Bab 18 Tanaman Merambat

Caroline berjalan terus menunggangi kuda.

“Tuan Putri ini pedang anda.” Ebi memberikan pedangnya.

“Sudah saya bersihkan.”

“Terimakasih,” ucap Caroline.

Semua prajurit terdiam semua. Setelah melihat apa yang dilakukan Caroline terhadap teman mereka, mereka tidak berani lagi berbicara tentang tuan putri Caroline dan membenarkan rumor yang beredar. Tuan Putri adalah monster!!

“Apa kuda ini sudah menyerap mana?” tanya Caroline.

“Karena baru pertama kali memakan mana master maka prosesnya butuh beberapa saat,” jawab Demon.

“Tetapi tiga puluh menit lagi tubuh kuda ini akan menyerap mana sepenuhnya,” jawab Nix.

“Bagus … setelah ini kita akan pergi duluan,” ucap Caroline.

“Jika master menaiki aku maka aku akan lebih cepat,” ucap Demon.

“Tidak… tentu saja terbang adalah pilihan yang lebih tepat,” ucap Nix.

“Aku tidak akan menaiki kalian berdua.”

“Tubuh kalian terlalu besar,” ucap Caroline.

“Master tubuh kami bisa menyesuaikan keadaan.”

“Tergantung musuh yang dihadapi,” ucap Demon.

“Tetap saja aku tidak akan menaikimu,” ucap Caroline.

Demon dan Nix kecewa karena Caroline tidak mau menaiki mereka.

Caroline melihat baju besi yang dipakai prajurit lain serta seragam yang mereka pakai dan melihat seragam dan baju besinya yang dia pakai.

Raja sialan!! Dia hanya memberikan baju besi biasa tanpa lambang kerajaan begitu juga seragamnya hanya seragam biasa. Dia bahkan tidak terlihat lebih baik dari prajurit dengan tingkat paling rendah. Aku curiga kuda yang diberikan orang tua itu kuda paling lemah. Br*****k.

“Sepertinya kau juga kuda yang terbuang ya?”

“Aku akan membuatmu menjadi kuda yang tangguh.” Caroline mengelus leher kuda yang dia tunggangi.

“Mater aku juga mau di elus!” ucap Demon.

“Aku juga,” ucap Nix.

“Diamlah kalian.”

“Tuan Putri… kita akan istirahat sebentar,” ucap Ebi.

Caroline berhenti dan turun dari kuda.

“Apakah masih jauh?” tanya Caroline.

“Ya … diperkirakan besok malam kita sampai,” jawab Ebi.

“Master kuda sudah terisi penuh dengan mana,” ucap Demon.

“Apa persediaan makanan masihada?” tanya Caroline.

“untuk malam ini masih ada,” jawab Ebi.

“Siapkan beberapa untukku,” ucap Caroline.

“Ya?”

“Apa kau tidak dengar?” ucap Caroline lagi.

“B-baiklah.” Ebi segera pergi untuk melakukan perintah Caroline.

“Apa kita akan pergi sekarang master?” tanya Nix.

“Ya … aku ingin cepat tiba disana,” ucap Caroline.

“Tuan Putri … ini beberapa daging.” Ebi menyerahkan kotak kecil yang berisikan daging dengan es didalamnya.

“Baiklah.” Caroline meminum minumannya dan mengelap mulutnya dengan lengannya.

“Aku akan pergi duluan,” ucap Caroline sambil menaiki kuda.

“Apa?!”

“Kalian berhati – hatilah dijalan.” Caroline segera menggerakkan kudanya dan pergi.

“Tuan Putriiii!!!” teriak Ebi memanggil Caroline.

“Apa tidak apa – apa meninggalkan mereka sendirian?” tanya Demon. Mereka manusia yang lemah.

“Kalau kau mau tinggal silahkan,” ucap Caroline.

“Tidak!! Bukan itu maksudku,” ucap Demon.

“Kalau begitu diamlah … aku akan fokus mengendarai kuda,” ucap Caroline.

“Hahahah …” tawa Nix.

Demon mengerutkan kening dan melirik Nix dengan tatapan tajam.

Caroline fokus menunggangi kudanya. Memang benar ini terasa lebih cepat!

“Apa kau merasakan kekuatanmu bertambah?” tanya Caroline kepada kudanya.

Kuda itu berjingkrak dua kali dan berlari kembali. “Hahaha … sepertinya kau juga merasakannya … aku akan melatihmu menjadi kuda tercepat,” ucap Caroline.

Caroline terus menunggangi kuda.

“Nix … kau sebagai pemandu jalan terbanglah didepanku,” ucap Caroline

“Baik master!” Nix segera terbang didepan Caroline untuk memandu jalan.

Nix bisa melihat dengan jarak yag cukup jauh. Ini salah satu kelebihannya, oleh karena itu Caroline meminta bantuan Nix untuk memandu mereka dalam perjalanan.

“Master berhenti!!” teriak Demon.

“Ada apa?!” tanya Caroline.

Demon mulai mengendus dan menggerakkan telinganya. “Ada sesuatu disini,” ucap Demon.

Beberapa saat kemudian tanah dimana tempat Caroline berdiri tiba- tiba bergerak.

“Apa ini?!”

Tanah itu menghisap kaki kuda yang di tunggangi Caroline.

“Sial!!”

“Demon!! Nix!!!” teriak Caroline.

Demon dan Nix berubah kewujud aslinya.

Nix menarik Caroline, sedangkan Demon mengangkat kuda dengan ekornya. Demon mengubah ukurannya menjadi lebih besar agar bisa mengangkat kuda tersebut.

“Apa ini lumpur penghisap?” tanya Caroline.

“Bukan … ini adalah tanaman penghisap,” ucap Demon mengerutkan kening.

“Tanaman?” Caroline meihat lumpur yang terus mengeluarkan gelembung.

Tentakel tanaman tiba tiba muncul dari dalam lumpur menyerang Caroline.

“Prajurit lain nanti akan melewati jalan ini.”

“Apakah bisa dimusnahkan dengan api?” tanya Caroline.

“Bisa … hanya saja kita harus mengeluarkan seluruh tubuhnya,” ucap Nix.

Caroline melihat tentakel yang terus keluar menyerang mereka.

“Mendekatlah kebawah,” ucap Caroline.

Nix membawa Caroline kebawah. Caroline memusatkan mananya dan memotong semua tentakel yang keluar.

“KYSAAAAKKKK!!!” terdengar suara yang melengking.

Tanah menjadi lebih bergetar lebih kuat.

“Master hati – hati!”

Caroline berpegang erat pada Nix.

Tanaman itu keluar dari tanah dengan suara yang keras dan tentakel yang lebih banyak.

“Keluar juga kau,” ucap Caroline.

“Nix bakar sekarang!” teriak Caroline.

Nix segera mengeluarkan api dari paruhnya dan membakar tanaman itu.

Tidak lama kemudian tanaman itu terbakar semua dan tidak ada pergerakan.

“Apa sudah selesai?” tanya Demon.

Caroline fokus melihat tanaman yang terbakar itu. “Belum!”

“Nix cepat naik!” teriak Caroline.

Tanaman itu hidup kembali. “Br*****k!!!”

“Demon bantu aku memotong tentakel dan kepala tanaman!” teriak Caroline.

Demon dengan Kuda di ekornya segera menyerang tanaman itu sesuai perintah Caroline.

Saat memotong tanaman itu Caroline tahu tanaman itu membutuhkan waktu beberapa detik untuk tumbuh kembali. Demon dan Caroline terus memotong tentakel itu dengan cepat dan akhirnya memotong kepala tanaman itu.

“Nix sekarang!!” teriak Caroline.

Segera Nix mengeluarkan Apinya lagi yang lebih besar dan panas. Tanaman itu terbakar dengan cepat.

Caroline bernafas dengan terengah – engah. Ini membutuhkan kecepatan yang ekstra untuk memotongnya agar waktunya tepat.

“Apa itu akan tumbuh kembali?” ucap Nix mengeluarkan asap dari mulutnya. Sudah lama sekali semenjak dia menggunakan kekuatannya, walaupun belum maksimal ini cukup membuatnya bernostalgia.

Tanaman itu sama sekali tidak bergerak lagi.

“Haha … sepertinya selesai!” teriak Caroline sangat senang.

“Kita berhasil!!” ucap Demon.

Nix menurunkan Caroline kebawah dan Demon menurunkan kuda dari ekornya.

Caroline berjalan kearah tanaman itu dan menyentuh tanaman itu dengan pedangnya.

“Ini benar – benar gosong,” ucap Caroline menutup hidungnya.

Caroline baru pertama kali melihat tanaman besar, ini seperti game atau film action fantasi yang pernah dia tonton.

“Apa ada banyak monster seperti ini?” tanya Caroline.

“Aku tidak tahu … sepertinya lumayan,” jawab Demon.

Caroline melihat sesuatu dikepala tanaman itu. apa itu? sesuatu bersinar berwarna hijau.

“Ada sesuatu di kelopak bunga itu,” ucap Caroline sambil berjalan.

Menyentuh kelopak itu, kelopak itu mengeluarkan lendir hijau yang menjijikkan.

“Ewww …master apa master ingin memegang itu?” tanya Nix.

Caroline tidak menjawabnya dan mengambil benda itu dengan tangannya.

“Kristal?”

Akhir dari Bab 18.

Terpopuler

Comments

Shinta Dewiana

Shinta Dewiana

hayu ambil intisarinya..

2024-11-06

0

ci cupu

ci cupu

enak alurnya sejauh ini

2024-08-18

0

Solekah

Solekah

/Good//Good//Good/

2024-08-09

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Memasuki Tubuh Orang Lain
2 Bab 2 Dunia didalam Novel
3 Bab 3 Demon
4 Bab 4 Saudara
5 Bab 5 Keluar Istana
6 Bab 6 Pusat Perbelanjaan
7 Bab 7 Mary Aurelius
8 Bab 8 Pelayan
9 Bab 9 Duke Cedric
10 Bab 10 Monster
11 Bab 11 Serigala besar
12 Bab 12 Rencana Raja
13 Bab 13 Sihir Hitam
14 Bab 14 Menuju Perbatasan
15 Bab 15 Batu di Goa
16 Bab 16 Perjalanan hari pertama
17 Bab 17 Melanjutkan perjalanan
18 Bab 18 Tanaman Merambat
19 Bab 19 Batu Monster
20 Bab 20 Evan Davis
21 Bab 21 Camp perbatasan
22 Bab 22 Strategi
23 Bab 23 Menjadi Tawanan?
24 Bab 24 Camp Kerajaan Argentum
25 Bab 25 Goa
26 Bab 26 Pedang
27 Bab 27 Strategi
28 Bab 28 Perisapan Perang
29 Bab 29 Penyerangan
30 Bab 30 Menyerah dan kalah
31 Bab 31 Menuju Istana Eldoria
32 Bab 32 Titah Raja Argentum
33 Bab 33 Sebelum keributan
34 Bab 34 Sebelum keributan (2)
35 Bab 35 Ratu Bianca
36 Bab 36 Perselingkuhan
37 Bab 37 Perselingkuhan (2)
38 Bab 38 Istana Dingin
39 Bab 39 Pesta Dansa
40 Bab 40 Pesta Dansa (2)
41 Bab 41 Brian La Frins
42 Bab 42 Rencana selanjutnya
43 Bab 43 Berangkat
44 Bab 44 Cyrus Wise
45 Bab 45 Palace Blossom
46 Bab 46 Lily
47 Bab 47 Gosip
48 Bab 48 Roke
49 Bab 49 Line dan Riric
50 Bab 50 Berburu monster lagi
51 Bab 51 Surat undangan
52 52 Istana Argentum
53 Bab 53 Istana Argentum (2)
54 Bab 54 Pembicaraan dengan Raja
55 Bab 55 Pelayan pribadi
56 Bab 56 Ani
57 Bab 57 Resor
58 Bab 58 Hari Pernikahan
59 Bab 59 Hari Pernikahan 2
60 Bab 60 Persaingan
61 Bab 61 Putra Mahkota Cyrus
62 Bab 62 Tarian Pedang
63 Bab 63 Abu Krystal
64 Bab 64 Melihat Cahaya
65 Bab 65 Teman lama
66 Bab 66 Sabrina Luves
67 Bab 67 Saingan
68 Bab 68 Bangun
69 Bab 69 Hari - hari biasa
70 Bab 70 Surat
71 Bab 71 Hukuman
72 Bab 72 Oci
73 Bab 73 Menemui Raja
74 Bab 74 D'zem Lor
75 75 Meracik Ramuan
76 76 Ruang yang di sembunyikan
77 Bab 77 Hewan Dewa
78 Bab 78 Sebelum badai datang
79 Bab 79 Padang pasir
80 Bab 80 Sihir Hitam
81 Bab 81 Membersihkan Sampah
82 Bab 82 Ramuan Obat
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Memasuki Tubuh Orang Lain
2
Bab 2 Dunia didalam Novel
3
Bab 3 Demon
4
Bab 4 Saudara
5
Bab 5 Keluar Istana
6
Bab 6 Pusat Perbelanjaan
7
Bab 7 Mary Aurelius
8
Bab 8 Pelayan
9
Bab 9 Duke Cedric
10
Bab 10 Monster
11
Bab 11 Serigala besar
12
Bab 12 Rencana Raja
13
Bab 13 Sihir Hitam
14
Bab 14 Menuju Perbatasan
15
Bab 15 Batu di Goa
16
Bab 16 Perjalanan hari pertama
17
Bab 17 Melanjutkan perjalanan
18
Bab 18 Tanaman Merambat
19
Bab 19 Batu Monster
20
Bab 20 Evan Davis
21
Bab 21 Camp perbatasan
22
Bab 22 Strategi
23
Bab 23 Menjadi Tawanan?
24
Bab 24 Camp Kerajaan Argentum
25
Bab 25 Goa
26
Bab 26 Pedang
27
Bab 27 Strategi
28
Bab 28 Perisapan Perang
29
Bab 29 Penyerangan
30
Bab 30 Menyerah dan kalah
31
Bab 31 Menuju Istana Eldoria
32
Bab 32 Titah Raja Argentum
33
Bab 33 Sebelum keributan
34
Bab 34 Sebelum keributan (2)
35
Bab 35 Ratu Bianca
36
Bab 36 Perselingkuhan
37
Bab 37 Perselingkuhan (2)
38
Bab 38 Istana Dingin
39
Bab 39 Pesta Dansa
40
Bab 40 Pesta Dansa (2)
41
Bab 41 Brian La Frins
42
Bab 42 Rencana selanjutnya
43
Bab 43 Berangkat
44
Bab 44 Cyrus Wise
45
Bab 45 Palace Blossom
46
Bab 46 Lily
47
Bab 47 Gosip
48
Bab 48 Roke
49
Bab 49 Line dan Riric
50
Bab 50 Berburu monster lagi
51
Bab 51 Surat undangan
52
52 Istana Argentum
53
Bab 53 Istana Argentum (2)
54
Bab 54 Pembicaraan dengan Raja
55
Bab 55 Pelayan pribadi
56
Bab 56 Ani
57
Bab 57 Resor
58
Bab 58 Hari Pernikahan
59
Bab 59 Hari Pernikahan 2
60
Bab 60 Persaingan
61
Bab 61 Putra Mahkota Cyrus
62
Bab 62 Tarian Pedang
63
Bab 63 Abu Krystal
64
Bab 64 Melihat Cahaya
65
Bab 65 Teman lama
66
Bab 66 Sabrina Luves
67
Bab 67 Saingan
68
Bab 68 Bangun
69
Bab 69 Hari - hari biasa
70
Bab 70 Surat
71
Bab 71 Hukuman
72
Bab 72 Oci
73
Bab 73 Menemui Raja
74
Bab 74 D'zem Lor
75
75 Meracik Ramuan
76
76 Ruang yang di sembunyikan
77
Bab 77 Hewan Dewa
78
Bab 78 Sebelum badai datang
79
Bab 79 Padang pasir
80
Bab 80 Sihir Hitam
81
Bab 81 Membersihkan Sampah
82
Bab 82 Ramuan Obat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!