Di kursi yang berbeda terlihat kalisa dengan memakai masker membaca majalah.Namun telinganya mendengar setiap perkataan kedua pria yang duduk di meja samping kalisa dengan terhalang 1 meja darinya.
"Sebetulnya siapa kedua pria ini? Apa ada hubungannya dengan tante Adel?Biar sebaiknya aku akan mengikuti mereka" Batin Kalisa.
"Sepertinya korban yang satu lagi masih bisa tertolong om..Apa perlu aku habisi juga?"
"Yah...Habisi dia...Jangan ada yang tersisa"
"Baik Om..Saya pasti habisi dia"
Percakapan kedua pria itu menjadikan kening Kalisa semakin berkernyit.
Apa mungkin mereka pelaku dari semua kejadian ini...? Tapi gak mungkin..Bisa saja itu orang lain..Tapi ada baiknya aku ikuti saja...Aku akan chat mama untuk menjaga papa lebih ketat lagi.
Gumam Kalisa meraih ponsel di tas kecilnya.
Mencari kontak mamanya.Kalisa mencoba menghubungi mamanya.Tapi sambungan ke Kayla tidak dapat tersambung.Setelah sambungan ke tiga kalinya,barulah tersambung.
"Ma...Tolong mama jaga papa lebih ketat lagi.Jangan ada orang asing masuk ke ruang ICU.Karena Kalisa sedang mencurigai seseorang..Tolong yah ma..."
"Oke Kalisa...Mama pasti jaga papamu..." Balas Kayla.
Kalisa bangkit berdiri mengikuti kedua pria itu hingga ke halaman parkir.
Sesampai di halaman parkir Bara dan Reno pisah kendaraan.Karena mereka membawa kendaraan masing-masing.
Sedangkan Reno yang di panggil Om dengan Bara,Perlahan menjalankan mobilnya menuju ke sebuah pemakaman umum.
Sedangkan Kalisa masih menguntit kepergian Reno dari jarah kejauhan.
"Untuk apa dia ke TPU?" Gumam Kalisa masih konsentrasi pada stir mengikuti mobil Reno yang berhenti di halaman parkir TPU yang cukup luas.Ia melihat mobil Reno terparkir di bawah pohon rindang.
Lalu membuka pintu mobil dan melangkah ke area TPU.
Ia jongkok di sebuah makam.
Sedangkan Kalisa ikut memarkirkan mobilnya di jarak agak jauh dari mobil Reno.Ia memandang Reno di sana.Mencoba merekam gerak geriknya.
"Sebetulnya makam siapa?apa ada hubungannya dengan papa?Aku akan coba tanya sama mama,atau aku tanya saja sama Tante Adel" Gumamnya.
Tidak lama kemudian Kalisa melihat sosok pria itu bangun dari jongkok nya Dan masuk ke dalam mobil.
Secepatnya Kalisa pun ikut masuk ke dalam mobil dan menyalahkan mesinnya melanjutkan pengintaian nya.
Mobil Reno pun perlahan masuk ke jalan raya.30 menit dari TPU ia pun sampai pada sebuah rumah ber cat putih dengan pagar hitam.
"Disini rupanya rumah lelaki itu tinggal..Ok..Setelah semuanya selesai,aku kesini lagi untuk penyamaran.."
"Sekarang aku harus balik ke rumah sakit" Gumam Kalisa membalikkan arah mobilnya menuju rumah sakit.
******
Sesampainya di rumah sakit,di lihat mamanya masih duduk di ruang tunggu.
Kalisa menghampirinya.
"Bagai mana kondisi papa ma?Apa sudah sadar?" Kalisa menghempaskan badannya di kursi tunggu.
"Masih belum siuman Kal..." Jawab Kayla lirih.
"Sebaiknya mama pulang dulu istirahat.Biar aku yang jaga papa disini"
"Gak apa-apa kal..Mama mau jaga papa terus"
"Ma..Nanti mama malah sakit...Sebaiknya kita bergiliran aja jaganya" Kalisa menggamit bahu Kayla
"Kamu pulang aja dulu sayang.Mama masih mau disini.Kalau mama capek,nanti mama telpon kamu.Gantian"
"Sip lah..oke kalau begitu aku pulang dulu.Ada Alina kok..Tapi tolong jaga papa dengan ekstra..Karena aku sedang menyelidiki seseorang.Siapa tau ada kaitannya dengan musibah ini"
"Maksud kamu Kalisa?" Dahi Kayla berkernyit.
"Aaah..Sudahlah ma...Aku tinggal dulu yah..." Tukas Kalisa mengkah pergi meninggalkan mamanya yang masih diam termangu.
"Krieeeet"
Terlihat pintu ruang ICU terbuka dengan langkah dokter keluar ruangan itu.Membuat Kayla langsung berdiri menghampiri dokter wanita.
"Dokter...Bagai mana dengan suami saya Dok?"
" Semua berjalan sesuai harapan.Bapak Agam sudah melewati masa kritisnya.Dan saat ini beliau sudah siuman"Jawab dokter
"Alhamdulilah...Apa saya sudah boleh masuk Dok?" Tanya Kayla seolah ingin menangis.
"Silahkan bu..."
"Baik Dokter...Terima kasih" Jawab kayla melangkah masuk ke ruang ICU.
Sosok Agam masih terbaring lemah dengan alat infus masih terpasang di tangannya.Juga alat oksigen di hidungnya.
"Agam..." Desis Kayla dengan air bening menetes dari netranya.
Agam menoleh dan tersenyum.
"Kenapa harus menangis?Aku gak apa-apa sayang" Suara Agam tertutup di dalam masker oksigen.Namun masih bisa di mengerti oleh Kayla.
"Istri yang mana yang tidak menangis melihat sang suami sedang bertarung bersama maut" Suara Kayla lirih seraya memeluk lengan Agam disisi ranjang.Di balas senyuman sang suami.
"Kamu pasti capek nungguin aku yah?Kamu istirahat saja dulu...Nanti kamu sakit"
"Nggak..Untuk kamu aku tidak pernah lelah"Suara kayla perlahan.
" Maaf Bu..Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat" Ujar perawat di belakang kayla yang sudah mempersiapkan Brangkar untuk pemindahan Agam
"Oh Iyah Sus..Silahkan.." Jawab kayla memberi luang ke perawat.
"Sebaiknya Ibu tunggu di luar saja.Dan nanti sekalian ikut kami ke ruang rawat"
"Baik Sus.." kayla melangkah keluar ruang ICU.Meraih ponsel di tas kecilnya.Lalu mencari kontak Alina.
"Iyah ma...Ada apa?" Suara Alina di seberang telpon.
"Kamu dimana nak?"
"Aku di kantin ma..."
"Papa kamu sudah siuman.Sebaiknya kamu kesini dulu" Ujar kayla semangat.
"Oh gitu?Iya ma...iya..Aku kesana sekarang"
Alina menutup ponselnya.Melangkah kembali ke ruang ICU.
Namun setengah perjalanan ia melihat mamanya dan dua orang perawat yang mendorong brangkar memasuki lif.
'Ma...Mama..."Panggil Alina menjadikan Rosa menoleh ke arahnya.
"Tunggu ma..."
"Iya cepat Alina..." Seru kayla memasuki lif.
Sedangkan Alina berlari menghampiri memasuki lif.
"Di ruang apa ma?" Tanya Alina.
"Akan kami antar ke ruang Flamboyan mba" Suster yang menjawab
Namun lif yang hampir tertutup terbuka kembali karena seseorang menekan tombol dari luar lif.
"Pak David? ini Pak David kan?"Ayah angkat Darren?" Desis Kayla.
'Oh iya Bu...Saya mau cek ke dokter..Loh Ibu sendiri kenapa ada disini?Loh...?Ini kok ada Pak Agam?Kenapa dengan Pak Agam?" David menoleh ke brangkar Agam
"Ok..Biar nanti saya ceritakan yah Pak..Karena Bapak akan di pindahkan keruang rawat" Ujar Kayla
Karena memang di pertengahan acara pernikahan Rangga,Secara tiba-tiba David merasakan sakit di dadanya.Ia memanggil Dani adiknya untuk mengantar ke rumah sakit.Dan tidak memberi tahu kan yang lain.Karena David tidak ingin Darren mau pun yang lainnya merasa khawatir.
"Yah sekalian saja...Biar Kami ikut keruang rawat" Ucap David.
"Ting"
Lif terbuka.Dua perawat menarik brangkar untuk keluar lif menuju ruang rawat.Di ikuti langkah Kayla dan Alina serta David.
Namun tanpa disadari seorang pria sejak di dalam lif tadi memandang Agam dengan tatapan aneh
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
🔵꧁ঔৣ⃝𝐊ꪶꪖ𝘳ꪖ❦꧂
/Rose/untuk Agam
2024-05-14
0
🔵꧁ঔৣ⃝𝐊ꪶꪖ𝘳ꪖ❦꧂
Kalisa bakat jadi detektif /CoolGuy/
2024-05-14
0