Bab 3

Di sore hari yang kian dingin, tanpa menggunakan mantel Alena dan beberapa pelayan pria memasang meja panjang dan Alena berdiri tegak dengan sangat pasti.

"Makanan dan selimut gratis!" Teriak Alena membuat beberapa orang menatap Alena bingung, beberapa pelayan yang di pimpin Alena langsung membagikan makanan itu pada beberapa gelandangan, beberapa juga akhirnya mulai mengantri.

Para bangsawan yang melihat itu nampak meremehkan Alena, sedangkan Alena tak memperdulikan tatapan itu, dia membagikan boneka-boneka besarnya pada anak-anak yang kedinginan.

"Apa anda kedinginan?" Alena menyelimuti seorang pria yang nampak terduduk di tepi jalan, Alena menyerahkan sebuah boneka berwarna merah muda dan sebuah mangkuk hangat berisi bubur lengkap topingnya.

"Makanlah, bila ini kurang anda bisa nambah kok." Ucap Alena ramah, pria itu nampak menatap Alena yang kini mulai menjauhinya.

Pria itu mengusap mangkuk bubur yang mengepul itu, dia merasakan kelembutan saat boneka itu dia dekap. Selimut hangat dan aroma harum yang sangat nyaman merasuki penciumannya.

"Aku salah menilai mu Alena." Tutur pria itu tersenyum penuh arti. Alena sendiri hilir mudik terus membantu para pelayannya.

Di balik jendela Elektra dan sang Ibu memperhatikan Alena yang nampak sangat senang, Elekta juga merasa kagum dengan sang adik yang nampak lelah namun masih tersenyum.

Pandangan Elektra langsung tertuju pada sosok yang mirip gelandangan tengah melahap bubur dan memeluk boneka yang di berikan Alena.

Hingga meraka ahirnya kini saling bersitatap, mata Elektra langsung merinding dan kakinya langsung menjauh dan mendekati gerbang rumahnya menuju Alena. Elektara langsung mencari sosok gelandangan yang sangat di kenalinya itu.

Elektra langsung mencari ke sekeliling namun tak dia temukan lagi, Elektra menghela nafas panjang dan menatap Alena yang sudah hampir selesai.

"Dia masih sama berhati-hatinya." Tutur seorang pria yang kini bersembunyi di balik sebuah tembok.

Lengannya tanpa sadar mengelus boneka dalam pelukannya dan tersenyum lembut, dia tersenyum penuh arti.

"Tadi aku tak salah lihat, dia Mattias. Mau apa Duke itu berada di tempat ini?" Tanya Elektara pada dirinya sendiri.

Misi Alena yang pertama akhirnya selesai juga, semua orang mendapatkan sembako gratis untuk satu minggu ke depan. Mereka juga tak akan takut kedinginan karena Alena membagikan selimut yang hangat.

Membagikan makanan mungkin bukanlah pilihan yang tepat untuk menyokong orang-orang. Namun itu semua di lakukan Alena sebagai tanda syukur karena dia sudah dapat melihat masa depannya sendiri dalam novel itu.

Alena membakar buku hariannya, dia juga membakar segala hal tentang sang Putra Mahkota. Sudah selesai segalanya sekarang, dan Alena juga sudah berusaha keterikatan pengarang pada Novel itu yang ternyata sangat lemah. Orang-orang dalam dunia itu seolah bergerak sesuai keinginan mereka tanpa keterikatan cerita yang sesungguhnya.

Dua minggu lagi hal yang di nantikan Alena akan terjadi, Alena sudah mempersiapkan segalanya.

Benar, sesuai dengan keinginan Alena. Hari itu sebuah undangan sampai ke kediamannya, sang ibu nampak sudah risau saat Alena mendapatkan undangan itu, namun kekhawatiran mereka semakin bertambah saat Alena menerimanya dan menyanggupi akan datang pada acara tersebut.

Acara itu adalah acara di mana hari ulang tahun Putra mahkota di gelar, Alena tahu apa yang akan terjadi dalam pesta itu. Yang jelas dalam novel aslinya kejadian itu bukanlah hal yang baik.

"Alena, apa kamu tidak apa-apa sayang?" Tanya ibu Alena yang merasa sangat khawatir.

"Gak papa Ma, apa aku terlihat kurang baik?" Alena tersenyum manis, sang Ibu menggelengkan kepalanya pertanda Alena nampak sangat baik.

"Apa yang akan kamu hadiahkan Nak?" Tanya sang Ibu khawatir, dalam novel aslinya Alena memberikan hadiah berupa mahkotanya sendiri yang dia jaga selama ini.

"Aku akan memberikan hadiah yang tidak akan beliau lupakan selamanya Ma, Mama tidak perlu khawatir. Aku pasti akan menjaga Mama dan keluarga kita dengan baik." Ucap Alena menyeringai, ibu Alena menyipitkan matanya.

Tanpa sengaja dia merasa merinding dengan apa yang dia lihat sendiri, dia sama sekali tidak menyangka bila putrinya akan memperlihatkan sisinya yang seperti itu, namun sang Ibu juga sudah bersiap akan segala hal buruk yang akan terjadi. Ibu Alena juga membayar beberapa mata-mata sekaligus assasin untuk berjaga-jaga, bila seauatu yang buruk terjadi pada sang putri.

Selama ini Alena yang asli sudah mempelajari gerak-gerik para bangsawan sekaligus bersikap layaknya bangsawan kelas atas.

"Al, kamu hendak pergi dengan siapa?" Tanya sang Ibu lagi merasa sangat khawatir.

"Ya ampun Ma, apa Mama belum tahu aku akan pergi dengan siapa? Bukankah itu sudah sangat jelas bila aku akan pergi dengan siapa?" Mata sang Mama kembali menyipit.

"Al, apa kamu akan menjadi pendamping Putra Mahkota?" Mata Alena seketika membulat mendengar pertanyaan itu dari sang Ibu.

Byuuur!

Alena menyemburkan teh yang ada di mulutnya, sang ibu yang melihat itu langsung menepuk pundak Alena dan mengusapnya lembut.

"Uhuk! Uhuk! Apa-apaan si Ma. Aku tidak akan pernah mau berpasangan dengan b4jing4n itu!" Ungkap Alena tegas, wajah sang ibu nampak berseri-seri mendengarnya.

"Syukurlah, lalu dengan siapa?" Tanya sang ibu lagi serius.

"Dengan Kak El," jawab Alena, sang ibu melongo mendengarnya namun dia merasa sangat tenang dan bangga pada Alena.

"Baiklah sayang, padahal beberapa hari lalu Kakak mu baru saja pulang." Singgung sang ibu, Alena hanya mampu terkekeh dan merekapun melanjutkan minum teh seraya mengobrol santai.

.

.

.

Dua hari sebelum perayaan tersebut, banyak gaun di ibu kota sudah ludes. Perhiasan dan permata juga nampaknya sudah habis dan hal itu di manfaatkan dengan baik oleh keluarga Daisy sebagai pengusaha terbesar di benua tersbut.

Alena juga memilih gaun yang sederhana, meski sisi elegan dan pesonanya sebagai sisi seorang Alena jelas semakin terpancar.

.

.

Hari perayaan itu akhirnya berlangsung, sore itu Alena dan Elektra sudah siap dengan setelan layaknya kakak beradik sesungguhnya, sebuah mantel super mewah yang terbalut sutra dan ukiran emas menghiasi luaran jas Elektara, warna merah tua dan hitam menjadi pilihan mereka.

Sebuah sapu tangan berwarna biru terang layaknya mata mereka, Alena juga menggunakan gaun yang lebih dewasa dari yang biasanya dia gunakan.

Alena menggunkan pakaian yang lebih berani meski masih terkesan sopan bagi kalangan bangsawan. Sebuah gaun yang sangat indah membalut tubuh Alena. Warna merah di pilih Alena dengan hiasan mawar merah di rambutnya, gemerlap permata yang nampak sederhana menghiasi telinga dan lehernya.

Punggung mulus Alena nampak terekspose dengan indah meski terbilang normal karena itu gaun malam, wajah manisnya kini jauh lebih dewasa dan tegas dari biasanya.

Terpopuler

Comments

Manusia Batu

Manusia Batu

/Doge/beginikah?

2025-03-29

0

Elisa Novia

Elisa Novia

bahasa nya kurang baku menurut kua

2024-06-22

0

CaH KangKung,

CaH KangKung,

lanjut...

2024-03-10

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!