Bab 14 Menuju Perbatasan

Edelyn yang terkurung didalam kamarnya duduk didepan cermin, raja masih belum melepaskan hukumannya. Padahal Caroline sudah terbukti memiliki sihir hitam.

“Ini pertama kalinya ayah menghukumku.” Ucap Edelyn.

“Ini semua gara – gara monster itu.” Edelyn memegang erat roknya karena kesal. Aland juga tidak membelanya, apa dia marah karena kejadian itu?!

Edelyn mengigit kuku jarinya karena panik dan semua yang telah dia lakukan tidak sesuai apa yang dia harapkan. Kenapa? Selama ini semua berjalan lancar!

“Apa kau mendengar kabar dari luar?” tanya Edelyn.

“Raja memerintahkan tuan putri Caroline untuk pergi berperang diperbatasan,” ucap sang pelayan.

“Hahahaha … baguslah … aku harap dia mati disana,” ucap Edelyn.

Pelayan terkejut dengan apa yang dikatakan putri Edelyn. Edelyn sadar dengan perkataannya. “Ini semua salahnya karena menggunakan ilmu hitam! Siapa tahu dia akan menyerang kita suatu saat,” ucap Edelyn.

“Anda benar yang mulia,” ucap pelayannya. Tuan putri Edelyn benar.

Edelyn menarik nafas dalam – dalam. “Huuuf … ambilkan baju yang baru aku beli beberapa hari yang lalu,” ucap Edelyn. Dia harus menenangkan dirinya.

“Baik yang mulia.” Pelayan Edelyn pergi untuk mengambil baju didalam lemari.

Saat pelayan itu membuka pintu lemari, dia melihat sesuatu yang aneh.

“Aaaaa!!” teriak Pelayan itu.

“Ada apa?!” teriak Edelyn pergi menghampiri pelayannya.

“Ugh!!” Edelyn melihat bungkusan didalamnya.

“Buang ini segera!” teriak Edelyn.

Pelayan itu masih diam.

“Apa yang kau tunggu!! Buang segera!!” teriak Edelyn lagi.

Pelayan itu terkejut dan segera menjawab. “B-baik!” dia segera berdiri dan mengambil barang itu.

Edelyn mengerutkan kening. “Ini pasti ulah wanita itu.”

Edelyn melihat kertas yang tergeletak disana.

“Aku telah mengembalikan apa yang menjadi milikmu – Caroline.”

Edelyn menggenggam kertas itu dan merobeknya menjadi berkeping – keping. “Caroline lihat saja!!” Teriak Edelyn kesal.

Diistana Caroline.

“Apa kau mendengar sesuatu?” tanya Caroline.

“Apa itu suara perutku?” tanya Demon.

“….”

“Lupakan saja.”

Caroline saat ini membereskan barangnya untuk bersiap pergi keperbatasan.

“Aku akan membawa semua persediaan teh ku,” ucap Caroline.

“Bukankah kita akan pergi berperang?” tanya Demon bingung. Apa mereka ingin menghadiri pesta teh?

“Hei … saat melawan musuh kau juga butuh ketenangan,” ucap Caroline. Dia dulu sering membawa racikan tehnya saat pergi keluar kota. Minum teh racikannya adalah satu – satunya yang membuatnya tenang.

“Ya … baiklah,” ucap Demon.

“Aku hanya membutuhkan ini.”

“Saat berperang kau hanya butuh sedikit pakaian,” ucap Caroline.

Berpikir bahwa tidak akan sempat untuk mengurus diri pada saat perang, teh ini juga bisa membantunya untuk menjaga kulit dan menghilangkan bau badan. Sekarang dia memiliki mana yang banyak, dia tidak perlu khawatir akan ada bekas luka yang tertinggal.

Caroline telah membereskan barang bawaannya dan memakai baju perangnya.

“Hah … ayo kita keluar,” ucap Caroline.

Dengan baju besi yang dipakai, Caroline merasa tidak terlalu berat. Mungkinkah karena ini berkat mananya?

Saat berjalan didepan gerbang Caroline melihat semua orang berkumpul didepan gerbang dan melihat Raja yang berada diatas istana.

Caroline memberi hormat sebelum pergi.

“Aku akan mengirim putri Caroline keperbatasan untuk menebus kesalahannya,” teriak sang Raja.

“Wooooo!!!” teriak para rakyat.

“Dasar penyihir!”

“Kau dikirim untuk mati!”

“Kau harus membayarnya karena telah menyakiti putri Edelyn!”

Caroline menatap orang – orang yang mengatainya dengan dingin. Semua orang terdiam sesaat. Mereka tidak berani menatap langsung, karena mereka tahu kekuatan Caroline.

“Hah … hanya berani dimulut saja,” gumam Caroline.

“Kakak!!”

Caroline berbalik dan melihat Aland berlari kearahnya. Bukankah dia masih dalam maa pemulihan?

“Kakak bawalah ini.” Aland memberikan pedangnya kepada Caroline. Itu adalah pedang mana yang diberikan oleh ayahnya.

Caroline tidak menyangka Aland akan memberikan ini. Caroline melirik Raja dan raja hanya diam saja.

“Aku sudah memberitahu ayah dan ayah setuju,” ucap Aland. awalnya Raja sangat marah, tetapi setelah tahu Aland diselamatkan oleh Caroline Raja setuju untuk memberikan pedang itu.

Caroline tersenyum. “Kau tahu aku sebenarnya tidak membutuhkan ini,” ucap Caroline.

“Ambillah.” Aland menyerahkan pedang itu.

Caroline mengambilnya dengan senang hati.

“Baiklah aku akan pergi,” ucap Caroline menaiki kuda.

“Kakak!” panggil Aland.

“Ada apa?” tanya Caroline.

“Berhati – hatilah … kau harus pulang dengan selamat,” ucap Aland.

“Ya … tentu saja.” Jawab Caroline.

“dan juga terimakasih banyak sudah menolongku,” ucap Aland dengan kepala tertunduk.

“dan maafkan aku juga.” Aland merasa bersalah dengan apa yang telah dia lakukannya selama ini.

Tidak ada jawaban dari Caroline. Aland terus menundukkan kepalanya dan menutup matanya dengan erat.

Saat Aland hendak mengangkat kepalanya, Caroline meletakkan tangannya di atas kepalanya. Aland melihat Caroline tersenyum sambil mengelus kepalanya.

Caroline pergi setelah melakukan itu. aku tidak tahu harus menjawab apa, mungkin Caroline asli akan sangat terharu mendengar ini tetapi tidak dengan dirinya.

Berjalan dengan kudanya Caroline berada ditengah pasukan.

“Kenapa kita harus melakukan perjalan ini dengan tuan putri Caroline?” ucap salah seorang prajurit.

“Ssst … bagaimana jiak tuan putri mendengarnya?”

“Dia memiliki telinga … biarkan saja.”

“Diam!! Bagaimanapun dia adalah seorang putri,” ucap salah seorang pimpinan.

Mereka berdua mulai diam dan tidak berbicara lagi.

Caroline dapat mendengar semuanya, dia tidak ingin ambil pusing dengan hal kcil seperti ini.

Pemimpin itu berjalan menghampiri Caroline.

“Tuan Putri … kita akan sampai di lokasi dalam tiga hari,” ucapnya.

Caroline melirik pemimpin pasukan. Dia adalah satu – satunya pria yang tidak memandangku rendah.

“Apa persediaan makanan cukup?” tanya Caroline.

“Saya rasa cukup,” ucapnya ragu.

“Kalau tidak cukup kita akan berburu saat persediaan habis,” ucap Caroline. Berburu adalah keahliannya dia adalah penembak jitu, dengan panah sepertinya tidak masalah.

“Baik tuan putri,” jawab pemimpin pasukan.

“kau … siapa namamu?” tanya Caroline.

“Ebi Arc,” jawabnya.

Ebi? “Pfft…” Caroline tidak bisa menahannya.

“???” pemimpin pasukan bingung, apa yang tuan putri tertawakan?

“Ah … maafkan aku … aku baru saja mengingat hal yang lucu,” ucap Caroline menepuk pundak pemimpin pasuka itu.

“Ya … tuan putri,” jawabnya.

“Baiklah Ebi … sudah berapa lama kau berada di perbatasan?” tanya Caroline.

“Itu sudah dua tahun lebih,” jawabnya.

“Hmmm… cukup lama.”

“Ya … saya hanya prajurit kecil jadi saya tidak ikut dalam peperangan dibaris depan,” lanjutnya.

“Begitu.” Caroline berpikir. Tidak mengorbankan yang lemah? Aku rasa komandan atau jendral pasuka cukup baik. Ditambah dengan mana dariku, bukankah seharusnya ini cukup? Mengapa mereka terpojok sekarang? Apa lawan sangat kuat?

“Bagaimana denga kekuatan musuh?” tanya Caroline penasaran.

“Lawan kita adalah dewa perang Duke Cedric Thorn dan juga tak tik mereka dalam menyusun strategi sangat bagus … itu yang aku dengar dari prajurit pasukan depan,” jawabnya.

“Heee … begitu,” ucap Caroline.

“Aku akan membuat pertemuan yang menegangkan antara aku dan calon suamiku,” gumam Caroline.

“Maaf?”

“Ah … aku hanya berbicara dengan diriku sendiri, kembali kebarisan depan kita harus tetap waspada,” ucap Caroline.

“Baik Tuan Putri.” Tuan putri sedikit aneh. Apa rumor yang beredar selama ini benar?

Akhir dari Bab 14.

Terpopuler

Comments

Shinta Dewiana

Shinta Dewiana

kenapa juga bukan adelyn yg kena serangan moster....hmmm

2024-08-15

0

Elly Christina

Elly Christina

suka karakter FL yg gak menye2...👍

2024-03-18

1

Yunita Widiastuti

Yunita Widiastuti

☘️

2024-03-11

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Memasuki Tubuh Orang Lain
2 Bab 2 Dunia didalam Novel
3 Bab 3 Demon
4 Bab 4 Saudara
5 Bab 5 Keluar Istana
6 Bab 6 Pusat Perbelanjaan
7 Bab 7 Mary Aurelius
8 Bab 8 Pelayan
9 Bab 9 Duke Cedric
10 Bab 10 Monster
11 Bab 11 Serigala besar
12 Bab 12 Rencana Raja
13 Bab 13 Sihir Hitam
14 Bab 14 Menuju Perbatasan
15 Bab 15 Batu di Goa
16 Bab 16 Perjalanan hari pertama
17 Bab 17 Melanjutkan perjalanan
18 Bab 18 Tanaman Merambat
19 Bab 19 Batu Monster
20 Bab 20 Evan Davis
21 Bab 21 Camp perbatasan
22 Bab 22 Strategi
23 Bab 23 Menjadi Tawanan?
24 Bab 24 Camp Kerajaan Argentum
25 Bab 25 Goa
26 Bab 26 Pedang
27 Bab 27 Strategi
28 Bab 28 Perisapan Perang
29 Bab 29 Penyerangan
30 Bab 30 Menyerah dan kalah
31 Bab 31 Menuju Istana Eldoria
32 Bab 32 Titah Raja Argentum
33 Bab 33 Sebelum keributan
34 Bab 34 Sebelum keributan (2)
35 Bab 35 Ratu Bianca
36 Bab 36 Perselingkuhan
37 Bab 37 Perselingkuhan (2)
38 Bab 38 Istana Dingin
39 Bab 39 Pesta Dansa
40 Bab 40 Pesta Dansa (2)
41 Bab 41 Brian La Frins
42 Bab 42 Rencana selanjutnya
43 Bab 43 Berangkat
44 Bab 44 Cyrus Wise
45 Bab 45 Palace Blossom
46 Bab 46 Lily
47 Bab 47 Gosip
48 Bab 48 Roke
49 Bab 49 Line dan Riric
50 Bab 50 Berburu monster lagi
51 Bab 51 Surat undangan
52 52 Istana Argentum
53 Bab 53 Istana Argentum (2)
54 Bab 54 Pembicaraan dengan Raja
55 Bab 55 Pelayan pribadi
56 Bab 56 Ani
57 Bab 57 Resor
58 Bab 58 Hari Pernikahan
59 Bab 59 Hari Pernikahan 2
60 Bab 60 Persaingan
61 Bab 61 Putra Mahkota Cyrus
62 Bab 62 Tarian Pedang
63 Bab 63 Abu Krystal
64 Bab 64 Melihat Cahaya
65 Bab 65 Teman lama
66 Bab 66 Sabrina Luves
67 Bab 67 Saingan
68 Bab 68 Bangun
69 Bab 69 Hari - hari biasa
70 Bab 70 Surat
71 Bab 71 Hukuman
72 Bab 72 Oci
73 Bab 73 Menemui Raja
74 Bab 74 D'zem Lor
75 75 Meracik Ramuan
76 76 Ruang yang di sembunyikan
77 Bab 77 Hewan Dewa
78 Bab 78 Sebelum badai datang
79 Bab 79 Padang pasir
80 Bab 80 Sihir Hitam
81 Bab 81 Membersihkan Sampah
82 Bab 82 Ramuan Obat
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Memasuki Tubuh Orang Lain
2
Bab 2 Dunia didalam Novel
3
Bab 3 Demon
4
Bab 4 Saudara
5
Bab 5 Keluar Istana
6
Bab 6 Pusat Perbelanjaan
7
Bab 7 Mary Aurelius
8
Bab 8 Pelayan
9
Bab 9 Duke Cedric
10
Bab 10 Monster
11
Bab 11 Serigala besar
12
Bab 12 Rencana Raja
13
Bab 13 Sihir Hitam
14
Bab 14 Menuju Perbatasan
15
Bab 15 Batu di Goa
16
Bab 16 Perjalanan hari pertama
17
Bab 17 Melanjutkan perjalanan
18
Bab 18 Tanaman Merambat
19
Bab 19 Batu Monster
20
Bab 20 Evan Davis
21
Bab 21 Camp perbatasan
22
Bab 22 Strategi
23
Bab 23 Menjadi Tawanan?
24
Bab 24 Camp Kerajaan Argentum
25
Bab 25 Goa
26
Bab 26 Pedang
27
Bab 27 Strategi
28
Bab 28 Perisapan Perang
29
Bab 29 Penyerangan
30
Bab 30 Menyerah dan kalah
31
Bab 31 Menuju Istana Eldoria
32
Bab 32 Titah Raja Argentum
33
Bab 33 Sebelum keributan
34
Bab 34 Sebelum keributan (2)
35
Bab 35 Ratu Bianca
36
Bab 36 Perselingkuhan
37
Bab 37 Perselingkuhan (2)
38
Bab 38 Istana Dingin
39
Bab 39 Pesta Dansa
40
Bab 40 Pesta Dansa (2)
41
Bab 41 Brian La Frins
42
Bab 42 Rencana selanjutnya
43
Bab 43 Berangkat
44
Bab 44 Cyrus Wise
45
Bab 45 Palace Blossom
46
Bab 46 Lily
47
Bab 47 Gosip
48
Bab 48 Roke
49
Bab 49 Line dan Riric
50
Bab 50 Berburu monster lagi
51
Bab 51 Surat undangan
52
52 Istana Argentum
53
Bab 53 Istana Argentum (2)
54
Bab 54 Pembicaraan dengan Raja
55
Bab 55 Pelayan pribadi
56
Bab 56 Ani
57
Bab 57 Resor
58
Bab 58 Hari Pernikahan
59
Bab 59 Hari Pernikahan 2
60
Bab 60 Persaingan
61
Bab 61 Putra Mahkota Cyrus
62
Bab 62 Tarian Pedang
63
Bab 63 Abu Krystal
64
Bab 64 Melihat Cahaya
65
Bab 65 Teman lama
66
Bab 66 Sabrina Luves
67
Bab 67 Saingan
68
Bab 68 Bangun
69
Bab 69 Hari - hari biasa
70
Bab 70 Surat
71
Bab 71 Hukuman
72
Bab 72 Oci
73
Bab 73 Menemui Raja
74
Bab 74 D'zem Lor
75
75 Meracik Ramuan
76
76 Ruang yang di sembunyikan
77
Bab 77 Hewan Dewa
78
Bab 78 Sebelum badai datang
79
Bab 79 Padang pasir
80
Bab 80 Sihir Hitam
81
Bab 81 Membersihkan Sampah
82
Bab 82 Ramuan Obat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!