Bab 17

Waktu yang di tetapkan untuk mengunjungi tanah suci akhirnya tiba, setelah adanya Drama panjang dari Mattias yang seoalah menjadi manusia paling bahagia di seluruh dunia, pada akhirnya Alena berangkat bersama beberapa pengawal. Dan tentu saja Mattias tak mungkin akan tertinggal.

Sepanjang perjalanan Mattias terus bertanya mengenai perasaan Alena, dia nampak begitu posesif dan akan terkejut bila hal sekecil apapun terjadi pada Alena.

.

.

.

Prang!

Gelas nampak pecah menjadi serpihan tak berbentuk di atas lantai sebuah pesta megah yang di gelar di istana, semua orang langsung tertuju pada sosok yang menjatuhkan gelas itu.

"A-apa yang terjadi?" Tanya sosok pria berperawakan tinggi, wajahnya nampak buram saat melihat seorang wanita yang menjatuhkan cangkir tersebut.

"Elizabeth, apa yang kau lakukan?" Tanya sosok pria tersebut, matanya nampak menaruh dendam yang teramat dalam.

"Pangeran, apa anda tadi tidak salah bicara?" Tanya Elizabeth dengan mata yang sudah berembun.

"Tidak, aku memang berencana menjadikan mu selir." Ucap Pierta dengan mata seolah mengatakan 'sial sekali' namun wajahnya nampak datar seperti biasanya.

"Apa? Pangeran, apa anda tidak salah pilih?" Seorang wanita berdiri, rambut pirang keemasannya sudah dapat di kenali semua orang.

"Sudahlah, kenapa kalian mempermasalahkan hal seperti ini. Wajar bila seorang Pangeran memiliki selir bukan?" Beberapa bangsawan menutup mulut mereka dengan kipas, mereka saling berbisik satu sama lain.

"Anda benar, t-tapi apa ini tidak berlebihan?" Evelin merasa terjebak dengan apa yang dia lakukan.

Evelin adalah seorang manusia suci yang di berkati, namun peraturan manusia suci adalah untuk tidak berhubungan badan dengan orang lain. Bila Evelin melanggarnya maka berkat yang dia miliki juga akan menghilang. Berkat yang di miliki Evelin sendiri adalah di bidang pengobatan, sehingga Evelin di juluki dewi penolong.

"Jangan khawatir," Bisik Pangeran mahkota, Evelin menganggukkan kepalanaya.

Tak dapat di pungkiri, hatinya sebagai seorang istri kini tercabik-cabik. Setelah membiarkan suaminya bermain dengan begitu banyak wanita, Evelin tak menyangka bila salah satu di antaranya akan mengincar sesuatu yang tidak semestinya.

Evelin berlari menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamarnya, bisik-bisik dan desas-desus para bangsawan mulai terdengar makin keras saat malam makin larut.

"Kita lakukan rencana kita, kita tidak boleh menundanya lagi!" Pekik Evelin pada sosok berjubah hitam di dalam kamarnya.

"Baik yang mulia." Jawab sosok tersebut, sebelum akhirnya lingkaran sihir nampak menghiasi bagian bawah tubuhnya dan menghilang begitu saja.

"Hem, Elizabeth? Sepertinya aku akan menemani mu untuk bermain di istana." Ucap Evelin sebelum akhirnya tawa menggema terdengar dari kamar itu.

Sebuah kabar setelah di angkatnya Elizabeth menjadi selir, akhirnya terbongkar pul ke muka umum apa yang sebenarnya terjadi. Elizabeth tengah mengandung anak dari sang pangeran mahkota, Raja juga sudah mendengar mengenai kabar tersebut.

Namun, baik raja maupun ratu tak ada yang memiliki prasangka baik dengan keadaan tersebut. Berita mengenai kehamilan Elizabeth sudah sampai di tanah Altair, namun hanya Mattias yang tahu mengenai hal tersebut.

Mattias sama sekali tak ingin berhubungan dengan kehidupan istana yang sangat mengesalkan baginya. Namun, bukan berati dia harus tidak tahu apa-apa. Mattias hanya tidak ingin terlibat dengan mereka yang melakukan segala cara hanya demi pencitraan atau kekuasaan saja.

Beberapa hari setelah pengumuman menghebohkan itu, akhirnya berita miring muncul mengenai Pierta yang selalu bergonta ganti pasangan setiap malam.

"Apa benar kabar itu?" Tanya seorang pria berbaju rapi pada beberapa bangsawan yang tengah asik berbincang.

"Agaknya benar, karena bila itu hanya kabar burung rasanya mustahil akan ada wanita yang hamil sekarang." Ucap seorang bangsawan lainnya, seorang wanita berjubah hitam tersenyum mendengar percakapan itu.

"Sungguh kasihan nasib Putri mahkota, aku merasa bila Pangeran mahkota sangat tidak layak berada di posisinya sekarang." Ucap seorang bangsawan lagi merasa kesal dengan perbuatan tak terpuji yang di lakukan oleh Pierta.

"Apa kita harus merundingkan ini saat sidang mendatang?" Tanya beberapa bangsawan agak ragu, beberapa orang mengangguk dan ada pula yang hanya diam tak berkomentar.

"Bila Pangeran Mahkota lengser dari jabatannya, lantas siapa yang akan menerima berkat sebagai Pangeran Mahkota?" Tanya yang lain, obrolan mulai kacau. Bagaima pun juga ada beberap bangsawan yang sudah terlanjur mendukung putra mahkota.

"Benar juga, apa kita panggil saja Tuan Altair?" Tanya beberap bangsawan, mereka semua menggelengkan kepalanya.

"Dia sama sekali tidak tertarik dengan takhta, dia juga pernah menolak gelar pangeran mahkota." Ucap lagi yang lain, merek mengangguk berbarengan.

"Lantas, siapa kandidat paling cocok saat ini?" Tanya yang lainnya, keheningan yang mencekam memasuki pembicaraan itu.

Tak ada kesimpulan yang mereka dapat, namun mereka juga sudah menetapkan bila sidang kerajaan selanjutnya pasti hal tersebut akan terungkit.

"Heh, dasar orang-orang bodoh. Mereka pada akhirnya akan memilih orang yang baik di mata mereka,para manusia memang tidak memiliki otak!" Ucap seorang wanita berjubah hitam dengan seringai yang menakutkan.

"Yang mulia, kita akan masuk pada rencana ke dua."Seorang pria datang dengan senyuman yang mengerikan.

"Kita lanjutkan, kerikil di dunia ini harus segera di lenyapkan. Permainan bodoh ini sudah membuatku muak! Aku harus mendapatkan mutiara itu untuk membangkitkan kembali para manusia suci." Ucap wanita itu, yang tak lain adalah Evelin sang putri mahkota.

"Baik yang mulia, anda harus segera kembali." Orang tersebut menghilang di atas lingkaran sihir bersama dengan Evelin.

.

.

Waktu menunjukan kian petang, seorang pria nampak sempoyongan dengan kepala yang di tekan dan hidung yang berlumuran darah.

"Yang mulia?" Seorang wanita dari balik kamar itu langsung berteriak dan memeluk pria tersebut dengan hangat.

"Sayang, aku merasa sakit sekali!" Suara serak dan lirih terdengar menyayat. Wanita yang memeluk dan menangis tersedu-sedu.

"Bertahanlah, jangan tinggalkan aku!" Teriak wanita itu mengambil obat dengan tangan bergetar, pria itu menggelengkan kepalanya dan menunjuk sebuah botol kecil.

"Itu dari Mattias, berikan itu pada ku." Ucap pria tersebut, wanita itu bergegas melakukan apa yang di perintahkan si pria. Pria itu langsung meneguk air tersebut sampai habis.

"Haah, aku benar-benar salah telah memilih orang sayang. Kita berada di tengah musibah, apa yang harua kita lakukan?" Ucap pria tersebut yang tak lain adalah sang raja dan ratu.

"Meaki begitu, tapi ini bukan kesalahan mu. Kita hana bisa melakukan apa yang terbaik bagi Lapileon, kita sudah berusaha." Ucap sang ratu berusaha menguatkan suaminya sendiri.

"Obat itu bukan sekedar obat sayang," bisik raja di dekat telinga sang ratu seraya menunjuk ke arah sebuah obat yang sering di konsumsi oleh sang raja.

Terpopuler

Comments

Ani

Ani

obat apakah itu 🤔🤔🤔🤔

2024-02-24

2

!M@m@#

!M@m@#

akhirnya yg di tunggu",thankyou thorr,dah puas sekarang /Grin//Grin/

2024-02-23

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!