Bab 16

Sebuah portal terbuka di bawah gedung tersebut, Mattias menghela nafas dan akan melompat sendirian. Itu adalah pilihan terbaiknya, dia tak mungkin tega melakukan kekerasan pada Alena.

Ngiung!

Barak!

Mattias tertegun saat kaki seorang wanita tiba-tiba tersandung dan jatuh begitu saja. Mata Mattias seketika melotot saat melihat Alena nampak terjatuh di atas sebuah mobil dan berlumuran darah.

Jiwa Alena nampak keluar, namun buku di pelukan Alena yang jatuh berhamburan kertasnya itu justru menyegel Alena dan waktu seolah kembali terulang.

Mattias langsung melompat dan meraih lengan Alena yang terjatuh, wajahnya pucat dengan mata tertutup. Mattias tersentak dan menarik lengan Alena hingga mereka dapat saling bersitatap.

Mattias akhirnya mengerti bila takdir sudah tertulis maka dirinya pasti akan bersama dengan gadis pujaan hatinya, portal telah terbuka sempurna dan menyedot kedua jiwa tersebut.

.

.

.

Mata Mattias langsung terbuka dan mendapati dirinya yang tidak kembali menjadi pangeran kecil, namun dia berada di kereta kuda.

Mattias ingat bila hari itu adalah hari ulang tahun Pangeran mahkota, juga penghinaan awal bagi dirinya. Mattias tak perduli lagi dengan alur hidupnya, namun malam yang bersalju itu sudah membuat dirinya ingin segera tahu, pada tubuh siapa Alena-nya sekarang.

Mattias turun di kawasan istana namun dia tak berniat masuk, tanpa sengaja dia berjalan tak tentu arah. Tubuh tinggi besar dengan wajah yang tertutup rambut, Mattias sadar penampilannya memang sangat buruk untuk di lihat.

Langkahnya terus menjauh dari istana hingga salju turun kian deras dan mantel di tubuhnya seolah tak berefek apa-apa. Mattias menatap sekeliling di mana nampak banyak orang selain dirinya yang kedinginan.

Deg!

Deg!

Jantung Mattias seolah meloncat entah kemana saat matanya menangkap sosok yang kini tengah memperhatikannya di balik jendela, Mattias menatap mata sendu yang kini di penuhi rasa syukur itu.

"Alena?" Ucap Mattias tanpa sadar, tatapan yang berkobar dalam mata itu sangat di kenal oleh Mattias.

"T-tungu?" Alena menjauhi jendela.dan menutup tirai kamarnya, Mattias menekan keningnya.

"Aku harus memastikannya dengan benar," Mattias melihat sebuah kereta kuda yang berhenti di balik gerbang istana keluarga Daisy. Mattias kenal dengan sosok itu, orang yang sangat banyak bicara dan memiliki pemikiran yang luas, dia adalah Elektra Daisy.

Wajah Elektra nampak panik dan berlari ke dalam istana keluarga Daisy dengan sangat terburu-biru, Mattias mulai memperhatikan kembali bagaimana keriuhan malam di keluarga Daisy.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Mattias duduk bersama beberapa gelandangan dan menghangatkan tubuhnya di depan sebuah api unggun sederhana.

"Keluarga Daisy kembali riuh karena Nona muda mereka yang hendak memberi kado.pada Pangeran mahkota." Ucap seorang gelandangan seraya menggelengkan kepalanya.

"Benar, dia bahkan tidak memperdulikan keselamatannya sendiri. Pada awalnya aku tidak suka pada beliau yang seperti itu, namun melihat sisi baik keluarga Daisy, Nona Alena agaknya sangat di manja." Ucap yang lain, memang sudah menjadi rahasia umum bila Alena mengincar posisi Putri mahkota.

'Apa dia sangat ingin menjadi ibu Negara?' Tanya Mattias pada dirinya sendiri. Tak ada jawaban yang dia terima namum melihat bagaimana Alena yang begitu mengejar Pangeran mahkota, sudah jelas bila Alena membutuhkan kekuasaan.

Waktu berlalu menjadi pagi dan berubah menjadi siang, keriuhan tiba-tiba.tercipta di depan kediaman Daisy. Seorang wanita berteriak dengan suara lantang.

"Makanan gratis!" Suara itu adalah Alena, Mattias seolah di bawa pada kenangan masa lalunya bersama Alena.

Setelah lulus sekolah dasar, Alena sering membagikan makanan pada anak panti dengan berteriak seperti itu. Mata Mattias kembali berkaca-kaca hingga sebuah langkah tiba-tiba mendekatinya.

"Alena?" Gumam Mattias, selama ini Mattias salah menilai orang. Alena yang selalu dia benci adalah orang paling tulus di seluruh daratan Lapileon.

Mattias menatap bubur yang mengepul dan boneka besar yang di serahkan Alena padanya, Mattias merasa sangat senang sekaligus bersumpah akan melindungi Alena dengan nyawanya.

.

.

.

"Sayang!" Teriak Alena saat mendapati suaminya yang masuk dengan diam-diam ke dalam kamar mereka.

"Belum tidur?" Tanya Mattias lembut, Alena memajukan bibirnya kesal. Mattias terkekeh dan mengecup kening Alena dengan perasaan yang meluap-luap.

"Bagaimana penelitiannya?" Tanya Mattias menatap beberapa pot di sudut runagan kamar itu yang telah di tumbuhi banyak kecambah.

"Gak tau!" Alena memalingkan wajahnya kesal, Mattias tersenyum dan mengecup kening Alena sekali lagi.

"Besok kita akan pergi ke tanah suci, para penyihir tak dapat masuk ke tempat itu. Tapi, aku penasaran kenapa tiba-tiba Alena ingin pergi ke sana?" Tanya lagi Mattias dengan perasaan yang sangat campur aduk.

"Terus aku harus bagaimana? Kamu saja tak mau menjelaskan." Alena kembali marah dengan wajah paling menggemaskannya.

"Ada kemungkinan pihak istana kerajaan akan datang kemari dalam waktu satu minggu." Ucap lagi Mattias menyampingkan tubuhnya dan berbaring di samping Alena.

"Mau apa?" Tanya Alena menurunkan intonasi bicaranya. Mattias memelintir rambut Alena di jari telunjuknya.

"Mengambil pajak." Jawab Mattias merasakan hatinya yang mulai tenang.

"Dasar para manusia serakah! Itu namanya pemerasan tau!" Alena nampak begitu kesal saat mendengar ucapan Mattias.

"Bukankah itu wajar?" Tanya Mattias, Alena duduk dan menggelengkan kepalanya.

"Ya tidak lah, memang apa yang akan di hasilkan dari tanah tandus Altair. Bahkan cacing saja tak ada di sini." Tutur lagi Alena, Mattias menggelengkan kepalanya dan memeluk Alena dari belakang.

"Itu wajar, raja adalah penguasa seluruh daratan Lapileon. Apa salahnya membeikan upeti? Namun, aku juga merasa itu tidak sesuai." Mattias mengecup pundak Alena dengan penuh kehati-hatian.

"Jangan buat pernyataan konyol begitu, lagi pula Altair tanah kita. Sayang, entah kenapa saat mendengar nama Altair dada ku selalu sesak." Alena merasakan tangan Mattias melingkari perutnya denan lembut.

"Mungkin karena ini tanah kita." Jawab lagi Mattias, bibinya yang nakal mulai mengecup leher jenjang Alena.

"Kenapa kamu sangat hebat melakukan hubungan suami istri?" Dada Alena berdetak begitu cepat, saat tangan kokoh suaminya masuk dari bawah piama.

"Aku hanya berusaha memberikan yang terbaik, aku hanya takut kamu tidak puas dan mencari orang lain untuk memuaskan mu." Jawab Mattias jujur, memang benar bila Mattias adalah sosok yang sangat posesif.

Saking posesifnya seorang Mattias, dia pernah memarahi prajuritnya yang tanpa sengaja mengagumi Alena yang sangat cantik. Bahkan beberapa bawahannya saja sudah tahu bagaimana sosok Mattias yang akan menjadi kucing rumahan di hadapan Alena dan menjadi macan kumbang di hadapan mereka.

"Aku mau tahu apa perutku sudah berisi, aku ingin memeriksakannya pada manusia suci." Ucap Alena lagi saat sebuah ciuman panas mulai di lontarkan bibir Mattias.

Terpopuler

Comments

!M@m@#

!M@m@#

thorrrr hari ini jadi doubel up kan...?

2024-02-23

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!