Bab 18

"Itu, racun." Bisik sang raja, ratu menutup mulutnya hampir tak percaya.

"Tapi, bukankah itu di berikan oleh Evelin?" Ratu begitu yakin karena dia sendirilah yang menerima obat itu dari menantunya.

"Iya, dia bukan gadis biasa. Kita harus selalu waspada, tak ada yang dapat kita percaya." Bisik sang raja, keduanya mengangguk setuju.

.

.

.

Alena dan Mattias akhirnya sampai di depan gerbang sebuah kuil, mereka menatap sekeliling yang di penuhi banyak bunga dan anggur. Pohon-pohon besar yang memiliki bunga yang aneh.

"Salam kepada yang mulia Duke dan Duckess. Yang mulia, kami dan pemimpin suci telah menunggu." Ucap seorang penjaga kuil, keduanya masuk ke dalam kuil besar itu dan tampaklah seorang pria yang berbaring di sebuah ruangan.

"Beliau adalah pemimpin para manusia suci," tutur Mattias menjelaskan pada sang istri yang nampak kebingungan.

"Salam yang mulia Kaisar dan Permaisuri. Hamba tak dapat memberi salam dengan benar, ampunilah orang tua ini wahai utusan dewa." Alena kembali kebingungan, mereka hanya seorang duke. Tapi kenapa mereka justru di panggil Kaisar?

"Pemimpin suci, salam dari Alena Altair." Ucap Alena menundukkan wajahnya dan menatap mata pria itu yang tengah tertutup.

"Yang mulia permaisuri, apa putri sudah besar?" Alena kembali kebingungan dengan percakapan itu.

"Pemimpin suci, kami belum membentuk kekaisaran. Kami ingin memeriksa perut istri saya." Mattias akhirnya ambil bicara, sejak pertama kali Mattias hidup di dunia ini. Pemimpin suci memang selalu salah berbicara dan mengatakan apa yang akan terjadi bukan yang sedang terjadi.

"Pantas saja, aku merasakan kehadiran putri kecil. Aku kira dia sudah lahir. Kemarilah, orang suci ini hanya ingin memberikan berkatnya." Pemimpin suci di bantu beberapa pendeta menaruh tangannya di atas perut Alena.

Cling!

Cahaya keemasan keluar hingga menyilaukan mata Alena dan Mattias. Semua pendeta nampak takjub dengan cahaya yang luar biasa itu.

"Beliau memang putri kecil, pergilah ke menara sihir untuk mendapatkan perlindungan. Dia memiliki darah sihir dan manusia suci, dia akan menjadi dewi kebahagiaan." Ucap Pemimpin suci dengan senyum di bibirnya.

Mata Mattias terasa berembun, dia menatap Alena yang tertegun dan bercucuran air mata. Mattias memeluk Alena dan menangis bersamaan.

"Terima kasih, istriku sayang." Ucap Mattias mengecup kening istrinya berulang-ulang. Semua orang di sana ikut menangis, bagaimanapun juga darah suci dan sihir tak pernah bersatu. Dan dunia mewujudkan keinginan mereka dengan hadirnya sosok penerus Altair yang memiliki keduanya.

"Selamat yang mulia." Ucap semua orang menunduk hormat, Mattias mengangguk begitupun Alena.

Sebuah cahaya keluar dari kening Mattias dan luka di keningnya menghilang, lambang pedang berwarna keemasan nampak indah. Alena ingat dengan kejadian itu dengan sangat pasti.

"Ternyata itu kamu, suamiku?" Alena mengecup kening Mattias lagi. Mattias tersenyum dan duduk di samping manusia suci seraya menggenggam tangan sang istri.

"I-itu, bukankah pedang suci reinkarnasi?" Tanya seorang pendeta pada yang lainnya saat melihat kening Mattias, kembali kehebohan terjadi di kuil besar tersebut.

"Beliau adalah utusan dewa, pemimpin baru bagi umat manusia!" Ucap yang lainnya, sontak semua orang terkejut mendengar penuturan salah satu pendeta senior.

"Benar, beliau adalah utusan dewa. Sejak beliau lahir di dunia ini, beliau adalah pemimpin kita semua. Lambang hanya sebatas lambang." Ucap Pemimpin suci, semua orang terkejut.

"Namun guru, bukankah seseorang yang terpilih harus mendapatkan penderitaan selama 700 reinkarnasi dan kematian, seta harus hidup kembali?" Tanya salah satu Pendeta senior.

"Benar, beliau telah melewatinya. 700 Reinkarnasi dan mengingat 700 kehidupannya." Alena tertegun mendengar ucapan sang pemimpin suci. Mata Alena langsung tertuju pada Mattias yang sejak tadi terus memperhatikan perutnya.

"Suamiku, apa itu benar?" Tanya Alena mengangkat wajah pria itu dengan lembut.

"Buku di dunia itu, aku yang menulisnya." Ucap Mattias menangkap tangan Alena dan mengecupnya dengan lembut.

"Aku tersiksa selama ribuan tahun tanpa dirimu, aku bahkan tak dapat menghitung berapa banyak aku mati. Aku hanya merasa menderita, karena kamu tak berada di sampingku." Mattias meneteskan air matanya, Alena terperanjak dengan pengakuan sang suami.

"Maafkan aku, t-tapi.." Sebuah cahaya keluar dari ujung jari telunjuk Mattias dan menyentuh jari manis istrinya.

"I-ini!" Alena tertegun dan terkejut sangat luar biasa, dia mendapati sebuah cincin yang selalu dia gunakan di dunianya.

"Al&Al, Altair&Alena." Ucap Mattias dengan air matanya yang kembali berlinangan.

Bagitu banyak pertanyaan dalam benak Alena, begitu banyak yang perlu dia tahu dan bagaimana bisa dia tidak tahu bila suaminya adalah kunci yang menjadikan semua hal di dunia ini terjadi.

"Apa kau membenciku?" Tanya Mattias dengan tatapan sendu.

Alena menggelengkan kepalanya, mana mungkin dia membenci Mattias. Berkat Mattias Alena dapat merasakan arti keluarga dan kasih sayang yang melimpah.

"Aku harusnya berterima kasih. Tapi, kapan kita bertemu ya?" Tanya Alena dengan wajah berbinar penuh harap.

"Saat kamu dapat menerima kenyataan dengan lapang dada, saat itu ingatan mu akan muncul. Tak harus aku menceritakannya karena hanya ada cinta dan sayang yang aku miliki." Mattias tersenyum tulus, Alena menganggukkan kepalanya.

Para pendeta nampak mengangguk menyimak percakapan itu, semuanya mengangguk seolah mengerti apa yang mereka bicarakan.

"Makanan kesukaan ku?" Tanya Alena tiba-tiba dengan jari telunjuk di todongkan pada Mattias.

"Mie cup itu bukan makanan kesukaan, tapi ini adalah perpaduan rasa dari semua makanan yang ingin ku makan!" Mattias berlagak mencontohkan cara bicara Alena.

Alena tertegun sedangkan para pendeta nampak kebingungan, tawa Alena akhirnya menggema dan mengangkat jempolnya.

"Benar, aku rindu." Ucap Alena hampir ngiler. Mattias terkekeh dan mengusap perut sang istri dengan lembut.

"Ngidam pertama, apa mau sekarang?" Tanya Mattias dengan senyum di bibirnya.

"Apa bisa buat mie cup? Serius?" Tanya Alena kegirangan, para pendeta nampak tertarik juga.

"Serius, meski tak akan sama persisi." Cicit Mattias, Alena berdiri tiba-tiba hingga membuat Mattias terkejut dan menahan tubuh Alena.

"Hari-hati," tutur Mattias memeluk istrinya saking terkejutnya, Alena tertegun dengan sikap posesif Mattias.

"Sayang, aku hanya berdiri tahu!" Alena menggelengkan kepalanya, tiba-tiba tubuhnya terasa melayang saat tangan kekar Mattias mengangkatnya.

"Harus hati-hati, salam untuk para pendeta dan pemimpin manusia suci." Mattias menunduk memberi hormat.

"Tunggu!" Pemimpin suci menghentikan langkah Mattias yang hendak keluar dari tempat tersebut.

"Ada satu hal yang ingin saya sampaikan." Pemimpin suci yang tak dapat melakukan apapun selain berbaring itu membuat Mattias kembali berbalik kebingungan.

"Anda harus berhati-hati." Ucap Pemimpin suci, para pendeta tertegun saat melihat sebuah gambaran yang bisa di katakan sebagai ramalan itu kini terpampang jelas di di hadapan mereka.

[Nah, ramalan apa lo?]

Terpopuler

Comments

Lala Kusumah

Lala Kusumah

selamat ya Ale n Alta.... waduh ramalan apalagi ya.... lanjuuuuuuutt....

2024-03-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!