Bab 16 Perjalanan hari pertama

“Pfft …. Hahahahaa.” Demon tertawa terbahak – bahak.

“Apa – apan itu?! Hahahah”

“Piyak? Hahahha.”

“Apa kau anak ayam? Hahahaa.”

“Piyak! Piyak! Piyak!” burung itu marah, terbang mematuk Demon.

“Au … auu!!”

“Maaf … maaf!!” teriak Demon.

“Sudah hentikan!” teriak Caroline.

Demon dan burung Phoenix berhenti berkelahi.

“Piyak … piyak.” Phoenix memberi salam kepada Caroline.

“Mengapa dia tidak bisa berbicara?” tanya Caroline bingung.

“Oh! Itu karena dia membutuhkan banyak mana,” jawab Demon.

“Begitu,” ucap Caroline.

“Piyak.” Phoenix mengangguk dengan semangat. Dia menunggu Caroline ingin memberi mananya.

“Hmm … aku rasa lebih baik seperti ini,” ucap Caroline bercanda dengan muka serius.

“Piyak!!!!”

“Piyaak!!” burung itu terbang memeluk wajah Caroline dengan tangisan.

“Hentikan … baiklah aku hanya bercanda,” ucap Caroline sambil mendorong burung itu menjauh.

“Piyak~” burung itu dengan senang hati melepas wajah Caroline.

Caroline berusaha memberi mananya kepada burung itu.

Burung itu duduk didepan Caroline memejamkan matanya. Caroline melirik burung yang berkonsentrasi itu, imut sekali.

Beberapa saat kemudian, burung itu membuka matanya dan melihat Caroline. “Terimakasih banyak master,” ucapnya.

“Oh … kau benar – benar bisa berbicara,” ucap Caroline.

“Tentu saja!” teriak burung itu.

“Ehm … master tolong beri aku nama,” ucap burung itu menunduk didepan Caroline.

“Hmmm … kau adalah burung Phoenix … jadi aku akan memanggilmu Nix,” ucap Caroline ambil menunjuk Burung itu.

Mata burung Phoenix berbinar. “Nix? Nama yang sangat bagus!!” ucapnya senang.

“Baiklah … sekarang beritahu aku apa kekuatanmu?” tanya Caroline.

“Aku bisa mengeluarkan bola api dan juga aku bisa menghipnotis,” ucap Nix dengan senyum jahatnya.

“Oww … apakah kekuatanmu terbatas?” tanya Caroline.

“Kecuali mereka memiliki mana atau kekuatan dan keyakinan yang kuat … aku tidak bisa mengendalikannya,” ucap Nix.

“Baiklah itu juga sangat hebat,” ucap Caroline.

“Aku akan bekerja keras master,” ucap Nix dengan hormat.

“Lalu cahaya apa yang ada di goa tadi?” tanya Caroline.

“Itu karena aku merespon adanya mana,” jawab Nix.

Caroline melihat Demon. “Apa? saat itu mana master masih belum pulih … tentu saja aku tidak merespon,” ucap Demon panik.

“Kau benar,” ucap Caroline.

“Apa kau butuh beberapa saat untuk pulih?” tanya Caroline kepada Nix.

“Tidak … aku sudah pulih sepenuhnya,” jawab Nix.

Caroline melihat Demon lagi. “Aku membutuhkan mana yang sangat besar karena kekuatan yang aku keluarkan sangat banyak!” ucap Demon lagi dengan cepat menjelaskan.

“Apa kau mengatakan kalau aku lemah?” teriak Nix.

“Tentu saja aku lebih kuat darimu,” ucap Demon.

“Kau-“

“Hentikan!” teriak Caroline. Mereka berdua sangat berisik.

“Aku tidak akan memanggil kalian kalau kalian masih sangat berisik,” ucap Caroline berjalan duduk di tempat tidur.

“Maaf,” ucap Demon dan Nix bersamaan.

Hari sudah mulai gelap, para prajurit sudah menyiapkan api unggun dan berjaga disekitar tenda.

“Tuang Putri … makanan sudah siap,” teriak Ebi.

Caroline membuka matanya dan duduk sebentar untuk mengembalikan energinya. Hari ini dia merasa sangat mengantuk.

Saat keluar Caroline melihat para prajurit tertawa dengan bahagia sambil memakan daging yang telah mereka bawa. Apa mereka semua tidak khawatir tentang perang?

“Tuan putri silahkan duduk.” Ebi mengarahkan Caroline duduk di batang kayu yang telah disiapkan.

“Silahkan Tuan Putri,” ucap Ebi sambil menyerahkan daging panggang yang ditusuk.

Caroline mengambilnya dan memakannya. Ini tidak seenak di zaman modern namun cukup untuk dimakan.

“Ngomong – ngomong … apakah tiga hari kedepan kita akan tetap makan daging?” tanya Caroline.

“Ya …” ucap Ebi dengan senang.

Caroline mengerutkan kening. “Bukankah daging akan membusuk?” tanya Caroline. Dia tidak ingin memakannya.

“Ah kalau hanya dua hari biasanya tidak akan membusuk … ahhaha,” jawab Ebi.

Caroline melihat Ebi dengan jijik. “Ah .. emm kami menyediakan kotak es untuk daging,” jawab Ebi lagi.

“Aku kira kalian memakan daging busuk.” Caroline kembali memakan daging itu dengan nyaman.

“Mana mungkin kami memakan daging yang tidak sehat.”

“Kami harus menjaga stamina kami,” ucap Ebi.

Caroline melihat para prajurit yang memakan daging dengan senang. “Hm … kau benar,” ucap Caroline.

Ebi terus mengajak Caroline berbicara dan Caroline hanya mendengarkannya. Aku ingin dia menikmati makananku dengan tenang.

“Apa aku perlu membakar daging untukmu master?” tanya Nix.

“Tidak perlu,” jawab Caroline. Meskipun dia terlihat diam tetapi Caroline sambil berbicara dengan kedua hewan didepannya ini melalui pikirannya.

“Apiku lebih baik daripada api kayu itu,” ucap Nix.

“Hei … master mengatakan tidak,” ucap Demon menyela.

“Apa? aku hanya menawarkan saja,” ucap Nix.

“Kau sangat berisik,” ucap Demon.

“Kau yang berisik!”

“Kau!”

“Kau!”

“Diam!!” teriak Caroline.

Semua orang diam.

“M-maaf … apa aku kebanyakan berbicara?” tanya Ebi panik. Aku terlalu bersemangat mengajak tuan putri berbicara.

“Ah … tidak , aku hanya berbicara dengan diriku saja,” ucap Caroline.

“Ah begitu.” Tuan Putri Caroline memang sedikit aneh.

Caroline segera melirik Demon dan Nix dengan mata dingin.

“Hiiiii maaf.” Mereka berdua menghilang pergi begitu saja karena ketakutan.

“Huuuf …” Caroline menarik nafas untuk menenangkan dirinya.

“Apa ada yang mengganggu tuan putri?” tanya Ebi khawatir.

“Tidak … “

“Tadi kau bilang siapa komandan dibarisan depan?” tanya Caroline mengalihkan topik.

“Ah! Itu Komandan Evan dari keluarga Davis,” jawab Ebi.

“Evan Davis?”

“Ya … dia komandan yang sangat disegani disana dan juga sangat disukai banyak bangsawan wanita,” ucap Ebi.

“Apa dia setampan itu?” tanya Caroline.

“Ya … jika Tuan Putri melihatnya sendiri maka tuan putri bisa menilainya sendiri,” jawab Ebi dengan sombong.

“Begitu …” aku rasa tidak akan setampan calon suamiku.

“Bagaimana dengan Duke Cedric?” tanya Caroline.

“Duke kerajaan sebelah?”

“Aku tidak tahu tapi aku pernah mendengar kalau dia sangat tampan dan juga diincar banyak wanita, hanya saja banyak yang dia tolak,” jawab Ebi.

“Hmmm..” Caroline sedikit tersenyum mendengar ini. Dia harus menjaga kejantanannya untukku.

Ebi bingung melihat tuan putri tersenyum. Apa tuan putri menyukai Duke Cedric?

Apa yang aku pikirkan?! Tidak mungkin, tuan putri bahkan tidak pernah keluar istana.

“Apa kita bisa mempercepat perjalanan?” tanya Caroline.

“Apa?” tanya Ebi lagi.

“Aku tanya apa kita tidak bisa mempercepat perjalanan?” ucap Caroline.

“Ah! Itu … saya rasa tidak bisa karena kita banyak membawa senjata dan juga kita harus mengistirahatkan kuda yang kita tunggangi,” jawab Ebi.

“Bukankah semua kuda sudah dilatih?” tanya Caroline.

“Kuda yang kita dapat hanyalah kuda tingkat bawah karena kita adalah prajurit tingkat bawah,” jawab Ebi.

“Ha? apa memilih kuda tergantung pada tingkat prajurit?” tanya Caroline. Ini tidak masuk akal.

“Ya … itu adalah perintah yang mulia Raja.,” jawab Ebi.

“Lalu kudaku?” tanya Caroline.

“Tuan putri juga sama,” jawab Ebi dengan menundukkan kepala. Dia merasa tidak enak dengan tuan putri, karena Raja menyetarakan tuan putri dengan prajurit rendah seperti mereka.

“Tch.” Caroline melanjutkan makanannya. Dia harus mempercepat kedatangannya keperbatasannya.

Akhir dari Bab 16

Terpopuler

Comments

Ristaulina Bastian

Ristaulina Bastian

/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ ada aja kamu, Caroline

2024-09-26

0

ci cupu

ci cupu

kasihan caroline di kira aneh jadinya

2024-08-18

0

ira yang beruntung & kaya raya

ira yang beruntung & kaya raya

agak aneh klo sering teriak2 padahal ditenda.

2024-08-15

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Memasuki Tubuh Orang Lain
2 Bab 2 Dunia didalam Novel
3 Bab 3 Demon
4 Bab 4 Saudara
5 Bab 5 Keluar Istana
6 Bab 6 Pusat Perbelanjaan
7 Bab 7 Mary Aurelius
8 Bab 8 Pelayan
9 Bab 9 Duke Cedric
10 Bab 10 Monster
11 Bab 11 Serigala besar
12 Bab 12 Rencana Raja
13 Bab 13 Sihir Hitam
14 Bab 14 Menuju Perbatasan
15 Bab 15 Batu di Goa
16 Bab 16 Perjalanan hari pertama
17 Bab 17 Melanjutkan perjalanan
18 Bab 18 Tanaman Merambat
19 Bab 19 Batu Monster
20 Bab 20 Evan Davis
21 Bab 21 Camp perbatasan
22 Bab 22 Strategi
23 Bab 23 Menjadi Tawanan?
24 Bab 24 Camp Kerajaan Argentum
25 Bab 25 Goa
26 Bab 26 Pedang
27 Bab 27 Strategi
28 Bab 28 Perisapan Perang
29 Bab 29 Penyerangan
30 Bab 30 Menyerah dan kalah
31 Bab 31 Menuju Istana Eldoria
32 Bab 32 Titah Raja Argentum
33 Bab 33 Sebelum keributan
34 Bab 34 Sebelum keributan (2)
35 Bab 35 Ratu Bianca
36 Bab 36 Perselingkuhan
37 Bab 37 Perselingkuhan (2)
38 Bab 38 Istana Dingin
39 Bab 39 Pesta Dansa
40 Bab 40 Pesta Dansa (2)
41 Bab 41 Brian La Frins
42 Bab 42 Rencana selanjutnya
43 Bab 43 Berangkat
44 Bab 44 Cyrus Wise
45 Bab 45 Palace Blossom
46 Bab 46 Lily
47 Bab 47 Gosip
48 Bab 48 Roke
49 Bab 49 Line dan Riric
50 Bab 50 Berburu monster lagi
51 Bab 51 Surat undangan
52 52 Istana Argentum
53 Bab 53 Istana Argentum (2)
54 Bab 54 Pembicaraan dengan Raja
55 Bab 55 Pelayan pribadi
56 Bab 56 Ani
57 Bab 57 Resor
58 Bab 58 Hari Pernikahan
59 Bab 59 Hari Pernikahan 2
60 Bab 60 Persaingan
61 Bab 61 Putra Mahkota Cyrus
62 Bab 62 Tarian Pedang
63 Bab 63 Abu Krystal
64 Bab 64 Melihat Cahaya
65 Bab 65 Teman lama
66 Bab 66 Sabrina Luves
67 Bab 67 Saingan
68 Bab 68 Bangun
69 Bab 69 Hari - hari biasa
70 Bab 70 Surat
71 Bab 71 Hukuman
72 Bab 72 Oci
73 Bab 73 Menemui Raja
74 Bab 74 D'zem Lor
75 75 Meracik Ramuan
76 76 Ruang yang di sembunyikan
77 Bab 77 Hewan Dewa
78 Bab 78 Sebelum badai datang
79 Bab 79 Padang pasir
80 Bab 80 Sihir Hitam
81 Bab 81 Membersihkan Sampah
82 Bab 82 Ramuan Obat
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Memasuki Tubuh Orang Lain
2
Bab 2 Dunia didalam Novel
3
Bab 3 Demon
4
Bab 4 Saudara
5
Bab 5 Keluar Istana
6
Bab 6 Pusat Perbelanjaan
7
Bab 7 Mary Aurelius
8
Bab 8 Pelayan
9
Bab 9 Duke Cedric
10
Bab 10 Monster
11
Bab 11 Serigala besar
12
Bab 12 Rencana Raja
13
Bab 13 Sihir Hitam
14
Bab 14 Menuju Perbatasan
15
Bab 15 Batu di Goa
16
Bab 16 Perjalanan hari pertama
17
Bab 17 Melanjutkan perjalanan
18
Bab 18 Tanaman Merambat
19
Bab 19 Batu Monster
20
Bab 20 Evan Davis
21
Bab 21 Camp perbatasan
22
Bab 22 Strategi
23
Bab 23 Menjadi Tawanan?
24
Bab 24 Camp Kerajaan Argentum
25
Bab 25 Goa
26
Bab 26 Pedang
27
Bab 27 Strategi
28
Bab 28 Perisapan Perang
29
Bab 29 Penyerangan
30
Bab 30 Menyerah dan kalah
31
Bab 31 Menuju Istana Eldoria
32
Bab 32 Titah Raja Argentum
33
Bab 33 Sebelum keributan
34
Bab 34 Sebelum keributan (2)
35
Bab 35 Ratu Bianca
36
Bab 36 Perselingkuhan
37
Bab 37 Perselingkuhan (2)
38
Bab 38 Istana Dingin
39
Bab 39 Pesta Dansa
40
Bab 40 Pesta Dansa (2)
41
Bab 41 Brian La Frins
42
Bab 42 Rencana selanjutnya
43
Bab 43 Berangkat
44
Bab 44 Cyrus Wise
45
Bab 45 Palace Blossom
46
Bab 46 Lily
47
Bab 47 Gosip
48
Bab 48 Roke
49
Bab 49 Line dan Riric
50
Bab 50 Berburu monster lagi
51
Bab 51 Surat undangan
52
52 Istana Argentum
53
Bab 53 Istana Argentum (2)
54
Bab 54 Pembicaraan dengan Raja
55
Bab 55 Pelayan pribadi
56
Bab 56 Ani
57
Bab 57 Resor
58
Bab 58 Hari Pernikahan
59
Bab 59 Hari Pernikahan 2
60
Bab 60 Persaingan
61
Bab 61 Putra Mahkota Cyrus
62
Bab 62 Tarian Pedang
63
Bab 63 Abu Krystal
64
Bab 64 Melihat Cahaya
65
Bab 65 Teman lama
66
Bab 66 Sabrina Luves
67
Bab 67 Saingan
68
Bab 68 Bangun
69
Bab 69 Hari - hari biasa
70
Bab 70 Surat
71
Bab 71 Hukuman
72
Bab 72 Oci
73
Bab 73 Menemui Raja
74
Bab 74 D'zem Lor
75
75 Meracik Ramuan
76
76 Ruang yang di sembunyikan
77
Bab 77 Hewan Dewa
78
Bab 78 Sebelum badai datang
79
Bab 79 Padang pasir
80
Bab 80 Sihir Hitam
81
Bab 81 Membersihkan Sampah
82
Bab 82 Ramuan Obat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!