"Kau ini kenapa Vid? Jantungmu kumat lagi yah?"
Tanya Dani baru saja sampai di rumah David.
"Sakit Dan.." keluh David seraya memegang dadanya.
"Kita ke dokter yah"
"Tidak perlu...Nanti juga Darren pulang.Dia lagi ke apotik beli obat"
"Darren baru jalan ke apotik atau sudah lama?"
"Entahlah..sudah berapa jam lalu" Jawab David.
"Yah ampun itu anak kok lama banget sih.Gak mungkin ke apotik aja selama itu" Gerutu Dani seraya mengambil ponsel di sakunya yang berdering.
"Gak ada namanya?Siapa yah?" Gumamnya.
"Halo..."
"Halo selamat sore Pak..."
"Iya sore..."
"Saya dari kepolisian,Betul ini dengan Pak Dani selaku Om dari saudara Darren?"
"Betul Pak..Ada apa yah?" Sontak Dani terkejut.
"Sekarang ini Darren ada di kantor kami.Harap kesediaannya datang.Apa anda bersedia?"
"Ada apa dengan Darren Pak?" Tanya Dani.
"Nanti akan di jelaskan di kantor.Harap kedatangan bapak kami tunggu"
"Oooh..baik Pak..baik..Saya akan kesana,di tunggu"Dani menutup sambungan telponnya.
Dani merasakan sekujur tubuhnya menjadi lemas seolah tanpa sendi.Ia tidak percaya kalau Darren melakukan sesuatu yang tidak di inginkan.
" Vid,Aku ke apotik dulu yah beli obat jantung kamu..Setelah itu aku ada urusan"Ujar Dani sambil melangkah pergi,tidak mau memberitahukan David karena sakitnya bisa membahayakan,apa bila David mendengar berita tidak baik.
******
Sedangkan di rumah milik orang tua Ida,Baru saja Kayla menerima telpon dari rumah sakit,mengabarkan kalau Ida sudah meninggal.Kayla duduk tersungkur jatuh di tepi ranjang.
"Telpon dari siapa Kay?" Tanya Agam.
"Ida...Ida.. " Kayla tidak dapat meneruskan bicaranya.
"Kenapa sama Ida?ngomong kay..ayo bicara,kenapa sama Ida?"
Agam mengguncang-guncangkan pundak Kayla.
"Ida Gam..Ida meninggal"
"Apa?Kamu yang benar Kay..Kata siapa?Kamu cuma main-Main kan?Ini gak benar kan?"
Tangan Agam mengguncang lagi pundak Kayla yang hanya diam dan menangis.Mata Agam mulai berkaca-kaca.
" Kenapa bisa meninggal Kay?Kenapa?Jawab?"
"Aku juga gak tau Gam..kita di suruh datang ke rumah sakit"
Akhirnya Agam pun menangis meraung-raung di sela tangisan Kayla.
Yah sudah..kita kesana sekarang" Agam langsung mengganti pakaiannya.Begitu pun Kayla mengganti pakaiannya dan meraih tasnya.
*****
Di rumah sakit
Kayla dan Agam juga ada Kalisa dan Alina.Mereka langsung masuk kamar jenazah yang di tunjuk perawat.Dan mereka menangis meraung-raung.
Kayla membuka kain putih penutup jenazah Ida yang sudah pucat,Di peluknya tubuh Ida.Walau pun ia cuma ibu sambung,Tapi Kayla mencintainya seperti anaknya sendiri.Begitu juga Agam memeluk tubuh yang sudah kaku.Juga Alina menumpahkan tangisnya di samping Ida.Hanya Kalisa yang menangis tertahan.
Agam melangkah menemui perawat yang ada disana.
Suster,Saya mau tanya penyebab kematian anak saya"
"Menurut catatan dari kepolisian,Putri Bapak di tabrak seorang pengendara motor disaat berboncengan dengan kekasihnya.Untuk lebih jelas lagi,Silahkan Bapak datang ke kantor polisi yang ada di sebelah rumah sakit ini" Jawab perawat.
"Ah yah...Kekasihnya Ida,apakah ada disini juga?"
"Iya ada Pak,namanya Rangga.Beliau ada diruang ICU
"Terima kasih Sus"Ujar Agam kembali menghampiri Kayla.
" Kayla,Aku ke kantor polisi di sebelah"
"Mau ngapain Gam?" Tanya Kayla.
"Aku mau tahu,siapa pelaku yang menabrak anakku"
Agam bergegas pergi menuju kantor polisi yang terletak tepat bersebelahan dengan rumah sakit.
"Selamat sore Pak..." Sapa Agam.
"Iyah..Selamat sore.Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau menanyakan perihal putri saya bernama Ida Hardian korban tabrakan"
"Oh iyah..silahkan duduk" Polisi mempersilahkan Agam duduk,dan mengambil surat berkas di mejanya.
"Menurut keterangan yang di dapat dari warga,Kalau anak Bapak sedang berboncengan dengan kekasihnya bernama Rangga.Dan seorang pengendara bermotor menabraknya.Tapi saya belum bisa memastikan, benar atau tidaknya.Kami akan mencari tahu ada atau tidaknya cctv di sekitar itu"
"Siapa yang sudah menabrak anak saya Pak?" Tanya Agam geram dengan tangan mengepal.
"Sebentar,Akan kami panggil..Pak Surya,Tolong panggilkan pelaku bernama Darren!"Perintah polisi ke kerabatnya yang sedang berdiri.
" Baik Pak..Mohon di tunggu."
Tidak sampai 5 menit,Poisi bernama Surya datang dengan menggiring seorang pemuda bernama Darren.
"Sementara dari keterangan yang kami dapat,inilah pelakunya Pak.." Ujar polisi.
"Kamu itu?Brengsek! Pembunuh!!"
"Bu..bukan.Om..bukan Sa.."
"BRUK..."
Sebuah tinju dari tangan Agam melayang ke wajah Darren.
"Kurang ajar anak brengsek kau!Pasti kebut-kebutan.Brengsek!"
"BRUK..BRAK..BRUK"
"Sudah Pak...jangan buat keributan disini.Tolong kooperatif" Polisi memisahkan.Dan Darren dengan wajah menjadi memar bekas tinju tangan Agam,di giring ke dalam lagi.
"Anak saya meninggal gara-gara dia Pak..orang tua mana yang tidak sakit hati melihat anaknya sudah di renggut nyawanya"Agam yang emosi menjadi menangis.
"Kami mengerti kalau bapak sekeluarga sedang berduka.Tolong kerja samanya Pak.Karena ini baru berita sementara waktu saja"
"Saya minta anak itu di hukum seberat-beratnya Pak..Saya gak relah kehilangan anak saya. Hati saya sakit sekali Pak!" Ujar Agam menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Baik Pak..Bapak bersabar..." Ujar polisi.
"Kalau begitu saya permisi.. Terima kasih Pak.."
Agam melangkah pergi kembali menuju rumah sakit.
Bayangan wajah Darren masih melintas di matanya.
Kenapa wajah si pembunuh itu seperti tidak asing di mata aku? Gumam hatinya.
Ia kembali ke ruang jenazah Ida.
Memandangi tubuh Ida terbujur kaku dengan wajah cantiknya perpaduan Papa dan Mamanya.Kini pergi dan tak akan kembali lagi.
"Gam...Kamu sudah tahu pelakunya?" Tanya Kayla.
"Sudah" Jawab Agam singkat.
"Siapa Gam..?"
"Anak muda..mungkin lagi kebut-kebutan" Ujar Agam menunduk.
"Kasihan Ida Gam..masih muda begini sudah di renggut nyawanya"Ucap Kayla kembali menangis.
" Sudahlah...Aku ingin pelakunya di hukum seberat-beratnya"
Suara Agam gemetar menahan geram dengan gigi gemeletuk.
"Terus?Rangga dimana sekarang?" Tanya Kayla.
"Oh Iyah..Katanya di ruang ICU belum sadar diri..Ayo kita kesana" Ajak Agam melangkah ke ruang icu.
Kayla dan Agam masuk ke ruang ICU yang di tunjuk perawat.Karena yang mereka tahu,Rangga kekasih Ida selama belakangan ini.Rangga yang selama ini di kenal pemuda yang baik.Tidak pernah membuat masalah.Dan tidak pernah adanya pertengkaran antara Rangga dan Ida.Mereka rukun-rukun saja.
Dilihatnya Tubuh Rangga terbaring tanpa daya.Dengan oksigen dan infusan.
Terlihat juga Ibu angkat Rangga yang menangis di sampingnya.
Ibu Naomi Ibu angkat Rangga dengan penuh kasih ia merawatnya dan tidak akan relah kalau terjadi sesuatu dengannya.
Kalisa
Alina
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments