Bab 19 Batu Monster

Caroline menatap Kristal itu dengan tatapan penasaran. Ini baru pertama kali dia melihat kristal seperti ini, apa ini hanya kristal biasa?

“Apa ini?” tanya Caroline.

Demon dan Nix medekati Caroline untuk melihat kristal itu.

“Hei bukankah ini kristal monster?!” ucap Demon

“Aku ingat sekarang!!” ucap Nix.

“Setiap Monster yang kita kalahkan akan megeluarkan kristal seperti itu.”

“Untuk warna sesuai dengan tingkat monster yang kita serang,” lanjut Nix.

“Ya … warna kristal sesuai dengan tingkat kekuatan monster,” ucap Demon.

“Jika itu warna hijau maka tanaman ini adalah monster level tiga.”

“Level satu berwarna putih, level dua berwarna merah dan level tiga berwarna hijau,” lanjut Demon.

“Apa gunanya kristal ini?” tanya Caroline.

“Bagi manusia biasa itu tidak ada gunanya, tetapi bagi pengguna mana dan pengguna sihir ini sangat berguna,” jawab Nix.

“Ya… master bisa menggunakan ini untuk memulihkan mana atau menambah kekuatan mana, untuk penyihir sendiri ini berguna untuk meningkatkan level mereka dalam pembuatan lingkaran sihir,” ucap Demon.

“Lingkarang sihir?” Caroline tiba – tiba mengingat lingkaran sihir yang ada di ruang pria tua itu.

“Bagaimana lingkarang sihir yang ada dikerajaan?” tanya Caroline.

“Itu dibuat oleh penyihir tingkat tinggi.”

“Dengan menggunakan batu kristal ini mereka bisa membuat lingkaran sihir tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga dan jika itu batu kristal level pertama itu bisa membuat lingkaran sihir itu menjadi permanen.”

“Biasanya ini digunakan untuk lingkaran sihir teleportasi,” ucap Demon.

“Begitu.” Caroline sekarang mengerti.

“Lalu bagaimana aku menggunakan batu ini?” tanya Caroline.

“Seperti biasa … master hanya perlu berkonsentrasi menyerap kristal itu,” jawab Nix.

Caroline memejamkan matanya sambil memegang kristal itu. Kristal itu mengeluarkan cahaya hijau dan beberapa saat redup berubah menjadi warna abu – abu, beberapa saat kemudian menghilang menjadi debu.

Caroline membuka matanya. Dia merasa tubuhnya kembali pulih, ini sangat berguna! Apa dia harus berburu monster?

“Jika sudah terbiasa dengan kekuatan mana, master akan dengan mudah menyerap kristal itu tanpa harus berkonsentrasi,” ucap Demon.

“Baiklah … sepertinya aku harus banyak berlatih,” ucap Caroline. Dia bertekad untuk menjadi lebih kuat lagi.

“Ayo kita sekarang berangkat.” Caroline kembali menaiki kuda.

“Apa kau terkejut?” tanya Caroline sambil memeluk kuda itu untuk membuat kuda itu lebih rileks.

Demon dan Nix kembali kewujud tak terlihat oleh orang awam.

Caroline kembali menunggangi kuda itu dan melaju dengan kecepatan sangat cepat.

“Setelah aku pikir – pikir … monster yang ada diistana sepertinya tidak memiliki batu kristal,” ucap Caroline. Dia telah melihat mayat monster itu dan tidak melihat apa – apa.

“Monster di istana?” Demon memikirkannya. Ya dia tidak menemukan apa – apa pada monster itu.

“Itu adalah monster tingkat rendah.”

“Jadi monster tingkat rendah tidak memiliki batu kristal?” tanya Caroline.

“Ya … mereka tidak menghasilkan kristal apapun,” jawab Demon.

“Bagaimana kita bisa mengetahui monster itu berada di tingkat apa?” tanya Caroline lagi.

“Master bisa melihatnya melalui aura,” jawab Nix.

“Coba master menggunakan mana dan lihatlah aura aku dan Demon,” lanjutnya.

Caroline yang menunggangi kuda melihat Demon dan Nix dengan kekuatannya. Oh! Nix memiliki aura merah yang sangat terang ditubuhnya dan Demon memiliki aura hitam yang sangat gelap menyelimuti tubuhnya.

“Apa warna kalian menentukan level kalian?” tanya Caroline.

“Tidak … kami berbeda… warna aura kami sesuai dengan jenis kekuatan,” jawab Demon.

“Karena aku menggunakan sihir hitam maka auraku berwarna hitam sedangkan Nix menggunakan sihir api sehingga auranya berwarna merah,” jawab Demon.

“Begitu … apa bisa dilakukan pada manusia?” tanya Caroline.

“Tentu saja bisa … tetapi hanya manusia dengan kekuatan besar saja yang memiliki aura,” jawab Nix.

“Ini sangat berguna.” Dengan begitu dia bisa mengetahui level lawannya.

Caroline mencoba melihat aura yang ada ditubuhnya. Itu berwarna putih yang sangat terang seperti cahaya. Sepertinya kekuatan yang diturunkan oleh ibunya sangat besar. Untung saja dia mewarisi kekuatan ibunya bukan pria tua itu.

Caroline dan yang lainnya telah menempuh perjalanan yang cukup jauh.

“Apa masih lama?” tanya Caroline.

“Kita akan sampai sebentar lagi,” jawab Nix.

Saat ini mereka berjalan menyusuri sungai.

“Kita berhenti dulu.” Caroline menghentikan kuda dan turun dari kuda.

“Aku sangat kotor sekarang,” ucap Caroline. Dia ingin membersihkan sedikit lendir yang ada ditubuhnya.

Untung saja dia membawa sabun dari istana jadi dia tidak perlu khawatir jika ingin mencuci tangan atau mandi. Dia tidak tahan menjadi kotor.

Caroline melepaskan baju besinya. “Baju besi ini sangat usang,” ucap Caroline sambil mengerutkan keningnya.

“Ya master … apa sebaiknya di buang saja?”

“Aku dari kemarin memperhatikan baju besimu itu sangat tidak bagus sama sekali berapa kali pun aku melihatnya,” ucap Demon.

“Ya dan itu terlihat rapuh,” ucap Nix.

“Biarkan saja … untuk sementara aku akan memakainya,” ucap Caroline sambil membasuh tangannya.

“Dari pada tidak memakai pelindung sama sekali … lebih baik aku memakai ini,” ucap Caroline. Ya … dia tidak tahu bahaya apa yang akan datang, bisa saja Nix atau Demon tidak sempat melindunginya. Meskipun dia cukup kuat tetapi dia tidak ingin mengambil resiko seperti kehidupan sebelumnya. dia harus lebih teliti.

“Kami pasti akan melindungimu master!”

“Ya itu sudah menjadi tugas kami,” ucap Demon dan Nix. Bagi mereka keselamatan master adalah hal yang utama. Mereka akan melakukan apa saja untuk melindungi master mereka.

“Terimakasih … aku percaya kalau kalian pasti akan melindungiku.”

“Tetapi aku tetap saja harus menggunakan pelindung,” ucap Caroline.

Diperbatasan

“Hei apa kau dengar kalau tuan putri Caroline akan datang ke perbatasan?” ucap salah satu prajurit.

“Entahlah … aku tidak tahu apa yang dipikirkan raja.”

“Hei tuan putri akan menjadi beban bagi kita.”

“Yah … apalagi komandan kita sangat membenci orang yang menjadi beban.”

“Aku yakin raja sengaja mengirim tuan putri Caroline keperbatasan untuk membunuhnya secara tidak langsung.”

“Ya … aku rasa begitu.”

“Putri yang tidak disayangi siapapun akan menjadi tumbal disini dan itu dilakukan oleh ayahnya sendiri.”

“Tiba – tiba aku merasa kasihan terhadap tuan putri Caroline.”

“Kasihan? Apa kau tidak mendengar rumornya?”

“Rumor apa?”

“Aku dengar tuan putri Caroline mencoba menenggelamkan tuan putri Edelyn.”

“benarkah?”

“Ya … aku mendengarnya dari temanku, kami saling mengirim surat untuk mengetahui kabar masing – masing.”

“jadi tuan putri Caroline adalah monster itu sepertinya benar.”

“Ya aku rasa begitu.”

“Aku sangat menghormati ibunya.”

“sayang sekali anaknya sama sekali berbeda dengan ibunya yang seorang master pedang.”

“Ya dan juga yag mulia ratu terdahulu sangat cantik.”

“Aku dengar putri Caroline sangat mirip dengan ratu terdahulu.”

“Benarkah? Aku belum pernah melihatnya.”

“Apa kalian sudah selesai bergosip!!” Evan tiba – tiba muncul dan berbicara dengan dingin.

“M-maaf!!” mereka semua memberi hormat dan segera pergi.

Evan menghela nafas dan melihat ke langit cerah.

“Guru,” gumamnya.

Akhir dari Bab 19.

Terpopuler

Comments

Shinta Dewiana

Shinta Dewiana

cih...prajurid mulutnya ember..

2024-08-15

0

Ani Ani

Ani Ani

Kau Belum Tahu akibat nya

2024-05-14

0

Mas Lucky

Mas Lucky

emang murid ibu caroline?

2024-04-18

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Memasuki Tubuh Orang Lain
2 Bab 2 Dunia didalam Novel
3 Bab 3 Demon
4 Bab 4 Saudara
5 Bab 5 Keluar Istana
6 Bab 6 Pusat Perbelanjaan
7 Bab 7 Mary Aurelius
8 Bab 8 Pelayan
9 Bab 9 Duke Cedric
10 Bab 10 Monster
11 Bab 11 Serigala besar
12 Bab 12 Rencana Raja
13 Bab 13 Sihir Hitam
14 Bab 14 Menuju Perbatasan
15 Bab 15 Batu di Goa
16 Bab 16 Perjalanan hari pertama
17 Bab 17 Melanjutkan perjalanan
18 Bab 18 Tanaman Merambat
19 Bab 19 Batu Monster
20 Bab 20 Evan Davis
21 Bab 21 Camp perbatasan
22 Bab 22 Strategi
23 Bab 23 Menjadi Tawanan?
24 Bab 24 Camp Kerajaan Argentum
25 Bab 25 Goa
26 Bab 26 Pedang
27 Bab 27 Strategi
28 Bab 28 Perisapan Perang
29 Bab 29 Penyerangan
30 Bab 30 Menyerah dan kalah
31 Bab 31 Menuju Istana Eldoria
32 Bab 32 Titah Raja Argentum
33 Bab 33 Sebelum keributan
34 Bab 34 Sebelum keributan (2)
35 Bab 35 Ratu Bianca
36 Bab 36 Perselingkuhan
37 Bab 37 Perselingkuhan (2)
38 Bab 38 Istana Dingin
39 Bab 39 Pesta Dansa
40 Bab 40 Pesta Dansa (2)
41 Bab 41 Brian La Frins
42 Bab 42 Rencana selanjutnya
43 Bab 43 Berangkat
44 Bab 44 Cyrus Wise
45 Bab 45 Palace Blossom
46 Bab 46 Lily
47 Bab 47 Gosip
48 Bab 48 Roke
49 Bab 49 Line dan Riric
50 Bab 50 Berburu monster lagi
51 Bab 51 Surat undangan
52 52 Istana Argentum
53 Bab 53 Istana Argentum (2)
54 Bab 54 Pembicaraan dengan Raja
55 Bab 55 Pelayan pribadi
56 Bab 56 Ani
57 Bab 57 Resor
58 Bab 58 Hari Pernikahan
59 Bab 59 Hari Pernikahan 2
60 Bab 60 Persaingan
61 Bab 61 Putra Mahkota Cyrus
62 Bab 62 Tarian Pedang
63 Bab 63 Abu Krystal
64 Bab 64 Melihat Cahaya
65 Bab 65 Teman lama
66 Bab 66 Sabrina Luves
67 Bab 67 Saingan
68 Bab 68 Bangun
69 Bab 69 Hari - hari biasa
70 Bab 70 Surat
71 Bab 71 Hukuman
72 Bab 72 Oci
73 Bab 73 Menemui Raja
74 Bab 74 D'zem Lor
75 75 Meracik Ramuan
76 76 Ruang yang di sembunyikan
77 Bab 77 Hewan Dewa
78 Bab 78 Sebelum badai datang
79 Bab 79 Padang pasir
80 Bab 80 Sihir Hitam
81 Bab 81 Membersihkan Sampah
82 Bab 82 Ramuan Obat
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Memasuki Tubuh Orang Lain
2
Bab 2 Dunia didalam Novel
3
Bab 3 Demon
4
Bab 4 Saudara
5
Bab 5 Keluar Istana
6
Bab 6 Pusat Perbelanjaan
7
Bab 7 Mary Aurelius
8
Bab 8 Pelayan
9
Bab 9 Duke Cedric
10
Bab 10 Monster
11
Bab 11 Serigala besar
12
Bab 12 Rencana Raja
13
Bab 13 Sihir Hitam
14
Bab 14 Menuju Perbatasan
15
Bab 15 Batu di Goa
16
Bab 16 Perjalanan hari pertama
17
Bab 17 Melanjutkan perjalanan
18
Bab 18 Tanaman Merambat
19
Bab 19 Batu Monster
20
Bab 20 Evan Davis
21
Bab 21 Camp perbatasan
22
Bab 22 Strategi
23
Bab 23 Menjadi Tawanan?
24
Bab 24 Camp Kerajaan Argentum
25
Bab 25 Goa
26
Bab 26 Pedang
27
Bab 27 Strategi
28
Bab 28 Perisapan Perang
29
Bab 29 Penyerangan
30
Bab 30 Menyerah dan kalah
31
Bab 31 Menuju Istana Eldoria
32
Bab 32 Titah Raja Argentum
33
Bab 33 Sebelum keributan
34
Bab 34 Sebelum keributan (2)
35
Bab 35 Ratu Bianca
36
Bab 36 Perselingkuhan
37
Bab 37 Perselingkuhan (2)
38
Bab 38 Istana Dingin
39
Bab 39 Pesta Dansa
40
Bab 40 Pesta Dansa (2)
41
Bab 41 Brian La Frins
42
Bab 42 Rencana selanjutnya
43
Bab 43 Berangkat
44
Bab 44 Cyrus Wise
45
Bab 45 Palace Blossom
46
Bab 46 Lily
47
Bab 47 Gosip
48
Bab 48 Roke
49
Bab 49 Line dan Riric
50
Bab 50 Berburu monster lagi
51
Bab 51 Surat undangan
52
52 Istana Argentum
53
Bab 53 Istana Argentum (2)
54
Bab 54 Pembicaraan dengan Raja
55
Bab 55 Pelayan pribadi
56
Bab 56 Ani
57
Bab 57 Resor
58
Bab 58 Hari Pernikahan
59
Bab 59 Hari Pernikahan 2
60
Bab 60 Persaingan
61
Bab 61 Putra Mahkota Cyrus
62
Bab 62 Tarian Pedang
63
Bab 63 Abu Krystal
64
Bab 64 Melihat Cahaya
65
Bab 65 Teman lama
66
Bab 66 Sabrina Luves
67
Bab 67 Saingan
68
Bab 68 Bangun
69
Bab 69 Hari - hari biasa
70
Bab 70 Surat
71
Bab 71 Hukuman
72
Bab 72 Oci
73
Bab 73 Menemui Raja
74
Bab 74 D'zem Lor
75
75 Meracik Ramuan
76
76 Ruang yang di sembunyikan
77
Bab 77 Hewan Dewa
78
Bab 78 Sebelum badai datang
79
Bab 79 Padang pasir
80
Bab 80 Sihir Hitam
81
Bab 81 Membersihkan Sampah
82
Bab 82 Ramuan Obat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!