh untuk menyelesaikan tugas itu. Pelayan itu bingung kenapa barang itu tidak ada?
“Bukan aku yang mencurinya,” ucap Caroline.
Raja mengerutkan kening, dia melihat Edelyn dengan tatapan tajam. Edelyn bergidik karena ditatap Raja.
“Mungkin ini hanya kesalah pahaman … mungkin Edelyn menjatuhkannya di suatu tempat,” ucap Ratu Bianca, dia tahu ini tidak berjalan sesuai Rencana.
“Tapi-“
Ratu Bianca menatap Edelyn agar berhenti berbicara. Pelayan yang ditugaskan itupun mulai gemetar. Dimana kalung itu? Dia melihat kearah Caroline dan melihat Caroline tersenyum kepadanya.
Pelayan itu mundu sedikit dan tersandung jatuh kebelakang.
“Aaa.” Teriak pelayan itu.
Saat terjatuh, sesuatu keluar dari kantong pelayan itu. Semua orang melihatnya, itu kalung Edelyn!
Edelyn terkejut. “Kenapa kalungku berada dikantungmu?” teriak Edelyn. Bukankah dia bilang dia sudah menyelesaikan tugasnya?
Pelayan itu juga tidak menyangka kenapa kalung itu ada dikantungnya? Dia sudah menaruhnya kedalam lemari-
Pelayan itu melirik Caroline lagi. “Itu putri Caroline yang melakukannya … putri Caroline yang menaruhnya dikantungku!!” teriak pelayan itu.
“Yang mulia raja percayalah padaku!” pelayan itu menangis ketakutan dan bersujud di depan yang mulia raja.
“Seret dia keruang bawah tanah!!” teriak yang mulia raja.
“Tidak !! aku tidak bersalah … Tuan putri tolong lah aku!” teriak pelayan itu menarik gaun Edelyn.
“Apa yang kalu lakukan? Kau telah mencuri kalungku kau harus menerima hukumannya,” ucap Edelyn. Itu karena kebodohannya jangan salahkan dia.
Pelayan tersebut tidak menyangka putri Edelyn lepas tangan. Saat ini dia telah di tarik paksa oleh pengawal. “Tidak!! Ini bukan aku ini bukan aku!!!”
“Aku tidak menyangka pelayanku sendiri mencuri kalungku,” ucap Edelyn dengan tangis diwajahnya.
Caroline melihat pelayan yang diseret keluar, lalu melihat Edelyn yang sedang berakting menangis. Heh … Tuan yang tidak bertanggung jawab.
“Semua ini adalah kesalahpahaman … kita sudahi sampai disini.”
“Tungu!!” teriak Caroline.
Raja dan yang lainnya berhenti melihat Caroline.
“Ada apa lagi? aku bilang ini sudah selesai,” ucap Raja mengerutkan kening.
“Aku belum mendapatkan keadilan,” ucap Caroline.
“Pelayan itu akan dihukum berat,” jawab Raja.
“Aku ingin Edelyn meminta maaf padaku,” ucap Caroline.
“Apa?! kenapa aku harus meminta maaf?!” teriak Edelyn dengan mata melotot.
“Putri Caroline … yang bersalah adalah pelayan itu karena telah menuduhmu,” ucap Ratu Bianca dengan dingin.
“Bukankah ini salah tuannya karena tidak mengajari bawahannya dengan baik?” ucap Caroline dengan senyum diwajahnya.
“Kamu-“
“Apakah ini ajaran istana kerajaan kita? Mendengarkan pelayan? Bukan pelayan yang mendengar kita?” ucap Caroline.
Ratu Bianca menggertakkan gigi. “Yang terpenting pelayan itu sudah dihukum dengan pantas.”
Raja sangat lelah mendengar ini. “Edelyn minta maaflah,” ucap Raja.
“Ayah?!” Edelyn tidak percaya yang mulia akan menyuruhnya meminta maaf kepada kakaknya yang rendahan ini.
“Apa kau tidak mendengarku?!” teriak raja dengan wajah dingin. Dia tahu ini adalah kelakuan Edelyn yang ingin memfitnah Caroline, tidak disangka ini akan gagal. Sangat menghabiskan waktu.
Edelyn bergidik dan langsung meminta maaf. “Aku minta maaf atas kesalahan pelayanku,” ucap Edelyn dengan suara gemetar karena marah.
Caroline tidak puas dengan permintaan maaf ini, tetapi ini sudah cukup baginya untuk membuat Edelyn diam sementara.
“Aku akan memaafkanmu,” ucap Caroline.
“Ayo semua kita kembali.” Raja menyuruh semuanya untuk bubar.
Caroline keluar dari aula. Akhirnya selesai, dia sangat ingin berbaring dikasurnya yang empuk.
“Kakak! Apa kau baik – baik saja?” Aland tiba – tiba muncul memegang pundak Caroline.
“Darimana saja kau?” tanya Caroline.
“Aku tadi pergi kepelatihan dan mendengar pengawal mengatakan kalau kau mencuri kalung kak Edelyn,” ucap Aland.
“Ini sudah selesai,” jawab Caroline. Benar – benar tidak berguna.
Caroline pergi meninggalkan Aland. “Kakak-“
“Aland! apa yang kau lakukan?” panggil Edelyn.
Aland melihat Edelyn dengan mata merah. “Kak Edelyn apa kau baru saja menangis?” tanya Aland dengan cemas.
“Ya … kau tahu pelayan itu …” Edelyn mengeluh kepada Aland, dia menceritakan semua yang terjadi.
Caroline berhenti dan melihat Aland yang mengkhawatirkan Edelyn. “Sepertinya semua lelaki lemah dengan wanita yang lembut,” gumam Caroline.
Diperbatasan.
“Ah!” teriak seorang wanita.
“Beraninya kau menyentuhku?” ucap duke.
“Duke!” teriak ajudannya.
“meskipun kau keluarga jauh yang mulia raja aku tidak akan segan – segan padamu,” ucap Duke dengan wajah dingin.
“A-aku … “ wanita itu gemetar. Awalnya yang mulia raja mengatakan kalau dia ingin Duke segera menikah. Dia dengan sukarela datang keperbatasan untuk menemuinya, dia kira duke akan terharu dengan kedatangannya. Ternyata itu berbeda dengan apa yang dia bayangkan.
“Antar dia pulang,” ucap Duke sambil mencubit ujung alisnya.
“Nona ayo berdiri,” ucap sang Ajudan.
Wanita tersebut dengan cepat berdiri dan keluar dengan air mata. Dia sangat menyesal sudah datang kesini.
Setelah wanita itu pergi akhirnya ruangan menjadi tenang kembali. Bisa – bisanya yang mulia raja mengirimkan wanita ke perbatasan!
Duke bersandar dikursinya. Dia tahu maksud dan tujuan yang mulia rajam dia ingin mengendalikannya dengan menikahinya dengan keluarganya. Jika tidak bisa dia akan menikahkannya dengan anak yang berstatus rendah sehingga tidak mengancam raja.
Duke adalah orang yang berpotensi mengambil alih tahta. Ayahnya adalah adik dari raja sebelumnya, kekuatan ayahnya sangat kuat dan melebihi sang raja itu sendiri. Oleh karena itu raja terdahulu meracuni ayahnya. Setelah ayahnya dibunuh tidak disangka anaknya memiliki kekuatan seperti ayahnya.
Pada saat itu banyak sekali pembunuh bayaran yang menghampirinya dan juga racun banyak diberikan kepadanya. Tetapi itu semua gagal, pada saat itulah raja mengganti strateginya dan membuat dirinya sendiri berada dibawah kendali kerajaan.
“Duke Cedric! Semu ada disini,” ucap ajudan.
Cedric berdiri dan mengambil baju perangnya. “Baiklah saatnya kita memulai serangan,” ucap Duke Cedric.
Caroline kembali kekamarnya dan itu semua dalam keadaan berantakan. Sial! bisakah mereka merapikannya kembali setelah membongkarnya?
Caroline dan Demon akhirnya membereskan lemari yang berantakan itu sendiri serta barang – barang yang jatuh dilantai. Sial! tidakkah kalian membiarkan aku beristirahat sebentar?
Akhir dari Bab 9.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
caroline perintahkan demon utk mengerjai ratu,raja sm adelyn... biar tambah seru
2024-08-15
0
Kusmawati Hartono
next
2024-04-22
0