9 Nyawa 9

Rudi tampak mengepalkan tangannya mendengar ucapan arogan Lusi.

Dilihat dari penampilannya, aku yakin wanita ini bukan orang sembarangan. Makannya tidak ada seorangpun yang berani padanya. Apalagi melihat para guru yang selalu membiarkan tindakan Edward. Fix aku yakin dia pasti orang yang berpengaruh,

Kepala sekolah berusaha menenangkan Lusi, meskipun ia tahu jika wanita itu sangat sulit untuk dijinakkan.

"Untuk masalah itu mari kita bicarakan baik-baik semuanya di ruangan ku," ajak Hasan berusaha membujuknya

Namun Lusi menolak dan tetap meminta Hasan untuk memecat Rudi.

"Aku tidak peduli, aku mau kau pecat dia sekarang atau kau yang akan aku pecat!" jawab Lusi dengan sombongnya

Wanita itu kemudian menatap satu persatu guru yang ada di ruangan itu.

"Aku tandain muka kalian kalau sesuatu terjadi lagi pada anakku. Ingat aku yang selama ini memberikan donasi terbesar di sekolah ini, jadi jangan lupakan itu. Selama ini kalian makan dariku jadi jangan jadi pembangkang atau kalian semua aku pecat!" ancam Lusi

"Ingat kata-kata ku dan jangan sampai menyesal!" imbuhnya sebelum pergi meninggalkan ruang guru

Semua orang seketika menarik nafas lega setelah melihat kepergian wanita konglomerat itu.

"Bagaimana ini Pak Hasan, bagaimana kalau Bu Lusi benar-benar memecat kita semua, apa yang akan terjadi dengan kita?" tanya seorang guru

Tentu saja pertanyaan yang serupa ditimpali guru-guru lainnya hingga membuat suasana semakin keruh

"Benar, bagaimana ini pak. Kami tak mau jadi pengangguran. Bagaimanapun gaji guru di sekolah ini adalah yang terbesar dan kami tidak mungkin melepaskan pekerjaan kami hanya demi seorang sampah seperti Tri Handoko!" sahut yang lainnya.

"Pacat saja Tri, lagipula dia juga gak bisa kerja. Sebelum ada dia kondisi sekolah kita adem ayem, tapi semenjak kedatangannya sekolah kita jadi seperti ini. Dia hanya bisa membawa masalah saja, jadi kebih baik pecat saja dia. Bukankah lebih baik membuang hama yang bisa merusak tanaman daripada mengganti dengan tanaman baru!"

"Benar, pecat saja Tri!"

"Pecat Tri!"

Suasana semakin panas hingga membuat Hasan langsung menggebrak meja untuk mendiamkan para guru yang terus berbicara meminta pemecatan terhadap Tri Handoko.

*Brakkk!!

Semua orang langsung terdiam saat mendengar Hasan menggebrak meja.

"Sebaiknya kalian segera masuk kelas masing-masing daripada membuat kekacauan di sini. Untuk urusan Tri, biar aku yang menyelesaikannya, jadi jangan ikut campur!" seru Hasan

Semua guru segera bergegas meninggalkan ruangan itu dan menuju ruang kelasnya masing-masing.

Begitupun dengan Rudi, namun saat ia hendak meninggalkan ruang guru, Hasan menghentikannya.

"Sebaiknya kau ikut aku keruangan ku sekarang," tukas Hasan

Rudi mengangguk dan mengikuti pria itu.

Baru saja mereka memasuki ruang kepala sekolah namun Hasan sudah tidak tahan lagi menahan amarahnya. Ia pun meluapkan kekesalannya kepada Rudi.

"Sudah ku bilang untuk jaga sikapmu, dan jangan pernah bertindak sendiri tanpa berdiskusi dulu denganku!" pekik Hasan

"Andai saja aku tidak memandang ayah mertuamu mungkin aku sudah memecat mu dari dulu!" imbuhan

Rudi hanya menunduk saat mendengar kalimat terakhir Hasan. Ia tak menyangka jika pekerjaannya yang didapatkan sekarang adalah hasil campur tangan sang ayah mertua.

Pantas saja ia selalu memperlakukan aku semena-mena, ternyata ini alasannya!

Rudi mengepalkan tangannya menahan emosinya yang mulai meningkat.

"Sebaiknya perbaiki semuanya mulai sekarang jika kau tak mau kehilangan pekerjaan mu!"

"Baik, terimakasih atas pengertiannya," jawab Rudi kemudian berpamitan pergi.

Saat ia keluar dari ruangan kepala sekolah Rudi mendengar suara seseorang tengah memukuli seseorang.

Bukan hanya Rudi, Hasan pun sampai keluar dari ruangannya untuk memastikan pendengarannya tidak salah.

Hasan hanya menghela nafas saat mendengar suara Edward yang begitu keras menggema.

"Coba siapa yang berani menghentikan aku, jika ada pastikan dirimu benar-benar punya nyali dan tubuh yang kuat untuk menghadapi aku," pungkas Teguh Edward kemudian terdengar suara menghajar siswa yang ada di depannya.

Saat Rudi hendak pergi untuk menghampiri Edward, Hasan menarik lengannya. Lelaki paruh baya itu menggelengkan kepalanya pertanda ia melarangnya untuk menghampiri Edward.

"Jangan terpancing olehnya, ingat dia hanya menginginkan kamu pergi dari sini, jadi tolong dengarkan aku kali ini!" ujar Hasan

*Bugghh!!

Sekali lagi Rudi dan Hasan dibuat terbelalak saat kembali mendengar suara pukulan keras dari Edward kepada siswa yang dibullynya.

"Setidaknya ingat istrimu jika kau tak mendengarkan aku," imbuh Hasan saat melihat reaksi Rudi yang langsung melepaskan tangannya dan bergegas meninggalkannya.

Hasan hanya menatap gusar kearahnya. Ia meskipun ia juga kesal dengan perilaku Edward namun ia tak bisa berbuat apa-apa, mengingat kedua orang tua Edward adalah donatur terbesar sekolah jadi ia pun hanya bisa pasrah.

Sementara itu Edward justru melampiaskan kekesalannya di halaman belakang sekolah. Ia berteriak sekeras-kerasnya untuk menyalurkan amarahnya.

"Arrghh!!"

Rudi bahkan berkali-kali memukuli pohon pisang di depannya hingga tumbang untuk meluapkan emosinya.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang, apa aku harus diam saja seperti saran kepala sekolah, atau aku harus memberikan pelajaran kepada begundal itu. Setidaknya aku harus membuatnya jera dan tidak membully teman-temannya lagi. Toh aku hanya perlu membuat kehidupan Tri lebih baik agar ia tidak bunuh diri lagi, tapi bagaimana caranya?"

Saat Rudi memikirkan cara untuk memberikan pelajaran kepada Edward. Ia justru melihat seorang siswa berjalan keluar dari pintu belakang. Ia mengamati siswa itu yang tampak putus asa.

Rudi segera berlari menghampiri siswa itu saat melihat ia mengeluarkan pisau dan berniat menyayat pergelangan tangannya.

Rudi segera merampas Pisau dari tangan siswa itu.

"Jangan pernah mengakhiri hidupmu hanya karena kau tidak kuat dengan masalah hidupmu," ucap Rudi menasihatinya

Siswa itu tersenyum sinis, seolah menelanjangi Rudi.

"Harusnya bapak malu berbicara seperti itu. Bagaimanapun aku melakukan hal ini karena orang-orang seperti anda yang tidak bisa menjalankan tugas anda dengan baik," ucap siswa itu menatap sinis kearah Rudi.

"Bagaimana bisa seorang guru hanya diam saja melihat siswanya di bully tanpa berbuat apapun, dimana nuranimu sebagai manusia. Apa kau tidak trenyuh melihat kami yang setiap hari harus merasakan kekerasan dimana seharusnya kami mendapatkan pengajaran?" tandas siswa itu lagi seketika membuat hati Rudi seperti tercabik-cabik mendengarnya.

Bagaimanapun juga apa yang dikatakan siswa itu memang benar. Jika ada siswa yang bunuh diri karena di bully Edward, maka guru-guru lah yang harus bertanggung jawab atas kejadian itu. Karena mereka yang membiarkan Edward berbuat seperti itu tanpa ada tindakan tegas dari sekolah.

Rudi hanya bisa menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi wajahnya.

"Setidaknya jangan menambah dosa kami dengan bunuh diri. Bapak dan guru lainnya juga tak mau hal ini terjadi. Tapi jangan khawatir Bapak janji akan membuat orang yang menyakitimu bertekuk lutut di depanmu dan minta maaf padamu, jadi tolong jangan bunuh diri lagi," ucap Rudi kemudian memeluk erat siswa itu

Setelah berhasil menenangkan siswa itu Rudi pun mengajaknya ke ruang BK. Ia kemudian mengobati seluruh lukanya dan mengantarnya pulang.

Saat hendak kembali ke sekolah Rudi melihat Edward sedang merisak siswa lain di sebuah gang. Rudi yang sudah geram dengan perangai Edward pun segera berganti pakaian. Dengan menggunakan pakaian kasual di tambah Hodie lengkap dengan topeng yang pernah dipakainya untuk menghajar Edward. Kini iapun bertekad untuk memberikan pelajaran kepada siswanya itu untuk kedua kalinya.

"Kali ini bersiaplah untuk menerima balasan dari orang-orang yang telah kau sakiti!" ucap Rudi mengepalkan tangannya

Terpopuler

Comments

Kustri

Kustri

buah simalakama
tp tetep maju, tegakkan keadilan💪💪💪

hahaaa... berubah!!! 🦸‍♂️

2024-06-07

0

⸙ᵍᵏ𝐙⃝🦜Titian Mentari 🦈

⸙ᵍᵏ𝐙⃝🦜Titian Mentari 🦈

Rudi jadi serba salah diam salah bertindak juga salah mending racunin aja si Edward 😏

2024-03-12

0

☠ᵏᵋᶜᶟ🔵🍾⃝ͩ⏤͟͟͞RᴇᷞᴛͧɴᷠᴏͣW⃠🦈

☠ᵏᵋᶜᶟ🔵🍾⃝ͩ⏤͟͟͞RᴇᷞᴛͧɴᷠᴏͣW⃠🦈

naaah benar juga seeeh....semua siswa siswi di sekolahan itu pasti akan merasa trauma dan tersiksa karena tiap hari akan jadi korban bully dari Edward

2024-02-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!