"Ya Allah, Nak. Bagaimana bisa sampai masuk kerumah sakit?", Ida masuk ke ruangan Haidar dengan wajah panik. Dia segera datang setelah mendapat telepon jika Haidar pingsan dan dibawa kerumah sakit
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
Haidar menggeleng lemah. Wajahnya terlihat pucat. Melihat tubuh lemah putranya, Ida sungguh tak tega. Apalagi mata Haidar masih menyiratkan kesedihan
"Apa kamu semenderita ini? Apakah permintaan Bunda terlalu membebani kamu?"
Haidar memejamkan mata. Tidak berniat menjawab pertanyaan Bunda.
"Maafkan Bunda, Dar. Maaf. Bunda tahu bagaimana perasaan kamu, tapi Bunda masih saja memaksakan kehendak Bunda. Bunda sudah egois"
Haidar membuka mata, "Menyesal sekarang juga tidak ada gunakan kan? Aku bahkan tidak punya pilihan"
"Bunda minta maaf"
Haidar kembali bungkam. Apakah sekarang ia harus menyerah? Bahkan saat dia membuka mata tadi, Haidar berharap Raya ada didepannya. Namun harap tinggallah harap, nyatanya Raya tidak ada. Perempuan itu sudah benar - benar tidak peduli padanya.
"Apa selama ini kamu hanya mempermainkan perasaanku, Ray? Kamu tidak benar - benar tulus hingga dengan mudahnya kamu berpaling pada pria lain. Jika itu benar, aku adalah pria paling bodoh di dunia ini. Aku begitu mencintaimu tapi kamu dengan mudah menghancurkan hatiku"
Haidar mencoba memejamkan mata. Sayangnya, semua bayangan Raya kembali memenuhi pikiran. Semua kenangan yang mereka lalui berputar tanpa henti. Sial. Rasa cintanya pada Raya sudah mendarah daging. Tidak mudah melupakan wanita itu meski nyatanya Raya sudah mencampakkannya.
"Haidar, kamu mau kemana Nak? Kenapa kamu melepas infusnya?"
"Aku harus menyelesaikan semuanya!"
"Kenapa kamu begitu keras kepala? Jangan jadi perusak rumah tangga orang!"
Haidar menatap Ida lekat, "Ini terakhir kalinya. Aku janji!"
Ida menghela nafas, ia pun mengizinkan Haidar pergi.
Haidar berlari keluar rumah sakit, dan tanpa sengaja, Sintia melihatnya. "Haidar mau kemana? Dia bahkan masih memakai baju rumah sakit. Apa dia kabur?"
Beruntung taksi online yang baru ia tumpangi belum pergi. Sintia kembali masuk kedalam mobil.
"Pak, ikuti mobil yang didepan"
"Tapi belum masuk aplikasi, Mbak"
"Offline saja, saya bayar tiga kali lipat"
"O-oke Mbak"
Sintia dilanda gelisah. Apa ada sesuatu yang begitu penting? Kenapa Haidar pergi dari rumah sakit tiba - tiba?
Entah akan kemana tunangannya itu sebenarnya. Setelah melalui beberapa menit perjalanan, mobil yang ditumpangi Haidar memasuki kawasan perumahan mewah. "Dia mau pergi kerumah siapa?", bathin Sintia
"Pak, berhenti disini saja"
Sintia bergegas turun saat melihat Haidar diizinkan masuk oleh satpam. Ingin sekali dia ikut masuk, tapi jika Haidar mengetahuinya, pria itu akan marah. Terpaksa Sintia hanya bisa bersabar menunggu di luar.
Sementara kini, Haidar sudah berada diruang tamu bersama Papa Brama. Pria paruh baya itu menghela nafas, kesal sekaligus kagum pada tekat pemuda di depannya.
"Kamu kabur dari rumah sakit?"
"Aku sudah izin pada Bundaku"
Papa Brama mengangguk, "Jujur, aku salut pada tekadmu. Tapi sebagai mertua dari Raya, jelas aku tidak suka dengan tindakanmu. Bagaimanapun, Raya sudah menjadi menantuku. Istrinya Axel"
"Aku hanya ingin menyelesaikan semuanya"
"Aku tahu. Aku harap, setelah ini masalah kalian akan selesai. Aku akan memanggilkan Raya dulu"
Papa Brama beranjak meninggalkan Haidar. Dia naik ke lantai dua menuju kamar Axel. Papa Brama menghela nafas kembali sebelum akhirnya mengetuk pintu
Tak lama Pintu kamar terbuka, memunculkan wajah Axel yang terlihat seperti baru bangun tidur
"Ada apa, Pa?" tanyanya
"Ada Haidar di bawah"
Bisa Papa Brama lihat wajah Axel langsung berubah kesal, "Sepertinya dia belum mau menyerah. Mau apa lagi pria itu kemari?"
"Dia bilang, dia ingin menyelesaikan masalahnya dengan Raya"
"Nyalinya besar juga! Rupanya ancamanku tidak berarti apa - apa baginya. Biar aku saja yang menemuinya!"
"Sebaiknya kamu bawa Raya juga. Papa rasa dengan begitu masalah di antara mereka akan segera selesai. Mereka hanya perlu bicara. Kamu tidak mau kan, pria itu terus mengganggu istrimu?"
Axel menghela nafas kasar, Raya baru saja tidur. Mana mungkin dia tega membangunkan sang istri. Tapi yang di katakan Papanya benar. Raya dan Haidar hanya perlu bicara untuk menyelesaikan masalah mereka. Axel membuang nafas kasar, berusaha meredam emosi dalam dada.
"Aku akan membangunkan Raya dulu"
Papa Brama menggangguk kemudian turun
Axel masuk ke dalam kamar. Dilihatnya Raya yang tidur begitu pulas. Rasanya tak tega harus membangunkan sang istri. Namun jika tidak begitu, Axel yakin, Haidar akan terus mengganggu mereka.
"Sayang bangun", Axel mengusap lembut pipi Raya. Mungkin karena belum lama terlelap Raya pun terbangun
"Sudah pagi ya Mas?", tanyanya pada sang suami
Axel menggeleng, "Maaf membangunkan tidurmu. Ada Haidar di bawah"
Raya terkejut. Bukankah pria itu harusnya berada di rumah sakit? kenapa sekarang datang lagi ke rumahnya?
"Mau apa lagi dia kemari?"
"Sepertinya dia belum mau menyerah sebelum kamu menemuinya. Sebaiknya kamu temui dia dulu. Selesaikan masalah kalian"
Raya menatap Axel, raut wajah suaminya sudah tak sekesal tadi. Namun ia jadi bingung. Di satu sisi apa yang Axel katakan memang benar. Tapi di sisi lain ia tidak mau Axel kembali merajuk. Bisa Axel sedang menyembunyikan kekesalannya hanya untuk mengujinya.
Axel seolah paham dengan apa yang Raya pikirkan, dia menggenggam tangan Raya lalu teraenyum, "aku akan menemanimu menemuinya, tidak perlu khawatir"
"Tapi Mas-"
"Haidar hanya butuh penjelasan darimu. Setelah itu, jika dia masih mengganggumu, maka itu akan jadi urusanku"
Raya mengangguk pasrah, Tak lama mereka turun ke bawah. Haidar yang melihat kedatangan Raya dan Axel, langsung menatap keduanya. Tepat setelah mereka duduk saling berhadapan, Haidar mulai berbicara
"Aku kemari hanya ingin memastikan sesuatu"
"Apalagi yang kamu pastikan? Bukankah semuanya sudah jelas?", tanya Raya
Pria itu menggeleng, "Antara kita, belum ada kata selesai", Haidar menatap Excel dan Raya bergantian. "Kamu tahu, setahun belakangan ini, aku terus memikirkan cara, bagaimana untuk menjelaskan padamu soal hubunganku dengan Sintia. Aku selalu dihantui rasa bersalah karena menyembunyikan hal ini darimu. Kamu tidak tahu, bagaimana usahaku untuk tetap mempertahankan hubungan kita. Aku bukan tidak berusaha, Ray! Aku terus membujuk Bunda agar membatalkan perjodohan kami! Aku juga meyakinkan Sintia, bahwa sampai kapanpun, aku hanya mencintai kamu"
Mata Haidar terlihat berkaca - kaca, "Tapi semua berantakan setelah kamu mengetahui hubungan kami. Kamu tiba - tiba menghilang tanpa kabar. Kamu memblokir nomorku dan juga Sintia. Kamu menutup semua akses tentang dirimu. Tahukah kamu bagaimana gilanya aku mencarimu selama dua minggu itu?", Haidar tertawa miris,
"Tidak! Kamu tidak akan tahu itu! Yang kamu pikirkan hanya dirimu sendiri! Perasaan tersakiti kamu! Salah paham yang kamu anggap benar!"
"Aku tidak salah paham, Dar! Aku mendengar semuanya! Rencana pernikahan kamu dengan Sintia yang hanya tinggal dua bulan!", ucap Raya agak emosi, "Jika benar kamu memikirkan aku, memikirkan perasaanku, kamu tidak akan diam selama itu untuk mengatakan semuanya!"
"Aku punya alasan! Aku berjuang keras untuk mengembalikan semua hutang budi keluargaku pada keluarga Sintia! Agar apa? agar aku bisa bersamamu! Membangun semua impian kita!! Tapi lihat, apa yang kamu lakukan?"
Raya mengepalkan tangan, Axel yang melihat hal itu langsung menggenggam tangan Raya,
"Kamu malah menikah dengan pria lain!"
Raya menatap Haidar dengan mata sendu, "Lalu aku harus menunggumu?! Menunggu undangan pernikahan kalian disebar? Datang ke pernikahan kalian sebagai tamu undangan?! Melihat kekasih dan sahabatku bersanding di pelaminan, begitu?!!"
"Semua hanya salah paham, Ray!! Kenapa kamu tidak mengerti itu?!!", ucap Haidar frustasi
Raya menggeleng, "Tidak ada salah paham di antara kita, Dar. Tidak ada! Kamu hanya terlalu pengecut untuk mengakui semuanya. Jika kamu mengatakan semua dari awal, aku mungkin masih bisa memakluminya. Tapi jika sudah di tahap pernikahan, artinya kamu juga menyetujuinya"
"Tidak seperti itu, Ray-"
"Lalu seperti apa?! Jika kamu benar - benar ingin memperjuangkan hubungan kita, sejak awal kamu akan jujur. Tapi kamu tidak melakukan itu, kamu terlalu takut untuk mengakuinya. Lalu apa salah kalau aku menerima pria lain yang datang melamarku?"
Haidar tertawa masam, "Melihatmu sekarang, aku menyadari satu hal. Kamu tidak pernah benar - benar mencintai aku!"
Deg
Raya menatap nanar mantan kekasihnya. Tidak. Dia tidak setuju dengan apa yang Haidar katakan. Raya tulus mencintai pria itu. Dia tidak pernah mempermainkan perasaan Haidar selama ini.
"Kamu salah, Haidar. Aku tidak pernah main - main dengan perasaanku! Aku benar - benar mencintaimu!"
Deg
Dada Axel rasanya sesak mendengan pengakuan Raya. Seperti ada batu besar yang menghantam ulu hatinya. Apa selama beberapa hari ini, semua perhatian dan sikap Raya palsu? Apa istrinya itu masih mencintai mantan kekasihnya? Axel menatap wajah Haidar yang tersenyum ke arahnya.
"Tapi itu dulu!"
Kalimat Raya membuat senyum Haidar luntur, "Dulu, sebelum kamu menyembunyikan semuanya, aku benar - benar mencintai kamu. Tapi semua rasa itu sekarang sudah mati. Mati akibat kebohongan yang kamu dan Sintia ciptakan!"
"Jangan membohongi diri sendiri, Ray! Aku tahu kamu masih mencintai aku!"
Raya kembali menggeleng, "Tidak lagi. Sekarang aku mencintai suamiku. Aku mencintai dia"
Tatapan Raya membuat Axel tersenyum, ada rasa bahagia saat mendengar pengakuan Raya
"Kamu pasti bohong! Kamu bohong Ray!"
"Aku tidak bohong! Aku sekarang mencintai suamiku!"
Haidar kembali tertawa masam, "Sejak kapan?"
Raya dan Axel menatap Haidar dengan bingung, "Apa maksudmu?"
"Kamu tidak mungkin semudah itu berpindah hati, Ray! Aku tahu betul kamu seperti apa! Kita baru berpisah sebulan, kini kamu sudah mencintainya?! Ternyata benar apa yang aku pikirkan tentangmu! kamu tidak lebih dari seorang perempuan murahan!"
Deg
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
kalea rizuky
dih aneh lu aja gk tegas haidar aneh bunda lu. jg egois
2024-04-16
0
Sintia Dewi
dih klok raya gk tau duluan km nikah sama sintia trus km anggap dirimu apa msih mau hubungan sm raya meski udh nikah...otakmu dimana haidar
2024-04-07
0
Sintia Dewi
dih apaan dh dia yg gk jujur nyalah2in raya klok lu jujur dr awal aq ykin raya akan pilih mundur, tp apa lu gk jujur tanggung dh akibtnya raya milih axel emang udh gk jodoh mau diapain cbk
2024-04-07
0