Episode 19

Di depan ruang ICU dimana Agam masih belum siuman,Kayla masih mengisak dalam tangisnya.

Begitupun dengan Alina dan Kalisa,juga Darren.Mereka sama-sama merasakan panik luar biasa.

"Dokter..Dokter...Bagai mana suami saya? Gak apa-apa kan Dok...?" Tanya Kayla dengan dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.

" Pasien masih dalam masa Kritis,jadi belum siuman bu.Kami sudah mengeluarkan racun dari pencernaannya.Tapi masih sedikit yang dikeluarkan.Sebaiknya Ibu berdoa saja"

"Tapi dok? Apa suami saya masih dapat di tolong?" Masih bisa di selamatkan kan dok?"

"Maaf Bu..Saya belum bisa memastikan,Sebaiknya ibu banyak doa saja yah..Saya permisi" Ujar Dokter meninggalkan Kayla dengan bibir menganga.

Sedangkan Kalisa menghampiri mamanya.

"Mama sebaiknya sabar dan banyak doa yah.." Kalisa menggamit pundak mamanya lembut menggiringnya untuk duduk di kursi tunggu.

"Siapa sih yang sudah kasih racun ma?" Gumam kalisa mengernyitkan keningnya.

"Mama juga belum tahu Kal..Rasa-rasanya gak mungkin.Karena Papa gak pernah punya musuh.Tapi entah dengan Om Adam" Jawab Kayla menahan isak.

"Aku mau ke ruang jenazah Om Adam dulu ma"

"Oh yah sudah..Aku haus dari tadi lupa minum.Aku tinggal ke kantin dulu yah Tan.." Ujar Kalisa melangkah pergi dari hadapan Kayla

"Iya ma..Aku kesana dulu yah" Ucap Kalisa melangkah ke ruang jenasah.

Di ruang jenasah Adel masih meraung-raung juga dengan Sonia dan Soraya.

"Tante..Tante yang sabar yah...Tuhan sudah menentukan jalan hidup kita.Dan kita gak bisa menolak...Kita duduk dulu yuk di depan" Ucap Kalisa dengan suara perlahan.

Dan Adel menghentikan tangisnya seraya mengangguk.Mengikuti langkah Kalisa keluar ruangan dan duduk di kursi tunggu.

"Bagaimana keadaan Papa kamu Kal?" Tanya Adel dengan suara parau.

"Papa masih kritis Tan..Masih belum sadar juga"

"Dokter bilang apa?"

"Yah dokter pun belum bisa prediksi.Kita semua disuruh doa" Jawab Kalisa sama suara paraunya.

"Semoga aja Papa kamu masih bisa tertolong.Semoga Tuhan lindungi dia"

"Iyah Tan..Oh Iyah..Tante mau titip apa?Aku belikan minum dulu yah di kantin"

"Tidak usah Kal..Tadi Rangga sudah beli minum"

"Yah sudah..Aku tinggal ke kantin dulu yah Tan..Aku haus dari tadi belum sempat minum" Jawab Kalisa meninggalkan Adel

Adela hanya berdiam diri dengan matanya yang sembab menerawang jauh dengan tatapan kosong lurus ke depan dengan air mata yang tidak mau berhenti jatuh ke pipinya.

Tak di sadari seseorang duduk di sampingnya dan menyapanya.

"Sudah lama yah kita gak ketemu" Ucap pria di sampingnya.Menjadikan Adel menoleh ke arahnya.

"Reno? kau..Bukan kah kamu Reno?"

Mata Adel membelalak lebar melihat pria yang dia kenal beberapa belas tahun yang lalu.

"Betul..Gua Reno..Reno teman baikmu dulu.Teman menggairahkan.Hahaha"

" Teman?Teman yang selalu manfaatin diri gue? Lalu loe dan Rafi sempat-sempatnya curi duit gue"

"Hahaha...Masih aja di ungkit masalah itu" Jawab Reno menatap tajam wajah Adel.

"Ooow.. Pastinya gue inget seumur hidup gue..kalian yang membuat hidup gue sengsara" Jawab Adel mendengus.

"Lantas belum cukup suami luh balas dendamnya dengan mematahkan tangan gue dan Rafi?Sampai-sampai Rafi meninggal setahun kemudian?Padahal anaknya baru saja lahir..Baru aja Rafi melihat wajah anaknya.Masih belum puas suami luh bikin teman gue mati?"

Ucapan Reno terdengar lirih yang seolah ia mengeluarkan unek-uneknya yang telah lama tersimpan di lubuk hatinya.

"Lantas dimana sekarang istrinya?Siapa istrinya?kenapa gak kabarin gue?" Tanya Adel mengernyitkan keningnya.

"Istri Rafi pun sudah meninggal 5 tahun kemudian setelah Rafi meninggal.Dia sempat menikah dengan seorang pria psikopat yang tega menganiayanya sampai meninggal"

"Kejadiannya seperti apa?" Tanya Adel penasaran.

"Hahahaha...Tragis memang...Benar-benar tragis...Maka dari itu,Ada bagusnya suami luh meninggal untuk menemui Rafi di akherat. Karena dia harus meminta maaf sama Rafi"

"PLAAk" Tiba-tiba tangan Adel melayang di pipi Reno.

"Heee...Berani sekali luh tampar gua?Ok..Gue akan bikin hidup luh sengsara selamanya..Ingat itu" Ujar Reno berlalu pergi.

Kalisa baru saja tiba dengan sebotol air mineral di tangannya.

"Tante...Yang tadi itu siapa?"

"Oooh...Bu..Bukan siapa-siapa..Cuma orang nyasar aja" Jawab Adel gugup.Membuat mata Kalisa menatap tajam mata Adel menyimpan sesuatu misteri.

Lalu Kalisa membuntuti pria itu dari jarak jauh

*****

Terlihat Kayla masih menunggu Agam ruang rawat.Sedangkan Agam tertidur kembali.

"Selamat pagi Bu Kayla..Bisa saya bicara?Ada hal penting yang harus saya sampaikan" Ujar Pak Marco di pagi hari di depan ruang ICU.

"Bisa Pak..bicara saja..Ada apa?"

"Begini bu..menurut keterangan di dalam CCTV,Ada seorang yang tidak di kenal menggantikan Arda seorang bartender.Kami sudah selidiki menghubungi Arda.Ternyata beliau mendapat bayaran 100 juta untuk dirinya di gantikan orang itu"

"Apa?Jadi benar Adam di bunuh seseorang?" Sontak saja Kayla terkejut.

"Benar sekali bu..."

"Siapa orang itu Pak?"

"Saya juga belum tahu siapa orang itu..karena beliau memakai masker. Dan sekarang kasus ini sedang di tangani polisi.Harap Ibu bersabar" Ujar Pak Marco.

"Baik kalau begitu..Saya tunggu kabar baiknya Pak.." Jawab Kayla.

"Baik bu..Kalau begitu saya permisi" Ujar Pak Marco meninggalkan rumah sakit.

Sedangkan Darren yang sudah mendengar percakapan Pak Marco dan Kayla hanya terdiam seraya menunduk.

Aku akan selidiki semuanya..Ini gak bisa di diamkan..Aku harus balaskan perbuatan kejahatan terhadap papa dan Om Adam" Bati Darren seraya melangkah keluar rumah sakit.

Tanpa disengaja langkahnya bertabrakan dengan pemuda tinggi besar berkulit coklat memakai masker hitam.

"Oh maaf..." Gumam Darren.

"Silahkan" Jawab pemuda itu mempersilahkan Darren jalan dengan nada acuh dan menatap Darren tajam.

Langkah Darren menuju ke arah kantin yang terletak bersebelahan dengan rumah sakit.

Sesampainya di kantin,dihempaskan tubuhnya ke kursi seraya menghela nafas panjang.

"Maaf Pak..Bapak mau pesan makanan atau minuman?" Tanya pelayan.

"Saya pesan cofee latte"

"Baik Pak..Di tunggu" Jawab pelayan meninggalkan Darren yang masih dengan fikiran kalutnya di penuhi rasa khawatir terhadap papanya yang baru di jumpainya,dan kini di ruang ICU.

Yah Tuhan..Kiranya kau tolong Papa aku.Jauhkan ia dari marabahaya.Ampuni dosa-dosanya.Aku masih ingin bersamanya yah Allah...Doa batin Darren menarik-narik rambutnya dengan air bening yang luruh di matanya.

Tak terasa air bening menetes dari netra nya.

Namun telinganya mendengar percakapan kedua pria yang baru saja duduk.

"Kamu anak hebat...Dan sekarang kamu tahu kan?apa yang harus kau lakukan?"

"Yah saya tahu Om..Om tenang saja.Pembunuh Papa dan Mama aku pasti akan aku habisi"

Darren menghentikan tangisnya.Pembicaraan kedua orang di meja sebelahnya membuyarkan kegalauannya.

Siapakah mereka? Batin Darren.

"Yang membunuh Papamu adalah orang yang dengan sengaja mematahkan tangan Papa kamu terlebih dahulu.Sedangkan yang membunuh mamamu itu seorang pisikopat.ingat itu Bara"

"Iyah Om..Saya pasti mengingat semua..Saya tidak akan melupakan setiap wajah pembunuh kedua orang tua saya...Sekarang tinggal satu langkah lagi..Saya harus mencari pembunuh mama saya...Karena saya sudah menghabisi pembunuh Papa saya..."Gumam Bara.

"Hahahahaha....." Kau memang anak hebat..." Ujar pria yang duduk berhadapan dengan Bara.

Terpopuler

Comments

🔵꧁ঔৣ⃝𝐊ꪶꪖ𝘳ꪖ❦꧂

🔵꧁ঔৣ⃝𝐊ꪶꪖ𝘳ꪖ❦꧂

bara anaknya Rafi ternyata /Shy/

2024-05-14

0

🔵꧁ঔৣ⃝𝐊ꪶꪖ𝘳ꪖ❦꧂

🔵꧁ঔৣ⃝𝐊ꪶꪖ𝘳ꪖ❦꧂

laporkan ke polisi Adel /Cry/

2024-05-14

0

🔵꧁ঔৣ⃝𝐊ꪶꪖ𝘳ꪖ❦꧂

🔵꧁ঔৣ⃝𝐊ꪶꪖ𝘳ꪖ❦꧂

lah muncul lagi

2024-05-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!