Bab 5 Keluar Istana

Edelyn pergi kekamar Ratu untuk minum teh.

“Ibu … Aland membuatku kesal hari ini,” keluah Caroline dengan kesal didepan ibunya.

Ratu Bianca menyesap the nya dengan tenang. “Ada apa?” tanya Ratu.

“Tidak … hanya saja dia tidak menemaniku hari ini dan memilih untuk berlatih pedang,” jawab Edelyn.

Medengar ini Ratu Bianca hanya bisa menarik nafas. “Tenanglah … mungkin putra mahkota sedag ditekan oleh raja.”

“Kau tahu raja sangat berharap pada putra mahkota,” jawab Ratu.

Edelyn hanya diam dan mengerutkan bibirnya. “Apa hebatnya menjadi putra mahkota,” gumam Edelyn. Dia sangat kesal jika sesuatu tidak berjalan seperti keinginannya.

Melihat putrinya yang masih sangat kesal, Ratu merasa kali itu imut. “Sudahlah … kita akan mendengar kabar bahagia nanti,” ucapnya.

“Kabar apa?” tanya Edelyn penasaran.

Yang Mulia Ratu membuka mulutnya dan berbisik kepada anaknya. Mendengar ini mata Edelyn cerah seketika, “Benarkah?!”

“Ya … tunggu saja perintah dari yang mulia raja.”

“Hahaha … aku sangat tidak sabar.”

Setelah beberapa saat, Edelyn berpamitan dengan ibunya dan pergi berbelanja dengan mood yang bagus.

“Ayo … hari ini aku ingin berbelanja,” ucap Edelyn. Dia selalu berbelanja disaat moodnya sedang bagus.

“Baik Tuan Putri,” jawab Pelayan.

Saat ini dikamar, Caroline sudah membersihkan badannya dari keringat.

“Master apa kamu sudah baikan?” tanya Demon.

“Yah … ini sangat baik sekarang.” Caroline mengeringkan rambutnya yang basah.

“Kau bilang aku bisa memanggilmu dan wujudmu akan berubah?” tanya Caroline.

“Benar sekali,” jawab Demon dengan bangga.

“Bagaimana caranya?” tanya Caroline.

“Mater hanya memusatkan pikiran master dan memanggil namaku,” jawab Demon.

“Tanda ditangan akan bercahaya.” Demon menunjuk punggung tangan Caroline.

Caroline melihat punggung tangannya yang tidak terlihat apa – apa. “Haruskah aku mencobanya sekarang?” gumam Caroline.

Caroline mulai berdiri dan memejamkan matanya untuk memusatkan pikirannya. Saat ini Caroline merasakan mana nya mengalir kepunggung tangannya. “DEMON!” teriak Caroline.

Cahaya yang sangat terang menyilaukan penglihatan Caroline. Saat Caroline membuka mata, dia melihat seekor serigala hitam besar dengan tanda dikeningnya. Caroline melihat punggung tangannya dan itu sama dengan tanda yang ada di kening Demon.

“Ini sangat keren!” ucap Caroline dengan kagum.

“Berapa lama kamu bertahan dengan wujud ini?” tanya Caroline sambil mengelus bulu serigala itu.

“Selama master memiliki mana, maka aku bisa bertahan lama dengan wujud ini,” jawab Demon.

“Ngomong – ngomong suaramu juga berubah,” ucap Caroline.

“Tentu saja!” teriak Demon. Bagaimana bisa dia memiliki suara bayi saat dalam wujud besar seperti ini.

“Lalu apa saja kekuatanmu?” tanya Caroline.

“Aku bisa memanggil anak buahku yang lain …” Demon mulai memanggil anak buahnya.

Serigala besar muncul sangat banyak, itu semua besar tetapi tidak melebihi ukuran tubuh Demon. Demon berbicara kepada mereka dan memperkenalkan Caroline sebagai master. Mereka semua tunduk kepada Caroline dan mengingat perintah atasannya.

“Ini cukup bagus,” ucap Caroline. Saat ini Demon sudah menyuruh mereka semua kembali.

“Apa ada yang lain?” tanya Caroline.

“Aku memiliki serangan yang mematikan,” jawab Demon.

Caroline diam dan memikirkannya, ini akan sangat membantu jika ada musuh yang menyerangnya.

“Bagaimana cara mengembalikanmu?” tanya Caroline.

“Cukup mudah … master hanya menyuruhku untuk kembali,” jawab Demon sambil mengelilingi Caroline.

“Kembali!” ucap Caroline.

Demon menghilang dan kembali kewujud yang hanya Caroline yang bisa melihatnya.

Caroline sangat puas dengan apa yang didapatkannya. Setelah mengeringkan rambut Caroline ingin mengganti bajunya. Melihat lemari dia hanya memiliki sedikit gaun dan banyak baju pelatihan.

“Aku tidak bisa memakai baju ksatria setiap hari,” ucap Caroline.

“Bagaimana kalau belanja?” tanya Demon.

“Hmmm… itu ide yang bagus,” ucap Caroline. Pemilik tubuh asli sangat jarang sekali belanja. Dia memiliki uang tetapi tidak membelanjakannya. Apa itu? Menyia – nyiakan kerja keras.

Caroline bukanlah orang yang suka berhemat. Jika dia memiliki uang maka dia harus mengembangkan uang itu atau membelanjakannya.

“Karena aku akan pindah kekerajaan tetangga … maka aku tidak perlu membuka bisnis disini,” pikir Caroline.

“Aku akan menghabiskan uang untuk berbelanja,” ucap Caroline dengan senang hati.

Caroline memilih gaun yang cukup layak untuk dibawa keluar.

“Ini sangat sederhana tapi cukup bagus.”

“Karena wajah ini sangat menawan, apa yang dia pakai maka akan terliat bagus,” ucap Caroline dengan bangga.

Di arena pelatihan.

“Apa yang mulia tidak ingin berlatih dengan pedang yang diberikan yang mulia raja?” tanya pelatih.

“Tidak … aku akan menggunakan pedang biasa,” jawab Aland dengan yakin.

Dia melihat pedang yang diberikan ayahnya dan mengingat mana yang diambil dari kakanya sendiri. Saat dia memakai pedang itu rasanya dia seperti membunuh kakaknya sendiri. Meskipun dia tidak menyukai kakaknya dia tidak akan [unya pemikiran untuk membunuh atau menggunakan kekuatan kakaknya untuk keuntungannya sendiri.

Pelatih yang mendengar jawaban putra mahkota merasa sangat senang. Karena sudah berulang kali dia menyarankan untuk menggunakan pedang biasa agar kekuatannya tidak selalu bergantung pada mana dipedang itu.

Aland yang sedang berlatih tidak sengaja melihat Caroline berjalan.

“Apa benar ini jalannya?” tanya Caroline. Pemilik tubuh ini tidak pernah keluar dari istana bahkan pelayan tidak ada yang menemaninya berjalan.

“Ya … aku melihatnya saat berkeliling,” jawab Demon.

“Kakak!”

Caroline melihat Aland yang berlari kearahnya.

“Tch … kenapa dia kemari?” gumam Caroline. Dia tidak ingin berinteraksi dengan keluarga kerajaan saat ini.

“Apa kau akan keluar?” tanya Aland.

“Ya,” jawab Caroline dengan singkat.

“Kalau begitu aku akan menemanimu,” jawab Aland menawarkan diri.

Caroline melihat Aland yang berkeringat dan mengerutkan kening. “Aku tidak bisa membawamu karena kau berkeringat,” jawab Caroline menutup hidung.

“Apa? aku akan mandi dulu,” ucap Aland.

“Tidak … aku akan pergi sendiri.” Caroline hendak pergi meninggalkan Aland.

“Apa kau tahu jalan keluar? Apa kereta sudah disiapkan?” tanya Aland.

Caroline berhenti mendengar kata – kata ini. Dia sama sekali tidak tahu jalan dan juga dia tidak tahu cara menyiapkan kereta.

Melihat reaksi kakaknya Aland tersenyum, dia tahu kakaknya tidak pernah keluar istana.

“Kau membutuhkanku,” jawab Aland.

Caroline menggertakkan giginya. “Lima menit.”

“Apa?” tanya Aland.

“Aku akan memberimu waktu lima menit.” Caroline menatap Aland dengan kesal.

“Baiklah tunggu aku.” Aland segera berlari untuk membersihkan dirinya.

Caroline mellihat Aland pergi dan duduk dikursi yang ada didekatnya, huh … aku harap ini akan berjalan lancar, dia hanya ingin berbelanja dengan tenang.

Beberapa menit kemudian. “Kakak! Ayo kita berangkat ajak Aland.”

Caroline melihat Aland dengan tatapan aneh. “Ada apa dengan penampilanmu itu?” tanya Caroline.

“Aku selalu menyamar saat keluar, kecuali saat bersama kak Edelyn-“ Aland berhenti berbicara dan melirik Caroline.

“….” Caroline tidak terlalu mempermasalahkannya.

“Ayo kita pergi.”

“Ayo!” ucap Aland.

Mereka berdua pergi menggunakan kereta biasa tanpa lambang istana agar tidak menarik perhatian banyak orang.

Caroline memegang rambut silvernya. “Apa menurutmu aku harus menyamar juga?” tanya Caroline dengan wajah datar.

“Tidak perlu … kakak jarang keluar jadi tidak banyak yang tahu.”

“Hmmm … benar juga.” Caroline menyandarkan dagunya dan melihat keluar jendela. Apa orang – orang sudah melupakan wujud ibunya? Sepertinya tidak banyak orang yang memiliki rambut silver.

“Banyak orang yang mengubah warna rambut mereka agar sama dengan ibu, jadi itu tidak asing lagi,” ucap Aland. Ini pertama kalinya dia membicarakan tentang ibu mereka.

Aland tidak merasakan apa – apa saat membicarakan ini karena dia sama sekali belum pernah bertemu ibu mereka.

Dia melihat Caroline dengan wajah dinginnya. Banyak yang bilang kalau wajah kakak sangat mirip dengan ibu, itu pasti sangat cantik. Ayah membakar semua gambar ibu sehingga dia tidak pernah melihatnya.

“Menurutmu ibu orang seperti apa?” tanya Aland.

Caroline melirik Aland. Kenapa tiba – tiba menanyakan ini? Dia juga tidak tahu. Caroline mecoba mengingat dari ingatan yang ditinggalkan tubuh aslinya.

“Dia orang yang baik dan tangguh,” ucap Caroline. Dia tidak salah karena ibu mereka adalah master pedang terkuat.

“dan juga …” Caroline berhenti berbicara.

Aland penasaran.

“Sangat cantik sepertiku,” ucap Caroline dengan pancaran bangga dimatanya.

“….” Aland hanya diam. Yah … dulu dia tidak memperhatikannya tetapi kakaknya memang sangat cantik dibandingkan dengan kak Edelyn. Tunggu! Apa yang aku pikirkan?

Aland dan Caroline melanjutkan perjalanan mereka dengan kesunyian didalam kereta.

Akhir dari Bab 5.

Terpopuler

Comments

Shinta Dewiana

Shinta Dewiana

geregetan ini dg si bunga lotus adelyn....pengen tak pijek2 deh

2024-11-06

0

Rafinsa

Rafinsa

thypo

2024-11-09

0

Ivan Fadilah Fadilah

Ivan Fadilah Fadilah

semAngat kak

2024-05-04

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Memasuki Tubuh Orang Lain
2 Bab 2 Dunia didalam Novel
3 Bab 3 Demon
4 Bab 4 Saudara
5 Bab 5 Keluar Istana
6 Bab 6 Pusat Perbelanjaan
7 Bab 7 Mary Aurelius
8 Bab 8 Pelayan
9 Bab 9 Duke Cedric
10 Bab 10 Monster
11 Bab 11 Serigala besar
12 Bab 12 Rencana Raja
13 Bab 13 Sihir Hitam
14 Bab 14 Menuju Perbatasan
15 Bab 15 Batu di Goa
16 Bab 16 Perjalanan hari pertama
17 Bab 17 Melanjutkan perjalanan
18 Bab 18 Tanaman Merambat
19 Bab 19 Batu Monster
20 Bab 20 Evan Davis
21 Bab 21 Camp perbatasan
22 Bab 22 Strategi
23 Bab 23 Menjadi Tawanan?
24 Bab 24 Camp Kerajaan Argentum
25 Bab 25 Goa
26 Bab 26 Pedang
27 Bab 27 Strategi
28 Bab 28 Perisapan Perang
29 Bab 29 Penyerangan
30 Bab 30 Menyerah dan kalah
31 Bab 31 Menuju Istana Eldoria
32 Bab 32 Titah Raja Argentum
33 Bab 33 Sebelum keributan
34 Bab 34 Sebelum keributan (2)
35 Bab 35 Ratu Bianca
36 Bab 36 Perselingkuhan
37 Bab 37 Perselingkuhan (2)
38 Bab 38 Istana Dingin
39 Bab 39 Pesta Dansa
40 Bab 40 Pesta Dansa (2)
41 Bab 41 Brian La Frins
42 Bab 42 Rencana selanjutnya
43 Bab 43 Berangkat
44 Bab 44 Cyrus Wise
45 Bab 45 Palace Blossom
46 Bab 46 Lily
47 Bab 47 Gosip
48 Bab 48 Roke
49 Bab 49 Line dan Riric
50 Bab 50 Berburu monster lagi
51 Bab 51 Surat undangan
52 52 Istana Argentum
53 Bab 53 Istana Argentum (2)
54 Bab 54 Pembicaraan dengan Raja
55 Bab 55 Pelayan pribadi
56 Bab 56 Ani
57 Bab 57 Resor
58 Bab 58 Hari Pernikahan
59 Bab 59 Hari Pernikahan 2
60 Bab 60 Persaingan
61 Bab 61 Putra Mahkota Cyrus
62 Bab 62 Tarian Pedang
63 Bab 63 Abu Krystal
64 Bab 64 Melihat Cahaya
65 Bab 65 Teman lama
66 Bab 66 Sabrina Luves
67 Bab 67 Saingan
68 Bab 68 Bangun
69 Bab 69 Hari - hari biasa
70 Bab 70 Surat
71 Bab 71 Hukuman
72 Bab 72 Oci
73 Bab 73 Menemui Raja
74 Bab 74 D'zem Lor
75 75 Meracik Ramuan
76 76 Ruang yang di sembunyikan
77 Bab 77 Hewan Dewa
78 Bab 78 Sebelum badai datang
79 Bab 79 Padang pasir
80 Bab 80 Sihir Hitam
81 Bab 81 Membersihkan Sampah
82 Bab 82 Ramuan Obat
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Memasuki Tubuh Orang Lain
2
Bab 2 Dunia didalam Novel
3
Bab 3 Demon
4
Bab 4 Saudara
5
Bab 5 Keluar Istana
6
Bab 6 Pusat Perbelanjaan
7
Bab 7 Mary Aurelius
8
Bab 8 Pelayan
9
Bab 9 Duke Cedric
10
Bab 10 Monster
11
Bab 11 Serigala besar
12
Bab 12 Rencana Raja
13
Bab 13 Sihir Hitam
14
Bab 14 Menuju Perbatasan
15
Bab 15 Batu di Goa
16
Bab 16 Perjalanan hari pertama
17
Bab 17 Melanjutkan perjalanan
18
Bab 18 Tanaman Merambat
19
Bab 19 Batu Monster
20
Bab 20 Evan Davis
21
Bab 21 Camp perbatasan
22
Bab 22 Strategi
23
Bab 23 Menjadi Tawanan?
24
Bab 24 Camp Kerajaan Argentum
25
Bab 25 Goa
26
Bab 26 Pedang
27
Bab 27 Strategi
28
Bab 28 Perisapan Perang
29
Bab 29 Penyerangan
30
Bab 30 Menyerah dan kalah
31
Bab 31 Menuju Istana Eldoria
32
Bab 32 Titah Raja Argentum
33
Bab 33 Sebelum keributan
34
Bab 34 Sebelum keributan (2)
35
Bab 35 Ratu Bianca
36
Bab 36 Perselingkuhan
37
Bab 37 Perselingkuhan (2)
38
Bab 38 Istana Dingin
39
Bab 39 Pesta Dansa
40
Bab 40 Pesta Dansa (2)
41
Bab 41 Brian La Frins
42
Bab 42 Rencana selanjutnya
43
Bab 43 Berangkat
44
Bab 44 Cyrus Wise
45
Bab 45 Palace Blossom
46
Bab 46 Lily
47
Bab 47 Gosip
48
Bab 48 Roke
49
Bab 49 Line dan Riric
50
Bab 50 Berburu monster lagi
51
Bab 51 Surat undangan
52
52 Istana Argentum
53
Bab 53 Istana Argentum (2)
54
Bab 54 Pembicaraan dengan Raja
55
Bab 55 Pelayan pribadi
56
Bab 56 Ani
57
Bab 57 Resor
58
Bab 58 Hari Pernikahan
59
Bab 59 Hari Pernikahan 2
60
Bab 60 Persaingan
61
Bab 61 Putra Mahkota Cyrus
62
Bab 62 Tarian Pedang
63
Bab 63 Abu Krystal
64
Bab 64 Melihat Cahaya
65
Bab 65 Teman lama
66
Bab 66 Sabrina Luves
67
Bab 67 Saingan
68
Bab 68 Bangun
69
Bab 69 Hari - hari biasa
70
Bab 70 Surat
71
Bab 71 Hukuman
72
Bab 72 Oci
73
Bab 73 Menemui Raja
74
Bab 74 D'zem Lor
75
75 Meracik Ramuan
76
76 Ruang yang di sembunyikan
77
Bab 77 Hewan Dewa
78
Bab 78 Sebelum badai datang
79
Bab 79 Padang pasir
80
Bab 80 Sihir Hitam
81
Bab 81 Membersihkan Sampah
82
Bab 82 Ramuan Obat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!